Showing posts with label Sayuran. Show all posts
Showing posts with label Sayuran. Show all posts

27 May 2015

Green Smoothie & Info Seputarnya


Kalau kita berbicara tentang gaya hidup sehat, makanan sehat, cara menurunkan berat badan dengan alami, dan hal-hal lain seputarnya maka green smoothie biasanya termasuk ke dalam topik yang diperbincangkan. Campuran aneka sayuran mentah dan buah-buahan segar yang diproses hingga smooth di dalam gelas blender ini memang dipercaya merupakan salah satu makanan sehat yang layak dikonsumsi dengan rutin. Saya termasuk salah seorang yang percaya dengan khasiatnya dan rajin mengkonsumsinya setiap hari. Selain kandungan vitamin, mineral dan antioksidannya yang tinggi, maka green smoothie juga memiliki rasa yang segar dan lezat, serta tentu saja mudah dibuat, mengenyangkan dengan kalori yang rendah. 

Namun sebelum kita meloncat ke dapur dan membuat se-pitcher besar green smoothie sebagai sarapan pagi, maka ada baiknya kita melakukan riset kecil-kecilan terlebih dahulu tentang green smoothie. Seperti tentang bagaimana cara terbaik membuatnya, bagaimana mengkonsumsinya dengan tepat, serta tentu saja pilihan jenis sayur dan buah yang layak untuk dijadikan smoothie. Karena mungkin saja sayur atau buah yang baik bagi satu orang ternyata tidak tepat untuk orang lainnya. Nah dalam artikel Green Smoothie dan Informasi Seputarnya kali ini, saya ingin berbagi sedikit informasi tentangnya yang saya ambil dari beberapa sumber. Mungkin saja artikel ini bisa bermanfaat bagi kita yang ingin mulai menjadikan green smoothie sebagai bagian dari pola hidup sehat yang dilakukan. 


26 May 2015

Membuat Gulai Rebung, Kacang Panjang dan Kacang Merah a la My Mom


Bambu adalah tanaman yang selalu membuat saya bernostalgia tentang masa kecil tatkala melihatnya tumbuh entah dimana. Begitu banyak pengalaman suka dan duka yang saya alami jika berbicara tentang tumbuhan super ini dan semua terjadi ketika saya masih duduk di sekolah dasar di Paron. Sebagaimana desa di daerah lainnya di Jawa, maka Paron dipenuhi dengan sawah dan ladang yang menghijau serta pohon bambu yang tumbuh subur dimana-mana. Bambu apus dan bambu petung adalah dua jenis bambu yang saya ingat banyak tumbuh di halaman rumah dan kebun penduduk. Bambu apus langsing, gemulai,  lentur dan memiliki lingkar batang yang tidak terlalu lebar dan biasanya digunakan untuk membuat aneka kerajinan tangan dan perkakas rumah tangga. Sedangkan bambu petung kekar, bongsor, besar, menjulang tinggi, dan umumnya digunakan untuk bahan bangunan rumah.  

Begitu banyaknya bambu tumbuh membelukar disetiap sudut 'tegalan' maka tak heran jika mata pelajaran ketrampilan di sekolah banyak diisi dengan prakarya dari bambu. Nah salah satunya yang sering membuat saya sakit perut dan nightmare adalah membuat kipas bambu. ^_^


13 May 2015

Acar Bandeng Presto a la My Mom


Ibu saya selalu memasak makanan dengan hati dan cinta, tak heran semua hasil masakannya selalu terasa lezat dan pas di lidah kami. Namun karena memasak dengan hati dan cinta inilah maka takarannya pun  sulit untuk diikuti secara akurat porsinya. Gula dan garam seringkali dimasukkan menggunakan 'jumputan' jemari tangan. Walau seakan terlihat asal cemplung sana-sini namun rasanya selalu konsisten dan tidak pernah membuat kami kecewa. Pendapat ini mungkin tidak fair, mengingat semua anak yang dibesarkan dengan masakan Ibu-nya biasaya akan menganggap masakan Ibu mereka paling sedap sedunia. ^_^

