Showing posts with label Kue Tradisional. Show all posts
Showing posts with label Kue Tradisional. Show all posts

17 February 2014

Cireng Isi Keju dan Balada Sakit Gigi ^_^


"Dari pada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini, biar tak mengapa...." Anda setuju dengan kalimat yang saya kutip dari lagu Meggy Z. di atas? Hmm, mungkin saat gigi sedang sehat, tidak berlubang, tidak meradang dan nyut-nyutan seperti yang saya rasakan minggu lalu maka anda akan mengangguk antusias. "Yeach, mending sakit gigi Ndang, dibanding sakit hati karena cinta! Itu lebih sakit, lebih sakit"! Oke, yep, saya mengerti. Tapi minggu lalu saya memilih untuk sakit hati saja dibandingkan sakit gigi hebat yang membuat makan, tidur, bahkan bengong pun terasa tersiksa. Satu gigi geraham yang sebenarnya sudah lama bermasalah karena tambalannya yang lepas akhirnya berteriak meminta perhatian untuk segera ditangani, sakitnya bukan hanya di seputar geraham dan mulut saja bahkan sudah mencapai telinga, kepala dan leher. Saat makan pun saya harus ekstra hati-hati karena tersentuh benda padat sedikit saja telah membuat saya menjerit galau. Tobat!


20 December 2013

Bingka Pandan: Lembut dan Harum


Entah kekuatan apa yang merasuki saya tadi malam, ketika jam telah menunjukkan pukul delapan malam tiba-tiba keinginan untuk membuat bingka pandan ini mencuat. Mungkin karena melihat prosesnya yang mudah atau karena semua bahan-bahannya tersedia di dapur sehingga tanpa pikir panjang lagi saya langsung membuatnya. Merasa satu resep kurang banyak bagi teman-teman kantor yang selalu kelaparan saya langsung mengeksekusi dua resep sekaligus. Membuatnya memang mudah, semua bahan cukup dimasukkan ke dalam blender dan proses hingga smooth. Tapi masalah terbesar yang muncul adalah kue bingka dengan kandungan airnya yang tinggi membutuhkan waktu yang lama dan lama untuk membuatnya matang dengan tuntas. Alhasil saya harus menunggu hingga pukul sebelas malam sebelum bisa terjun bebas di atas kasur. Capek, lelah, mengantuk, sambil dalam hati menggerutu. "Bingka, bingka betapa lamanya memanggangmu Nak"!


22 July 2013

Singkong a la Thai


Kadang saya tak habis pikir sendiri dengan harga makanan camilan yang dijual di Mall Ambasador, sebelah kantor, mahalnya minta ampun. Contohnya minggu lalu, saat saya membeli makanan untuk berbuka puasa di salah satu counter penjual jajanan di sana. Dua potong singkong a la Thai dengan vla putih seperti bubur sumsum yang diletakkan di cup gelas plastik, dihargai sepuluh ribu rupiah. Fantastisnya lagi yang beli pun berebutan sehingga jika sore sedikit saja maka dipastikan makanan ini telah habis. 


Kalau mau dihitung-hitung berapa sih harga singkong sekilonya? Plus sedikit gula pasir dan santan? Paling banter sepanci singkong yang dimasak seperti ini hanya menghabiskan modal lima belas ribu rupiah, dan anda bisa menyantapnya sampai pingsan. Rasanya pun jauh, jauh lebih sedap jika membuatnya sendiri. Seperti weekend kemarin, setelah kecewa dengan rasa singkong Thai yang saya beli di mall, akhirnya saya pun mengolah singkong beku yang ada di freezer (sudah mendekam di sana selama sebulan ^_^) menjadi makanan a la Thailand ini dan hasilnya mantap!


08 July 2013

Resep Pembaca JTT: Es Pisang Ijo -Tetap lembut walau keesokan harinya


Devita Felim, salah seorang pembaca JTT berbaik hati menawarkan saya resep es pisang ijo andalan keluarganya. Resep yang ini dijamin katanya anti keras walau telah beberapa hari nangkring di dalam kulkas. Saya yang memang sedang mencari resep es pisang ijo yang benar-benar mantap langsung saja mengiyakan dengan cepat. Apalagi sebentar lagi akan memasuki bulan puasa, dan biasanya nyamikan segar, manis dan tidak terlalu mengenyangkan seperti ini banyak dicari. Saya yakin anda pasti setuju dengan pendapat saya. 

