Showing posts with label Kue dan Cookies. Show all posts
Showing posts with label Kue dan Cookies. Show all posts

10 April 2014

Kastangel: Si Gurih Renyah dengan Cita Rasa Keju yang Nendang ^_^


Walau Lebaran masih jauh dari tiba, tapi tidak ada salahnya kalau kita coba membuat kue kering yang menjadi menu wajib kala Idul Fitri. Tips supaya rasa kejunya benar-benar terasa adalah dengan memilih jenis keju cheddar dengan aroma yang kuat dan jangan ragu-ragu untuk memasukkannya dalam jumlah banyak. Si kastangel ini terasa super cheesy dan garing!

 
Kastangel yang merupakan salah satu kue kering khas Lebaran ini bukan merupakan kue favorit saya. Rasanya yang asin gurih khas keju itulah yang menjadi alasan mengapa saya selalu menghindarinya. Rasa keju di camilan seperti kue kering memang tidak begitu saya sukai, berbeda ketika rasa keju tersebut kuat terasa di saus lasagna atau spaghetti. Tidak heran kastangel merupakan kue yang tidak menggelitik  minat saya untuk dicoba. Walau beberapa pembaca JTT sering menanyakan resep kastangel, namun berulangkali saya hanya bisa memberikan janji-janji surga, suatu saat kue ini akan saya buat dan hadirkan disini. Namun janji tinggallah janji hingga libur saat Pemilu kemarin.  

Bengong tidak tahu apa yang harus dikerjakan sementara rumah telah mengkilap bersih membuat saya pun membuka-buka file folder blog dan menemukan judul kastangel disana tanpa ada resep yang ditulis sama sekali. Saya teringat waktu itu memang berniat untuk mengeksekusi satu resep kastangel hanya saja kemudian teralihkan dengan resep lainnya yang lebih menarik. Nah kebetulan sepotong keju edam telah lama 'ngendon' di kulkas jadi walau didera rasa malas harus mengotori dapur yang telah 'kinclong' sayapun menyeret kaki kesana. ^_^


07 April 2014

Linzer Torte - Dari kacang tanah pun tetap lezat!


Dua minggu terakhir ini dapur rumah Pete mengalami perbaikan besar-besaran, pasalnya bukan karena saya kelebihan budget dan kemudian mendadak mendapat ilham untuk membuatnya menjadi cantik tetapi karena langit-langit dapur yang bocor. Langit-langit ruang makan dan dapur terbuat dari semen cor-coran, dan sepertinya kontraktor yang mengerjakannya dua tahun yang lalu menggunakan bahan dengan kualitas 'abal-abal' (lebih banyak pasir dan sedikit semen), akibatnya ketika musim hujan sedang parah-parahnya beberapa waktu yang lalu, air yang menggenang di lantai yang terbuka di atas merembes meninggalkan bercak-bercak hitam, berjamur dan menyebar kemana-mana. Karuan saja tampilan dapur pun menjadi kusam, kotor dan berbau apak.

20 December 2013

Bingka Pandan: Lembut dan Harum


Entah kekuatan apa yang merasuki saya tadi malam, ketika jam telah menunjukkan pukul delapan malam tiba-tiba keinginan untuk membuat bingka pandan ini mencuat. Mungkin karena melihat prosesnya yang mudah atau karena semua bahan-bahannya tersedia di dapur sehingga tanpa pikir panjang lagi saya langsung membuatnya. Merasa satu resep kurang banyak bagi teman-teman kantor yang selalu kelaparan saya langsung mengeksekusi dua resep sekaligus. Membuatnya memang mudah, semua bahan cukup dimasukkan ke dalam blender dan proses hingga smooth. Tapi masalah terbesar yang muncul adalah kue bingka dengan kandungan airnya yang tinggi membutuhkan waktu yang lama dan lama untuk membuatnya matang dengan tuntas. Alhasil saya harus menunggu hingga pukul sebelas malam sebelum bisa terjun bebas di atas kasur. Capek, lelah, mengantuk, sambil dalam hati menggerutu. "Bingka, bingka betapa lamanya memanggangmu Nak"!


