27 January 2015

Fruitcake a la Nigel Slater


"Bu, kulkasnya penuh. Sayur dan buahnya nggak bisa masuk," laporan Heni beberapa waktu yang lalu membuat saya pun menggaruk-garukkan kepala yang tidak gatal. Wah kulkas itu memang telah lama menjadi pe-er yang harus segera saya bereskan, namun kemalasan lah yang membuatnya tertunda dan tertunda hingga akhirnya minggu lalu Heni pun mengingatkan. Menatap sayur dan buah segar hasil belanja di Pasar Blok A yang bergeletakan di meja dapur membuat saya akhirnya duduk 'mendeprok' di depan kulkas dan mulai mengelurkan isinya yang bertumpukan tidak keruan. 

Teringat dengan acara masak memasak di sebuah TV show, dimana disana sang Chef berbagi tips cara menyimpan bahan makanan di kulkas membuat saya pun terjengit. Betapa jauh berbedanya isi kulkas si Chef dengan kulkas di dapur saya! Saya bahkan tidak ingat bahan makanan apa sajakah yang tersimpan, dan sejak kapan bahan-bahan tersebut mendekam disana. Bertekad pe-er ini harus segera dibereskan, akhirnya hari Sabtu itu saya pergunakan untuk melakukan inventarisasi isi kulkas. Kebetulan saya memiliki banyak sekali wadah plastik bekas salad yang sering saya beli di All Fresh, jadi berdua dengan Heni maka saya melewatkan Sabtu kelabu itu dengan kegiatan bersih-bersih yang kemudian menghasilkan sebuah loyang cake buah yang lezat ini. Haa, bagaimana cara? Yuk lanjut! ^_^


22 January 2015

Buntil Daun Pepaya dan Daun Singkong


Sepiring bubur nasi dengan sayur gudeg, sambal goreng krecek dan buntil daun talas. Makanan ini adalah sarapan pagi favorit saya ketika bersekolah di Jogya. Hampir setiap pagi, saya akan memacu Honda bebek andalan ke gang kecil yang terletak tidak jauh dari rumah kos yang saya tempati untuk berburu bubur dan gudeg. Tentu saja ada banyak warung gudeg kecil yang tersebar di sekitar kampung tersebut, namun warung gudeg yang satu ini selalu menjadi pilihan karena murah, porsi jumbo dan rasanya pun mantap. Sebenarnya tidak tepat juga jika disebut dengan warung, karena si Ibu penjual hanya menggelar dagangannya di halaman sebuah rumah. Panci dan aneka pernak-pernik perlengkapan nasi gudeg di letakkan di sebuah balai-balai bambu kecil yang pendek dan si Ibu duduk diatas sebuah dingklik kecil di baliknya. 

Pada saat itu harga nasi gudeg sangat bersahabat, dengan hanya berbekal uang dua ribu rupiah maka saya bisa mendapatkan sebungkus nasi gudeg dengan sebuah telur bacem yang lezat. Walau nasi gudeg termasuk murah, namun bubur gudeg harganya lebih murah lagi, dengan hanya merogoh uang seribu lima ratus rupiah maka saya bisa menyantap sekantung plastik bubur yang lengkap. Mantap! ^_^

Daun pepaya dan daun singkong
Ikan teri

21 January 2015

Sup Iga Sapi Sawi Asin dengan Slow Cooker


Hujan yang mengguyur Jakarta beberapa minggu belakangan ini membuat minat saya akan makanan berkuah yang panas dan segar semakin menjadi-jadi. Sayur atau masakan yang mengandung kuah memang selalu menjadi pilihan favorit saya sejak dulu, dan jika dalam beberapa hari tidak menyantapnya maka kepala ini seakan penuh dibayangi oleh sedapnya semangkuk sup, atau soto yang berkuah gurih dan pedas. 

Nah minggu lalu, kala sedang membuat secangkir coklat panas di pantry kantor, Mba Mirah, teman kantor saya yang vegetarian, ternyata sudah lebih dulu duduk disana menyantap sarapan pagi berupa sepiring nasi hangat bersama tumisan sawi asin dan irisan tahu. Tampilannya terlihat menggugah selera dan aroma  sawi asin yang khas membuat air liur saya menetes. Ide pun langsung terlintas di benak, weekend ini saya akan membuat sup sawi asin. Tentu saja bukan versi vegetariannya, melainkan akan saya masak bersama dengan potongan iga sapi. Hmm, sepertinya masakan ini akan mengakomodir keinginan saya akan makanan berkuah yang sedap sekaligus juga memenuhi keinginan untuk menikmati sawi asin yang tidak pernah gagal membangkitkan nafsu makan.  ^_^


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...