Sebelumnya saya sudah pernah menampilkan resep es pisang ijo, sayangnya hasilnya tidak terlalu mantap. Adonan tepung yang membalut si pisang terlalu kenyal dan keras, mungkin karena komposisi tepung beras yang terlalu banyak. Nah, resep yang diberikan Devita cukup berbeda proses pembuatannya dibandingkan es pisang ijo umumnya, namun jangan khawatir membuatnya sangat mudah dan hasilnya so yummy!


04 July 2013

Kue Bugis


Satu lagu kue tradisional yang lezat dan mudah dibuat yaitu kue bugis. Pada saat bulan puasa yang sebentar lagi akan tiba memang paling sedap menyantap kue dan penganan tradisional dengan cita rasa manis, legit dan sedap seperti kolak, cendol dan kue-kue manis. Kue bugis yang saya posting kali ini bisa menjadi alternatif untuk dibuat dan menjadi kudapan berbuka puasa yang cukup memuaskan. Kue ini sebenarnya mirip dengan kelepon yang pernah saya posting sebelumnya, untuk resep kelepon silahkan klik di link disini ya. 

Nah yang membuat kue bugis dan kelepon berbeda adalah kue bugis berukuran lebih besar dan berisi parutan kelapa yang dimasak dengan gula merah dan dibungkus dengan menggunakan daun pisang setelah terlebih dahulu kue disiram dengan vla kental yang terbuat dari tepung dan santan. Sedangkan kelepon, hanya berisi irisan gula merah dan disantap dengan parutan kelapa yang dikukus. Karena perbedaannya yang tidak terlalu mencolok tidak heran kedua makanan ini memiliki rasa yang hampir sama dan sekali saja anda membuat adonannya maka dengan sedikit modifikasi anda telah berhasil membuat dua kue sekaligus dalam satu kesempatan saja. Yummy!


20 June 2013

Klepon


Salah satu pembaca JTT pernah menanyakan ke saya beberapa waktu yang lalu, mengapa klepon yang dibuatnya retak-retak kala di pulung menjadi bulatan kecil. Saya yang sudah lama sekali tidak pernah membuat klepon menjadi berpikir dan berusaha mengingat-ngingat pengalaman membuatnya waktu lalu. Waktu lalu ini berarti tempo doeloe, jaman antah berantah kala keberanian membuat kue baru terbatas pada kue-kue tradisional yang mudah diperoleh bahan-bahannya dan hanya mengandalkan kukusan atau penggorengan untuk memasaknya. Seingat saya waktu itu adonan tidak pecah atau retak tetapi alot dan luar biasa elastis kala dikunyah.  ^_^


14 May 2013

Kue Tepung Beras Isi Gula Merah


Beberapa waktu lalu rekan sekantor saya Dewi membawa sekotak besar berisi kue yang terbuat dari tepung beras, warnanya putih dan bentuknya seperti kepalan tangan. Tampilannya memang terlihat unik dan aneh tapi ternyata rasanya sangat lezat, mirip-mirip seperti kue putu bambu yang banyak dijual oleh abang-abang di gerobak di tepi jalan. Bedanya kue ini tidak berisi gula merah di bagian tengahnya. Menurut Dewi namanya kue pohul-pohul dan merupakan salah satu kue tradisional suku Batak. 


Anyway, resep dari Dewi terdengar simple dan mudah, tipsnya hanyalah gunakan tepung beras yang masih fresh yang baru saja digiling dan dibuat dari beras dengan kualitas yang baik. Tepung beras yang seperti ini akan menghasilkan kue yang empuk, lembut dan harum. Takarannya? "Pokoknya kelapanya makin banyak makin enak, takarannya nggak tahu, Ibu yang buat." Oke, apa sih susahnya membuat kue ini, pikir saya. Semua bahan cukup dicampur dan diaduk jadi satu, supaya tampilannya lebih keren saya pun mencetaknya menggunakan cetakan berlubang untuk bolu kukus. Nah karena malas menggiling tepung di pasar maka saya pun membuat tepung beras sendiri dengan menggiling beras yang telah direndam dan diangin-anginkan hingga kering di coffee grinder. Hasilnya? Tidak selezat kue buatan Dewi tapi cukup mantap untuk nyamikan di sore hari.... ^_^


