Showing posts with label Ikan Air Laut. Show all posts
Showing posts with label Ikan Air Laut. Show all posts

25 March 2015

Pempek Ikan Teri


Dua minggu yang penuh kesibukan dan perjuangan. Kesibukan mempersiapkan buku ketiga saya yang rencananya akan terbit di awal bulan Mei dan perjuangan membunuh batuk yang sampai kini masih tersisa sedikit. Nah berbicara mengenai batuk, beberapa postingan saya sebelumnya sudah dipenuhi dengan keluh kesah seputar ini, semoga anda belum bosan jika postingan kali ini pun masih sedikit menyerempet tentangnya. Tahukah anda bahwa batuk saya akhirnya sembuh karena apa? Bukan karena obat super mahal atau ramuan nan ruwet rumusannya melainkan oleh rebusan air daun sirih. 

Ramuan ini super ajaib bagi kasus batuk saya, karena dalam satu hari saja setelah meminumnya (bergelas-gelas!) batuk saya tiba-tiba raib dan hanya terkadang saja malu-malu muncul. Setelah tiga hari, suara saya yang tadinya hilang karena radang, kini pulih kembali bahkan saya sudah pede kembali menyanyikan lagu 'Home'-nya Michael Buble! Terus terang saya sendiri hingga kini masih terkagum-kagum sendiri dengan keampuhan si daun sirih, walau telah banyak membaca dan mendengar mengenai seribu manfaatnya, namun baru kali ini saya membuktikannya sendiri. ^_^


26 February 2015

Combo Teppanyaki dengan Ayam dan Seafood - Oishi!


"Fish fillet, extra veggies dan ocha panas," pelayan di restoran Koi Teppanyaki yang terletak di Mall Ambassador langsung menyebutkan menu tersebut kala saya menduduki sebuah kursi kosong disana. Tak urung senyum saya pun terkembang lebar, "Yep, betul Mas"! Sejak didera batuk menyiksa maka saya pun berusaha mencari makan siang yang aman, dan Japanese food tampaknya pilihan yang paling tepat karena tidak spicy dan menggunakan bumbu yang simple. Selain itu makanan apalagi sih yang lebih menyehatkan selain sepiring irisan daging ikan gindara dan dua porsi sayur  yang di grill serta segelas teh hijau yang membuat nyaman tenggorokan? Hm, sepertinya tidak ada. Jadi hampir setiap hari, pada jam makan siang, wajah saya pun menghiasi deretan bangku di restoran teppanyaki tersebut.

Menu andalan saya adalah fish fillet, namun terkadang tenderloin yang empuk sering saya pesan, plus tambahan satu porsi sayuran lagi. Si Mas pelayan di restoran hafal dengan menu itu saking seringnya saya berkunjung kesana, dan saya pun hafal dengan wajahnya yang ceria dan ramah. Satu hal yang mengasyikkan jika makan di Koi Teppanyaki adalah menyaksikan si koki meracik masakan langsung di depan pengunjung dan betapa cekatan tangannya menggerakkan dua buah spatula dengan cepat. Semua itu menjadi pemandangan seru sambil menunggu makanan anda matang. Ketika anda masih ingin menyaksikan atraksi itu berlanjut, tiba-tiba makanan telah dibagikan ke masing-masing piring dengan porsi takaran yang sama persis. Nah kalau sudah begitu saatnya menyerbu nasi hangat dengan sumpit! ^_^


06 February 2015

Ikan Belanak Masak Lemak


Ikan belanak bukan jenis ikan yang umum saya beli. Tidak terbiasa mengkonsuminya dan tidak pernah juga melihat Ibu memasaknya membuat saya ragu setiap kali hendak mencobanya. Namun beberapa waktu yang lalu saya melihatnya cukup berlimpah tersedia di meja Mba Siti, penjual ikan segar andalan di pasar Blok A. Berbekal nekat dan sedikit dorongan dari si Mba Penjual, maka tiga ekor ikan pun masuk ke dalam kantung plastik bersama beberapa jenis ikan lainnya. Saya biasanya berbelanja ikan setiap dua minggu sekali di pasar, setelah ikan disiangi dan dicuci bersih lantas saya masukkan ke freezer untuk dibekukan. 