Tentu saja menu yang dimasak Ibu saya terbatas. Beliau bukan maniac pencoba resep seperti saya yang selalu gatal ingin segera lari ke dapur ketika melihat satu resep 'moncer' di buku atau internet. Tapi menurut para orang tua, jika anak gadis sudah berhasil membuat sambal terasi yang sedap maka sudah waktunya untuk dikawinkan. Artinya sudah jago memasak dan bisa menyediakan hidangan yang enak untuk suami. Nah sambal terasi buatan Ibu saya hingga kini belum ada tandingannya, bukan berarti Ibu saya layak untuk menikah kembali, tetapi masakan beliau memang benar-benar nendang rasanya! ^_^


06 May 2015

Sup Krim Labu Kuning - I love it! I love it!


Jika saja saya tahu dari dulu betapa lezatnya labu kuning yang diproses halus dan diolah menjadi sup seperti ini maka mungkin hari-hari saya akan banyak dihiasi olehnya. Labu kuning cukup melimpah di pasar atau supermarket dan seiris besar labu hanya seharga sepuluh ribu rupiah saja, dengan porsi segitu saya bisa membuat bermangkuk-mangkuk sup krim labu yang super delicious! Labu kuning yang lembut membuat tekstur sup menjadi sangat creamy sehingga krim kental yang digunakan mungkin hanya berfungsi  sebagai hiasan saja. 

Sangat bergizi, rendah akan kalori, proses pembuatan yang mudah dan cepat, mengenyangkan serta enak rasanya. Semua alasan-alasan itulah yang membuat saya merekomendasikan sup ini untuk anda coba di rumah. Percayalah anda tidak akan kecewa dengan hasilnya. ^_^


29 April 2015

Tahu Cincang dengan Sayur dan Telur Puyuh


Beberapa waktu yang lalu, hmm tepatnya sekitar tiga tahun yang lalu, saya pernah join di salah satu komunitas backpackers. Acara jalan-jalan murah meriah ini sebenarnya cukup menyenangkan, apalagi komunitas backpackers yang saya ikuti ini lebih memilih lokasi-lokasi yang berhubungan dengan kebudayaan dan sejarah. Dua hal yang saya sukai. Kami tak hanya sekedar melancong tetapi juga diajak untuk mengenal negeri ini lebih dekat. Karena tak kenal maka tak sayang, dan tak dekat maka tak cinta, bukan? 

Berhubung namanya backpackers maka peserta tentu saja diharapkan bisa menerima dengan tabah situasi dan kondisi yang terjadi. Seperti misalnya menunggu di panas terik mentari sementara si Mas Guide sibuk menawar angkot di stasiun Bogor kala kami hendak menuju ke sebuah pura di gunung Salak. Atau berdesak-desakan berdiri di commuter line bersama tas punggung yang berat berisi makanan dan pakaian. Atau bermandikan keringat di dalam angkot yang sempit. Semua hal ini biasa dalam dunia backpackers (setidaknya di dalam dunia backpackers kami) dan selama kendaraan bisa membawa ke tempat tujuan maka faktor kenyamanan tidak harus diperhitungkan. Namanya juga jalan-jalan 'ngirit' bo! ^_^


31 March 2015

Tumis Ayam dengan Sayuran



“Let food be thy medicine, and medicine be thy food.”
~ Hippocrates



Kalau berbicara tentang tumisan maka bayangan kita akan jenis masakan yang satu ini pastilah terbuat dari bumbu yang simple terdiri atas bawang-bawangan, jahe dan cabai yang ditumis bersama sedikit minyak. Gambaran tersebut tidaklah salah karena umumnya tumisan yang kita kenal memang seperti itu. Tapi sebenarnya kalau mau sedikit lebih kreatif maka bumbu tumisan bisa dimodifikasi  untuk mendapatkan masakan yang berbeda, baik tampilan maupun rasanya. Nah itulah sebenarnya yang saya lakukan kala membuat tumis ayam dan sayuran yang kali ini saya posting. 

