Showing posts with label Sayuran. Show all posts
Showing posts with label Sayuran. Show all posts

17 March 2015

Mie Ayam Yamin


Bel telah dua kali saya bunyikan, tetapi tak satupun anggota keluarga yang muncul membukakan pintu. Iseng saya pun menekan handle dan pintu yang tak terkunci pun terbuka dengan mudah. Rumah adik saya, Wiwin, terlihat lengang dan kosong. "Halooo! Asalamualikum"! Teriak saya dan hanya disambut oleh suara desau angin yang menerobos dari pintu teras di halaman belakang yang terbuka lebar. Baru saja saya meletakkan tas dan bawaan yang berat, Septi, asisten rumah Wiwin muncul dari kamar belakang. "Ibu sama Bapak lagi keluar sama anak-anak Mba, nganter si Abang tes masuk sekolah di Al Azhar," jelas Septi. "Oke, tapi  Umi dan lainnya kemana?" Balas saya menanyakan Ibu dan tante-tante saya yang biasanya berada di kamar depan. Waktu itu Ibu saya memang masih berada di Jakarta dan belum kembali ke Paron.

"Umi sama lainnya diajak Mas Dimas jalan-jalan naik busway ke kota. Katanya mau lihat Kota Tua." Ah ya, memang beberapa waktu yang lalu Ibu saya sudah merencanakan acara jalan-jalan ke Kota Tua, dan sepertinya adik saya Dimas yang akhirnya mengajak mereka semua. Tidak tahu apa yang harus saya lakukan di rumah yang sepi, akhirnya saya pun duduk di ruang makan dan menatap aneka lauk dan makanan disana. Sebuah bungkusan putih styrofoam pun menarik perhatian saya. Ketika saya buka, ternyata isinya adalah satu paket lengkap mie ayam yamin yang terlihat yummy!


03 March 2015

Paddas Porridge dengan Slow Cooker - Si Bubur Daging yang Nikmat


Setelah mati-matian mempertahankan diri dengan aneka obat batuk dari apotik dan obat tradisional, akhirnya saya pun mengibarkan bendera putih tanda menyerah karena batuk tak berkurang sedikit pun, bahkan menjadi bertambah parah. Ketika Sabtu kemarin saya berkunjung ke rumah Wiwin, di Mampang, adik saya langsung menyeret saya ke rumah sakit Asri di daerah Buncit untuk berobat di dokter umum disana. Dua botol Codipront, segepok antibiotik dan anti radang akhirnya mampu meredakan batuk menyiksa yang membuat saya susah tidur kala malam tiba. Walau kini masih ter-uhuk-uhuk ria, namun kondisi saya sudah jauh, jauh lebih baik. Thanks untuk pembaca JTT yang banyak memberikan saran untuk mengobati batuk dan doanya agar saya lekas sembuh. Semua perhatian itu sangat berarti. ^_^

Nah resep ini sebenarnya sudah lama ada di dalam daftar masakan yang hendak saya eksekusi, tetapi selalu saja tertunda dan tertunda hingga akhirnya weekend kemarin berhasil juga saya coba. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan karena batuk yang menyiksa selama seminggu ini membutuhkan makanan yang nyaman di tenggorokan dan sepertinya bubur daging dengan sayuran ini merupakan pilihan menu yang tepat.


26 February 2015

Combo Teppanyaki dengan Ayam dan Seafood - Oishi!


"Fish fillet, extra veggies dan ocha panas," pelayan di restoran Koi Teppanyaki yang terletak di Mall Ambassador langsung menyebutkan menu tersebut kala saya menduduki sebuah kursi kosong disana. Tak urung senyum saya pun terkembang lebar, "Yep, betul Mas"! Sejak didera batuk menyiksa maka saya pun berusaha mencari makan siang yang aman, dan Japanese food tampaknya pilihan yang paling tepat karena tidak spicy dan menggunakan bumbu yang simple. Selain itu makanan apalagi sih yang lebih menyehatkan selain sepiring irisan daging ikan gindara dan dua porsi sayur  yang di grill serta segelas teh hijau yang membuat nyaman tenggorokan? Hm, sepertinya tidak ada. Jadi hampir setiap hari, pada jam makan siang, wajah saya pun menghiasi deretan bangku di restoran teppanyaki tersebut.