09 April 2013

Kue Mangkuk Gula Merah


Sebuah toko kue kecil di Mall Ambasador, sebelah kantor saya, memiliki keunikan. Semua kue-kue yang dijajakan adalah jenis kue tradisional. Mulai dari lemper, apem, klapertaart, ongol-ongol, lumpia, getuk serta aneka kue bolu dan cake kukus. Salah satu yang menjadi favorit saya jika singgah di toko ini adalah kue mangkuk gula merahnya. Warnanya merah gelap, legit, sedikit liat, dengan ukuran yang agak besar. Mantap! Ternyata bukan hanya saya saja yang menjadi penggemarnya, beberapa teman di kantor juga mengakui kelezatannya. Tak heran kue ini sering cepat habis, ludes diburu peminatnya.

Selain rasa kue-kuenya yang lezat, tampilan dan kemasan kue-kue di toko ini juga sangat menarik. Tak heran walau mengusung tema tradisional, toko tersebut mampu bersaing dengan aneka bakery yang banyak malang melintang dan terus bermunculan di setiap titik di mall. Namun kembali lagi ke slogan 'ada rupa - ada rasa', kue yang dijajakan memang dibandrol dengan harga di atas rata-rata umum kue sejenis lainnya.


01 April 2013

Nagasari si Kue Pisang


Saya sangat suka dengan kue-kue tradisional Indonesia. Menurut saya kue tradisional kita memiliki cita rasa yang khas dan unik serta tidak bisa digantikan dengan kue-kue modern. Selain itu kue tradisional umumnya terbuat dari tepung beras, tepung ketan atau tapioka dengan komposisi bahan yang simple sehingga bagi mereka yang alergi dengan tepung gandum bisa turut menyantapnya. Jadi mengapa harus bersusah-susah mencari makanan gluten free di supermarket yang harganya tidak bisa dibilang murah jika koleksi kue-kue tradisional sebenarnya cukup banyak yang gluten free?

Walau saya suka dengan rasanya namun untuk urusan membuatnya hmm.... nanti dulu. Ribet selalu menjadi alasan utama. Contohnya kue pisang atau nagasari yang saya posting kali ini. Dibandingkan dengan membuat muffin atau pancake yang hanya cemplung sana sini, aduk sekedarnya dan panggang, maka kue ini memerlukan ketelatenan. Apalagi jika berurusan dengan proses memasak tepung beras dengan santan, ketakutan terbesar saya adalah adonan yang berbintil-bintil. Tapi kapan lagi saya akan mulai mencobanya? Jadi ketika hari Jumat kemarin saya membuka-buka koleksi buku resep masakan Ny. Liem dan menatap resep kue pisang, saya pun mencetuskan untuk membuat kue pisang pertama saya. Yep, ternyata memang membutuhkan sedikit perjuangan. ^_^



25 March 2013

Combro: yang ini bukan 'oncom ning njero'


Combro, makanan yang terbuat dari ubi ketela pohon yang diparut, dicampur dengan bumbu nan simple dan dikepal bulat memanjang dengan isian oncom atau tempe pedas di dalamnya, adonan ini lantas digoreng hingga kecoklatan. Makanan ini telah dikenal sejak jam baheula, asalnya dari Jawa Barat, dimana oncom yang menjadi isi combro banyak dihasilkan di sana. Walau berasal dari Jawa Barat, namun bukan berarti di daerah Jawa lainnya makanan ini tidak populer. Masa kecil saya di Paron, Jawa Timur, penuh bertabur snack ini dan saudara kembarnya, 'misro'. Nah yang terkhir ini isinya bukan oncom atau tempe melainkan irisan gula merah. Ketika digoreng maka gula merah akan mencair dan lumer sehingga meleleh dimulut kala misro digigit. Sedap!  Keduanya merupakan makanan murah meriah namun memiliki cita rasa yang mantap. Hanya dengan dua kilo ketela pohon - yang jika di Paron super murah harganya - almarhum nenek saya bisa membuat berbaskom-baskom combro dan misro yang cepat habis diserbu oleh anggota keluarga. Maklum saat itu kondisi sangat sulit dan banyak perut kelaparan yang selalu minta diisi. ^_^