Sedikit vinegar alias cuka dan soy sauce membuat tumis sayuran ini menjadi variasi yang segar setelah jenuh dengan bumbu yang itu-itu saja. Apalagi dengan aneka sayur berwarna-warni yang saya pergunakan, membuat masakan ini menjadi terlihat fresh, menggugah selera dan tentu saja lebih menyehatkan. Seperti kata-kata Bapak Kedokteran dari Yunani, Hippocrates, yang saya kutip di atas, "Jadikan makanan sebagai obat-mu dan obat-obatan sebagai makanan-mu,". Menyantap makanan sehat memang salah satu cara untuk memerangi beragam penyakit. ^_^



17 March 2015

Mie Ayam Yamin


Bel telah dua kali saya bunyikan, tetapi tak satupun anggota keluarga yang muncul membukakan pintu. Iseng saya pun menekan handle dan pintu yang tak terkunci pun terbuka dengan mudah. Rumah adik saya, Wiwin, terlihat lengang dan kosong. "Halooo! Asalamualikum"! Teriak saya dan hanya disambut oleh suara desau angin yang menerobos dari pintu teras di halaman belakang yang terbuka lebar. Baru saja saya meletakkan tas dan bawaan yang berat, Septi, asisten rumah Wiwin muncul dari kamar belakang. "Ibu sama Bapak lagi keluar sama anak-anak Mba, nganter si Abang tes masuk sekolah di Al Azhar," jelas Septi. "Oke, tapi  Umi dan lainnya kemana?" Balas saya menanyakan Ibu dan tante-tante saya yang biasanya berada di kamar depan. Waktu itu Ibu saya memang masih berada di Jakarta dan belum kembali ke Paron.

"Umi sama lainnya diajak Mas Dimas jalan-jalan naik busway ke kota. Katanya mau lihat Kota Tua." Ah ya, memang beberapa waktu yang lalu Ibu saya sudah merencanakan acara jalan-jalan ke Kota Tua, dan sepertinya adik saya Dimas yang akhirnya mengajak mereka semua. Tidak tahu apa yang harus saya lakukan di rumah yang sepi, akhirnya saya pun duduk di ruang makan dan menatap aneka lauk dan makanan disana. Sebuah bungkusan putih styrofoam pun menarik perhatian saya. Ketika saya buka, ternyata isinya adalah satu paket lengkap mie ayam yamin yang terlihat yummy!


03 March 2015

Paddas Porridge dengan Slow Cooker - Si Bubur Daging yang Nikmat


Setelah mati-matian mempertahankan diri dengan aneka obat batuk dari apotik dan obat tradisional, akhirnya saya pun mengibarkan bendera putih tanda menyerah karena batuk tak berkurang sedikit pun, bahkan menjadi bertambah parah. Ketika Sabtu kemarin saya berkunjung ke rumah Wiwin, di Mampang, adik saya langsung menyeret saya ke rumah sakit Asri di daerah Buncit untuk berobat di dokter umum disana. Dua botol Codipront, segepok antibiotik dan anti radang akhirnya mampu meredakan batuk menyiksa yang membuat saya susah tidur kala malam tiba. Walau kini masih ter-uhuk-uhuk ria, namun kondisi saya sudah jauh, jauh lebih baik. Thanks untuk pembaca JTT yang banyak memberikan saran untuk mengobati batuk dan doanya agar saya lekas sembuh. Semua perhatian itu sangat berarti. ^_^

Nah resep ini sebenarnya sudah lama ada di dalam daftar masakan yang hendak saya eksekusi, tetapi selalu saja tertunda dan tertunda hingga akhirnya weekend kemarin berhasil juga saya coba. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan karena batuk yang menyiksa selama seminggu ini membutuhkan makanan yang nyaman di tenggorokan dan sepertinya bubur daging dengan sayuran ini merupakan pilihan menu yang tepat.


