Showing posts with label Ayam. Show all posts
Showing posts with label Ayam. Show all posts

17 March 2015

Mie Ayam Yamin


Bel telah dua kali saya bunyikan, tetapi tak satupun anggota keluarga yang muncul membukakan pintu. Iseng saya pun menekan handle dan pintu yang tak terkunci pun terbuka dengan mudah. Rumah adik saya, Wiwin, terlihat lengang dan kosong. "Halooo! Asalamualikum"! Teriak saya dan hanya disambut oleh suara desau angin yang menerobos dari pintu teras di halaman belakang yang terbuka lebar. Baru saja saya meletakkan tas dan bawaan yang berat, Septi, asisten rumah Wiwin muncul dari kamar belakang. "Ibu sama Bapak lagi keluar sama anak-anak Mba, nganter si Abang tes masuk sekolah di Al Azhar," jelas Septi. "Oke, tapi  Umi dan lainnya kemana?" Balas saya menanyakan Ibu dan tante-tante saya yang biasanya berada di kamar depan. Waktu itu Ibu saya memang masih berada di Jakarta dan belum kembali ke Paron.

"Umi sama lainnya diajak Mas Dimas jalan-jalan naik busway ke kota. Katanya mau lihat Kota Tua." Ah ya, memang beberapa waktu yang lalu Ibu saya sudah merencanakan acara jalan-jalan ke Kota Tua, dan sepertinya adik saya Dimas yang akhirnya mengajak mereka semua. Tidak tahu apa yang harus saya lakukan di rumah yang sepi, akhirnya saya pun duduk di ruang makan dan menatap aneka lauk dan makanan disana. Sebuah bungkusan putih styrofoam pun menarik perhatian saya. Ketika saya buka, ternyata isinya adalah satu paket lengkap mie ayam yamin yang terlihat yummy!


02 February 2015

Kaki Ayam Tausi dengan Slow Cooker


Saya sedang tergila-gila dengan slow cooker yang baru beberapa minggu lalu saya coba gunakan untuk memasak. Setelah sukses membuat iga dengan hasil yang empuk dan daging terlepas dari tulangnya dengan mudah, saya kembali mengulang sukses dengan membuat bubur kacang hijau ketan hitam yang pulen dan legit. Memasak secara perlahan dengan slow cooker membuat butiran kacang hijau matang dengan  baik namun butirannya masih tetap utuh sehingga rasanya menjadi lebih nendang. 

Weekend kemarin saya pun mencoba peruntungan berikutnya, satu resep yang sudah sangat lama ingin saya coba namun terkendala dengan bumbu yang sulit diperoleh akhirnya berhasil dieksekusi dengan slow cooker andalan. Masakan tersebut adalah kaki ayam tausi yang biasanya sering ditemukan di restoran dim sum. Kaki ayam yang berwarna merah merona dalam gelimangan bumbu yang sedap ini memang menjadi favorit dan selalu saya pesan kala menyantap dim sum di restoran. Selain rasanya yang lezat maka ciri khas lainnya adalah kaki ayam tausi ini memiliki tekstur super empuk sehingga terkadang anda pun bisa mengunyahnya sekaligus bersama tulang-tulangnya. Nah dengan slow cooker maka membuat kaki ayam tausi a la restoran bukan menjadi angan-angan belaka saja. ^_^


Tausi/Douchi terbuat dari fermentasi kacang kedelai hitam


29 January 2015

Ayam Wijen Saus Oriental


Ayam wijen saus oriental yang saya sajikan kali ini merupakan salah satu menu yang saya masukkan ke dalam 30 resep masakan tumis, goreng dan kuah di buku kedua saya yang berjudul Masakan Rumahan. Walau terkesan bumbunya panjang dan ribet, namun sebenarnya resepnya sangat sederhana. Bumbu utamanya hanya terdiri atas minyak wijen, saus tiram dan kecap asin, dan ketiga bumbu tersebut saya gunakan untuk me-marinade ayam dan membuat saus orientalnya. 

