Pages

20 Maret 2017

Resep Kalio Pedas Cumi-Cumi a la My Mom & Dimana Dimas?

Resep Kalio Pedas Cumi-Cumi a la My Mom

Weekend yang luar biasa sibuk dan berlalu dengan super cepat, seakan baru saja saya memejamkan mata sepulang kantor di Jumat malam, kini sudah harus berkantor lagi di Senin pagi. Badan terasa remuk redam karena tadi malam saya membersihkan rumah hingga pukul sepuluh, tapi hati ini terasa puas ketika setiap sudut rumah Pete terlihat mengkilap dan bebas debu. Sejujurnya, pagi ini saya benar-benar malas hendak berangkat ke kantor, bahkan hati ini sudah separuh berdoa supaya hujan deras menghajar Jakarta sejak pagi sehingga saya semakin memiliki alasan untuk cuti satu hari. Ide merebahkan diri di kasur dan bermalas-malasan seharian memang terasa menyenangkan. Tapi niat jelek saya ternyata tidak didukung cuaca, walau mendung menggelayuti langit namun hujan tak kunjung jatuh dengan berat hati dan kaki, saya pun berangkat ke kantor, tentu saja setelah berpontang-panting mempersiapkan bekal makan siang terlebih dahulu. ^_^

Resep Kalio Pedas Cumi-Cumi a la My Mom

Disela hari weekend yang berlalu cepat sebenarnya ada satu cerita yang saat Sabtu kemarin cukup menyita hari saya sejak pagi.  Sabtu yang tadinya saya fikir akan berlalu dengan tenang dan santai tapi justru dimulai dengan kondisi panik ketika jam delapan pagi Ibu saya mengirim pesan di WhatsApp, nadanya sedikit khawatir dan kebingungan, "En, kok Dimas sejak kemarin nggak diangkat telponnya ya? Sudah janji sama Mama hari Sabtu mau datang ke Mampang, tapi SMS Mama saja nggak dijawab. Nggak biasanya adikmu kaya gini." Dengan mata sepet karena baru bangun tidur, saya lantas menelpon adik bungsu saya yang berkuliah dan kos di daerah Grogol. Terdengar nada masuk tetapi tidak ada satupun telepon saya yang diangkat, WhatsApp-nya terbaca aktif terakhir kali di hari Kamis. Saya lantas mengirim pesan  SMS dan WA,  meminta Dimas untuk menelpon dan melanjutkan tidur kembali.

Tapi hati yang gelisah dan nada khawatir Ibu membuat kantuk menjadi hilang dan semangat untuk melanjutkan tidur pun bubar. Adik saya ini terkadang memang suka lama membalas pesan dan sering tidak mengangkat telepon, tetapi belum pernah sampai selama ini. Sambil menunggu telpon masuk dari Dimas, saya pun menuju ke belakang dan mulai merendam cucian yang segambreng banyaknya. Baru saja pekerjaan tersebut selesai, pesan kembali masuk ke HP saya, "Gimana En, sudah ada kabar dari Dimas?" Ibu saya sepertinya benar-benar panik hingga tak sabar menunggu dalam hitungan jam, akhirnya saya pun menelpon beliau. Setelah mendengar suaranya yang mengandung tangisan, saya segera menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi.  Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak subuh sebenarnya sangat menunjang kegiatan bermalas-malasan dan tidur seharian yang sudah saya rencanakan dari kemarin malam, tapi kali ini terpaksa harus diterjang dan saya pun terbang ke Mampang, meninggalkan kasur empuk hangat dan rendaman cucian segunung. Tobat!


Saat ini Ibu saya memang sedang berada di Jakarta, selama di Ibukota beliau lebih suka menginap di rumah adik saya, Wiwin, di Mampang. Lingkungan rumah Wiwin yang terletak di dalam cluster yang tenang, serta adanya cucu-cucu membuat rumah selalu ramai dan beliau menjadi betah disana. Setelah mengobrol sejenak dengan Ibu di telepon, kami pun berencana untuk langsung datang ke rumah kos Dimas. Taksi yang saya tumpangi dari Pete hanya menjemput Ibu dan langsung berangkat kembali ke Grogol. Saat itu pukul sembilan pagi dan perut pun mulai keruyukan minta diisi. Sinyal tersebut terpaksa saya abaikan, ada hal yang lebih urgent dibandingkan mengisi perut di rumah Wiwin, yang di Sabtu pagi seperti ini meja makannya pasti telah penuh dengan aneka masakan dan lauk pauk lezat buatan Mba Ayu, asisten rumah tangga Wiwin. Bayangan bihun goreng, pecel, tempe dan ayam goreng yang hangat menari-nari di benak, namun raut wajah Ibu yang terlihat sedih membuat semua bayangan indah itu buyar. Walau beliau tidak berkata apa-apa namun kekhawatiran di wajahnya menggambarkan segalanya. 