26 February 2015

Combo Teppanyaki dengan Ayam dan Seafood - Oishi!


"Fish fillet, extra veggies dan ocha panas," pelayan di restoran Koi Teppanyaki yang terletak di Mall Ambassador langsung menyebutkan menu tersebut kala saya menduduki sebuah kursi kosong disana. Tak urung senyum saya pun terkembang lebar, "Yep, betul Mas"! Sejak didera batuk menyiksa maka saya pun berusaha mencari makan siang yang aman, dan Japanese food tampaknya pilihan yang paling tepat karena tidak spicy dan menggunakan bumbu yang simple. Selain itu makanan apalagi sih yang lebih menyehatkan selain sepiring irisan daging ikan gindara dan dua porsi sayur  yang di grill serta segelas teh hijau yang membuat nyaman tenggorokan? Hm, sepertinya tidak ada. Jadi hampir setiap hari, pada jam makan siang, wajah saya pun menghiasi deretan bangku di restoran teppanyaki tersebut.

Menu andalan saya adalah fish fillet, namun terkadang tenderloin yang empuk sering saya pesan, plus tambahan satu porsi sayuran lagi. Si Mas pelayan di restoran hafal dengan menu itu saking seringnya saya berkunjung kesana, dan saya pun hafal dengan wajahnya yang ceria dan ramah. Satu hal yang mengasyikkan jika makan di Koi Teppanyaki adalah menyaksikan si koki meracik masakan langsung di depan pengunjung dan betapa cekatan tangannya menggerakkan dua buah spatula dengan cepat. Semua itu menjadi pemandangan seru sambil menunggu makanan anda matang. Ketika anda masih ingin menyaksikan atraksi itu berlanjut, tiba-tiba makanan telah dibagikan ke masing-masing piring dengan porsi takaran yang sama persis. Nah kalau sudah begitu saatnya menyerbu nasi hangat dengan sumpit! ^_^


24 February 2015

Sup Buntut Super Nendang!


Belakangan ini kantor saya serasa menjadi arena perlombaan batuk. Hampir dari setiap penjuru ruangan dalam beberapa menit terdengar batuk keras yang menggema. Bisa dipastikan virus pun bergentayangan di dalam ruangan tertutup itu.  Lucunya, penderita batuk di kantor jauh lebih banyak sehingga mereka yang sehat terpaksa harus mengenakan masker agar tidak tertular. Kantor pun menjadi seperti antrian di puskesmas dimana aneka suara khas dari pengidap sakit flu terdengar, ditambah dengan pemandangan para karyawan yang mengenakan jaket tebal, syal hingga topi wol.  

Saya termasuk salah satu yang menyumbangkan virus batuk ke udara, batuk kering yang terasa sakit di dada dan tenggorokan ini telah mengganggu sejak seminggu belakangan ini. Batuk plus radang di tenggorokan ini benar-benar membuat aktifitas kerja menjadi terhambat. Untuk menumpasnya maka aneka obat batuk sirup, multivitamin, dan minuman penyegar untuk mengobati panas dalam pun saya tenggak setiap waktu. Tak peduli mungkin saat ini saya sudah overdosis. Tapi sebalnya, batuk tak kunjung reda, bahkan semakin terdengar seperti gonggongan anjing setiap kali saya menyalak keras. Lebih parahnya lagi, akibat banyak minum obat batuk maka kepala saya terasa seakan melayang, hidup seperti setengah mimpi dan setengah zombie. Bahkan untuk mengetik postingan tentang sup buntut ini pun terasa berat. Jadi kalau anda sulit menemukan benang merah di artikel yang saya tulis, ini karena kepala saya sulit untuk diajak bekerja sama akhir-akhir ini. ^_^


