Showing posts with label Daging Sapi. Show all posts
Showing posts with label Daging Sapi. Show all posts

26 November 2014

Samosa Daging


Bicara tentang food blogging maka bagi saya hal tersebut erat kaitannya dengan foto makanan; wadah yang digunakan; background saat makanan tersebut ditampilkan dan segala pernak-pernik penunjangnya seperti sendok, serbet, atau sekedar wadah garam. Tentu saja dengan tidak melupakan tokoh dibelakang layar sebelum masakan tersebut siap untuk ditayangkan yaitu resep yang tok-cer dan proses memasak yang detail dengan penjelasan yang mudah. Dulu, sewaktu saya belum terjun dengan gaya bebas menjadi seorang food blogger, tidak pernah terpikirkan dalam benak saya betapa panjangnya sebuah proses mem-posting sebuah resep bahkan yang simple sekalipun seperti sambal bawang. 

Dimulai dari pemilihan bahan yang digunakan, menimbang takarannya, membuatnya, menulis setiap bahan yang dicemplungkan ke dalam cobek beserta takaran pasnya, menyajikannya di wadah yang sesuai dengan si sambal, menata pernak-pernik disekitar wadah misalnya sebuah sendok kecil atau sehelai kain serbet untuk mengalas si wadah sambal, mengambil foto, mengeditnya, melakukan upload ke blog dan menulis resep serta prosesnya. Panjang dan lama, sehingga terkadang saya membutuhkan waktu khusus untuk menampilkan sebuah resep di JTT. Apalagi jika kemudian terkendala dengan masalah seperti, setelah dibuka di laptop semua foto jelek hasilnya, bad mood atau ide menulis tiba-tiba macet mentok tembok gubrak! ^_^


22 October 2014

Baguette Sandwich Isi Smoked Beef, Sayuran dengan Saus Yogurt


Ketika saya travelling ke Eropa beberapa bulan yang lalu - ehem dengan modal pas-pasan dan kantong cekak - maka sandwich merupakan makanan mudah, relatif murah dan halal yang bisa dengan mudah saya dapatkan. Salah satu toko penjual sandwich yang menjadi andalan saya adalah Subway. Walau banyak restoran yang menyajikan menu serupa namun membelinya di Subway dengan harga yang sama - waktu itu sekitar tiga hingga empat Euro - maka saya bisa mendapatkan sepotong sandwich dengan aneka isi yang banyak digelar di etalase. Sandwich di Subway selain terasa lezat, fresh dan berukuran super jumbo, saya juga bisa memilih menu halal seperti isi tuna yang menjadi kegemaran dan meminta versi pedas dengan menambahkan banyak acar cabai di dalamnya.

Nah selain Subway, sebuah kedai kecil di stasiun kereta di Copenhagen juga menyajikan sandwich siap saji yang sudah diracik dan dipajang di lemari kacanya. Sandwich yang terbuat dari roti baguette ini berukuran cukup jumbo dengan isi sayuran dan irisan daging sapi panggang. Rasanya super yummy dan satu hal yang paling membuat saya terkesan dengannya adalah rasa saus yang terasa istimewa. Saus berwarna kuning kecoklatan dengan rasa asam manis itu dihiasi dengan butiran biji mustard yang terasa sangat lezat hingga membuat saya penasaran untuk menemukan formula resepnya. ^_^


13 October 2014

Galantine Daging Sapi & Ayam dengan Sayuran Rebus dan Kentang Goreng


Buku kedua saya dengan tema tumis, goreng dan kuah saat ini sedang dalam proses pembuatan. Beberapa minggu ini saya pun dibuat luar biasa sibuk dengan aktifitas memasak dan foto yang semua saya lakukan sendiri. Buku ini berisi 30 resep masakan yang digoreng, ditumis dan berkuah yang sebagian besar belum pernah saya posting di blog. Walau aktifitas memasak estafet alias tanpa henti seperti ini memang amat sangat melelahkan namun semua itu sedikit terhibur dengan proses memotret makanan yang memang saya sukai. Terus terang akhir-akhir ini saya memang sedang mengasah kemampuan food photography yang pas-pasan untuk menjadi lebih baik. Perlu anda tahu bahwa selain saya 'gaptek' menggunakan kamera, kemampuan food styling pun juga parah. Rata-rata tampilan foto masakan di JTT selalu apa adanya, tanpa garnish tanpa gaya, plus selalu dengan style memotret jarak dekat yang tujuannya untuk menutupi background di dapur yang acak adul