16 December 2013

Cookies Bunga Mawar - Tanpa Telur!


Ada satu kue kering yang dulu waktu saya masih kecil sering sekali dibuat oleh tante-tante saya di Tanjung Pinang, Riau, kue semprit. Dinamakan demikian karena kue di masukkan ke dalam cetakan dan didorong keluar melalui lubang yang panjang bergerigi. Teksturnya garing, dan renyah dengan rasa butter yang kuat. Seingat saya kue ini juga super duper mudah dibuat sehingga menjadi kue favorit Ibu saya selain nastar. Di Tanjung Pinang, waktu itu, lebaran selalu dirayakan dengan meriah. Ibu-ibu dan kaum wanita di setiap rumah yang beragama muslim, dua minggu sebelumnya telah sibuk meggoreng kacang dan membuat aneka kue-kue kering. Di antara saudara yang lain, Ibu saya yang paling tidak ahli membuat segala macam penganan yang bernama kue, karena itu setiap tahun Ibu akan mengundang bala tentara (biasanya selama dua hari) untuk membuat stick keju, nastar dan kue semprit. Cukup tiga macam kue ini saja karena yang paling mudah dan banyak penggemarnya.  ^_^


12 December 2013

Cookies Coklat Kupu-Kupu dengan Almond - Bebas Gluten, Casein dan Telur!


Sekitar tiga bulan yang lalu, saya mendapatkan tantangan tak terelakkan dari kakak saya, Wulan, yang tinggal di Batam. Membuat kue kering gluten free untuk Ellan, putranya yang berusia dua tahun. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, keponakan saya ini alergi dengan gluten, telur, produk kedelai dan produk yang mengandung casein (susu dari hewan serta produk olahannya). Walau banyak cookies gluten free yang dijual di supermarket seperti Food Hall dan Kemchick, namun Ellan mudah bosan sehingga lebih banyak kue yang terbuang dibandingkan yang masuk ke dalam mulut mungilnya.

Terus terang pengalaman saya membuat kue kering bebas gluten sangat minim, salah satu dan hanya satu-satunya resep yang pernah saya coba hanyalah biskuit maizena yang pernah saya posting sebelumnya. Jika anda berminat silahkan klik link disini. Biskuit itu pun masih menggunakan telur dan mentega, dua bahan yang juga menjadi pantangan bagi Ellan! Sedangkan kali ini saya harus membuat kue yang selain bebas gluten, juga bebas telur dan bebas mentega atau margarine. Hasil browsing saya ke aneka web dan blog yang mengusung resep gluten free walau tidak menghasilkan resep kue yang sesuai dengan keinginan namun setidaknya membuka wawasan dan memberikan secercah harapan. Jadi untuk project kali ini saya akan mengutak-atik resep versi saya sendiri. ^_^

22 October 2013

Gluten Free Oatmeal, Choco Chips, Almond & Raisin Cookies


Demam OCD melanda, yang ini bukan Obsessive-Compulsive Dissorder tetapi Obsessive Corbuzier's Diet. Bukan saja di televisi ramai membicarakan mengenai diet a la Deddy Corbuzier ini tetapi di kantor saya pun demikian. Nah, saya pun harus mengakui bahwa saya adalah salah satu yang terkena demamnya. Sudah satu bulan ini saya menjalankannya dan lumayan juga, sekitar 4 kilo lemak (atau air?) hilang dari tubuh saya, membuat saya berjingkrak girang kala jarum timbangan mulai menunjukkan angka di bawah 60 kg. Sejak usia merangkak naik (selalu faktor usia disalahkan!) berat saya tidak pernah beranjak dari angka 60-an, paling sering bertengger di angka 65 kg dan itu sudah termasuk kategori overweight kalau dilihat dari Body Mass Index (BMI). 


