Jika anda mengikuti resep demi resep yang pernah saya posting sebelumnya, atau anda iseng-iseng mencari resep es krim yang mudah dan lezat di JTT - mudah disini berarti tidak menggunakan ice cream maker untuk membuat tekstur es krim se-yummy Haagen Dazs atau Baskin Robbins - maka anda tentu ingat dengan satu resep es krim yang pernah saya tampilkan sebelumnya yaitu es krim mangga. Nah jika anda belum pernah membacanya, maka dengan senang hati saya bersedia berbagi link-nya. Silahkan klik di link di sini ya. Di artikel tersebut saya menjelaskan step by step proses pembuatan es krim dengan rasa mangga tanpa menggunakan alat pembuat es (ice cream maker) sama sekali, yang anda perlukan hanyalah mengocok krim kental hingga mengembang, mencampurnya dengan puree mangga dan susu kental manis, bekukan di freezer. Simsalabim! Es krim lezat dengan mudah hadir di rumah anda.


Tapi ternyata ceritanya tidak berhenti sampai disitu, karena kemudian banyak yang protes ke saya, mulai dari krim kental yang tak kunjung mengembang saat dikocok, krim yang pecah karena over mixing, hingga krim yang sulit di cari di supermarket apalagi bagi mereka yang tinggal jauh dari kota dan yang terakhir adalah krim yang mengandung kalori tinggi. Semua benar, semua tidak bisa disalahkan dan semua mengandung unsur krim. So, bagaimana jika kali ini saya tawarkan ke anda membuat es krim lezat, kali ini tanpa ice cream maker, tanpa krim kental, tanpa repot dan jauh lebih, lebih sehat? Anda berminat? Yuk lanjut! ^_^

Walau saya sudah pernah posting bagaimana membuat egg tofu atau tahu telur a la Jepang, namun resep yang kali ini saya tampilkan tidak menggunakan tahu telur buatan sendiri, melainkan tahu kemasan siap pakai yang banyak dijual di supermarket. Bagi anda yang berminat untuk mengetahui resep dan proses pembuatan homemade egg tofu silahkan klik di link ini ya. Tidak ada yang sulit dalam proses pembuatan egg tofu karena yang anda perlukan sebenarnya hanyalah susu kedelai (susu kedelai yang homemade akan memberikan hasil terbaik), telur dan dandang kukusan. Se-simple itu dan saya yakin siapapun bisa membuatnya sendiri. Nah sayangnya yang homemade tentunya tidak tahan lama, maksimal satu minggu di chiller kulkas dalam wadah tertutup rapat. Waktunya yang pendek (karena bebas pengawet) menjadikan kita harus memutar otak untuk memanfaatkannya. Walau digoreng begitu saja rasanya sudah cukup lezat namun modifikasi lainnya seperti tumis tofu dengan jamur shiitake kali ini patut anda coba juga, karena rasanya hmm.... yummy! ^_^
Martabak telur sebagaimana penganan gurih lainnya seperti risoles dan lumpia merupakan salah satu camilan favorit saya. Apalagi jika disantap saat dalam kondisi masih hangat dalam celupan saus coklat yang manis asam dan ditemani dengan acar beserta potongan cabai rawit yang alamak pedasnya. Kontan sekotak martabak yang panas mengepul segera cepat berpindah ke dalam perut. Dengan mulut yang mendesah-desah antara kepanasan dan kepedasan, tangan meraup potongan berikutnya sambil mata melirik tajam ke rival sebelah. Siapa cepat dia dapat! Memang paling afdol menikmati martabak adalah bersama-sama dengan keluarga, ramai riuh asyik berkomentar dan tentu saja berebutan, seakan tak pernah mencicipinya seumur hidup.
Susahnya semua anggota keluarga saya suka martabak telur, bahkan hingga krucil-krucil imut keponakan saya. Pintarnya, mereka juga tahu kapasitas mulut mereka yang kecil akan kalah bersaing dengan kami para peserta dewasa yang dalam dua lahap maka sepotong martabak lenyap di mulut. Jadi begitu kotak dibuka, keponakan saya, Fatih langsung menyelamatkan beberapa potong sambil mengeluarkan ultimatum, "Ini punya adik, gak boleh diambil". Tobat! ^_^