Selama ini saya tidak pernah tertarik untuk mengutak-atik kamera DSLR milik Tedy, adik saya, yang saya pinjam sejak err.... Setahun yang lalu? Hmm, sampai detik ini saya masih berharap Tedy lupa dengan kamera tersebut! Karena sejak si Canon Powershot G11 milik saya menjadi benar-benar rusak total membuat saya harus belajar bagaimana mengoperasikan DSLR tanpa mengandalkan pada tombol 'auto'. Proses belajar memang membutuhkan waktu, walau tidak bisa dibilang hasil foto saya 'looks professional' tetapi setidaknya (menurut saya) lebih baik dibandingkan waktu yang lalu. ^_^


08 October 2014

Kebab Koobideh - Kebab daging kambing dan sapi cincang a la Persia


Bagi anda yang Muslim dan merayakan hari raya Idul Adha yang jatuh pada hari Minggu kemarin, maka saat ini pasti sedang sibuk mengolah daging kurban yang diperoleh. Kenapa saya bisa begitu yakinnya? Alasannya karena banyaknya pembaca JTT yang memberikan testimoni hasil trial mereka pada minggu ini dan rata-rata tidak jauh-jauh dari olahan daging, entah kambing atau sapi. Mulai dari sate tusuk, sate goreng, tongseng, kalio atau sate daging cincang merupakan resep-resep berbahan daging kambing atau sapi yang terdapat di dalam daftar resep JTT yang banyak dicoba pembaca. Hal yang menggembirakan bagi saya adalah mereka menyukai rasanya!

Nah satu lagi olahan daging kambing dan sapi yang sebenarnya sudah lama saya eksekusi namun baru sempat untuk menampilkannya sekarang adalah kebab koobideh yang saat ini saya hadirkan. Resepnya terilhami dari kebab koobideh a la Middle East yang pernah saya santap di Koln, Jerman dan Gothenberg, Swedia. Tidak terlalu sukses tetapi tetap mantap rasanya. ^_^



29 June 2014

Kalio Daging Sapi


Puasa Ramadhan telah tiba, dan bagi para ibu rumah tangga yang harus mempersiapkan lauk untuk sahur, saat ini pasti sedang mengasah otak dan kreatifitas. Hidangan apakah yang layak untuk disajikan bagi keluarga di saat pagi buta? Menu sahur memang terkadang memusingkan, karena itu biasanya dibuat sedikit istimewa agar anggota keluarga terutama anak-anak bersedia menyantapnya dengan lahap di tengah kantuk yang mendera. Hal ini tentu saja berbeda dengan saat berbuka dimana makanan apapun sepertinya rela untuk disantap. Nah bagi single seperti saya tentu saja sahur bukan merupakan kendala, biasanya saya hanya menyantap sepotong roti dan segelas susu sebagai persiapan energi esok hari.

Namun saya masih ingat biasanya saat bulan puasa seperti ini, Ibu saya akan menyiapkan makanan yang sedikit lebih enak untuk sahur, favorit kami sekeluarga apa lagi kalau bukan rendang. Lauk ini rasanya super lezat sehingga siapa pun tidak ada yang berani menolaknya. Selain itu makanan ini juga awet disimpan di kulkas hingga berhari-hari lamanya. Sayangnya rendang tidak berkuah sama sekali sehingga terkadang diperlukan sayuran berkuah sebagai pendampingnya. Karena itu seringkali Ibu saya membuat versi rendang berkuah yang disebut dengan kalio. Kuah yang kental dengan banyak potongan kentang di dalamnya membuat kalio menjadi teman makan sahur yang nendang. Nah demi bernostalgia melewatkan sahur selayaknya bersama Ibu di kampung halaman, maka awal puasa Ramadhan kali ini saya pun berkutat di dapur untuk mewujudkan sepanci kalio daging yang alamak sedap rasanya. ^_^