07 March 2013

Resep Pembaca JTT: Martabak Manis a la Chanti


Anda tahu berapa kali saya harus membuat martabak manis ini hingga akhirnya berhasil mendapatkan martabak yang saya inginkan? Lima kali. Yep, lima kali saya telah membuatnya dan baru kali ke lima lah saya puas dengan hasilnya. Lembut, bersarang dan empuk. Kali pertama saya membuatnya, walaupun hasilnya tidak bisa dibilang bantat, namun kurang bersarang dan lembut. Resepnya bisa anda klik disini. Percobaan kedua, martabak justru bantat total, tidak bersarang sama sekali dan tentu saja berakhir di tempat sampah. Martabak ketiga, sedikit bersarang tetapi karena terlalu tebal maka ketika bagian dasarnya telah gosong, permukaannya belum matang, rasanya sama sekali bahkan tidak seperti martabak, yang ini juga mendarat di tempat sampah. 

Setelah percobaan ketiga yang gagal, saya lantas berhenti sejenak untuk menarik nafas dan mencari strategi lainnya. Saya tahu resep martabak manis satu dan lainnya hampir sama, namun saya yakin pasti ada tips dan trick pada proses pembuatannya  yang menjadikannya berhasil atau justru gagal yang tiba. Iseng-iseng saya bertanya ke teman saya, Chanti di Aceh yang  jago membuat kue, melalui email. Jawabannya membuat saya bersemangat untuk kembali mencoba trial keempat dan kelima. Anda ingin tahu hasilnya? Yuk lanjut! ^_^


06 November 2012

Bolu Kukus Mekar & Tips: Akhirnya Ngakak Juga!


Bolu kukus, kue dari jaman nenek dan kakek kita ini memang tak lekang oleh waktu dan jaman. Sejak saya masih kecil hingga sekian puluh tahun kemudian kue ini tetap banyak dijual dan mudah dijumpai di pasar maupun toko kue, tidak pernah sepi akan peminat. Tentu saja variasinya menjadi beraneka ragam, mulai dari warna, bahan maupun jenis mangkuk kertas yang digunakan, namun umumnya kue ini tetap sama dari segi rasa dan teksturnya. Karena begitu populernya maka tidak heran jika banyak yang penasaran untuk mencoba membuatnya sendiri, apalagi bahan bolu kukus terbilang sangat simple dan harganya pun terjangkau. Salah satu yang penasaran itu adalah saya tentunya. Puncak keberhasilan membuat bolu kukus adalah ketika kue ini berhasil mekar dengan sukses. Itu tantangan terbesar atau kalau saya bisa bilang 'masalah terberat'? Karena dari tiga kali membuat bolu kukus tidak ada satupun yang berhasil ketawa, semua 'mingkem' berjamaah. Tobat!


12 July 2012

Bingka Ubi Kayu, yang tradisional tak kalah lezatnya


Makanan yang terbuat dari singkong atau ubi kayu pasti sudah tidak asing bagi masyarakat kita. Banyak sekali kue-kue tradisional yang memanfaatkan bahan ini, umumnya diolah dengan cara di goreng, direbus atau dikukus. Namun ada satu jenis kue ubi kayu yang dimasak dengan cara dipanggang, dan merupakan salah satu kue tradisional yang saya gemari. Bingka ubi kayu. 


Bingka sendiri menurut Wikipedia Indonesia merupakan makanan tradisional khas suku Banjar, Kalimantan Selatan. Kue ini memiliki ciri khas kue yang lembut, manis, dan berlemak terbuat dari tepung terigu, telur, santan, gula pasir dan garam. Selama ini, saya hanya mengenal bingka khas Banjar yang terbuat dari tepung terigu, namun ternyata varian bingka sendiri sebenarnya sangatlah banyak tergantung dari rasa dan bahan yang ditambahkan. Di Malaysia dan Singapura, dimana bingka juga dianggap sebagai kue tradisional disana, bahan seperti pandan, pisang, jagung manis, susu, atau ubi kayu umum digunakan untuk membuat aneka varian bingka yang alamak lezatnya. Justru saat berada di Kuala Lumpur lah, saya bisa merasakan aneka macam kue bingka yang dijajakan di salah satu resto di KL Sentral, yang membuat saya hingga sekarang masih terbayang-bayang dengan manis dan lembutnya kue tradisional yang satu ini.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...