03 February 2015

Sup Ikan a la Singapore


Sejak hari Sabtu, hujan seakan begitu gembira mengguyur Jakarta setiap waktu dari pagi hingga malam hari. Seringkali hujan deras juga jatuh pada pukul dua belas siang saat saya berada di kantor, membuat perburuan untuk mencari makan siang pun menjadi terhambat. Beberapa kali saya terpaksa harus menyantap bihun instan karena enggan untuk turun dari gedung dan menuju ke mall di sebelah kantor dalam curahan hujan yang sangat deras. Kalau sudah seperti ini maka saya pun terpaksa harus bangun lebih pagi untuk mempersiapkan makanan sebagai bekal makan siang. Biasanya bahan-bahan yang akan saya masak di besok pagi sudah saya persiapkan pada malam harinya. Kupas, rajang, iris, simpan di tupperware dan ceburkan ke dalam kulkas. Khusus untuk protein seperti ikan atau ayam yang membeku di freezer, maka pada malam hari sebelum tidur telah saya masukkan ke dalam chiller agar mencair keesokan harinya. 

Tumisan, tim dan rebusan merupakan pilihan menu yang paling mudah dipersiapkan dengan mudah dan cepat.  Jadi pagi ini, saya pun menumis zukini bersama wortel, jagung manis  dan brokoli dalam bumbu yang simple.  Sebagai proteinnya saya sudah mempersiapkan pepes ikan di malam harinya. Namun siang ini ketika saya sedang mempersiapkan semangkuk oatmeal di microwave, saya pun mencium aroma masakan nan sedap dari piring seorang teman yang sedang bersantap siang di pantry kantor. Air liur pun kontan meleleh kala melihat potongan ikan dan aneka daun rempah dalam semangkuk sup berkuah kuning yang terlihat hot and spicy. Ahh, hilang sudah selera saya menyantap tumis sayur yang sudah dibuat dengan susah payah. Sepertinya besok saya harus berganti menu. ^_^



22 January 2015

Buntil Daun Pepaya dan Daun Singkong


Sepiring bubur nasi dengan sayur gudeg, sambal goreng krecek dan buntil daun talas. Makanan ini adalah sarapan pagi favorit saya ketika bersekolah di Jogya. Hampir setiap pagi, saya akan memacu Honda bebek andalan ke gang kecil yang terletak tidak jauh dari rumah kos yang saya tempati untuk berburu bubur dan gudeg. Tentu saja ada banyak warung gudeg kecil yang tersebar di sekitar kampung tersebut, namun warung gudeg yang satu ini selalu menjadi pilihan karena murah, porsi jumbo dan rasanya pun mantap. Sebenarnya tidak tepat juga jika disebut dengan warung, karena si Ibu penjual hanya menggelar dagangannya di halaman sebuah rumah. Panci dan aneka pernak-pernik perlengkapan nasi gudeg di letakkan di sebuah balai-balai bambu kecil yang pendek dan si Ibu duduk diatas sebuah dingklik kecil di baliknya. 

Pada saat itu harga nasi gudeg sangat bersahabat, dengan hanya berbekal uang dua ribu rupiah maka saya bisa mendapatkan sebungkus nasi gudeg dengan sebuah telur bacem yang lezat. Walau nasi gudeg termasuk murah, namun bubur gudeg harganya lebih murah lagi, dengan hanya merogoh uang seribu lima ratus rupiah maka saya bisa menyantap sekantung plastik bubur yang lengkap. Mantap! ^_^

Daun pepaya dan daun singkong
Ikan teri

21 January 2015

Sup Iga Sapi Sawi Asin dengan Slow Cooker


Hujan yang mengguyur Jakarta beberapa minggu belakangan ini membuat minat saya akan makanan berkuah yang panas dan segar semakin menjadi-jadi. Sayur atau masakan yang mengandung kuah memang selalu menjadi pilihan favorit saya sejak dulu, dan jika dalam beberapa hari tidak menyantapnya maka kepala ini seakan penuh dibayangi oleh sedapnya semangkuk sup, atau soto yang berkuah gurih dan pedas. 

