Pages

15 Oktober 2012

Pindang Ikan Patin


Satu hal utama yang membuat saya enggan memasak ikan patin adalah bau amis plus bau lumpurnya yang kuat (bagi indra penciuman saya tentunya). Bahkan menurut saya, baunya jauh lebih kuat dibandingkan dengan ikan bandeng yang bagi sebagian orang juga dianggap sebagai ikan berbau lumpur. Namun demikian harus saya akui, ikan patin memiliki daging yang super lembut dan berlemak, yang jika bau lumpurnya lenyap merupakan salah satu ikan yang cukup saya gemari. Beberapa kali saya memasak ikan patin, terus terang saya belum merasa puas dengan hasilnya, bukan dengan bumbu dan rasa masakannya tetapi dengan bau ikan yang tetap kuat terasa walau telah di luberi dengan aneka bumbu yang berlimpah. Salah satu masakan ikan patin yang pernah saya posting sebelumnya yaitu Sup Ikan Patin ala Sragen, anda bisa klik di link ini jika berminat dengan resepnya, memasukkan buah nanas ke dalam kuahnya, dimana cara ini cukup membantu membuat sup ikan ini menjadi segar dan menutup rasa si lumpur.



Walau telah melakukan aneka modifikasi dan eksperimen di dapur, menyantap ikan patin buatan sendiri terasa berbeda jika dibandingkan dengan membeli masakan matangnya. Beberapa kali makan di resto, saya acap kali terkagum-kagum bagaimana mereka bisa membuat bau si ikan lenyap. Selidik sana sini, dari beberapa literatur yang saya baca di internet, ikan yang di budidayakan di sungai dengan air mengalir cenderung tidak berbau dibandingkan dengan ikan yang dipelihara di empang. Sayangnya mayoritas ikan patin di Jakarta adalah hasil ternak di empang, berbeda dengan ikan patin di Palembang atau Pekanbaru yang kebanyakan di budidayakan di sungai dengan air mengalir. Jadi mau tak mau, tatkala saya ingin sekali menyantap pindang ikan patin, maka saya pun harus memutar otak bagaimana mengakali supaya bau-bauan tak sedap ini lenyap tak bersisa. 


Cerita ini berlanjut di minggu kemarin. Sepulang dari kantor saya pun bertekad untuk  mempraktekkan hasil melakukan survey dan bertanya sana-sini mengenai cara membersihkan ikan patin. Karena target saya malam itu, saya harus bisa mewujudkan sepanci pindang ikan patin yang super delicious dan bebas bau. Salah satu blog yang saya temukan dari hasil berselancar di internet, mengulas cara membersihkan ikan ini dengan detail dan jelas. Jadi kali ini saya pun mengkombinasikan tips-tips tersebut dengan pengalaman saya selama ini memasak ikan patin. Bagaimana dengan hasilnya? Nah, ketika sepanci pindang ikan patin ini saya bawa ke kantor keesokan harinya, rekan-rekan saya di kantor mengatakan rasanya lezat dan tidak berbau. Hmm, jadi mungkin proses membersihkan ikan dan memasaknya yang saya sertakan di bawah cukup berhasil jika anda berminat untuk menghadirkan ikan patin di meja makan di rumah. Tapi tentunya semua itu berpulang kembali pada indra penciuman anda masing-masing. ^_^

Resep pindang ikan yang saya sertakan di bawah adalah hasil modifikasi saya sendiri, ada banyak macam dan ragam resep pindang ikan patin ala Palembang yang bisa anda temukan di internet yang kemungkinan berbeda dari yang saya sajikan. Tertarik untuk mencobanya? Yuk ikuti petunjuk di bawah.


Pindang Ikan Patin 
Resep hasil modifikasi sendiri
Tips untuk membersihkan ikan patin saya adaptasikan dari blog When Samosir Meets Krones - Patin 

Untuk 4 porsi

Bahan:
- 2 ekor ikan patin ukuran sedang
- 800 ml air
- 3 buah tomat, masing-masing belah empat
- 1 ikat kemangi, ambil pucuk dan daunnya
- 2 batang daun bawang, potong sepanjang 2 cm

Bumbu dirajang:
- 15 butir cabai rawit, biarkan utuh
- 5 buah cabai merah besar, rajang kasar
- 4 buah cabai hijau besar, rajang kasar
- 2 batang serai, ambil bagian putihnya dan memarkan
- 2 ruas lengkuas, memarkan
- 2 ruas jahe, rajang halus
- 5 lembar daun jeruk purut, rajang halus
- 4 lembar daun salam, sobek kasar

Bumbu dihaluskan:
- 5 butir cabai merah keriting
- 4 butir cabai rawit
- 7 butir bawang merah
- 5 butir bawang putih
- 1 ruas kunyi, bakar sebentar di kompor