Ikan belanak memiliki sisik yang besar dan terlihat tebal, mungkin karena faktor itulah yang membuat saya ragu dengan tekstur daging di baliknya. Namun ketika ikan kemudian saya goreng dan masak bersama santan berkuah yang nyemek-nyemek, saya cukup surprised dengan tekstur dagingnya yang putih, lembut dan sangat gurih. Ikan belanak sungguh mantap dan sejak itu ikan ini menjadi salah satu ikan favorit saya. ^_^


03 February 2015

Sup Ikan a la Singapore


Sejak hari Sabtu, hujan seakan begitu gembira mengguyur Jakarta setiap waktu dari pagi hingga malam hari. Seringkali hujan deras juga jatuh pada pukul dua belas siang saat saya berada di kantor, membuat perburuan untuk mencari makan siang pun menjadi terhambat. Beberapa kali saya terpaksa harus menyantap bihun instan karena enggan untuk turun dari gedung dan menuju ke mall di sebelah kantor dalam curahan hujan yang sangat deras. Kalau sudah seperti ini maka saya pun terpaksa harus bangun lebih pagi untuk mempersiapkan makanan sebagai bekal makan siang. Biasanya bahan-bahan yang akan saya masak di besok pagi sudah saya persiapkan pada malam harinya. Kupas, rajang, iris, simpan di tupperware dan ceburkan ke dalam kulkas. Khusus untuk protein seperti ikan atau ayam yang membeku di freezer, maka pada malam hari sebelum tidur telah saya masukkan ke dalam chiller agar mencair keesokan harinya. 

Tumisan, tim dan rebusan merupakan pilihan menu yang paling mudah dipersiapkan dengan mudah dan cepat.  Jadi pagi ini, saya pun menumis zukini bersama wortel, jagung manis  dan brokoli dalam bumbu yang simple.  Sebagai proteinnya saya sudah mempersiapkan pepes ikan di malam harinya. Namun siang ini ketika saya sedang mempersiapkan semangkuk oatmeal di microwave, saya pun mencium aroma masakan nan sedap dari piring seorang teman yang sedang bersantap siang di pantry kantor. Air liur pun kontan meleleh kala melihat potongan ikan dan aneka daun rempah dalam semangkuk sup berkuah kuning yang terlihat hot and spicy. Ahh, hilang sudah selera saya menyantap tumis sayur yang sudah dibuat dengan susah payah. Sepertinya besok saya harus berganti menu. ^_^



30 January 2015

Otak-Otak Ikan Labu Siam


Persaingan memperebutkan makanan di kantor saya sangatlah brutal. Walau personilnya tidak begitu banyak, namun semuanya rata-rata memiliki nafsu yang besar akan makanan. Tak heran ketika makanan dalam bentuk apapun diceburkan ke tengah-tengah deretan meja, maka kami pun serentak menyerbu, berusaha mendapatkan bagian terbesar, terbanyak dan irisan yang terbaik. Biasanya tidak sampai sepuluh menit maka meja yang tadinya penuh berisi makanan hanya tersisa kotak-kotak pembungkusnya saja. Supaya supply makanan selalu hadir secara teratur terutama disaat-saat krisis ekonomi - seperti di pertengahan bulan - maka selalu saja ada alasan untuk 'mempalak' karyawan lainnya agar menyumbangkan makanan. Alasannya bisa bermacam-macam, mulai dari perayaan hari ulang tahun, anniversary pernikahan, kelahiran anak, rumah baru, gaji pertama karyawan baru, hingga karyawan yang hendak hengkang dari perusahaan. Semua tidak luput dari 'kewajiban' untuk mentraktir. ^_^


22 January 2015

Buntil Daun Pepaya dan Daun Singkong


Sepiring bubur nasi dengan sayur gudeg, sambal goreng krecek dan buntil daun talas. Makanan ini adalah sarapan pagi favorit saya ketika bersekolah di Jogya. Hampir setiap pagi, saya akan memacu Honda bebek andalan ke gang kecil yang terletak tidak jauh dari rumah kos yang saya tempati untuk berburu bubur dan gudeg. Tentu saja ada banyak warung gudeg kecil yang tersebar di sekitar kampung tersebut, namun warung gudeg yang satu ini selalu menjadi pilihan karena murah, porsi jumbo dan rasanya pun mantap. Sebenarnya tidak tepat juga jika disebut dengan warung, karena si Ibu penjual hanya menggelar dagangannya di halaman sebuah rumah. Panci dan aneka pernak-pernik perlengkapan nasi gudeg di letakkan di sebuah balai-balai bambu kecil yang pendek dan si Ibu duduk diatas sebuah dingklik kecil di baliknya. 