15 May 2014

Korean Ramyun - Mie Kuah Pedas Korea a la Just Try & Taste


Shin ramyun merupakan merk mie instan a la Korea yang sangat terkenal baik di negaranya sendiri maupun di mancanegara. Menurut Wikipedia, mie instant ini bahkan telah dijual di 80 negara dan merupakan merk mie instan dengan penjualan yang tertinggi. Nah jika anda berkunjung ke supermarket besar terutama Lotte Mart maka sempatkanlah untuk singgah sejenak di jajaran makanan dan bumbu Korea, disana anda akan menemukan mie instant ini di dalam bungkus merahnya yang khas. Harganya menurut saya cukup menguras kocek hanya untuk sebungkus mie instant dan rasanya pun tidak jauh berbeda dengan mie instant negara kita seperti Indomie. Rekan-rekan muslim di kantor saya yang maniak dengan produk Korea biasanya membeli ramyun instant vegetarian, perlu anda ketahui sangat sedikit sekali produk Korea yang dijual di Indonesia yang memiliki label halal pada kemasannya. Jadi versi vegetariannya setidaknya bisa menutupi rasa penasaran untuk mencicipi mie instant Korea.  ^_^

Gochujang/pasta cabai Korea

13 May 2014

Mun Tahu dengan Daging Cincang, Udang dan Edamame a la Fifi


Mun tahu merupakan masakan yang super simple dan sangat mudah untuk dibuat, namun tidak pernah membuat hati saya tergerak untuk mencobanya. Terus terang potongan tahu dalam masakan berkuah bukan lah favorit saya, berbeda ketika digoreng kering atau diolah dalam masakan seperti gado-gado dan rujak petis. Namun minggu lalu, tiba-tiba percakapan di area sekitar tempat duduk saya di kantor berubah menjadi seputar makanan dan salah satunya adalah mun tahu yang kali ini saya posting. Dimulai dari pertanyaan Mba Mirah yang telah menjadi vegetarian selama 20 tahun, "Sudah pernah coba mun tahu Ndang? Itu makanan favorit saya. Buatnya simple dan rasanya enak banget, paling oke kalau pakai tahu sutera atau tahu China yang halus dan lembut. Wah bisa sewajan saya habiskan sendiri." Saya sudah sering mendengar dan melihat resep plus tampilan makanan ini di internet namun mendengar rekomendasinya langsung dari yang pernah mencoba membuatnya tentu saja berbeda sensasinya.

Mba Fifi, yang kebetulan posisi cubicle duduknya berada di seberang saya ikut menimpali, "Kalau Mba Mirah pasti versi vegetariannya ya. Mun tahu lebih enak kalau dikasih daging cincang dan udang Mba, jangan lupa daun bawang yang banyak ya. Rasanya mantap"! Tidak perlu mendapatkan pasokan semangat lagi sayapun langsung membuka buku catatan dan mencatat resep mun tahu a la Fifi yang setelah dicoba di dapur JTT saya akui sangat nendang. ^_^



12 May 2014

Bakso Daging Sapi Spesial - Versi lebih mudah dan tak kalah mental!


Entah mengapa membuat bakso sapi yang kenyal dan mental selalu menjadi tantangan tersendiri. Walau beberapa waktu yang lalu saya telah berhasil membuat bakso sapi dengan tekstur dan rasa sesuai keinginan namun tatkala menemukan resep lainnya yang lebih mudah dengan hasil yang tak kalah mantap maka tangan ini pun gatal untuk segera mengeksekusinya. Weekend kemarin saat saya mengunjungi adik saya, Wiwin, saya pun mencoba resep bakso dari buku resep blender Mitzui yang saya peroleh kala mengikuti cooking demo beberapa minggu yang lalu. Terus terang saya telah memiliki blender Mitzui selama hampir dua tahun lamanya dan setiap pagi selalu membuat smoothie buah dan sayuran darinya. Namun selama ini resep baksonya tidak membuat hati saya tergerak untuk mencobanya karena berpikir resep bakso yang saya miliki toh sudah cukup sukses bagi ukuran saya.  

Namun ketika staff Mitzui memperagakan proses pembuatannya yang simple - tentu saja dengan menggunakan blender Mitzui - hati saya pun tergerak untuk mencoba resepnya. Hasilnya luar biasa saudara-saudara! Bakso terasa kenyal, keras dengan cita rasa yang lezat. Nah bagi anda yang ingin juga mencobanya di rumah, tidak perlu khawatir, saya tidak menggunakan blender Mitzui untuk membuatnya melainkan dengan chopper imut dari Phillips yang saya yakin lebih banyak dimiliki oleh pembaca JTT. Tertarik? Yuk lanjut!

Homemade Bakso Daging Sapi - Percayalah kali ini mental!
 

07 May 2014

Homemade Kaldu Daging - Sedikit repot, tapi berharga untuk dicoba!