Resep Kalio Pedas Cumi-Cumi a la My Mom

Dimas adalah si bungsu yang memiliki jarak usia cukup jauh dari kami semua. Ketika usianya baru lima tahun, Bapak meninggal dunia karena komplikasi penyakit diabetes yang dideritanya sejak lama. Hingga SMA, Dimas tinggal berdua dengan Ibu di Paron, dan praktis menjadi anak kesayangan Ibu saya. Kemanapun Ibu pergi maka Dimas pun akan menemani, dan beruntungnya beliau, Dimas adalah anak yang sangat baik, penurut dan tidak sekalipun pernah membantah kata-kata Ibu saya, selain itu Dimas juga sangat perasa dan enggan meminta apapun dari kami, kakak-kakaknya. Selalu kami yang menawarkan dan memaksakan diri ketika hendak membelikannya sesuatu atau memberinya uang. Jadi saya mengerti betapa gundah gulananya hati Ibu saya kala anak bungsu kesayangannya ini tidak terdengar kabarnya.

Kami tiba di depan kos Dimas dengan cepat, jalanan lancar dan relatif sepi saat itu. Mbak Imah, penjaga rumah kos, muncul setelah dua kali saya memencet bel. Tanpa ba-bi-bu dan tanpa memperkenalkan diri, kami langsung memberondong dengan aneka pertanyaan, "Mbak, Dimasnya ada?" Tanya saya dan langsung dilanjutkan dengan Ibu saya, "Dimas baik-baik saja kan Mbak? Tidak sakit kan? Kuliah setiap hari kan?" Sedetik bingung, namun detik berikutnya Mbak Imah menjawab dengan cepat, "Dimasnya sudah berangkat dari jam tujuh pagi, Bu. Sehat-sehat saja, baik-baik saja, setiap hari kuliah kok. Kemarin memang dua hari pergi, katanya ada kegiatan kampus, tapi tadi malam sudah pulang." Saya menarik nafas lega mendengarnya. Setidaknya adik saya tidak apa-apa, sehat walafiat dan mungkin saat ini sedang berada di kampus. Hanya mengapa dia tidak menjawab telpon dan membalas pesan?  

Resep Kalio Pedas Cumi-Cumi a la My Mom

"Mama mau tunggu saja di kamar Dimas,  Mama belum tenang kalau belum lihat dengan mata kepala sendiri", kami pun berdua lantas meminta kunci cadangan dari Mbak Imah dan masuk ke kamar Dimas, dan dibuat terkejut dengan tampilan kamar yang seperti kapal pecah! Sungguh baru kali ini saya melihat kamar yang super amburadul seperti ini, semua pakaian berceceran dimana-mana, bahkan tidak ada satu jengkal lantaipun yang kosong dan  bisa dipijak bebas dengan telapak kaki. "Ya ampun Dimas, kok kaya gini," Ibu saya meratap dan duduk mendeprok di spring bed yang diletakkan di lantai, sementara saya justru mengambil foto dengan handphone dan mengirimkannya ke Wiwin yang tidak ikut bersama kami saat itu. "Kamar Dimas, Win! Super mengerikan!" Sambil mengomel-ngomel, kami berdua lantas mulai bekerja bakti membersihkan kamar, menumpuk pakaian kotor di pintu dan meminta Mbak Imah mencucinya, tentu saja dengan tips yang saya selipkan di telapak tangannya. 

