Makanan yang setipe dengan bakwan sayuran memang banyak, namanya pun beraneka ragam, di Indonesia sendiri selain kata bakwan kita mengenalnya dengan nama pia-pia, atau ote-ote, sedangkan di luar negeri potongan sayuran dalam tepung yang digoreng ini dikenal dengan sebutan vegetable pancake dan fritters. Sebenarnya semua sama, semua mirip yang membedakan mungkin dari komposisi takaran tepung dan bumbu yang digunakan. Umumnya bakwan a la Indonesia menggunakan komposisi tepung yang lebih banyak dibandingkan dengan sayuran, menghasilkan makanan yang lebih padat dan mengenyangkan.

Terus terang saya lebih suka dengan bakwan dengan komposisi sayur yang lebih banyak dibandingkan tepungnya dan ketika bulan lalu saya mencicipi pancake sayuran di salah satu restoran Korea di dekat rumah, saya pun menjadi ketagihan. Pancake berisi sayuran dan seafood dengan ukuran sebesar piring makan ini digoreng dengan ketebalan 1 cm, permukaannya kering namun bagian dalamnya lembut dengan tekstur sayuran yang crunchy. Pancake lebar ini disajikan dalam bentuk potongan-potongan kecil dan disantap dalam cocolan saus yang terbuat dari soy sauce dan vinegar. Hmm, super yummy!
Walau seringkali dapur dan rumah Pete menjadi beraroma kimchi yang keras dan terkadang membuat kepala saya menjadi puyeng, namun tetap saja saya selalu ingin mengudap makanan sehat nan segar yang berasal dari Korea ini. Telah berkali-kali saya membuat kimchi sendiri di rumah dengan menggunakan resep yang sama dari web Maangchi dan so far menurut saya rasanya lezat dan pas dengan selera saya, sayangnya kadar gula yang digunakan juga banyak. Jadi pada minggu lalu, saat mulut saya begitu inginnya menikmati makanan ini sedangkan untuk menyantapnya di resto Korea terasa berat, sayapun berusaha memodifikasi resep kimchi menjadi lebih sehat dengan mengurangi kadar gula yang digunakan. Sebagai pengganti gula di resep, saya menggunakan pir dan apel yang diblender halus. Hmm, kimchi versi ini tentunya lebih segar, sehat dan lezat.
Untuk mewujudkannya, sepulang kantor saya pun singgah sebentar di supermarket khusus makanan Korea & Jepang bernama Papaya yang tidak jauh dari rumah Pete. Dua buah sawi putih ukuran besar, dua buah lobak putih, se-pack cabai hijau Jepang yang tidak pedas rasanya, ikatan kucai dan daun bawang, sebotol kecap ikan serta tidak lupa sebungkus bubuk cabai Korea masuk ke dalam keranjang belanja. Alhasil, hingga pukul sebelas malam saya pun terkantuk-kantuk berkutat di dapur membuat kimchi idaman. ^_^

Anda penggemar berat sinetron ala Korea? Atau sering nongkrong di resto Korea yang sekarang makin banyak bertebaran di mana-mana? Nah, jika anda termasuk salah satu di atas pasti kenal dan pernah tahu dengan makanan bernama kimchi. Makanan ini terasa nano-nano antara asam, asin, pedas dan sedikit manis. Dibandingkan dengan asinan maka kimchi tidak semanis salad buah sayuran ala Indonesia tersebut. Kimchi merupakan makanan fermentasi tradisional ala Korea yang terbuat dari sayur-mayur yang diolah dengan menggunakan aneka ragam bumbu. Ada ratusan jenis kimchi dengan sayuran utama yang terbuat dari sawi putih (napa cabbage), lobak, daun bawang dan ketimun. Kimchi termasuk jenis lauk (banchan) yang paling dikenal dan umum di Korea. Dari kimchi lantas terciptalah aneka ragam jenis masakan lainnya seperti kimchi rebus (kimchi jjigae), sup kimchi (kimchiguk), dadar telur kimchi/kimchi pancake (kimchijeon), nasi goreng kimchi dan masih banyak lagi. Penasaran dengan artikel mengenai kimchi? Yuk lanjut... ^_^



Walaupun tidak dikenal dengan nama semur karena ini hanya istilah yang saya gunakan untuk mendeskripsikan masakan ini, namun makanan ala Korea yang bernama bulgogi ini memang memiliki penampilan dan cita rasa yang 'hampir' mirip dengan semur. Bedanya bulgogi tidak semanis semur dan ciri khas utamanya adalah pada taburan wijen panggang yang menyelimuti permukaan daging sapi berbumbu yang tidak kita temukan pada semur. Selain itu bumbu bulgogi sangat sederhana dan menggunakan kecap asin dan minyak wijen yang jarang digunakan di masakan Indonesia. Bagi anda yang tidak terbiasa dengan rasa minyak wijen yang sedikit unik mungkin akan mengernyitkan kening saat potongan daging pertama memasuki mulut dan berkomentar, "Hmm, ada rasa-rasa yang aneh nih di bumbunya". Yep! Itu komentar yang pertama kali dilontarkan Tedy, adik saya, begitu menyantap bulgogi kali pertama, namun setelahnya yang terdengar hanya kata "Sedap"! ^_^