Showing posts with label Talas. Show all posts
Showing posts with label Talas. Show all posts

22 July 2012

Bubur Mutiara & Talas: Berbukalah dengan yang manis ^_^


Ketika kebanyakan anda mungkin menghabiskan buka puasa hari pertama di rumah bersama keluarga, maka saya berdua teman saya, Sintya, justru sibuk keluyuran di Plaza Semanggi. Hari Sabtu, malam Minggu, jalanan yang biasanya macet kini berubah lengang. Plaza Semanggi yang selalu ramai dengan pengunjungnya kini terlihat lebih sepi dibandingkan hari biasa. Awalnya kami berniat untuk berbuka puasa di roof top Plaza, salah satu restoran andalan, Ratja Ketjil, tiba-tiba selama Ramadan menerapkan sistem paket per orang minimal harus makan setara dengan delapan puluh ribu rupiah. Wah, sayangnya saya dan Sintya tidak begitu bernafsu untuk makan hingga segitu banyaknya, di kepala saya justru sejak siang telah membayangkan bergalon-galon Thai tea ala Hanamasa yang alamak laziz-nya. Rasanya terlalu berat di tanggal tua begini makan berdua harus menghabiskan seratus enam puluh ribu rupiah. Alhasil, buku menu pun kami kembalikan dan kami melenggang keluar dari restoran dengan senyum manis. ^_^

06 March 2012

Bu Jan, makanan khas Bangka yang yummy!


Jika anda merasa camilan yang saya sajikan ini terlihat kurang menarik maka percayalah hasilnya seharusnya tidak seperti ini. Lisa, nara sumber terpercaya saya jika berhubungan dengan makanan khas Bangka, mengirimkan foto bu jan yang dibuatnya, dan makanan tersebut tampak cantik dan menggiurkan. Jauh, jauh sekali tampilannya dengan gorengan hasil utak-atik saya di dapur kemarin. Namun jika kemudian anda lantas mempertanyakan rasanya? Eits, tunggu dulu! Karena saya yakin bu jan yang ini tidak akan kalah rasanya dengan yang dibuat oleh teman baik saya tersebut. ^_^

Bagi anda yang penasaran dengan makanan bernama bu jan, berarti anda sama seperti saya kala Lisa memberikan resepnya untuk saya coba. Gorengan, walau saya hindari mati-matian, merupakan makanan kesukaan saya apalagi jika terbuat dari talas dan serpihan daging ikan. Hmm, saya tidak akan melewatkan tantangan untuk mencoba dan mencicipi rasanya. Dan, yeah, sudah seperti saya duga, makanan ini sangat lezat apalagi jika di cocol dengan sausnya yang terasa manis, asam, pedas dan asin. Mantap!


07 April 2011

Golden Taro Bread - Roti Goreng Isi Talas


Inspirasi roti goreng isi talas ini saya dapatkan ketika minggu lalu, saya dan seorang teman, sepulang kantor menyempatkan diri mampir ke Din Tai Fung di Plaza Senayan. Menu di resto ini cukup unik dengan porsi-porsi kecil yang menggugah selera, menjadikan saya penasaran dengan rasanya. Salah satu dari sekian yang kami pesan adalah Golden Taro Bread, penampilannya yang unik dan menggunakan bahan taro/talas di dalamnya lah yang membuat saya terkilik. Terus terang saya memang suka terinspirasi dengan bahan pangan alternatif  seperti ubi, lobak, talas, pisang atau jagung yang mampu menjelma menjadi penganan unik yang lezat. 

14 March 2011

Tumis Batang Talas & Udang


Tumis adalah teknik memasak sejuta umat, kenapa saya katakan demikian karena hampir setiap mereka yang pernah ke dapur pasti bisa memasak makanan dengan cara ditumis dan pasti pernah memasak tumisan. Entah itu berupa lauk atau sayur. Begitu mudahnya memasak dengan cara ini sehingga hampir semua bahan makanan bisa diolah dengan ditumis. 