"Ma, kata Wiwin, cari bubuk putih atau pil, anak-anak kuliah di Jakarta sekarang banyak yang pakai narkoba." Kata-kata saya membuat Ibu melotot "Masa pakai narkoba? Jangan bilang gitu, adikmu anak baik-baik kok," bela Ibu saya tidak terima sambil terus melipat gunungan pakaian yang tidak bisa dibedakan mana yang bersih dan mana yang telah terpakai. Saya sendiri mulai membuka semua laci dan menyibak tumpukan pakaian. Tidak ada bubuk putih, tidak ada pil, yang ada hanyalah aneka bungkus makanan, kotak susu, bungkus coklat dan segala bungkus camilan lainnya. Segambreng!

Resep Kalio Pedas Cumi-Cumi a la My Mom

Hampir dua jam berikutnya, setelah kamar bersih, rapi, dan perut kenyang terisi dengan nasi dan ikan bandeng di warteg depan kos, kami berdua duduk di kasur menunggu Dimas yang tak ada tanda-tanda kemunculannya. Saya memejamkan mata dan menggunakan waktu menganggur tersebut dengan tidur, sementara Ibu saya tetap gigih menelpon nomor hape adik saya yang seperti sebelum-sebelumnya, tidak terjawab.

Tidak berapa lama terdengar langkah kaki menaiki tangga, suara kaki yang bergeser di depan pintu kamar seakan melepaskan sepatu. Saya langsung menoleh ke Ibu, "Dimas pulang Ma," bisik saya. Tapi kemudian terdengar langkah kaki menjauh, menuruni tangga dan menghilang, "Suara tetangga di sebelah, bukan Dimas. Masa dia nggak masuk ke kamar", jawab Ibu, dan saya pun merebahkan diri kembali, hingga kemudian terdengar ketukan keras di pintu. Saya berlari dan membukanya, "Mbak, itu Mas Dimasnya sudah datang dan mau pergi lagi naik motor! Cepat, nanti nggak keburu!" Teriakan Mbak Imah membuat saya terkejut dan langsung kabur menuruni tangga mengejar adik saya. Kepala saya berkecamuk dengan kekhawatiran. Mengapa adik saya tidak mau menemui kami berdua? Ada masalah apa?

"Dimas! Dimas!" Teriak saya sekencang-kencangnya ke sosok berhelm yang hendak melarikan motornya dari gerbang. Adik saya menoleh, bingung, terkejut. "Dimas! Ini kakakmu Endang! Ini Endang!" Teriak saya seperti orang hilang akal. Beberapa tukang yang sedang bekerja membetulkan jalanan berhenti bekerja dan menatap kami berdua. "Mba Endang? Aku mau ke rumah Mba Wiwin sekarang," jawab adik saya bingung tapi tak segera turun dari motornya dan membuat kecurigaan saya semakin membuncah. Apakah anak ini stress? "Iya, jangan pergi dulu, kita datang kesini dari pagi lho. Ada Mama juga di kamarmu nungguin, ayo masuk dulu," ajak saya, malu dengan tukang-tukang yang kali ini benar-benar terang-terangan menonton. Dimas mematikan motornya, dan berjalan mendekat, wajahnya terlihat kebingungan sementara saya sibuk memperhatikan setiap inchi tubuh adik saya tersebut. Terlihat sehat, kukuh, kuat, sedikit gendut, mata fokus dan jernih, wajah segar hanya kebingungan saja yang meraja disana. 

Resep Kalio Pedas Cumi-Cumi a la My Mom

Ketika kami masuk ke rumah, Ibu saya yang ternyata telah ikut turun ke bawah tiba-tiba datang menyongsong sambil menangis, "Kemana saya tho Le? Kok nggak mau ketemu sama Mama kenapa? Mama telpon kok nggak diangkat? Ada apa?" Saya berdiri bengong, kehabisan gaya ketika tangisan Ibu makin keras, dan Dimas yang tadinya bingung berubah stress dan ikutan menangis, "Mama kenapa Ma? Kenapa nangis  Ma?  Aku nggak pa-pa Ma, hape ku hilang dari hari Kamis, ada yang 'nyolong' waktu aku ikut kegiatan pelatihan SAR Basarnas. Kan aku udah bilang Mama, hari Sabtu aku ada kuliah, tapi siangnya bakalan ke Mampang," jawab adik saya sambil duduk mendeprok di lantai menangis. Saya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal memandang semua kejadian itu. Pantas saja keluarga kami tidak suka sinetron dan tidak pernah menonton sinetron, mungkin karena kami semua jago memainkan sinetron sendiri. Gubrak dah!