Nah minggu lalu, kala sedang membuat secangkir coklat panas di pantry kantor, Mba Mirah, teman kantor saya yang vegetarian, ternyata sudah lebih dulu duduk disana menyantap sarapan pagi berupa sepiring nasi hangat bersama tumisan sawi asin dan irisan tahu. Tampilannya terlihat menggugah selera dan aroma  sawi asin yang khas membuat air liur saya menetes. Ide pun langsung terlintas di benak, weekend ini saya akan membuat sup sawi asin. Tentu saja bukan versi vegetariannya, melainkan akan saya masak bersama dengan potongan iga sapi. Hmm, sepertinya masakan ini akan mengakomodir keinginan saya akan makanan berkuah yang sedap sekaligus juga memenuhi keinginan untuk menikmati sawi asin yang tidak pernah gagal membangkitkan nafsu makan.  ^_^


19 January 2015

Homemade Acar Sawi (Sawi Asin)


Brassica juncea atau nama lainnya adalah mustard greens, green mustard cabbage, Indian mustard, Chinese mustard, Kai Choi, atau kita mengenalnya dengan nama sawi pahit merupakan spesies tanaman mustard dari keluarga kubis-kubisan atau Brassicaceae. Tanaman ini berdaun hijau, lebar, dengan bonggol yang jauh lebih besar dibandingkan sawi umumnya. Ukuran tanamannya mungkin hampir sebesar sawi putih, hanya saja sawi pahit memiliki daun yang lebih keras, lebih liat, lebih panjang, dan lebih lebar dengan warna hijau yang lebih kuat. Sawi ini dikenal dengan aromanya yang langu dan rasanya yang pahit sehingga kurang populer untuk dimasak segar begitu saja, tidak seperti kerabat spesiesnya yang  lain yaitu Brassica oleracea seperti kubis, kale, caisim, atau pak choy yang sedap dimasak dalam aneka tumisan dan sup. 

Biasanya sawi pahit lebih sering ditemukan dalam kondisi sudah diawetkan baik kering maupun basah. Kalau sudah dalam bentuk awetan seperti ini maka sawi pahit pun menjadi sangat populer dan memiliki banyak penggemar, terutama mereka yang suka dengan kuliner Chinese. Harganya pun menjadi berlipat ganda. Nah membuatnya sendiri selain super mudah, super murah juga lebih sehat karena bebas bahan pengawet. ^_^

Tim Ikan dengan Sawi Asin dan Paprika


12 January 2015

Rendang Nangka - Tak kalah dengan Versi Dagingnya


Asisten rumah saya yang baru bernama Heni, memiliki penyakit darah tinggi yang akut. Jika tensinya sedang naik  maka, "Langit seakan berputar dan mau rubuh menimpa saya, Bu," ujarnya prihatin. Untuk mencegah supaya penyakit tersebut tidak kumat maka Heni pun mati-matian menghindari mengkonsumi daging hewan berkaki empat seperti sapi atau kambing, namun sayangnya enggan mengurangi porsi garam di makanan yang dimasaknya. Terbukti setiap kali membuat sambal atau tumisan, rasanya luar biasa asin sehingga harus dinetralkan dengan segunung nasi. Nah ini jelas mengganggu program diet saya yang memang selalu terganggu dengan mencari alasan apapun. ^_^