Walau banyak merk kaldu instan bersliweran di pasaran namun membuat kaldu homemade anda sendiri ternyata pengalaman berharga untuk dilakukan. Selain rasanya jauh, jauh lebih sedap juga yang homemade tentunya bebas bahan kimia, pengawet dan fresh langsung dari panci di atas kompor anda. Nah beberapa waktu yang lalu saya begitu terobsesi untuk membuat kuah kaldu nendang yang bisa saya pakai untuk aneka hidangan berkuah seperti bakso, sup wonton, dan mie ramen. Poin penting utama agar hidangan a la Japanese dan Chinese menjadi super duper lezat adalah kuah kaldunya yang 'kudu ngaldu banget'. Biasanya, pengalaman yang lalu-lalu,  kuah cukup saya peroleh dari rebusan daging sapi plus kaldu instan bubuk. Hasilnya adalah rasa kuah yang tidak terlalu nendang dan setelah menyantapnya masih menyisakan rasa tidak puas di lidah. Minggu lalu demi resep mie ramen yang ingin dieksekusi saya pun mengubek-ubek aneka literatur mencari cara bagaimana membuat homemade kaldu yang sedap. Walau membutuhkan waktu dan kesabaran namun hasilnya mantap, dan saya pun sudah tak sabar untuk mencobanya di next resep mie ramen yang akan saya eksekusi. 


06 May 2014

Coto Makassar a la Mitzui


Jika anda sempat membaca posting-an saya kemarin maka disana saya menceritakan pengalaman mengikuti acara demo memasak produk Mitzui. Salah satu alat masak yang diperagakan dan membuat saya cukup 'ngiler' untuk memilikinya (namun berat dengan harganya!) adalah pressure cooker Mitzui. Panci bertekanan tinggi nan cantik ini mampu memasak aneka makanan salah duanya adalah bubur daging (paddas porridge) dan coto Makassar. Untuk bubur dagingnya, saya telah mencicipi rasanya yang sangat lezat namun sayangnya karena waktu yang terbatas, saya harus melewatkan untuk menyantap seporsi kecil coto Makassar. Anyway busway, saya tidak berkecil hati karena resep coto Makassar tercantum di copy resep yang dibagikan gratis saat itu. Termotivasi dengan tampilan coto yang kental, gelap dan terlihat menggiurkan maka minggu lalu saya pun membuatnya di rumah Wiwin, adik saya. Kebetulan banyak anggota keluarga saya yang sedang berkumpul disana, jadi sepanci besar coto bisa disantap beramai-ramai sebagai lauk makan siang hari itu. Mantap! ^_^ 

Tauco

29 April 2014

Selat Solo - Sepiring Perpaduan Barat dan Timur


Ketika mencicipi selat Solo beberapa tahun yang lalu di kota asalnya, saya nyengir sendiri dengan rasa dan tampilannya dan langsung bergumam, "Wong Solo memang kreatif." Seporsi sayuran rebus plus mayonnaise yang biasanya disebut dengan salad, dipadukan dengan bistik daging berkuah dan acar ketimun menghasilkan perpaduan barat dan timur yang rasanya mantap. Kolaborasi semua itu mencetuskan nama Selat Solo, bahasa Jawa dari Salad Solo. Tidak mudah menemukan selat Solo di Jakarta. Kakak saya, Wulan, yang pernah tinggal di Solo cukup lama kala masih kuliah masih terkenang-kenang dengan rasanya yang maknyus sehingga beberapa kali request untuk dibuatkan masakan tersebut ketika berkunjung ke rumah Pete. Banyaknya pernak-pernik yang harus dipersiapkan lah yang membuat saya enggan untuk mencobanya. Tapi hari Sabtu kemarin kebetulan Ibu saya sedang berada di Jakarta, semangat untuk membuatnya pun timbul karena saya tahu beliau belum pernah mencicipi makanan ini. Apalagi komposisi utama selat Solo adalah sayuran, jadi Ibu bisa bebas menyantapnya. Perjuangan saya berkutat untuk membuatnya sejak pagi ternyata tidak sia-sia. Rasanya sungguh super!


16 April 2014

Gulai Nangka dan Kacang Panjang a la My Mom - Super Tasty!