Jadi begitulah peristiwa 'lebay' dihari Sabtu yang awalnya dimulai dengan kepanikan, namun diakhiri dengan tawa dan menjadi lelucon yang tak berkesudahan setelahnya. Setiap kali kami mengulang cerita tersebut, semua tertawa terpingkal-pingkal hingga perut terasa kram. Wokeh kembali ke resep kali ini. Kalio cumi-cumi pernah saya share resepnya di JTT, kala itu cumi-cumi besar saya isi dengan adonan telur dan daun bawang, mirip seperti kalio cumi isi telur a la resto Padang. Untuk yang satu ini adalah versi kalio cumi-cumi a la Ibu saya yang sering sekali beliau masak ketika datang ke Jakarta dan berkesempatan untuk beraksi di dapur. Kalio sebagaimana resep a la masakan Padang lainnya tentu saja menggunakan bumbu dan rempah yang banyak, tapi semua jerih payah itu sebanding dengan rasanya yang mantap. Saran saya, gunakan jenis cumi-cumi berukuran kecil karena mudah empuk ketika dimasak, jika menggunakan jenis seperti ini maka saya tidak membuang kulitnya, cukup tinta dan mulut cumi-cumi (yang terletak di tengah-tengah tentakel) yang disiangi dan buang. 

Berikut resep dan prosesnya ya. 

Resep Kalio Pedas Cumi-Cumi a la My Mom

Kalio Pedas Cumi-Cumi a la My Mom
Resep hasil modifikasi sendiri

Untuk 6 porsi

Tertarik dengan resep dari bahan cumi-cumi lainnya? Silahkan klik link dibawah ini:
Cumi-Cumi Asam Garam a la My Mom
Cumi-Cumi Masak Hitam Super Pedas 
Sambal Cumi-Cumi dengan Petai 

Bahan:
- 1 kg cumi-cumi kecil + 1 sendok teh garam + 1 sendok makan air asam jawa
- 500 ml air
- 40 ml santan kental instan

Bumbu dihaluskan:
- 5 buah cabai merah keriting
- 4 buah cabai rawit merah
- 4 siung bawang merah
- 4 siung bawang putih
- 1 sendok teh ketumbar sangrai
- 1/2 sendok teh merica bubuk
- 3 butir kemiri sangrai
- 1 1/2 cm kunyit
- 1 1/2 cm jahe

Bumbu dan bahan lainnya: 
- 1 batang serai, memarkan
- 3 cm lengkuas, memarkan
- 2 lembar daun jeruk purut
- 1 1/2 sendok teh garam
- 1 sendok makan air asam Jawa yang kental
- 1 1/2 sendok makan gula merah sisir halus
- 2 sendok makan minyak untuk menumis bumbu

Cara membuat:

Resep Kalio Pedas Cumi-Cumi a la My Mom

Siapkan cumi-cumi, biarkan kulitnya (silahkan jika hendak mengupasnya), buang tinta dan mulutnya. Tambahkan 1 sendok teh garam dan 1 sendok makan air asam, remas-remas dan biarkan selama 10 menit. Cuci bersih, usahakan kepala cumi-cumi dimasukkan kembali ke dalam kantungnya. Sisihkan. 

Siapkan wajan, beri 2 sendok makan minyak. Panaskan hingga benar-benar panas. Tumis bumbu halus dengan api sedang hingga harum, aduk-aduk selama bumbu ditumis agar tidak gosong. Masukkan serai, lengkuas, daun jeruk, aduk rata dan tumis hingga rempah layu dan bumbu matang. Tanda bumbu matang: warnanya menjadi lebih gelap (tidak pucat), dan berbau harum. 

Masukkan air, masak hingga mendidih. 

Resep Kalio Pedas Cumi-Cumi a la My Mom

Masukkan cumi-cumi, aduk dan masak selama 20 menit hingga cumi-cumi empuk dan matang, gunakan api sedang saja kala memasak. Tuangkan santan, aduk dan masak dengan api kecil hingga santan harum dan matang. Aduk-aduk sesekali ketika dimasak agar santan tidak pecah, masukkan garam, air asam dan gula jawa, aduk rata dan cicipi rasanya. Sesuaikan rasa asinnya sesuai selera. 