Melihat tubuh saya yang 'sedikit' mengecil, teman-teman di kantor pun menjadi ribut dan mulai menerapkan OCD juga. Awalnya tidak mudah, apalagi bagi saya yang selalu rutin sarapan, peminum coklat susu di pagi hari dan ngemil di malam hari. Satu minggu pertama kepala terasa berdenyut dan otak saya hanya penuh dengan aneka makanan yang akan saya sikat di siang hari. Tapi setelah seminggu terlewati dan merasa celana yang dulu sesak mulai terasa sedikit longgar, semangat pun tumbuh dan proses dilalui dengan mudah. Tiga minggu lewat mulailah saya rajin update foto profile di WhatsApp dan meminta Wiwin dan Tedy, dua adik saya yang juga overweight untuk melihat tampilan saya saat ini sambil dengan pe-de melancarkan motivasi. Mereka pun menjadi heboh dan meminta saya mengirimkan e-book OCD yang bisa di-download gratis di internet. Setelah satu minggu e-book saya kirimkan, saya pun iseng telp ke Wiwin, "Gimana progressnya? Turun berapa kilo"? tanya saya penasaran. "Huaa, aku nggak sanggup! Berat! Tiap hari lihat tahu goreng di meja aku sikat dan kepalaku cuman penuh dengan tahu goreng dan cabai rawit. Enak banget!". Untuk memulai program diet apapun memang nomor satu yang kita perlukan hanyalah niat. ^_^

18 September 2013

Checkerboard Cookies - Si Kue Papan Catur


Satu sifat yang saya sangat, sangat sulit untuk mewujudkannya adalah kerapian, dan kerapian dalam menciptakan makanan mungkin menjadi problem terbesar diantara tuntutan kerapian-kerapian yang saya perlukan dalam keseharian pekerjaan yang saya lakukan. Pusing? Terus terang saya sendiri 'liyer' membaca paragraf pertama postingan saya kali ini. Okeh kita lanjut! Lantas apa hubungannya antara kerapian dengan kue yang kali ini saya posting? Sejak pertama kali saya melihat tampilannya di salah satu web, saya tahu membuat checkerboard cookies  ini sepertinya akan mengerahkan semua ketelatenan dan kerapian yang 'jika' pernah ada dalam diri saya maka momen ini akan menjadi sarana yang tepat untuk membuktikannya. Anda tahu kan betapa amburadulnya kue-kue yang saya buat selama ini jika anda bandingkan dengan banyak blog kuliner di luar sana? Seringkali saya terkagum-kagum sendiri, bagaimana mereka mampu membuat cake, cookies, roti atau muffin yang begitu cantik, rapi tanpa ada belepotan sama sekali. 

Untuk rasa, saya yakin makanan yang saya buat selezat yang mereka buat juga, tapi untuk tampilan benar-benar membuat saya sama sekali tidak pe-de! Dan ketika teman atau salah satu keluarga berkomentar, "Enak Ndang! Tapi penampakannya tidak layak jual sama sekali", saya hanya bisa nyengir kuda sendiri.


23 August 2013

Nastar a la Ny. Liem


Apa alasan utama yang membuat saya malas membuat nastar? Alasan pertama karena menggelindingkan nastar memerlukan waktu yang lama sehingga menyelesaikan satu adonan resep saja telah cukup membuat encok pegel linu singgah di pinggang. Nah alasan kedua adalah nastar adalah kue favorit saya yang sebuah tidak akan pernah cukup! Jika sudah masuk ke dalam mulut maka satu toples bisa amblas tak bersisa dalam sekejap. Setelahnya maka saya akan menjerit dan menyesal saat teringat betapa tingginya kalori si nastar.  Saat Lebaran kemarin, adik saya Wiwin telah mewanti-wanti saya agar tidak terlalu banyak membuat kue ini. Kami berdua penggemar beratnya dan terlebih lagi adik saya sepertinya agak-agak 'kecanduan' tepung, sehingga kue kering apapun yang nampak di depan matanya pasti akan disikat. Pengalaman tahun lalu, berat badan kami langsung naik tiga kilo pada H+2 setelah Lebaran. Kali ini kami benar-benar tidak ingin mengulangi pengalaman yang sama. ^_^