Bumbu lainnya:   
- 2 butir jeruk nipis, peras airnya, atau 100 ml air asam Jawa
- 1 sendok makan garam
- 2 sendok makan gula pasir
- 1 sendok teh kaldu bubuk
- 1 sendok teh merica bubuk

Cara membuat:
Membersihkan ikan patin


Siapkan ikan patin, buang insang dan isi perutnya. Potong bagian sirip dan ekornya. Letakkan patin di talenan/meja datar. Menggunakan pisau, gosok bagian badan patin yang berkulit hitam keabu-abuan ini. Gerakkan pisau tegak lurus pada badan patin, tekan pisau tapi jangan sampai menggores kulit patin dan tarik pisau ke arah ekor. Lakukan kegiatan ini berulang-ulang di seluruh badan ikan hingga bagian yang berwarna hitam pada kulit patin menghilang/memudar dan menjadi keputih-putihan. 

Setelah bagian kulit patin beres, kita lanjutkan dengan bagian dalam rongga badannya. Cuci bersih rongga bagian dalam ikan hingga tidak ada darah yang tersisa setitikpun. Jika masih ada darah yang menempel terutama di tulang bagian tengah, bersihkan dengan mencongkelnya menggunakan tusuk gigi. 

Pekerjaan ini memang membutuhkan waktu lama terutama bagian kepala yang banyak mengandung darah, jadi lakukan dengan sabar dan tenang. Jika anda tidak mau terlalu repot, potong dan buang bagian kepala patin. Jika bagian rongga badan patin telah benar-benar bersih dan bebas darah seperti gambar di atas, maka potong-potong patin sesuai dengan ukuran yang diinginkan. 


Cuci bersih bagian potongan ikan karena darah biasanya keluar dari bagian tersebut. Beri 1/2 sendok makan garam dan air perasan jeruk nipis dari 1 buah jeruk. Lumuri bagian rongga dalam dan permukaan ikan dengan garam dan air jeruk nipis. Remas-remas ikan dan diamkan selama 15 menit.  Cuci bersih ikan.


Siapkan panci, beri 1 liter air dan masak hingga mendidih. Masukkan ikan patin ke dalam air mendidih dan rebus selama 2 -3 menit saja. Kemudian tiriskan ikan dan buang air rebusannya dan ikan siap di olah. Cara merebus ikan yang hanya sebentar ini saya dapatkan ketika membuat sop ikan patin ala Sragen yang pernah saya posting sebelumnya. Silahkan klik di link ini jika anda berminat.

Membuat pindang ikan
Siapkan wajan, beri dan panaskan 2 sendok makan minyak  goreng. Tumis bumbu yang dirajang dan yang dihaluskan hingga harum dan matang. Masukkan air, air asam jawa/air jeruk nipis, gula, garam, kaldu bubuk dan merica. Masak hingga air mendidih.

Masukkan ikan patin dan masak hingga ikan matang. Tambahkan tomat, daun bawang, aduk sebentar hingga tomat dan daun bawang layu dan matang. Cicipi rasanya.


Sesaat sebelum diangkat, masukkan daun kemangi, aduk sebentar hingga kemangi layu dan angkat ikan dari kompor. Sajikan pindang ikan bersama nasi putih. 

Yummy!


Sources:
Blog When Samosir Meets Krones - Patin
Just Try & Taste - Sop Ikan Patin ala Sragen

41 komentar:

  1. Assalamu'alaikum, mba salam kenal, saya elin, mau tanya nih, kalau setelah ikannya masuk ke air n bumbu, kira-kira berapa menit sampai ikannya matang? Maklum baru pertama kali nih mau buat pindang. Makasih sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Jeng Elin, salam kenal juga. Masukkan ikan setelah air dan bumbu mendidih ya, masak ikan selama 10 - 15 menit saja. Atau coba congkel ikan dengan garpu di bagian yang paling tebal untuk mengecek apakah telah matang hingga bagian dalam. Memasak ikan tidak memerlukan waktu lama kok.

      Hapus
  2. mbak, mau tanya bahasa daerah lainya selain ikan patin itu apa?
    karena d daerah saya gak ada istilah ikan patin.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah apa ya, setahu saya nama asingnya pangasius, ini keluarga cat fish ya kek lele.