Angkat dan sajikan dengan nasi hangat. Super yummy!

46 komentar:

  1. Salam kenal mbak Endang, saya selama ini hanya menjadi silent reader, baru kali ini saya komen, bahkan ini pertama kali saya komen di website manapun yang saya follow, cerita nya mirip dengan saya mbak, yg juga punya adek, perempuan dengan umur terpaut 10 tahun dan sedang kuliah di jogja, entah mungkin krn anak muda sekarang cenderung cuek, shg acapkali bikin kalang kabu, hihihi. Btw thanks ya resepnya, besok saya akan coba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mba Octaviani, thanks sharingnya ya, yep kasusnya sama dengan saya, usia terpaut lebih dari 10 tahun heehhe. sukses yaaa

      Hapus
  2. hai mba end... ngakak tenan aku mba baca critamu ealah adiknya kok ya ndak ngabari kakak yg lain klo hp ilang tp seru bgt critanya mba wkwkwk bener2 mirip sinetron yg happy ending ---Anni smg--

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks mba Anni sharingnya yaa, senang ceritanya bisa menghibur. Actually kami sekeluarga setiap kali menceritakan ini juga ngkak sampai sakit perut hehehhe

      Hapus
  3. Seperti biasa, cerita pengantar nya seruuuu..... berasa baca cerita misteri, Mba Endang. Apa lagi resep nya kali ini, pas banget sama request pak suami sejak minggu lalu & saya ogah bikinin sebelum dapet resep yg meyakinkan. Kaya nya cumi dari resep JTT nih yg bakal jadi menu baru favorit kami 😉

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selalu suka sama blog ini ,selain resepnya yg endesss ceritanya juga' menarik ,
      Karna blog ini juga' aku bisa belajar banyak bangett ,sukses Terus Mba Endang .
      Dewi ,

      Hapus
    2. Thanks Mb Emilia sharingnya yaa, senang ceritanya disuka. Kadang kisah sehari2 sebenarnya seru juga untuk diceritakan hehehe

      Hapus
    3. Thanks Mba Dewi sharingnya yaa, senang cerita dan resep JTT disuka, sukses yaaa

      Hapus
  4. Wahh.. Seru bgt mbak ceritanya, pengantar nya selalu bagus, sy sampe ikut2 terbawa ke kos an, ikut nangis bombay.. Mbak Endang mah selalu the best.. Resepnya juga cihui.. Tks ya mbk Endang cantik 😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Mba Indah, wakakakka tidak bermaksud untuk membuat nangis bombay mba, tapi senang sekali ceritanya disuka. Sukses yaaa

      Hapus
  5. Tobaaaatt...

    Mba aku jadi ngakak #Lol... plus ikutan terharu sampai menitikan air mata. Pas diadegan mba endang ngejar2 si dimas wkwkwkw...

    Maaf mba cuma koment tentang cerita pengantarnya. Bukan tentang resepnya...

    Sehat selalu mba endang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Mba Agustinah sharingnya yaaa, senang cerita JTT disuka, saya waktu itu memang merasa heboh banget, ngejar dr lantai atas, mungkin seisi kost pada bingung juga hehhehe

      Hapus
  6. Ngakak habis aku mbak baca prolognya...
    Awal2 baca rada deg degan juga wah ada apa dg Dimas, tp akhirnya happy ending hahahaa... seru kocak.

    Sehat & sukses selalu mbak Endang.

    (ImeL)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Mba Imel sharingnya yaa, senang ceritanya bs menghibur. Saya juga suka cerita happy ending wakakka, sukses yaaa

      Hapus
  7. Bersyukur sekali mba Endang msh punya ibu, ibu yg perhatian...semoga ibu slalu sehat ya mba....tampilin donk poto mba Endang sekeluarga..jd pengen kenal...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yep, betul sekali Mama Farhan, alhmdulilah Ibu masih sehat dan kuat. Thanks sharingnyaa yaa, hmm saya gak berani tampilin takut dikomplain sama lainnya wakakkak. sukses yaa