Pada saat itu harga nasi gudeg sangat bersahabat, dengan hanya berbekal uang dua ribu rupiah maka saya bisa mendapatkan sebungkus nasi gudeg dengan sebuah telur bacem yang lezat. Walau nasi gudeg termasuk murah, namun bubur gudeg harganya lebih murah lagi, dengan hanya merogoh uang seribu lima ratus rupiah maka saya bisa menyantap sekantung plastik bubur yang lengkap. Mantap! ^_^

Daun pepaya dan daun singkong
Ikan teri

07 January 2015

Mangut Ikan Kakap & Nostalgia Dapur Mbah Wedhok


Dapur suram itu berada di sudut rumah. Tepatnya terletak di bagian paling belakang rumah tua berdinding anyaman bambu tersebut. Berdekatan dengan pintu keluar menuju halaman yang penuh sesak ditumbuhi oleh pepohonan pisang, keluwih, kelapa dan aneka belukar. Sebenarnya tidak tepat juga jika ruangan itu disebut dapur, mungkin lebih tepat jika disebut gudang. Karena disitu terdapat juga: Tumpukan kayu bekas bangunan yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit;  Beberapa kurungan bambu beserta selusin lebih ayam yang mendekam di lantai ketika senja tiba; Gentong-gentong tempat menyimpan beras yang terkadang digunakan untuk menyimpan pisang kepok mengkal agar menjadi matang; Serta aneka perkakas dapur dan alat bertukang di setiap sudutnya.  

Lantainya terbuat dari tanah yang dikeraskan. Saat musim hujan melanda maka lantai itu terasa lembab dan berbau apak, membuat suasana secara keseluruhan menjadi semakin bertambah suram. Aroma di dalam ruangan itu berganti-ganti mengikuti aktifitas yang terjadi di dalamnya. Saat pagi dan sore hari, ketika si pemilik rumah mempersiapkan hidangan hari itu maka seantero rumah akan tercium bau harum masakan yang menggugah selera. Ketika panen pisang tiba, maka wangi pisang yang sedang diperam menunggu masak akan mendominasi. Namun di sebagian besar waktunya, dapur itu lebih sering tercium bau apak, lembab dan ayam.


20 November 2014

Si Penambah Nafsu Makan - Sambal Teri Cabai Hijau


Kalau merenung, menimbang, melihat dan memikirkan berat badan yang merangkak semakin naik, maka sebenarnya saya termasuk kategori orang yang tidak perlu doping untuk menambah nafsu makan. Nafsu saya akan makanan, sejak dari lahir (menurut laporan Ibu saya) hingga saya sejumbo sekarang tidak pernah mengalami masalah yang namanya hilang nafsu. Justru saya perlu belajar banyak untuk mengerem keinginan mengunyah yang sepertinya susah sekali dikontrol. Namun beberapa hari belakangan ini karena kondisi badan yang kurang fit, panas demam dan perut yang terasa tidak nyaman akhirnya saya pun mengalami kehilangan nafsu makan. 

Setiap hari saat jam makan siang maka saya pun dibuat kebingungan untuk memutuskan menu apa yang akan saya santap hari itu. Setelah bosan menyantap cap cay, 'eneg' jika teringat kani roll dan ngeri jika harus membakar lambung saya dengan seporsi besar tom yam maka tadi pagi walau didera rasa malas saya pun memaksakan diri berkutat di dapur untuk mempersiapkan lauk makan siang. Kalau sudah seperti ini maka masakan simple a la kampung seperti sambal teri dengan cabai hijau dan aneka sayuran ini biasanya terbukti sukses untuk mendobrak semangat makan!  ^_^


29 September 2014

Keripik Ikan & Udang Ekstra Pedas


Anda pernah mencicipi snack super pedas dalam kemasan yang terbuat dari singkong? Makanan ringan ini luar biasa terkenal di Bandung yang kemudian menyebar ke beberapa kota lainnya. Awalnya pr0duknya hanya terbatas pada keripik singkong namun sering dengan perkembangan kini muncul juga jenis lainnya seperti seblak dan gurilem. Dua keripik yang saya sebutkan terakhir  hampir mirip seperti kerupuk ikan berukuran kecil, tebal, sedikit keras dengan rasa gurih. Keunikan keripik-keripik ini adalah pada rasanya yang pedas dengan tingkat level pedas yang beragam. Rasa pedas ini disebabkan karena keripik diguyur dengan serbuk cabai kering bercampur garam yang takarannya disesuaikan dengan level pedas yang tertera di kemasan.  