Kelebihan lainnya memasak dengan cara ini adalah tumisan memerlukan waktu relatif singkat  untuk mengolahnya, dan makanan yang ditumis juga diklaim lebih 'sehat', jika: Bahan makanan yang digunakan rendah lemak, kaya gizi dan vitamin; Tidak terlalu lama memasaknya terutama sayuran agar vitamin dan zat gizinya tidak hilang; Minyak yang digunakan tidak berlebihan dan menggunakan minyak yang diklaim menyehatkan seperti minyak zaitun, canola, minyak jagung, minyak biji bunga matahari yang kaya akan antioksidan dan merupakan minyak dengan lemak tak jenuh tunggal dan ganda.


09 March 2011

Cake Sifon Talas: Gagal!


Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Anda mungkin pernah mendengar slogan itu, bahkan mungkin menjadi mantra favorit ketika sukses tak kunjung datang. Seakan kata-kata itu mampu membangkitkan semangat dan memotivasi untuk terus berjuang.. terus berjuang.. Semboyan itu ada benarnya, hanya saja dalam dunia masak-memasak, kegagalan berarti biaya yang terbuang dan semangat yang terbang (itu menurut saya). Bayangkan, ketika anda mencurahkan segenap tenaga, waktu, harapan, baking powder, gula, telur, terigu ke dalam mangkuk mixer dan membayangkan akan menjadi sebuah masterpiece, dan kemudian yang terjadi adalah seonggok kue yang tak jelas bentuknya. Kesal, itu yang pertama saya rasakan, kemudian malu karena harus menghadapi tertawaan keluarga dan terakhir bingung menyembunyikan produk gagal ini, entah kemana. 

07 March 2011

Pepes Batang Talas & Tempe


Saya pernah posting mengenai resep dari talas Bogor (Colocasia giganteum Hook.) sebelumnya, jika anda berminat anda bisa klik di sini dan disini. Saat itu saya membuat cake  dan schotel dari umbi talas Bogor yang saya beli dari perjalanan Puncak  menuju Jakarta. Umbi talas Bogor yang dijual biasanya masih dilengkapi dengan batang mudanya, di Jawa batang talas ini disebut dengan lompong yang artinya kosong, karena memang batang talas penuh dengan rongga-rongga udara di tengahnya. 

Batang talas lezat untuk diolah menjadi aneka masakan sementara daunnya terkenal untuk dibuat menjadi buntil - masakan ini terbuat dari daun talas atau daun singkong yang dikepal hingga berbentuk bulat, pada bagian tengahnya diisi dengan kelapa parut dan ikan teri. Buntalan daun ini kemudian diikat  erat dengan seutas tali dan dimasak dengan santan kental berbumbu. Masakan ini mudah kita temui di daerah Solo dan Jogya.

Batang talas (lompong)

02 March 2011

Cake Talas Coklat Kukus


Talas lagi? Mungkin itu yang terlintas di benak anda. Yup, saya mohon maaf jika beberapa hari ini postingan saya akan banyak berkutat di seputar umbi yang lezat dan banyak tumbuh di negara kita ini. Talas (Colocasia esculenta) sudah tidak asing lagi bagi kita, umbi tanaman ini melimpah ruah tersedia di pasar-pasar tradisional maupun di supermarket. Bahkan tanamannya sendiri sering sekali kita jumpai di lahan-lahan yang terbengkalai, tepi jalan atau sungai dan yang paling melimpah tentu saja dilahan dekat persawahan karena tanaman ini menyukai kondisi tanah yang lembab dan cukup berair.  

Biasanya umbi talas diolah dengan cara direbus, dikukus atau digoreng, keripik talas yang berbentuk seperti batang korek api merupakan salah satu kudapan favorit saya. Di Jogya, daun talas sering dimasak menjadi buntil dan dijual oleh Mbok-Mbok penjual nasi gudeg, sementara batangnya yang di Jawa disebut dengan lompong biasanya di tumis atau di olah menjadi bothok. Saya masih ingat, dulu ketika masih di sekolah dasar, nenek saya sering membuat bothok lompong. Rasanya lezat dan pas dinikmati dengan sepiring nasi hangat. Yummy!