      Hapus
  8. mbak kalau cerita seru2 deh, aku suka gaya bahasanya.
    resepnya seru...ceritanya juga seru.
    aku udah beli buku resep mbak. kalau nanti mau bikin
    novel pasti aku beli juga hehehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Mba Lenny sharingnya ya, senang ceritanya disuka. One day kepengen bikin novel jika waktunya sudah ada hehehhe. sukses yaaa

      Hapus
  9. Mba endanggg......seruan cerita pembukanya drpd resepnya. Bikin novel mba....saya daftar jadi pembeli pertama. Sehat selalu ya mba...:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Mama Dhita, senang ceritanya disuka. Yep udah kepikiran pengen bikin novel, cuman ada penerbit yang mau terbitin gak yaaa hehehhe

      Hapus
  10. Thanks resepnya Mba, kebetulan hari ini ibuku beli cucut asap. Kayanya cocok di masak kalio nih Mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 mba Dewi, yep, kalio fleksibel, bs dimasukkin macem2 dan tetep enak yaaa

      Hapus
    2. Mba En, mau lapor. Sudah dieksekusi resepnya, enak banget Mba. Masak malam buat bekel besok, pas nyicip eh malah ambil piring. Hahahhaha hangus sudah zumba 30 menit. 😞😁

      Hapus
    3. Thanks Mba Dewi sharingnya yaa, senang resepnya disuka. Msakan kaya gini memang bikin diet gagal hiiksss

      Hapus
  11. Mbaaak, ngakaak pool aku baca ceritamu Mbaak, :D :D

    BalasHapus
  12. sungguh sinetronnya bikin penasaran mbk.takut..kalut..bingung..gundah gulanya jadi satu saat saya baca per inci sinetron di atas.. tp pada akhirnya happy ending.alhamdulillah.pembaca legaa

    BalasHapus
  13. Mba endang aku melok bingung baca soal dimas. Plek ketiplek ma adekku hahaha.. Kamarnya ga beda ma gudang 😬 syukurlah dimas ga apa2 mba. Btw kalio tsmpak lezat. Semoga ga kena penyakit malas wiken ini coba resep mba. Makasih ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Harsi, iyaaa, dah sama kek gudang Mba, saya shocked lihatnya hehhehe,

      Hapus
  14. huwaaaa...mbak end sumpah critanya bikin ngakak..drama bangeeet adegannya mbak endang ngejar dimas ya. hahaha. mbak endang kenapa nggak nerbitin buku cerpen juga ya selain buku masak. keren2 tulisannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Mba Dhia sharingnya yaa, senang resepnya disuka. Pengen bikin novel tapi belum ada waktunya hehhehe. sukses yaaa

      Hapus
  15. Aku jadi ikutan nangis bombay sampe ndeprok-2 di lantai ini mba..... :(

    ikut ngerasain sedih & khawatir nya ibu mba endang gak dapet kbr dr Dimas, Ngerasain Ketakutan nya Dimas krn gak mau nyusahin & ngerepotin Kakak-2 jg ibu nya... Alhamdulillah Happy ending. Semoga mba endang sekeluarga selalu diberika kesehatan dan keselamatan.aamiin.

    PS: utk Dimas... jgn di ulangi lg ya.. hapalkan no.hp ibu / kakak-2-mu trus minta tolong sama temen-mu utk kasih kabar / sms dr hp-nya. ok cah bagus.. :)

    Sumpah sinetron abiss.. FTV banget dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Trie, thanks sharingnya yaa, wakakakak, tidak bermaksud membuat jadi nangis bombay Mba, tapi memang sempat sport jantung hari sabtu kemarin. Sy juga bingung, yang lebay saya dan Ibu saya atau memang adik saya yang kebangetan gak mau kasih kabar hehehhe.

      sukses yaa

      Hapus
  16. pernah nyobain kalio pedas ini d warung nasi langganan. dan rasanya endeuuss bgt, pedas gurih..
    setelah beberapa hari berniat eksekusi, akhirnya hari ini mang sayur yg biasa lewat rumah nawarin cumi yg masih segar. dan eksekusipun berhasil dgn rasa yg super gurih n pedas. makasih share resepnya ya mba.
    oia mba,, boleh request ia,, di bandung skrg lg hits bgt sate taichan. hampir setiap hari sepupu sy beli sate ini stlh plg kuliah.. klo mba berkenan, boleh ya kapan kapan mba share resep dan cara buatnya. saya penasaran bgt,, hehehehh
    makasih sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Siti, thanks sharingnya ya, senang resepnya disuka. Saya pernah cicip sate taichan di senayan, menurut saya rasanya gak karu2an hehehhe.