Pada buku kedua tersebut saya memang tidak memasukkan gambar step by step proses pembuatan. Nah sebagai kompensasinya saya usahakan untuk memberikan proses yang detail beserta tips sukses untuk membuatnya. Tentu saja harapannya proses tersebut tetap bisa diikuti oleh pemula yang baru terjun ke dapur sekalipun. Saya akui beberapa pembaca merasa kecewa dengan tiadanya step by step ini, menurut mereka gambar proses pembuatan merupakan ciri khas saya dan juga sebagai guidance untuk mempermudah proses memasak. Yep, saya setuju dengan pendapat tersebut dan sangat berterima kasih dengan masukan dan saran yang diberikan. Semua itu akan menjadi pegangan bagi saya agar bisa lebih baik lagi dalam berkarya. ^_^


08 January 2015

Tumis Pedas Nopales dengan Fillet Ayam dan Mangga Arumanis


Pada suatu senja, dalam rintik hujan temaran sekitar tiga tahun yang lalu, saat itu saya sedang asyik ber-browsing ria di salah satu blog andalan... Ah, benar-benar kalimat pembukaan yang lebay. Mengingatkan saya pada cerita dongeng putri dan pangeran a la Hans Christian Andersen yang dulu ketika saya masih kecil menjadi santapan sehari-hari. Di dalam keluarga besar kami - saya katakan besar karena kedua orang tua saya memiliki tiga orang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki -  hanya Ibu, kakak saya, Wulan dan saya sendiri yang gemar membaca. Sementara Alm. Bapak dan ketiga adik saya, Wiwin, Tedy dan Dimas, sepertinya alergi dengan buku. Kami membaca dan melahap buku, majalah, koran atau kertas apapun yang terdapat tulisan di atasnya. Kegemaran itu ditularkan oleh Ibu saya yang ketika masa mudanya menjadi penggemar berat cersil Kho Ping Hoo dan Boe Beng Tjoe, serta aneka novel Indonesia karya Marga T, Mira W, NH. Dini, Motinggo Busye, hingga novel horor karya Abdullah Harahap dan roman picisan karya Freddy S. ^_^


08 December 2014

Seblak Basah Ceker Ayam dan Bakso a la JTT


Bandung memang surganya pecinta makanan terutama makanan yang masuk kategori 'ringan' alias tidak terlalu mengenyangkan, memiliki porsi yang kecil namun cukup memuaskan lidah dan perut sambil menunggu jam makan besar tiba. Makanan khas Bandung yang umum kita jumpai misalnya saja siomay, batagor, otak-otak, mie ayam ceker, gehu pedas atau yang belakangan ini nge-trend adalah makanan bernama seblak basah.  Sebenarnya sudah lama saya mendengar mengenai seblak di Jakarta, namun umumnya seblak yang biasa diperjual-belikan disini adalah jenis yang kering dengan tampilan seperti kerupuk yang tebal. Terus terang seblak kering bukan makanan favorit saya, karena teksturnya yang super keras membuat saya ketar-ketir juga jika tambalan di gigi menjadi rontok. Untuk jenis seblak basah saya belum pernah mencicipinya sama sekali, hanya melihat dan membaca ulasannya saja di internet. Saya akui tampilan seblak basah terlihat sangat menggoda, apalagi dengan embel-embel super pedas, membuat air liur menetes-netes membayangkannya. ^_^


05 December 2014

Picnic Roll Daging Sapi-Ayam dengan Telur Rebus


"Jangan lupa Mba, nanti kita mampir ke Prima Rasa ya", sudah tiga kali Mba Fifi, rekan kantor saya, mengingatkan. Saat itu kami dalam perjalanan pulang dari acara seminar 'Problem Solving' di Bandung, beberapa waktu yang lalu. "Oke, Mba Fifi," sahut saya menenangkan, "Hmm, sebenarnya apa sih yang mau dibeli disana Mba"? Tanya saya ingin tahu. "Pie isi daging Mba, enak banget"! Sahutnya antusias. Pie isi daging? Oleh-oleh ini terus terang terdengar asing bagi telinga saya, karena biasanya jika berkunjung ke Bandung maka yang dituju adalah brownies, pisang molen, atau aneka kerupuk dan keripik yang menjadi makanan khas kota Kembang ini. Karena pie bukan makanan favorit saya, terutama yang berisi daging maka saya pun enggan untuk mencari tahu deskripsinya lebih lanjut. ^_^