22 August 2013

Kue Kacang a la Wiwin


Saat Lebaran kemarin, saya dan adik saya, Wiwin, mendapat giliran untuk mudik ke kampung halaman di Paron, Ngawi. Tahun lalu kami berdua melewatkan Lebaran di Jakarta karena kakak saya dan Tedy, adik lelaki saya yang pulang mengunjungi Ibu di sana. Membayangkan kondisi macet dan sulitnya mencari tiket akhirnya kami pun melayangkan beribu bujukan ke Ibu dan adik bungsu saya, Dimas, agar bersedia berlibur di Ibu Kota. Senjata rayuan kami apalagi kalau bukan kondisi Jakarta yang tenang dan bebas macet, sehingga bisa shopping dan jalan-jalan dengan nyaman. 


Alasan lainnya adalah bisa melihat Kirana, putri pertama Tedy dan Diar yang juga sekaligus sebagai cucu perempuan satu-satunya yang hadir di keluarga besar kami. Saat ini si imut cantik ini telah berusia lima bulan, begitu lucu dan menggemaskan sehingga semua orang berebutan untuk menjadi baby sitter-nya secara sukarela. Bujukan kami pun berhasil, Ibu saya datang bersama adik dan tante saya untuk melewatkan waktu selama seminggu lebih di sini. ^_^

04 July 2013

Kue Bugis


Satu lagu kue tradisional yang lezat dan mudah dibuat yaitu kue bugis. Pada saat bulan puasa yang sebentar lagi akan tiba memang paling sedap menyantap kue dan penganan tradisional dengan cita rasa manis, legit dan sedap seperti kolak, cendol dan kue-kue manis. Kue bugis yang saya posting kali ini bisa menjadi alternatif untuk dibuat dan menjadi kudapan berbuka puasa yang cukup memuaskan. Kue ini sebenarnya mirip dengan kelepon yang pernah saya posting sebelumnya, untuk resep kelepon silahkan klik di link disini ya. 

Nah yang membuat kue bugis dan kelepon berbeda adalah kue bugis berukuran lebih besar dan berisi parutan kelapa yang dimasak dengan gula merah dan dibungkus dengan menggunakan daun pisang setelah terlebih dahulu kue disiram dengan vla kental yang terbuat dari tepung dan santan. Sedangkan kelepon, hanya berisi irisan gula merah dan disantap dengan parutan kelapa yang dikukus. Karena perbedaannya yang tidak terlalu mencolok tidak heran kedua makanan ini memiliki rasa yang hampir sama dan sekali saja anda membuat adonannya maka dengan sedikit modifikasi anda telah berhasil membuat dua kue sekaligus dalam satu kesempatan saja. Yummy!


20 June 2013

Klepon


Salah satu pembaca JTT pernah menanyakan ke saya beberapa waktu yang lalu, mengapa klepon yang dibuatnya retak-retak kala di pulung menjadi bulatan kecil. Saya yang sudah lama sekali tidak pernah membuat klepon menjadi berpikir dan berusaha mengingat-ngingat pengalaman membuatnya waktu lalu. Waktu lalu ini berarti tempo doeloe, jaman antah berantah kala keberanian membuat kue baru terbatas pada kue-kue tradisional yang mudah diperoleh bahan-bahannya dan hanya mengandalkan kukusan atau penggorengan untuk memasaknya. Seingat saya waktu itu adonan tidak pecah atau retak tetapi alot dan luar biasa elastis kala dikunyah.  ^_^