Menu andalan saya adalah fish fillet, namun terkadang tenderloin yang empuk sering saya pesan, plus tambahan satu porsi sayuran lagi. Si Mas pelayan di restoran hafal dengan menu itu saking seringnya saya berkunjung kesana, dan saya pun hafal dengan wajahnya yang ceria dan ramah. Satu hal yang mengasyikkan jika makan di Koi Teppanyaki adalah menyaksikan si koki meracik masakan langsung di depan pengunjung dan betapa cekatan tangannya menggerakkan dua buah spatula dengan cepat. Semua itu menjadi pemandangan seru sambil menunggu makanan anda matang. Ketika anda masih ingin menyaksikan atraksi itu berlanjut, tiba-tiba makanan telah dibagikan ke masing-masing piring dengan porsi takaran yang sama persis. Nah kalau sudah begitu saatnya menyerbu nasi hangat dengan sumpit! ^_^


24 February 2015

Sup Buntut Super Nendang!


Belakangan ini kantor saya serasa menjadi arena perlombaan batuk. Hampir dari setiap penjuru ruangan dalam beberapa menit terdengar batuk keras yang menggema. Bisa dipastikan virus pun bergentayangan di dalam ruangan tertutup itu.  Lucunya, penderita batuk di kantor jauh lebih banyak sehingga mereka yang sehat terpaksa harus mengenakan masker agar tidak tertular. Kantor pun menjadi seperti antrian di puskesmas dimana aneka suara khas dari pengidap sakit flu terdengar, ditambah dengan pemandangan para karyawan yang mengenakan jaket tebal, syal hingga topi wol.  

Saya termasuk salah satu yang menyumbangkan virus batuk ke udara, batuk kering yang terasa sakit di dada dan tenggorokan ini telah mengganggu sejak seminggu belakangan ini. Batuk plus radang di tenggorokan ini benar-benar membuat aktifitas kerja menjadi terhambat. Untuk menumpasnya maka aneka obat batuk sirup, multivitamin, dan minuman penyegar untuk mengobati panas dalam pun saya tenggak setiap waktu. Tak peduli mungkin saat ini saya sudah overdosis. Tapi sebalnya, batuk tak kunjung reda, bahkan semakin terdengar seperti gonggongan anjing setiap kali saya menyalak keras. Lebih parahnya lagi, akibat banyak minum obat batuk maka kepala saya terasa seakan melayang, hidup seperti setengah mimpi dan setengah zombie. Bahkan untuk mengetik postingan tentang sup buntut ini pun terasa berat. Jadi kalau anda sulit menemukan benang merah di artikel yang saya tulis, ini karena kepala saya sulit untuk diajak bekerja sama akhir-akhir ini. ^_^


03 February 2015

Sup Ikan a la Singapore


Sejak hari Sabtu, hujan seakan begitu gembira mengguyur Jakarta setiap waktu dari pagi hingga malam hari. Seringkali hujan deras juga jatuh pada pukul dua belas siang saat saya berada di kantor, membuat perburuan untuk mencari makan siang pun menjadi terhambat. Beberapa kali saya terpaksa harus menyantap bihun instan karena enggan untuk turun dari gedung dan menuju ke mall di sebelah kantor dalam curahan hujan yang sangat deras. Kalau sudah seperti ini maka saya pun terpaksa harus bangun lebih pagi untuk mempersiapkan makanan sebagai bekal makan siang. Biasanya bahan-bahan yang akan saya masak di besok pagi sudah saya persiapkan pada malam harinya. Kupas, rajang, iris, simpan di tupperware dan ceburkan ke dalam kulkas. Khusus untuk protein seperti ikan atau ayam yang membeku di freezer, maka pada malam hari sebelum tidur telah saya masukkan ke dalam chiller agar mencair keesokan harinya. 