Sebenarnya jika kita mau sedikit bereksperimen, umbi talas yang empuk dan lezat ini bisa diolah menjadi aneka penganan yang 'laziz' bahkan juga minuman. Anda mungkin pernah berkunjung ke restoran yang menawarkan jus talas yang berwarna keunguan. Carefour biasanya juga menyediakan jus talas dalam kemasan plastik air minum yang dijual di konter bahan makanan. Selain itu ternyata talas juga sedap untuk disulap menjadi cake atau schotel. Untuk schotel talas anda bisa klik di postingan saya sebelumnya disini. Sedangkan postingan kali ini saya akan berbagi resep dan cara membuat cake coklat talas kukus. Membuatnya sangat mudah dan rasanya lezat. Tidak percaya? Monggo dibuktikan saja. 

Talasnya saya menggunakan talas Bogor (Colocasia giganteum) yang berukuran besar, oleh-oleh dari acara outing di Puncak pada hari Sabtu dan Minggu kemarin. Anda juga bisa menggunakan talas ukuran kecil (Colocasia esculenta) yang banyak di jual di pasar karena talas Bogor kadang-kadang sulit ditemukan di Jakarta. Parut talas menggunakan parutan rujak serut atau parutan keju. Parutan talas ini membuat tekstur cake menjadi pulen dan ketika diiris terlihat bintik-bintik putih talasnya. Resep cake ini saya modifikasi dari Chocolate Banana Cake-nya Joy of Baking dan seharusnya resep cake  ini menggunakan pisang dan dipanggang. 

Cake ini sebaiknya dikukus minimal 1 jam, kalau biasanya saya mengukus cake + 40 - 50 menit, untuk kali ini harus lebih lama. Mungkin karena cake yang padat membutuhkan waktu lebih lama untuk matang, dan yang membuat saya terkaget-kaget ketika penutup kukusan dibuka, cake tampak mekar seperti sekuntum bunga. Namun jangan kuatir dengan rasanya ya, tetap mantap! Cake pun mengembang dengan sukses, teksturnya lembut serta moist. Untuk mengoleskan topping ganache-nya, cake saya balik kemudian bagian bawah serta samping cake saya tutup menggunakan coklat frosting. Hari ini ketika saya bawa ke kantor, cake ludes dengan cepat dan semua bilang: Enak!

Berikut resepnya ya.

28 February 2011

Schotel Talas


Sabtu dan Minggu kemarin saya lalui dengan mengikuti outing di Puncak bersama rekan-rekan sekantor. Acara tahunan ini memang telah menjadi rutinitas di kantor tempat saya bekerja untuk me-recharge dan memotivasi karyawannya, harapannya agar di tahun-tahun mendatang menjadi lebih baik.  Satu setengah hari diisi dengan acara yang full, pulangnya kami dihadang dengan kemacetan yang parah. Selama hampir dua jam, bis yang kami tumpangi berhenti total sementara di luar hujan yang cukup deras membuat suasana semakin bertambah muram.


Untungnya pemandangan sepanjang jalan Puncak - Jakarta tidak terlalu membosankan, selain pepohonan hijau dan bunga aneka warna, deretan penjual aneka buah-buahan khas daerah tersebut seperti pisang dan alpukat berjejer rapi. Sayapun melewatkan waktu sambil mengagumi pisang yang mulus dan talas Bogor yang gemuk-gemuk, sama sekali tidak ada niat untuk turun membeli di tengah hujan yang menguyur. Seorang rekan tiba-tiba turun dari bis dan menghampiri salah satu penjual, tak berapa lama tangannya menenteng ubi cilembu bakar dan pisang ambon yang menggiurkan. Wah, sayapun jadi tertarik melihatnya, talas Bogor yang seksi menjadi incaran saya. Tanpa 'ba bi bu' sayapun ikut turun dan mulai menawar. Tiga buah talas dan satu sisir pisang menjadi buah tangan saya dari Puncak.


Siapa bilang talas hanya di goreng atau direbus saja? Kali ini si talas saya kresikan menjadi schotel. Biasanya jika schotel menggunakan kentang atau pasta seperti fettucine schotel yang pernah saya posting sebelumnya, maka kali ini saya ganti bahan-bahan tersebut dengan talas yang saya parut menggunakan parutan rujak serut. Rasanya yummy! 


Berikut resepnya.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...