24 May 2013

Donat: Kali ini tanpa kentang


Walau seringkali saya kebingungan menghabiskan makanan yang telah saya praktekkan sendiri, tetapi tidak menyurutkan semangat saya untuk mencoba membuatnya. Seperti hari Minggu kemarin saat saya melihat resep donat yang disebut-sebut mirip dengan donat Krispy Kreme. Membayangkan donat yang ringan selembut kapas menjadikan saya tetap nekat mencobanya walau tahu tidak ada satu pun orang di rumah (kecuali saya) yang harus menyantap semuanya. Ditambah lagi, bahan dan prosesnya sangat mudah, membuat semangat saya pun menjadi lebih menggebu.

Selama ini jika membuat donat maka saya biasanya mencampurkan adonannya dengan kentang kukus yang dihaluskan (resep donat kentang silahkan klik disini). Pengalaman selama ini, donat dengan kentang memiliki tekstur yang empuk dan lembut, bahkan saat disantap keesokan harinya. Namun siapa sih yang tidak tertarik untuk mencoba jika ada resep yang lebih simple? Jadi ketika membaca resep donat tanpa kentang namun memiliki tekstur seempuk Krispy Kreme saya pun langsung tak sabar untuk membuktikannya. ^_^


14 May 2013

Kue Tepung Beras Isi Gula Merah


Beberapa waktu lalu rekan sekantor saya Dewi membawa sekotak besar berisi kue yang terbuat dari tepung beras, warnanya putih dan bentuknya seperti kepalan tangan. Tampilannya memang terlihat unik dan aneh tapi ternyata rasanya sangat lezat, mirip-mirip seperti kue putu bambu yang banyak dijual oleh abang-abang di gerobak di tepi jalan. Bedanya kue ini tidak berisi gula merah di bagian tengahnya. Menurut Dewi namanya kue pohul-pohul dan merupakan salah satu kue tradisional suku Batak. 


Anyway, resep dari Dewi terdengar simple dan mudah, tipsnya hanyalah gunakan tepung beras yang masih fresh yang baru saja digiling dan dibuat dari beras dengan kualitas yang baik. Tepung beras yang seperti ini akan menghasilkan kue yang empuk, lembut dan harum. Takarannya? "Pokoknya kelapanya makin banyak makin enak, takarannya nggak tahu, Ibu yang buat." Oke, apa sih susahnya membuat kue ini, pikir saya. Semua bahan cukup dicampur dan diaduk jadi satu, supaya tampilannya lebih keren saya pun mencetaknya menggunakan cetakan berlubang untuk bolu kukus. Nah karena malas menggiling tepung di pasar maka saya pun membuat tepung beras sendiri dengan menggiling beras yang telah direndam dan diangin-anginkan hingga kering di coffee grinder. Hasilnya? Tidak selezat kue buatan Dewi tapi cukup mantap untuk nyamikan di sore hari.... ^_^


25 April 2013

Basic Buttermilk Biscuits


Biskuit a la Amrik dan terkadang Kanada memang berbeda dengan biskuit garing renyah yang umum kita temukan di sini. Dikedua negara tersebut biskuit merupakan sejenis kue yang lembut, mengembang seperti cake, terkadang mirip dengan scones namun dengan tekstur yang lebih lembut dan lebih kembang. Walaupun ragi biasa juga digunakan sebagai bahan pengembang dalam biskuit namun seringkali perannya digantikan dengan baking powder dan baking soda. Di Inggris dan negara-negara di Eropa, biskuit mengacu pada sejenis kue kering/cookie atau seperti cracker di US. Biskuit di Inggris dan Irlandia bisa memiliki rasa yang asin dan gurih, umumnya disebut dengan cracker atau manis seperti biskuit coklat, biskuit dengan krim custard atau biskuit kacang. Walaupun seringkali biskuit dan cookie dianggap sebagai jenis kue yang sama namun sebenarnya cookie memiliki tekstur yang lebih empuk dan lembut dibandingkan biskuit. 