Tumisan, tim dan rebusan merupakan pilihan menu yang paling mudah dipersiapkan dengan mudah dan cepat.  Jadi pagi ini, saya pun menumis zukini bersama wortel, jagung manis  dan brokoli dalam bumbu yang simple.  Sebagai proteinnya saya sudah mempersiapkan pepes ikan di malam harinya. Namun siang ini ketika saya sedang mempersiapkan semangkuk oatmeal di microwave, saya pun mencium aroma masakan nan sedap dari piring seorang teman yang sedang bersantap siang di pantry kantor. Air liur pun kontan meleleh kala melihat potongan ikan dan aneka daun rempah dalam semangkuk sup berkuah kuning yang terlihat hot and spicy. Ahh, hilang sudah selera saya menyantap tumis sayur yang sudah dibuat dengan susah payah. Sepertinya besok saya harus berganti menu. ^_^



22 January 2015

Buntil Daun Pepaya dan Daun Singkong


Sepiring bubur nasi dengan sayur gudeg, sambal goreng krecek dan buntil daun talas. Makanan ini adalah sarapan pagi favorit saya ketika bersekolah di Jogya. Hampir setiap pagi, saya akan memacu Honda bebek andalan ke gang kecil yang terletak tidak jauh dari rumah kos yang saya tempati untuk berburu bubur dan gudeg. Tentu saja ada banyak warung gudeg kecil yang tersebar di sekitar kampung tersebut, namun warung gudeg yang satu ini selalu menjadi pilihan karena murah, porsi jumbo dan rasanya pun mantap. Sebenarnya tidak tepat juga jika disebut dengan warung, karena si Ibu penjual hanya menggelar dagangannya di halaman sebuah rumah. Panci dan aneka pernak-pernik perlengkapan nasi gudeg di letakkan di sebuah balai-balai bambu kecil yang pendek dan si Ibu duduk diatas sebuah dingklik kecil di baliknya. 

Pada saat itu harga nasi gudeg sangat bersahabat, dengan hanya berbekal uang dua ribu rupiah maka saya bisa mendapatkan sebungkus nasi gudeg dengan sebuah telur bacem yang lezat. Walau nasi gudeg termasuk murah, namun bubur gudeg harganya lebih murah lagi, dengan hanya merogoh uang seribu lima ratus rupiah maka saya bisa menyantap sekantung plastik bubur yang lengkap. Mantap! ^_^

Daun pepaya dan daun singkong
Ikan teri

21 January 2015

Sup Iga Sapi Sawi Asin dengan Slow Cooker


Hujan yang mengguyur Jakarta beberapa minggu belakangan ini membuat minat saya akan makanan berkuah yang panas dan segar semakin menjadi-jadi. Sayur atau masakan yang mengandung kuah memang selalu menjadi pilihan favorit saya sejak dulu, dan jika dalam beberapa hari tidak menyantapnya maka kepala ini seakan penuh dibayangi oleh sedapnya semangkuk sup, atau soto yang berkuah gurih dan pedas. 

Nah minggu lalu, kala sedang membuat secangkir coklat panas di pantry kantor, Mba Mirah, teman kantor saya yang vegetarian, ternyata sudah lebih dulu duduk disana menyantap sarapan pagi berupa sepiring nasi hangat bersama tumisan sawi asin dan irisan tahu. Tampilannya terlihat menggugah selera dan aroma  sawi asin yang khas membuat air liur saya menetes. Ide pun langsung terlintas di benak, weekend ini saya akan membuat sup sawi asin. Tentu saja bukan versi vegetariannya, melainkan akan saya masak bersama dengan potongan iga sapi. Hmm, sepertinya masakan ini akan mengakomodir keinginan saya akan makanan berkuah yang sedap sekaligus juga memenuhi keinginan untuk menikmati sawi asin yang tidak pernah gagal membangkitkan nafsu makan.  ^_^


19 January 2015

Homemade Acar Sawi (Sawi Asin)