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Kalau untuk pindang tulang apakah sama mb resepnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo setahu saya pondang tulang agak beda ya resepnya. Pindag tulang sepertnya menggunakan asam jawa, gula merah dan kecap. Tapi ada pindang tulang khas palembang, sepertinya sih bumbunya mirip hehehe.Masih harus research dulu kayanya saya hehhehe

      Hapus
  5. Mbak Endang...makasih resepnya. Ini pertama kali saya masak pindang ikan patin dan suami en anak2 sukaaaaa. Dulu pernah di lampung sering makan pindang patin di resto trs pas pindah ke jkt gak pernah makan lagi. Suami bilang kangen makan ini trs saya cari resepnya di JTT dapet. Makasih yaaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mba hany, thanks ya sharingnya. senang sekali resep pindangnya disuka. sukses selalu yaa

      Hapus
  6. Aku yang selama ini ngga bisa ngolah ikan, pake resep ini berhasil. Dan yang makan sampe nambah nasi, hihihihih. Makasih mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo mba defa, thanks sharingnya yaaa, waah pindah patin sudah lama saya gak makan ini hehehhe

      Hapus
  7. Hujan2 gini paling cocok nih.
    Kemarin sore pulang ujan2 langsung bikin sup ikan nya.
    Nasi putih diganti dg rebusan bihun beras.
    Gejala flu langsung kaburrrrr!!
    Besuk sore bikin ini ahhhh...

    *resep sehat*
    Suwun Mb Endang

    Salam,
    Dian - Solo

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhaloow Mba Dian, fuiih seger banget kayanya yaa, jadi ngiler aslii huuuu. Thanks sharingnya yaa, senang resepnya disuka hehhehe

      Hapus
  8. Mbak Endang, saya dan suami sudah coba resep ini, hanya sedikit modifikasi di mana saya lebih pengen pindangnya ada nenas seperti pindang di palembang, jadi kami tambahkan potongan nenas segar.
    rasanya sungguh yummy, pindangnya dibagi ke ibu dan mertua dan kedua belah pihak komentar "enak...boleh dibuat untuk jualan"
    thanks ya atas resepnya, kami akan nyontek resep2 lainnya di blog mbak.
    Natalia- Medan

    BalasHapus
    Balasan
    1. halow mba Natalia, thanks sharingnya yaa. senang resepnya sukses dicoba dan disuka. yep tambah nanas rasanya akan lebih sedapppp. heheheh. sukses selalu ya.

      Hapus
  9. mbak Endang..coba deh tambahin irisan tomat dan 1 sdt terasi bakar..super yummy..penambahan terasi ini bagi saya cukup drastis mengubah rasa pindang menjadi lebih lezat..kalau di Lampung, terasi yg dipakai namanya terasi Labuhan Meringgai, bentuknya seperti pasta gitu..tapi terasi ABC biasa bagi saya cukup enak jg..tambahkan terasi setelah ikannya dimasukkan ya mbak..dicoba ya..hehe.. #maksa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mb Laila, wah saya kelewat komentarnya, maaf yaa,

      thanks sharingnya ya mba, wah next time saya akan coba pakai terasi. Andaikan ada terasi Labuhan di jakarta wkakak, tapi disini ada jenis terasi enak juga yang saya suka pakai. Thanks yaaa

      Hapus
  10. oia, 1 lagi, sedikit kecap manis jg mbak..kira2 2 sdm.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sipp mba laila, thanks yaaa, maknyus kayanya tipsnya hehehe

      Hapus
  11. Kbtulan sblm brgkt krj ak blnja diwrg syr dkt rmh, liat ad patin ak beli, blum tau sih mau diapain, cmn kepikiran mndg cr resp di mbah google, eh dpt dech... sy coba resepnya cmn sy kurangi pemakaian cabai coz ak lg hmil jd 8,5 bln hihiii.... pas matang wuiih... mantap misua suka n ludes smpe kuahna disruput... katanya gk bau lumpur sm sekali n gagal diet dech misua hahaa... trims ya mba ditunggu loh pstingan resep brktna

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Delvita, thanks shairngnya ya mba, senang sekali resepnya disuka. Jadi kepengen makan pindang patin, cuman memang kadang bau lumpurnya susah banget ilang ya hehhehe

      Hapus
  12. Mbak Endang, saya domisili di Jepang. Kira kira untuk pengganti daun kemangi apa ya mbak? Daun mint atau seledri bisa ga?

    Thanks mbak Endang. Btw blognya keren banget. Tiap kali mau masak, defaultnya pasti buka blog ini dulu ^_^

    Fike

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Fike, sayangnya tidak ada daun yang pas buat menggantikan kemangi ya, jangan ganti dengan mint, basil atau seledri, ntar rasanya beda ya. Skip saja gak papa kok, asalkan daun jeruk purutnya pakai ya.

      thanks sudah menyukai JTT ya, sukses selalu!

      Hapus
  13. Mba endang, pindang patin ini jd lauk makan dirumahku hari ini. Rasanya endeuuuuus, walo tanpa kemangi (ga niat bikin pindang patin awalnya). Kata suamiku juga enak, padahal dia ga suka ikan disayur. Yesyesyessss!
    makasih ya mba udah share resepnyaa. Sukses selalu untukmu, mba :)

    -kiki

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Kiki, thanks sharingnya, senang resep JTT disuka. Sukses selalu yaa.