19 April 2013

Apple Hand Pies versi Panggang


Oke, pie apple ini mungkin tidak serenyah seperti pie-pie lainnya yang pernah saya buat dan tampilkan di blog. Hmm, misalnya saja resep strawberry pie ini, atau chicken pot pie yang ini atau pie mangga ini. Namun percayalah, kekurangrenyahan ini bukan karena resep yang kurang maknyus, melainkan proses yang saya lakukan kurang tepat dan ujungnya menghasilkan pie yang kurang nendang. Wokeh semua serba kurang, termasuk juga kurang skill, dan kurang membaca resep dengan seksama (sepertinya juga harus saya akui). Bagaimana dengan kurang memahami resep dengan baik? Oh yeah itu juga! Eits, tunggu dulu, jangan buru-buru meraih sandal atau sepatu yang bergeletakan di sekitar anda untuk dilemparkan ke saya. Swear, saya tidak bermaksud berkelit dengan menulis aneka ragam alasan untuk menutupi kenyataan bahwa pie ini memang kurang renyah! ^_^


09 April 2013

Kue Mangkuk Gula Merah


Sebuah toko kue kecil di Mall Ambasador, sebelah kantor saya, memiliki keunikan. Semua kue-kue yang dijajakan adalah jenis kue tradisional. Mulai dari lemper, apem, klapertaart, ongol-ongol, lumpia, getuk serta aneka kue bolu dan cake kukus. Salah satu yang menjadi favorit saya jika singgah di toko ini adalah kue mangkuk gula merahnya. Warnanya merah gelap, legit, sedikit liat, dengan ukuran yang agak besar. Mantap! Ternyata bukan hanya saya saja yang menjadi penggemarnya, beberapa teman di kantor juga mengakui kelezatannya. Tak heran kue ini sering cepat habis, ludes diburu peminatnya.

Selain rasa kue-kuenya yang lezat, tampilan dan kemasan kue-kue di toko ini juga sangat menarik. Tak heran walau mengusung tema tradisional, toko tersebut mampu bersaing dengan aneka bakery yang banyak malang melintang dan terus bermunculan di setiap titik di mall. Namun kembali lagi ke slogan 'ada rupa - ada rasa', kue yang dijajakan memang dibandrol dengan harga di atas rata-rata umum kue sejenis lainnya.


01 April 2013

Nagasari si Kue Pisang


Saya sangat suka dengan kue-kue tradisional Indonesia. Menurut saya kue tradisional kita memiliki cita rasa yang khas dan unik serta tidak bisa digantikan dengan kue-kue modern. Selain itu kue tradisional umumnya terbuat dari tepung beras, tepung ketan atau tapioka dengan komposisi bahan yang simple sehingga bagi mereka yang alergi dengan tepung gandum bisa turut menyantapnya. Jadi mengapa harus bersusah-susah mencari makanan gluten free di supermarket yang harganya tidak bisa dibilang murah jika koleksi kue-kue tradisional sebenarnya cukup banyak yang gluten free?

Walau saya suka dengan rasanya namun untuk urusan membuatnya hmm.... nanti dulu. Ribet selalu menjadi alasan utama. Contohnya kue pisang atau nagasari yang saya posting kali ini. Dibandingkan dengan membuat muffin atau pancake yang hanya cemplung sana sini, aduk sekedarnya dan panggang, maka kue ini memerlukan ketelatenan. Apalagi jika berurusan dengan proses memasak tepung beras dengan santan, ketakutan terbesar saya adalah adonan yang berbintil-bintil. Tapi kapan lagi saya akan mulai mencobanya? Jadi ketika hari Jumat kemarin saya membuka-buka koleksi buku resep masakan Ny. Liem dan menatap resep kue pisang, saya pun mencetuskan untuk membuat kue pisang pertama saya. Yep, ternyata memang membutuhkan sedikit perjuangan. ^_^



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...