Brassica juncea atau nama lainnya adalah mustard greens, green mustard cabbage, Indian mustard, Chinese mustard, Kai Choi, atau kita mengenalnya dengan nama sawi pahit merupakan spesies tanaman mustard dari keluarga kubis-kubisan atau Brassicaceae. Tanaman ini berdaun hijau, lebar, dengan bonggol yang jauh lebih besar dibandingkan sawi umumnya. Ukuran tanamannya mungkin hampir sebesar sawi putih, hanya saja sawi pahit memiliki daun yang lebih keras, lebih liat, lebih panjang, dan lebih lebar dengan warna hijau yang lebih kuat. Sawi ini dikenal dengan aromanya yang langu dan rasanya yang pahit sehingga kurang populer untuk dimasak segar begitu saja, tidak seperti kerabat spesiesnya yang  lain yaitu Brassica oleracea seperti kubis, kale, caisim, atau pak choy yang sedap dimasak dalam aneka tumisan dan sup. 

Biasanya sawi pahit lebih sering ditemukan dalam kondisi sudah diawetkan baik kering maupun basah. Kalau sudah dalam bentuk awetan seperti ini maka sawi pahit pun menjadi sangat populer dan memiliki banyak penggemar, terutama mereka yang suka dengan kuliner Chinese. Harganya pun menjadi berlipat ganda. Nah membuatnya sendiri selain super mudah, super murah juga lebih sehat karena bebas bahan pengawet. ^_^

Tim Ikan dengan Sawi Asin dan Paprika


12 January 2015

Rendang Nangka - Tak kalah dengan Versi Dagingnya


Asisten rumah saya yang baru bernama Heni, memiliki penyakit darah tinggi yang akut. Jika tensinya sedang naik  maka, "Langit seakan berputar dan mau rubuh menimpa saya, Bu," ujarnya prihatin. Untuk mencegah supaya penyakit tersebut tidak kumat maka Heni pun mati-matian menghindari mengkonsumi daging hewan berkaki empat seperti sapi atau kambing, namun sayangnya enggan mengurangi porsi garam di makanan yang dimasaknya. Terbukti setiap kali membuat sambal atau tumisan, rasanya luar biasa asin sehingga harus dinetralkan dengan segunung nasi. Nah ini jelas mengganggu program diet saya yang memang selalu terganggu dengan mencari alasan apapun. ^_^

Minggu lalu karena masih terbayang-bayang dengan lezatnya rendang daging yang saya santap di rumah kakak saya di Batam, maka saya pun bermaksud membuat rendang versi saya sendiri. Kali ini supaya Heni tetap bisa menikmatinya maka saya pun membuat versi rendang tanpa daging. Bahannya apalagi kalau bukan nangka muda yang murah meriah harganya. Nah rendang nangka ini sudah terkenal lezatnya di keluarga saya. Di waktu-waktu yang lampau saat Ibu membuatnya, pasti selalu laris diserbu oleh anggota keluarga lainnya. Jadi bagi anda yang mengalami kasus seperti Heni, atau memang sedang menghindar mengkonsumsi daging hewan berkaki empat maka rendang yang satu ini patut anda coba. Rasanya benar-benar 'nampol' sedapnya! ^_^

Nangka muda sebelum direbus
Nangka muda setelah direbus

08 January 2015

Tumis Pedas Nopales dengan Fillet Ayam dan Mangga Arumanis


Pada suatu senja, dalam rintik hujan temaran sekitar tiga tahun yang lalu, saat itu saya sedang asyik ber-browsing ria di salah satu blog andalan... Ah, benar-benar kalimat pembukaan yang lebay. Mengingatkan saya pada cerita dongeng putri dan pangeran a la Hans Christian Andersen yang dulu ketika saya masih kecil menjadi santapan sehari-hari. Di dalam keluarga besar kami - saya katakan besar karena kedua orang tua saya memiliki tiga orang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki -  hanya Ibu, kakak saya, Wulan dan saya sendiri yang gemar membaca. Sementara Alm. Bapak dan ketiga adik saya, Wiwin, Tedy dan Dimas, sepertinya alergi dengan buku. Kami membaca dan melahap buku, majalah, koran atau kertas apapun yang terdapat tulisan di atasnya. Kegemaran itu ditularkan oleh Ibu saya yang ketika masa mudanya menjadi penggemar berat cersil Kho Ping Hoo dan Boe Beng Tjoe, serta aneka novel Indonesia karya Marga T, Mira W, NH. Dini, Motinggo Busye, hingga novel horor karya Abdullah Harahap dan roman picisan karya Freddy S. ^_^