Berbicara mengenai gulai nangka maka selalu membuat saya teringat dengan Tanjung Pinang, Riau. Kota kelahiran Ibu saya ini memang masakannya agak dipengaruhi oleh masakan Minang, Melayu dan China. Jadi tidak heran jika nasi lemak, gulai cincang Padang dan kwetiaw menjadi makanan yang umum kami santap. Nah berbicara mengenai sayur maka kami sekeluarga merupakan penggemar berat gulai yang terbuat dari potongan nangka muda - terkadang dengan tambahan kacang panjang dan potongan daging berlemak - di dalamnya. Rasanya sangat tasty! Jika anda penggemar nasi Kapau pasti teringat dengan gulai nangka muda dengan kacang panjang atau kubis di dalamnya. Gulai di masak dalam gelimangan santan yang tidak terlalu kental dengan rasa rempah dan bumbu yang kuat. Seperti itulah gulai nangka yang sering dimasak Ibu saya di rumah. Bumbunya memang 'segambreng' namun jika anda sering kali tidak puas dengan porsi gulai nangka yang diberikan di restoran Kapau (seperti saya!) maka membuatnya sendiri tentu saja menjadi alternatif terbaik. 


25 February 2014

Steak daging sapi dengan saus lada hitam, kentang tumbuk dan sayur rebus


Dimana sih kita bisa menikmati steak daging sapi yang lezat, empuk dengan cita rasa pas di lidah, porsinya pun jumbo dengan harga terjangkau? Ehem, definisi harga terjangkau itu kira-kira tidak lebih dari seratus ribu rupiah seporsinya. Di Jakarta ada beberapa restoran yang menjadi incaran pemburu steak dengan kriteria yang saya sebutkan di atas, misalnya saja Abuba Steak, Andakar, atau Hollycow. Nah untuk Andakar saya bahkan pernah menulis ulasannya di sini. Dua lainnya, saya memang tidak menampilkannya di JTT namun saya rekomendasikan untuk anda coba jika ingin mencicipinya. Di Hollycow anda bisa memilih jenis saus yang digunakan apakah black pepper, mushroom atau barbeque. Sedangkan Andakar dan Abuba mereka hanya memiliki satu jenis saus saja yaitu barbeque. 

Tapi walaupun ketiga restoran ini menawarkan steak yang cukup oke, namun tetap saja rasa penasaran untuk bisa membuat steak sendiri dengan rasa yang mantap dan harga yang lebih bersahabat selalu menggebu. Bayangkan saja, saat hujan deras mengguyur, perut keroncongan dan yang terbayang adalah seporsi steak daging yang hangat dilengkapi dengan kentang tumbuk nan creamy dan crunchy-nya sayuran rebus, walau air liur berleleran tetap saja enggan rasanya menggerakkan badan untuk menembus hujan, mencari angkutan umum dan pergi ke resto steak. Saya belum terlalu gila untuk melakukan itu.  Nah cara termudah dan tercepat untuk mewujudkan impian tersebut adalah dengan meluangkan waktu sebentar di dapur plus sedikit kreatifitas maka seporsi steak hangat a la resto dengan mudah bisa dihidangkan! ^_^

Potongan daging yang telah direndam nanas


11 February 2014

Bolhar : Ngebul di dahar ^_^


Beberapa waktu yang lalu ketika teman saya Ani merayakan ultahnya di kantor, kami cukup surprised kala sepanci besar hidangan daging berkuah mirip sup digotong oleh dua orang office boy masuk ke dalam kantor. Di belakang mereka berdua tampak teman saya ini menenteng se-tas plastik besar lontong dan kerupuk yang terlihat cukup berat. Wajahnya yang memerah dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan membuat kami semua tahu perjalanan membawa aneka makanan ini bukan pekerjaan enteng. Sejak pagi, kami semua - para kuli kantoran yang selalu kelaparan dan mendambakan makanan gratisan - telah siap sedia berjajar rapi di lorong arah masuk kantor menyambut Ani.  

Sejujurnya kami telah siap sedia sejak dua hari sebelumnya kala Asep berteriak mengingatkan, "Hoi, jangan lupa ya teman-teman, Ani dua hari lagi ulang tahun"! Teriakan itu langsung disambut cepat karena radar kami langsung tanggap menangkap makanan gratis yang akan tiba. "Bawa makanan yang enak ya, nggak usah repot-repot masuk kalau nggak enak", atau "Jangan bawa tumis oncom leunca pakai nasi, mending pulang saja kalau bawa itu." Ani hanya tersenyum-senyum antara stress dan pusing memikirkan menu apa yang akan disajikan. Ketika bolhar terhidang di depan mata dan mulai diserbu maka kami pun bersama-sama mengucapkan, "Selamat ultah ya Ni, by the way bolharnya enak bener! Besok ultah lagi ya"! ^_^