      Hapus
  14. Mbak, saya bikin ini buat maksi tadi. Dan sukses mengundang pujian suami, padahal doi ga suka ikan kuah. Mantep dah resepnya. Makasih ya mba udah share resep inii.. sukses selalu untukmu :)

    BalasHapus
  15. Ibu ku sering bikin garang asem ikan patin mbk, dipanggang dulu smpe kering dan ga bau lumpur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow, thanks tipsnya mba Utami, bau lumpur selalu menjadi kendala saya kalau mau memasak patin.

      Hapus
  16. Mba, aku bikin ini kok kuah nya pahit ya? Kira kira kenapa ya, mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bumbunya dibakar sampai gosong kli mba ^_^

      Hapus
  17. Salam kenal, mbak ... saya suka intio2 blog ini loh, selain cari resep juga liat2 foto2 nya hehe.. oh yakalau di lampung, pindang patin diberi terasi bakar, ada juga yg ditambah dikasih kemiri .. dan kemangi dimasukkan bersama nanas, segaaaar

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal mba ratna, thanks sharingnya ya, senang JTT disuka. Thnaks tipsnya untuk pindang patin ya, di jakarta sayngnya patinnya kurang oke kualitasnya.

      Hapus
  18. Salam Kenal Mba, mau tanya,ikan nya boleh di ganti sama ikan lain ga? kalau boleh misalnya ikan apa? hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mba jane, bs pakai ikan lain ya, ganti tengiri, kakap, atau ikan jenis lainnya tetap sedap kok

      Hapus
  19. Mba Endang,terimakasih resepnya ya..barusan udah aku coba dan anakku doyan..
    Oiya mba,aku baru pindah ke palembang,disini beli ikan patin masih hidup mba..ikannya seger banget ga ada bau lumpur sama sekali..ayo main-main ke palembang mba Endang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mb Putri, thanks sharingnya ya, senang resepnya disuka, di Pelambang memang ikannya lansung dr sungai ya, beda di Jkarta hasil penangkaran di kolam yang berlumpur sehinga bau lumpurnya kuat banget hehhee

      Hapus
  20. Hai mb Endang..kmren ak dh cobaa loo..tp emang nyiangi item2nya cape dan lama ( smabil nyusuin bayi tiap dia bangun jd bolak balik)
    ama abang ikane dh dipotong jd 3 bagian gt..jd nyianginnya satu2..ngilangin darahnya jg pelan2 ahahaa hrus stok sabar yah emang.
    Akhirnyaa dh jdi dehhh..enyaak mbaa..dihabisin ma suami..makacii mb Endang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahhaha, thanks sharingnya Mba Savina, memang tobat ini ikan patin, susah cari yang gak bau lumpur kalau di JKT. thanks sharingnya ya

      Hapus
  21. Hii mba endang..
    Mungkin bisa coba patin merah mba..karna klo patin merah ga bau lumpur ato bau tanah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mb Sarah, tnanks sharingnya ya, saya belum pernah lihat patin merah, kalau ketemu saya coba hehehe

      Hapus

PEDOMAN BERKOMENTAR DI JTT:

Halo, terima kasih telah berkunjung di Just Try and Taste. Saya sangat menghargai feedback yang anda berikan, terutama mengenai eksperimen dalam mencoba resep-resep yang saya tampilkan.

Komentar yang anda tuliskan tidak secara otomatis ditampilkan karena harus menunggu persetujuan saya. Jadi jika komentar anda belum muncul tidak perlu menulis komentar baru yang sama sehingga akhirnya double/triple masuknya ke blog.

Saya akan menghapus komentar yang mengandung iklan, promosi jasa dan penjualan produk serta link hidup ke blog anda atau blog/website lain yang anda rekomendasikan yang menurut saya tidak relevan dengan isi artikel. Saya juga akan menghapus komentar yang menggunakan ID promosi.

Untuk menghindari komentar/pertanyaan yang sama atau hal yang sebenarnya sudah tercantum di artikel maka dimohon agar membaca artikel dengan seksama, tuntas dan secara keseluruhan, bukan hanya sepotong berisi resep dan bahan saja. Ada banyak info dan tips yang saya bagikan di paragraph pembuka dan jawaban di komentar-komentar sebelumnya.

Satu hal lagi, berikan tanda tanya cukup 1 (satu) saja diakhir pertanyaan, tidak perlu hingga dua atau puluhan tanda tanya, saya cukup mengerti dengan pertanyaan yang diajukan.

Untuk mendapatkan update rutin setiap kali saya memposting artikel baru anda bisa mendaftarkan email anda di Dapatkan Update Via Email. Atau kunjungi Facebook fan page Just Try and Taste; Twitter @justtryandtaste dan Instagram @justtryandtaste.

Semoga anda menikmati berselancar resep di Just Try & Taste. ^_^