30 December 2014

Resep Pembaca JTT - Tahu Campur a la Elmi Barokah


"Hai Mba Endang, tak kasih resep tahu campur ala keluarga aku mau nggak Mba? Yang pasti beda ama yg lain. Aku kalau pas bikin, sehari bisa 'nggadoin' 4 - 5 kali! Kemaruk amat yah. Dicoba dan diposting ya Mba, hahahaha (maksa)...."

~Elmi Barokah

Sejak menyantap seporsi ketupat tahu di Bandung beberapa waktu yang lalu, saya pun mencetuskan resolusi untuk berhasil menemukan formula resep saus kacang tanahnya yang nendang. Teksturnya yang creamy dengan rasa legit, manis, dan asin membuatnya mantap disantap bersama potongan ketupat, tahu goreng setengah matang dan tauge rebus. Apalagi kala itu hujan baru saja usai mengguyur Bandung, suhu yang dingin dan perut yang kosong di pagi hari memudahkan saya untuk menyantap sepiring ketupat tahu dengan cepat. Ketika di benak ini masih mereka-reka untuk menemukan resepnya yang mantap, tak disangka saya menerima tawaran resep tahu campur dari Mba Elmi Barokah. 

Tahu campur dan ketupat tahu menurut saya makanan yang serupa tapi tak sama. Serupa karena menggunakan saus kacang yang mirip, tak sama karena ketupat tahu menggunakan ketupat alias lontong sementara tahu campur minus ketupat dan banyak menggunakan sayuran. Jadi ketika resep menggiurkan dan gratis itu ditawarkan, maka saya pun langsung mengiyakannya dengan semangat. Alhasil, saat weekend kemarin bukan hanya sekedar 4 atau 5 kali saya menyantap makanan ini dalam sehari melainkan berkali-kali hingga perut ini serasa meledak kekenyangan. Benar kata Mba Elmi, resep tahu campur a la keluarganya beda dengan lainnya! ^_^


23 December 2014

Ghormeh Sabzi - Cara Lezat Menyantap Sayuran a la Iran


Ghormeh sabzi mungkin merupakan cara lezat bagi keluarga Iran untuk menyantap aneka sayuran hijau beserta lauknya. Bayangkan saja untuk mewujudkannya maka masakan ini membutuhkan paling sedikit tiga jenis sayuran seperti bayam, daun bawang dan peterseli, beberapa resep bahkan menggunakan empat atau lima jenis sayuran hijau termasuk daun klabet (fenugreek), chives, dan daun ketumbar. Semua sayuran tersebut lantas dicincang atau dicacah hingga berukuran sangat kecil, kemudian dimasak bersama kacang merah, potongan daging sapi atau kambing dalam bumbu nan simple, menghasilkan seporsi makanan kaya gizi, kaya serat dan mengenyangkan. 

Makanan ini luar biasa praktis, mudah dibuat dan rasanya sangat lezat. Mungkin yang membuat prosesnya menjadi lama adalah merebus daging hingga empuk secara perlahan menggunakan api yang kecil. Cara ini selain akan membuat cita rasa ghormeh sabzi menjadi maksimal juga untuk memastikan daging sengkel yang saya gunakan benar-benar empuk. Sengkel yang mengandung sedikit lemak, berotot dan alot ini memang cocok dimasak dengan suhu tinggi dalam waktu yang lama, saat telah lunak akan memiliki tekstur yang empuk, tidak berserat dan seakan meleleh di mulut. Di ghormeh sabzi, sengkel akan membuat cita rasa masakan a la Iran ini menjadi nendang!