28 November 2014

Nugget Tahu dengan Ayam


"Bikin apa tho Nduk, dari tadi kok nggak selesai-selesai di dapur", tegur Ibu kala melihat saya masih berkutat serius di dapur yang panas dan sumpek. Peluh berleleran di dahi sementara baju saya sebenarnya sudah lepek oleh keringat. "Ini Ma, bikin perkedel tahu pakai daging ayam dicincang," jawab saya bersemangat sambil tangan sibuk mencacah tahu di baskom plastik. "Lho, ayamnya kan harus digoreng buat lauk adikmu"? Protes Ibu sudah bisa ditebak karena setengah ekor ayam yang dibeli beliau tadi pagi di pasar memang diinstruksikan untuk digoreng. "Iya Ma, ini daging ayamnya cuma sedikit kok diambil buat perkedel," jawab saya sedikit dag dig dug. Bisa runyam nih kalau Ibu tiba-tiba mem-veto acara praktek hari ini. Perkedel tahu ayam cincang ini sudah ada dalam angan-angan saya sejak lama dan baru kali ini terwujud kala melihat tahu dan daging ayam tergeletak di meja dapur.

"Sayang sama daging ayamnya. Tahu mau diapa-apain juga rasanya akan tetap tahu. Mending ayam dan tahunya dimasak terpisah saja," cetus Ibu saya kurang setuju dengan ide membuat perkedel tahu abal-abal yang hendak saya praktekkan. Ah Mama ada-ada saja, pikir saya, tentu saja tahunya akan menjadi lezat dengan tambahan sedikit daging ayam cincang. "Tenang Ma, yang ini pasti hasilnya enak," pungkas saya begitu yakinnya sehingga walau guratan ragu terpancar di wajah Ibu namun beliau tidak berkomentar lebih jauh. 


25 November 2014

White Chicken Chilli


Hari itu hujan luar biasa deras mengguyur. Sebuah sungai kecil di depan rumah tampak penuh meluap hingga air keruhnya yang berwarna coklat susu tumpah ruah ke badan jalan. Sudah lebih dari satu jam lamanya saya duduk di bagian teratas tangga teras dengan pandangan nanar menatap jembatan kayu kecil yang melintang di tengah sungai. Jembatan reot yang menghubungkan rumah orang tua saya dengan rumah tetangga di depan terkadang menyembul dari balik air namun seringkali tenggelam ditelan keruhnya sungai. Rasa bosan yang menggerogoti hati karena seharian harus mendekam di dalam rumah mulai tak tertahankan. Begitu banyak hal menarik di sekitar rumah yang serasa tak habis-habisnya walau telah saya eksplorasi setiap hari. 

Penantian saya akhirnya mulai berakhir kala hembusan angin mendorong awan gelap hingga perlahan tersapu pergi dan sinar matahari pun menerobos dengan cerianya. Tetesan besar air perlahan mulai berganti menjadi rintik yang kecil dan menguap terpanggang panasnya sang surya. Semangat saya pun mulai berkobar, sehabis hujan merupakan momen yang sangat menyenangkan. Sungai kecil di depan rumah yang berhulu dan bermuara di laut selalu membawa banyak ikan-ikan kecil yang terlihat dengan jelas kala lumpur mulai mengendap. Udang kecil akan terperangkap di dalam kolam-kolam imut  di halaman rumah tetangga yang landai dan berbatu. Beberapa anak tampak mulai keluar menenteng ember kecil untuk mencari ikan. Dan seakan sayap tumbuh dari kedua pergelangan kaki, segera saja saya terbang menuju ke jembatan kecil yang walau tak tampak namun saya yakin ada disana. Beberapa kali loncatan tiba-tiba kaki ini kehilangan pijakan dan pandangan pun menjadi gelap gulita. Air masuk dengan derasnya ke dalam hidung dan mulut saya yang terbuka berusaha mencari udara. Saat itu saya pun tersadar, saya tercebur ke dalam sungai dan mulai tenggelam!