Minggu lalu karena masih terbayang-bayang dengan lezatnya rendang daging yang saya santap di rumah kakak saya di Batam, maka saya pun bermaksud membuat rendang versi saya sendiri. Kali ini supaya Heni tetap bisa menikmatinya maka saya pun membuat versi rendang tanpa daging. Bahannya apalagi kalau bukan nangka muda yang murah meriah harganya. Nah rendang nangka ini sudah terkenal lezatnya di keluarga saya. Di waktu-waktu yang lampau saat Ibu membuatnya, pasti selalu laris diserbu oleh anggota keluarga lainnya. Jadi bagi anda yang mengalami kasus seperti Heni, atau memang sedang menghindar mengkonsumsi daging hewan berkaki empat maka rendang yang satu ini patut anda coba. Rasanya benar-benar 'nampol' sedapnya! ^_^

Nangka muda sebelum direbus
Nangka muda setelah direbus

08 January 2015

Tumis Pedas Nopales dengan Fillet Ayam dan Mangga Arumanis


Pada suatu senja, dalam rintik hujan temaran sekitar tiga tahun yang lalu, saat itu saya sedang asyik ber-browsing ria di salah satu blog andalan... Ah, benar-benar kalimat pembukaan yang lebay. Mengingatkan saya pada cerita dongeng putri dan pangeran a la Hans Christian Andersen yang dulu ketika saya masih kecil menjadi santapan sehari-hari. Di dalam keluarga besar kami - saya katakan besar karena kedua orang tua saya memiliki tiga orang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki -  hanya Ibu, kakak saya, Wulan dan saya sendiri yang gemar membaca. Sementara Alm. Bapak dan ketiga adik saya, Wiwin, Tedy dan Dimas, sepertinya alergi dengan buku. Kami membaca dan melahap buku, majalah, koran atau kertas apapun yang terdapat tulisan di atasnya. Kegemaran itu ditularkan oleh Ibu saya yang ketika masa mudanya menjadi penggemar berat cersil Kho Ping Hoo dan Boe Beng Tjoe, serta aneka novel Indonesia karya Marga T, Mira W, NH. Dini, Motinggo Busye, hingga novel horor karya Abdullah Harahap dan roman picisan karya Freddy S. ^_^


30 December 2014

Resep Pembaca JTT - Tahu Campur a la Elmi Barokah


"Hai Mba Endang, tak kasih resep tahu campur ala keluarga aku mau nggak Mba? Yang pasti beda ama yg lain. Aku kalau pas bikin, sehari bisa 'nggadoin' 4 - 5 kali! Kemaruk amat yah. Dicoba dan diposting ya Mba, hahahaha (maksa)...."

~Elmi Barokah

Sejak menyantap seporsi ketupat tahu di Bandung beberapa waktu yang lalu, saya pun mencetuskan resolusi untuk berhasil menemukan formula resep saus kacang tanahnya yang nendang. Teksturnya yang creamy dengan rasa legit, manis, dan asin membuatnya mantap disantap bersama potongan ketupat, tahu goreng setengah matang dan tauge rebus. Apalagi kala itu hujan baru saja usai mengguyur Bandung, suhu yang dingin dan perut yang kosong di pagi hari memudahkan saya untuk menyantap sepiring ketupat tahu dengan cepat. Ketika di benak ini masih mereka-reka untuk menemukan resepnya yang mantap, tak disangka saya menerima tawaran resep tahu campur dari Mba Elmi Barokah. 

Tahu campur dan ketupat tahu menurut saya makanan yang serupa tapi tak sama. Serupa karena menggunakan saus kacang yang mirip, tak sama karena ketupat tahu menggunakan ketupat alias lontong sementara tahu campur minus ketupat dan banyak menggunakan sayuran. Jadi ketika resep menggiurkan dan gratis itu ditawarkan, maka saya pun langsung mengiyakannya dengan semangat. Alhasil, saat weekend kemarin bukan hanya sekedar 4 atau 5 kali saya menyantap makanan ini dalam sehari melainkan berkali-kali hingga perut ini serasa meledak kekenyangan. Benar kata Mba Elmi, resep tahu campur a la keluarganya beda dengan lainnya! ^_^


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...