Limoo amani/jeruk nipis kering
Kacang merah rebus

12 December 2014

Spaghetti Goreng dengan Kangkung, Jamur dan Udang


Seringkali jika memasak pasta seperti spaghetti, berakhir dengan jumlah pasta yang lebih banyak dibandingkan dengan sausnya. Ini memaksa saya untuk akhirnya menyimpan pasta sisa ini selama berhari-hari di kulkas.Tak terkecuali minggu lalu saat hendak membuat seporsi spaghetti saus udang yang resepnya pernah saya posting di JTT. Ketika sepiring besar pasta telah masuk ke dalam perut hingga seakan rasanya perut ini hendak meledak akibat kekenyangan, ternyata saya masih memiliki banyak sisa spaghetti rebus di panci. Selama empat hari spaghetti ini pun berakhir mendekam di dalam Tupperware di kulkas. Takut si pasta menjadi tidak layak makan, saya pun menyulapnya menjadi spaghetti goreng yang bumbunya mirip dengan mie goreng a la Jawa. Bersama dengan udang, jamur dan daun kangkung, spaghetti goreng ini mantap rasanya dan tak kalah dengan versinya yang terbuat dari mie kuning. 

Nah ide resep ini sebenarnya datang dari teman kantor saya, Ani, yang sering sekali membawa bekal sarapan di kantor berupa spaghetti goreng buatan Ibunya yang terkenal sedap. Ternyata ukuran helai spaghetti yang lebih besar dibandingkan mie kuning umumnya, dengan tekstur yang lebih kenyal serta tidak mudah lembek kala dimasak, membuatnya sangat pas jika diolah menjadi mie godhok atau mie goreng a la Indonesia. Mantap!

Angel Hair dengan Saus Seafood 


02 December 2014

Beetroot Chocolate Cake - Super duper moist!


Sebenarnya tidak ada hubungan mesra antara saya dan cake coklat. Namun jika bertemu dengan satu resep cake coklat yang menjanjikan sejuta mimpi yaitu mampu menghasilkan cake dengan cita rasa dan tekstur terbaik maka mata ini seakan melotot, hati tergugah dan tangan pun gatal untuk segera mencobanya. Padahal cake coklat bukanlah salah satu cake favorit saya. Nah jika anda tekun mengikuti perjalanan JTT atau tekun mengobrak-abrik daftar resep di blog mungkin anda akan takjub menemukan banyaknya resep cake coklat disana. Teman saya, Tyas, bahkan pernah menyebutkan hal ini secara khusus ketika hendak mencoba salah satu resep cake coklat yang pernah saya posting. "Gue kan mau buat cake coklat nih Ndang untuk acara keluarga, nah resep cake coklat lu banyak banget sampai bingung mau memutuskan yang mana. Jadi kira-kira cake mana yang paling mantap"? Pertanyaan Tyas ini sebenarnya mewakili banyak pertanyaan lainnya yang pernah masuk ke dalam kolom komentar di blog. Terus terang saya sendiri bingung dengan jawabannya. ^_^

Beetroot atau umbi bit

26 November 2014

Samosa Daging


Bicara tentang food blogging maka bagi saya hal tersebut erat kaitannya dengan foto makanan; wadah yang digunakan; background saat makanan tersebut ditampilkan dan segala pernak-pernik penunjangnya seperti sendok, serbet, atau sekedar wadah garam. Tentu saja dengan tidak melupakan tokoh dibelakang layar sebelum masakan tersebut siap untuk ditayangkan yaitu resep yang tok-cer dan proses memasak yang detail dengan penjelasan yang mudah. Dulu, sewaktu saya belum terjun dengan gaya bebas menjadi seorang food blogger, tidak pernah terpikirkan dalam benak saya betapa panjangnya sebuah proses mem-posting sebuah resep bahkan yang simple sekalipun seperti sambal bawang. 