      Hapus
  17. mba endang, sepertinya adik mba endang (mas dimas) bener2 anak yg baik ^.^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahha, yep Mba Rahmi, memang dia super baik banget ^_^

      Hapus
  18. Baru ini baca resep bikin nangis xD
    Mba en, cuminya dimasak 20 menit? Saya pernah masak cumi agak lama jd alot, ato beda jenis cuminya ya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau cumi2 kecil seperti yang saya pakai dimasak gak lama dan gak alot sama sekali mba, saya kasih waktu 20 menit, tapi kalau sebelum waktu tersebut sudah matang diangkat saja

      Hapus
  19. cari resep cumi
    buka jtt
    biasany lgsg liat resep& cra pmbuatan
    pnsaran dgn jdulny baca pengantarny 1klimat....2klimat...1prgraf....2pragraf...baca perlahan stiap kalimat dgn seksama...deg2an....cemas....berkaca2 smpe akhirnya mneteskan air mta krna ngakak😃😃😃 & akhirny lupa klo mw msak cumi 😅😅😅 smoga bsok pgi g lupa lg 😆😆😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Suci, thanks sharingnya ya.

      hmm, ada banyak info diartikel mengenai seputar pembuatan dan tipsnya juga lho hehehe

      Hapus
    2. sekarang sllu bca pengantarny trus kok mba endang
      krn pgantarny selalu mengandung manfaat
      thx so much mb endang ulas lg dunk ttg info keuanganny 😍

      Hapus
    3. Wakakkak, thanks Mba Suci, saya cuman bercanda Mba, pengantarnya diksip gak papa kok, proses resepnya sudah saya usahakan sedetail mungkin agar sukses dicoba hehhehe

      Hapus
  20. mba Endang, mau nanya..
    20 menit itu kira2 total semua waktunya, atau setelah 20 menit baru dimasukkan santan dan gula jawanya?
    makasih jawabannya ya mba.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. 20 menit untuk mematangkan cumi2 mba, tapi tolong waktunya disesuaikan dengan cumi2nya, ada jenis yang kurang dari 20 menit sudah empuk ya.

      Hapus

PEDOMAN BERKOMENTAR DI JTT:

Halo, terima kasih telah berkunjung di Just Try and Taste. Saya sangat menghargai feedback yang anda berikan, terutama mengenai eksperimen dalam mencoba resep-resep yang saya tampilkan.

Komentar yang anda tuliskan tidak secara otomatis ditampilkan karena harus menunggu persetujuan saya. Jadi jika komentar anda belum muncul tidak perlu menulis komentar baru yang sama sehingga akhirnya double/triple masuknya ke blog.

Saya akan menghapus komentar yang mengandung iklan, promosi jasa dan penjualan produk serta link hidup ke blog anda atau blog/website lain yang anda rekomendasikan yang menurut saya tidak relevan dengan isi artikel. Saya juga akan menghapus komentar yang menggunakan ID promosi.

Untuk menghindari komentar/pertanyaan yang sama atau hal yang sebenarnya sudah tercantum di artikel maka dimohon agar membaca artikel dengan seksama, tuntas dan secara keseluruhan, bukan hanya sepotong berisi resep dan bahan saja. Ada banyak info dan tips yang saya bagikan di paragraph pembuka dan jawaban di komentar-komentar sebelumnya.

Satu hal lagi, berikan tanda tanya cukup 1 (satu) saja diakhir pertanyaan, tidak perlu hingga dua atau puluhan tanda tanya, saya cukup mengerti dengan pertanyaan yang diajukan.

Untuk mendapatkan update rutin setiap kali saya memposting artikel baru anda bisa mendaftarkan email anda di Dapatkan Update Via Email. Atau kunjungi Facebook fan page Just Try and Taste; Twitter @justtryandtaste dan Instagram @justtryandtaste.

Semoga anda menikmati berselancar resep di Just Try & Taste. ^_^