11 November 2014

Hujan, Sting & Barbeque Chicken Wings


If he loved you
Like I love you
I would walk away in shame
I'd move town
I'd change my name

When he watches you
When he counts to buy your soul
On your hand his golden rings
Like he owns a bird that sings

When we dance, angels will run and hide their wings

When We Dance lyrics - STING

Musim hujan telah tiba! Setelah hampir 1 tahun Jakarta mengalami musim kering yang lumayan panjang kini rintik air yang membawa berkah sekaligus sengsara (jika banjir mengancam!) mulai membasahi setiap jengkal tanah di ibu kota. Bagi saya musim hujan merupakan kebahagiaan sekaligus penderitaan. Bahagia karena itu berarti saya tidak perlu menyirami tanaman di halaman rumah Pete yang walau tak seberapa banyak tetapi tetap membutuhkan air untuk hidup. Derita karena perjuangan berat yang menanti ketika hendak berangkat ke kantor mulai dari kendaraan yang susah didapatkan hingga kemacetan luar biasa di Jakarta yang meningkat saat hujan mengguyur kala pulang kantor. Selain semua kejadian di atas maka musim hujan juga membuat saya bernostalgia dengan Jogya dan sebuah lagu Sting berjudul When We Dance yang petikan bait pertamanya saya cuplik di atas. ^_^


31 October 2014

Sup Ayam dengan Millet


Beberapa minggu belakangan ini saya dilanda demam yang aneh. Eits nanti dulu, ini bukan demam karena mabuk cinta atau demam karena mengidamkan satu makanan, melainkan benar-benar demam karena suhu badan yang naik. Saya katakan aneh karena demam ini seperti jailangkung yang datang tak diundang dan pergi pun tak diantar. Demam ini terkadang muncul namun juga menghilang begitu saja. Selain demam badan juga terasa meriang dan kondisi ini semakin diperparah dengan AC kantor yang tidak manusiawi dinginnya serta cuaca Jakarta yang mendung beberapa hari belakangan ini. Kostum musim dingin yang terdiri dari jaket tebal dan syal dileher pun menjadi pemandangan pakaian saya sehari-hari di kantor hingga Mba Vicky, seorang rekan kantor, pagi ini memberikan komentar, "Wah sudah siap-siap hendak liburan musim dingin ke luar negeri Mba Endang"? Saya hanya bisa menghela nafas berat sambil menjawab, "Bukan Mba, ini karena demam dan meriang." ^_^


30 October 2014

Resep Pembaca JTT - Roti Pau Empuk a la Tobias Lee


Beberapa bulan yang lalu, Tobias Lee, seorang pembaca JTT melalui fanpage di Facebook mengirimkan saya resep pau yang diklaimnya mantap dan mudah dibuat. Roti pau ini menurutnya tidak pernah gagal untuk dieksekusi dan hasilnya sangat memuaskan, teksturnya lembut dan empuk. Sebagaimana resep-resep lainnya yang sering membuat saya lapar mata namun terkendala dengan tenaga dan waktu yang terbatas maka resep pau a la Tobias terpaksa mendekam sekian lamanya di draft blog menunggu waktu yang pas untuk dicoba. Nah weekend kemarin merupakan waktu yang tepat ketika Jakarta terguyur hujan deras dan suhu yang sejuk membuat perut pun menjadi lapar. Kondisi seperti ini memang membuat isi kepala selalu lari ke makanan dan makan. Teringat dengan resep pau di arsip blog, saya pun membuka laptop sejenak, mengubek-ubek di antara sekian ribu file dan nyengir girang kala berhasil menemukannya. Tanpa membuang waktu lagi saya pun langsung menyiapkan peralatan perang di dapur. ^_^ 


19 October 2014

Sayap Ayam Panggang Bumbu Daun Ketumbar dan Bawang


Bosan dengan olahan chicken wings yang itu-itu saja? Maksud saya olahan chicken wings a la Fiesta yang sepertinya menjadi ide utama yang terlintas ketika anda hendak mengolah sayap ayam. Well siapa sih yang tidak doyan dengan sayap ayam berbumbu manis, pedas, asin yang membuat kita seakan tak bisa berhenti menggasaknya setelah gigitan pertama? Bahkan sepiring besar olahan sayap ayam ini mampu saya sikat sendiri dan enggan berbagi dengan lainnya. Nah kali ini ketika melihat sayap ayam segar di supermarket saya pun tergoda untuk memasukkannya ke dalam keranjang belanja, namun eits nanti dulu, sayap-sayap ini tidak akan berakhir menjadi chicken wings a la Fiesta atau chicken wings a la Pizza Hut karena satu resep yang sudah sangat lama ingin saya coba telah menanti. Sayap ayam yang dibalur dengan bumbu marinade terbuat dari daun ketumbar dan bawang putih serta dipanggang hingga matang kecoklatan ternyata menjadi alternatif maknyus lainnya yang layak dicoba. ^_^