Dimulai dari pemilihan bahan yang digunakan, menimbang takarannya, membuatnya, menulis setiap bahan yang dicemplungkan ke dalam cobek beserta takaran pasnya, menyajikannya di wadah yang sesuai dengan si sambal, menata pernak-pernik disekitar wadah misalnya sebuah sendok kecil atau sehelai kain serbet untuk mengalas si wadah sambal, mengambil foto, mengeditnya, melakukan upload ke blog dan menulis resep serta prosesnya. Panjang dan lama, sehingga terkadang saya membutuhkan waktu khusus untuk menampilkan sebuah resep di JTT. Apalagi jika kemudian terkendala dengan masalah seperti, setelah dibuka di laptop semua foto jelek hasilnya, bad mood atau ide menulis tiba-tiba macet mentok tembok gubrak! ^_^


25 November 2014

White Chicken Chilli


Hari itu hujan luar biasa deras mengguyur. Sebuah sungai kecil di depan rumah tampak penuh meluap hingga air keruhnya yang berwarna coklat susu tumpah ruah ke badan jalan. Sudah lebih dari satu jam lamanya saya duduk di bagian teratas tangga teras dengan pandangan nanar menatap jembatan kayu kecil yang melintang di tengah sungai. Jembatan reot yang menghubungkan rumah orang tua saya dengan rumah tetangga di depan terkadang menyembul dari balik air namun seringkali tenggelam ditelan keruhnya sungai. Rasa bosan yang menggerogoti hati karena seharian harus mendekam di dalam rumah mulai tak tertahankan. Begitu banyak hal menarik di sekitar rumah yang serasa tak habis-habisnya walau telah saya eksplorasi setiap hari. 

Penantian saya akhirnya mulai berakhir kala hembusan angin mendorong awan gelap hingga perlahan tersapu pergi dan sinar matahari pun menerobos dengan cerianya. Tetesan besar air perlahan mulai berganti menjadi rintik yang kecil dan menguap terpanggang panasnya sang surya. Semangat saya pun mulai berkobar, sehabis hujan merupakan momen yang sangat menyenangkan. Sungai kecil di depan rumah yang berhulu dan bermuara di laut selalu membawa banyak ikan-ikan kecil yang terlihat dengan jelas kala lumpur mulai mengendap. Udang kecil akan terperangkap di dalam kolam-kolam imut  di halaman rumah tetangga yang landai dan berbatu. Beberapa anak tampak mulai keluar menenteng ember kecil untuk mencari ikan. Dan seakan sayap tumbuh dari kedua pergelangan kaki, segera saja saya terbang menuju ke jembatan kecil yang walau tak tampak namun saya yakin ada disana. Beberapa kali loncatan tiba-tiba kaki ini kehilangan pijakan dan pandangan pun menjadi gelap gulita. Air masuk dengan derasnya ke dalam hidung dan mulut saya yang terbuka berusaha mencari udara. Saat itu saya pun tersadar, saya tercebur ke dalam sungai dan mulai tenggelam!


20 November 2014

Si Penambah Nafsu Makan - Sambal Teri Cabai Hijau


Kalau merenung, menimbang, melihat dan memikirkan berat badan yang merangkak semakin naik, maka sebenarnya saya termasuk kategori orang yang tidak perlu doping untuk menambah nafsu makan. Nafsu saya akan makanan, sejak dari lahir (menurut laporan Ibu saya) hingga saya sejumbo sekarang tidak pernah mengalami masalah yang namanya hilang nafsu. Justru saya perlu belajar banyak untuk mengerem keinginan mengunyah yang sepertinya susah sekali dikontrol. Namun beberapa hari belakangan ini karena kondisi badan yang kurang fit, panas demam dan perut yang terasa tidak nyaman akhirnya saya pun mengalami kehilangan nafsu makan. 

Setiap hari saat jam makan siang maka saya pun dibuat kebingungan untuk memutuskan menu apa yang akan saya santap hari itu. Setelah bosan menyantap cap cay, 'eneg' jika teringat kani roll dan ngeri jika harus membakar lambung saya dengan seporsi besar tom yam maka tadi pagi walau didera rasa malas saya pun memaksakan diri berkutat di dapur untuk mempersiapkan lauk makan siang. Kalau sudah seperti ini maka masakan simple a la kampung seperti sambal teri dengan cabai hijau dan aneka sayuran ini biasanya terbukti sukses untuk mendobrak semangat makan!  ^_^


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...