21 January 2014

Lapis Daging a la My Mom


Lapis daging yang manis dengan bumbu kecoklatan yang menempel di sekujur badannya ini merupakan makanan wajib kala acara selamatan tiba di kampung halaman saya, Paron, Ngawi. Kami mengenalnya karena Mbah Wedhok (nenek dalam bahasa Jawa) selalu memasaknya sebagai salah satu pelengkap takir berisi nasi, aneka lauk dan sayur yang dibagi-bagikan ke para tamu yang hadir  saat acara kendurian, kami menyebutnya dengan nasi berkat. Entah apakah menu lapis daging ini masih menjadi tradisi di Paron namun yang jelas Ibu saya yang sama sekali tidak memiliki darah Jawa jago membuatnya

Walau bukan salah satu menu favorit namun jika masakan ini sudah berkolaborasi bersama dengan menu lain di dalam sebuah paket nasi berkat bersama dengan sambal goreng kentang, mie goreng, urap sayur, maka rasanya menjadi luar biasa. Saya masih ingat kala adik bungsu saya, Dimas, saat masih berusia sekitar 6 tahun, sangat maniak dengan nasi kenduri. Satu paket nasi berkat yang dimasukkan ke dalam cething (tempat nasi dari plastik) wajib disediakan khusus untuknya. Jika sampai terlupa maka tangisannya pun akan pecah tak terkira-kira. "Kenapa sih Dim kok suka sekali sama nasi berkat"? Tanya saya penasaran waktu itu.  "Ini kalau sudah dicampur ini, sama ini, sama ini, rasanya enak banget," jawabnya polos sambil jari telunjuknya yang mungil menunjuk aneka pernik-pernik di dalam cething. ^_^


05 November 2013

Lasagna Meleleh a la Sintya: Super Mudah! Super Yummy!


Teman saya, Sintya, penggemar lasagna dan segala macan makanan yang berbau Italia dan Western lainnya. Jenis makanan yang saya mati-matian sedang hindari karena tidak sejalan dengan program hidup sehat yang sedang saya terapkan akhir-akhir ini. Berbeda dengan Sintya yang tetap langsing dan kurus walau menyantap aneka makanan berat dan berlemak, maka jika di saya menyantap satu porsi lasagna yang berisikan cincangan daging, pasta dan keju akan membuat timbangan naik satu kilo dengan cepat. Jadi ketika teman saya ini request untuk mencoba memasak lasagna di rumah Pete, saya pun menundanya berulang kali dengan berbagai alasan dan akhirnya weekend kemarin saya pun menyerah. 

"Waw berat Sin lasagna. Kombinasi yang nggak cocok buat program diet", cetus saya yang langsung di timpali dengan "Bikin porsi kecil saja Mba, loyang paling kecil", dengan huruf i di kata kecil yang dipanjang-panjangin. Saya pun memutar otak dan berusaha mengingat-ngingat loyang terkecil yang pernah saya miliki dan hasilnya nihil. Ukuran loyang di rumah Pete selalu jumbo size tapi saya punya alumunium foil cukup banyak dengan ukuran yang tidak terlalu besar. "Okeh deh Sin, tapi ntar dimakan sendiri saja ya", jawab saya sok yakin tidak akan tergoda dengan seloyang lasagna yang pasti akan membuat iman saya runtuh. "Mba E, nggak ikutan makan nih? Yakin"? Tanya Sintya yang diakhiri dengan tawa ngakak yang membuat saya bertanya-tanya dengan diri sendiri. Yakin? ^_^

Jamur King Oyster

14 October 2013

Daging Sapi Tumis Bawang Bombay


Bagi anda yang bingung mau diapakan lagi daging kambing atau sapi yang melimpah saat hari raya Kurban tiba, nah mungkin resep praktis yang satu ini bisa anda coba di rumah. Daging sapi yang direndam dalam bumbu perendam yang nendang, ditumis bersama bawang bombay dan cabai merah terasa sangat lezat disantap bersama nasi hangat. Tampilannya memang mirip sate goreng hanya saja disini saya menggunakan banyak bawang bombay. Bawang bombay yang ditumis dengan sedikit minyak akan mengeluarkan rasa manis karamel yang lezat, dan jika anda 'ngeri' melihat cabai merah keriting utuh yang saya masukkan ke dalam tumisan maka anda bisa mengirisnya menjadi ukuran yang lebih kecil. Namun yang jelas masakan simple ini akan membuat program diet anda menjadi porak poranda. ^_^


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...