13 October 2014

Galantine Daging Sapi & Ayam dengan Sayuran Rebus dan Kentang Goreng


Buku kedua saya dengan tema tumis, goreng dan kuah saat ini sedang dalam proses pembuatan. Beberapa minggu ini saya pun dibuat luar biasa sibuk dengan aktifitas memasak dan foto yang semua saya lakukan sendiri. Buku ini berisi 30 resep masakan yang digoreng, ditumis dan berkuah yang sebagian besar belum pernah saya posting di blog. Walau aktifitas memasak estafet alias tanpa henti seperti ini memang amat sangat melelahkan namun semua itu sedikit terhibur dengan proses memotret makanan yang memang saya sukai. Terus terang akhir-akhir ini saya memang sedang mengasah kemampuan food photography yang pas-pasan untuk menjadi lebih baik. Perlu anda tahu bahwa selain saya 'gaptek' menggunakan kamera, kemampuan food styling pun juga parah. Rata-rata tampilan foto masakan di JTT selalu apa adanya, tanpa garnish tanpa gaya, plus selalu dengan style memotret jarak dekat yang tujuannya untuk menutupi background di dapur yang acak adul

Selama ini saya tidak pernah tertarik untuk mengutak-atik kamera DSLR milik Tedy, adik saya, yang saya pinjam sejak err.... Setahun yang lalu? Hmm, sampai detik ini saya masih berharap Tedy lupa dengan kamera tersebut! Karena sejak si Canon Powershot G11 milik saya menjadi benar-benar rusak total membuat saya harus belajar bagaimana mengoperasikan DSLR tanpa mengandalkan pada tombol 'auto'. Proses belajar memang membutuhkan waktu, walau tidak bisa dibilang hasil foto saya 'looks professional' tetapi setidaknya (menurut saya) lebih baik dibandingkan waktu yang lalu. ^_^


02 October 2014

Caesar Salad dengan Ayam Goreng


Akhir-akhir ini makanan yang saya makan sehari-hari memang tidak terkontrol, baik dari segi jumlah maupun kualitasnya. Sejak sebulan ini setiap pulang dari kantor, hanya dua menu makan malam yang memenuhi benak saya: paket Burger King Whoopers dan mie goreng instan dengan chicken wings. Okeh saya tahu, bukan dua menu tapi banyak menu! Nah porsi makanan yang saya sebutkan di atas memang termasuk luar biasa. Whoopers merupakan paket di Burger King yang ukurannya lumayan jumbo, plus kentang goreng extra large, segelas besar Coca Cola dan satu cup ice cream sundae dengan topping strawberry maka sesudah menyantapnya perut pun terasa hampir meledak hingga bernafas pun menjadi susah. Perasaan menyesal pun tiba ketika semua makanan telah habis tandas tak bersisa. Namun susahnya, dua atau tiga hari kemudian saya pun mengulangi story yang sama. Nangkring di Burger King menyantap Whoopers!

Selain burger, makanan lain versi rumahan yang bisa saya santap dengan cepat setiba di rumah adalah dua bungkus mie goreng instan plus 'segambreng' cabai, telur mata sapi dan sepiring besar chicken wings. Porsinya saya yakin akan membuat anda membatin Masya Allah! Piring biasa bahkan sudah tidak muat menampungnya sehingga saya menggunakan mangkok besar yang biasa digunakan untuk mengaduk adonan cake sebagai tempat makan. Saat menyantap makanan memang sebaiknya tidak dibarengi dengan kegiatan menonton TV atau browsing internet, namun itulah yang saya lakukan. Ketika yang tersisa dari chicken wings di piring hanyalah remah-remah dan  saus yang belepotan,  perut saya pun masih tetap menjerit lapar. Tobat!



11 September 2014

Ayam Panggang Kecap Nan Spicy


Memiliki seekor ayam yang membeku di freezer lebih dari 1 bulan lamanya membuat saya akhirnya harus berpikir ekstra, makanan seperti apa yang akan saya buat darinya. Teringat membelinya waktu itu gara-gara menonton tayangan ayam Hainan di internet membuat air liur ini menetes membayangkan nasi ayam Hainan yang pernah saya santap saat ke Malaka, Malaysia beberapa tahun yang lalu.  Potongan ayam yang lembut, juicy dengan aroma yang sedap - sama sekali tidak ada aroma ayam di masakan tersebut - sangat mantap bersanding dengan saus jahe dan bawang putih yang menjadi pelengkapnya. Jujur, makanan tersebut merupakan nasi ayam Hainan terlezat yang pernah saya santap. 

Kembali ke seonggok ayam di freezer. Sebelum saya masukkan ke freezer maka ayam telah saya bersihkan dan gosok permukaannya dengan garam plus air jeruk nipis hingga kinclong. Namun seperti biasa terkadang nafsu besar saya ketika hendak memasak suatu masakan tiba-tiba bisa sirna saat perhatian teralihkan dengan kegiatan lainnya. Ujung-ujungnya ayam pun hanya masuk ke dalam kulkas hingga minggu lalu akhirnya saya keluarkan juga dari sana. Tampaknya sudah tiba waktunya bagi si ayam untuk berakhir di dalam perut saya. ^_^ 


09 September 2014

Khoresh Bademjan & Chicken - Langsung disajikan dari dapur Ibunda Said!


Jika anda mulai kehabisan ide dengan menu makanan yang itu-itu saja untuk santapan sehari-hari maka mungkin kini saatnya bagi anda untuk merambah ke menu dari mancanegara. Nah masakan kali ini mungkin bisa menjadi selingan yang lezat. Chicken khoresh bademjan namanya. Okeh, yep, tebakan anda sangat tepat! Masakan ini berasal dari Iran. Dan yep sekali lagi anda benar! Masakan ini diperkenalkan oleh teman Iran saya - yang namanya sudah sangat sering bersliweran di JTT - yaitu Said. Saya mengenal masakan ini sebenarnya sudah sejak lama dan bahkan beberapa kali mencoba membuatnya sendiri di rumah, namun resep yang saya tampilkan kali ini berbeda dengan chicken khoresh bademjan yang  biasa saya ekeskusi sendiri. 

Apa sih bedanya? Nah ketika bulan lalu saya ke Jerman, maka saya pun menyempatkan diri untuk singgah di rumah keluarga besar Said di Dortmund. Sudah lama saya mendengar bahwa sang Bunda sangat jago memasak makanan Persia. Jadi betapa beruntungnya saya kala Ibu Said (yang hendak mempersiapkan makan siang), menawarkan saya untuk bergabung di dapurnya dan berbagi satu resep masakan yang cukup terkenal di Iran. Tidak membuang kesempatan emas ini saya pun menenteng kamera pocket yang tak pernah lepas dari saku dan berdiri di samping wanita Iran yang masih sangat cantik di usianya yang telah lanjut. Well kapan lagi saya bisa menyaksikan masakan Persia dibuat langsung oleh Master-nya bukan? ^_^


23 June 2014

Massaman Curry - Kari a la Thai yang super lezat!


Memasak kari selalu membuat hati berat bahkan sebelum memulainya. Membayangkan banyaknya bumbu yang harus digunakan apalagi biasanya menggunakan jenis bumbu yang terdengar asing di telinga dan jarang tersedia setiap saat di dapur membuat masakan ini  jarang sekali saya buat di rumah. Beberapa waktu yang lalu seorang pembaca JTT pernah menanyakan ke saya cara membuat bumbu bubuk kari instan seperti yang sering kita jumpai di supermarket, sayangnya hingga detik ini saya belum memiliki waktu untuk mencobanya dan lebih mengandalkan pada bumbu instan kemasan siap pakai yang praktis.

Suatu hari seorang teman yang baru saja kembali dari Thailand bercerita dengan antusias lezatnya masakan kari yang disantapnya kala berlibur disana. Kari Thai tersebut terbuat dari daging ayam, terung bulat dan aneka sayuran dalam kuah bersantan dengan rempah yang segar, membuat nafsu saya untuk mewujudkannya sendiri di rumah menjadi menggebu. Keunikan kari Thai adalah bumbu kari yang lebih simple dibandingkan kari a la India dan biasanya kari Thai juga menggunakan aneka sayuran di dalamnya. Walaupun kari Massaman yang otentik biasanya hanya menggunakan ayam atau daging dan kentang namun kali ini saya memasukkan terung dan buncis. Hasilnya super duper lezat!



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...