Nah satu hal yang membuat saya agak mengerem untuk mengudapnya karena rasanya yang sangat asin bagi selera saya. Jadi minggu lalu saya pun iseng membuatnya sendiri di rumah, kali ini tingkat rasa asin dan pedasnya sesuai dengan yang saya inginkan plus rasanya lebih renyah, tidak keras dengan rasa gurih ikan dan udang yang kuat. 



08 September 2014

Selar Garing dengan Sambal Matah a la Bali


Saya bisa mengerti jika anda sering mengabaikan ikan selar kecil yang banyak tergolek di meja tukang ikan di pasar tradisional ataupun supermarket. Membayangkan ukurannya yang imut dengan duri yang super banyak tentu saja membuat minat anda untuk membelinya menjadi menciut. Terus terang memang ikan gendut dengan daging yang tebal seperti kembung, tongkol atau bandeng lebih sedap menjadi pilihan. Namun ada satu cara mengolah ikan berukuran kecil ini agar menjadi lauk atau camilan yang lezat. Menggorengnya hingga kering dalam minyak yang banyak! Si selar ini akan terasa gurih, garing dan renyah kala disantap sehingga saya sering kali mengudapnya begitu saja sebagai camilan kala sedang bersantai menonton film seru di DVD. Percayalah sepiring besar pun akan tandas dengan cepat bahkan hingga bagian kepala dan seluruh durinya. Nah supaya rasanya semakin laziz  maka anda harus mencoba bumbu ikan yang saya hadirkan kali ini. Bumbu ini selalu saya gunakan disetiap ikan goreng yang saya buat di rumah. Rasanya sama sekali tidak mengecewakan! ^_^


15 July 2014

Tekwan a la JTT - Super duper yummy!


Entah sudah berapa lama seonggok besar ikan tengiri yang terbuntal di dalam kantung plastik mendekam di freezer rumah Pete. Mungkin sejak enam bulan yang lalu. Enam bulan?! Anda pasti menjerit mendengarnya. Tetapi yep begitulah kondisi yang sering terjadi pada saya akibat lapar mata dan seringkali membeli sesuatu bukan karena kebutuhan tetapi karena emosi dan greedy. Seingat saya, waktu itu saya membelinya karena harganya yang murah. Tidak tanggung-tanggung satu ekor ikan berpindah ke dalam kantung plastik dengan harapan aneka makanan khas Palembang bisa saya buat darinya. Tapi seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya, rasa malas mendera dan bad mood yang melanda akhir-akhir ini membuat sang ikan pun hanya tergolek pasrah di lemari pendingin.

Nah libur weekend kemarin saya bersama aneka bahan dan peralatan membuat aneka kue kering yang ter-packing di dalam koper, meluncur ke rumah adik saya, Wiwin, di Mampang Prapatan. Kami memang telah berencana untuk membuat kue kering bersama sebagai oleh-oleh Lebaran yang akan diadakan di rumah kakak saya, Wulan, di Batam. Tidak mau melewatkan kesempatan untuk berbuka bersama keluarga adik saya, maka saya pun mengosongkan isi freezer termasuk si ikan tengiri untuk saya bawa serta. Kali ini sepertinya nasib ikan beku ini akan berakhir di perut kami semua. ^_^



20 June 2014

Salmon Tumis Cabai Rawit


Setiap keluarga biasanya memiliki menu favorit yang jika disajikan tidak pernah membuat anggota keluarga kecewa. Nah kalau di keluarga saya, setiap Ibu saya menyajikan tumis ikan cabai rawit maka begitu masakan matang kami semua pasti langsung menyerbu ke dapur sambil membawa piring berisikan nasi panas mengebul segunung. Tidak memakan waktu lama maka sewajan tumis ikan langsung tandas tak bersisa. Maklum saja, dengan lima orang anak yang semuanya adalah jago makan maka tidak heran masakan apapun yang dimasak Ibu selalu ludes dengan cepat. Tapi tumis ini memang spesial, rasanya yang gurih dan super pedas membuat makan pun menjadi laju. Ibu saya biasanya menggunakan ikan bandeng yang digoreng kering plus rajangan cabai rawit merah yang dipotong kasar dan banyak irisan bawang putih, bawang merah dan tomat hijau. Bumbu yang banyak ini memang disengaja karena biasanya kami tidak menggunakan sayuran apapun lagi kala menyantapnya. Ah menetes air liur saya membayangkannya! ^_^

Nah bagaimana dengan keluarga anda? Mungkin anda berkenan untuk sharing satu atau dua menu favorit yang selalu mendapatkan dua jempol dari anggota keluarga di rumah. 


06 June 2014

Tongkol Panggang dengan Air Asam


Tongkol merupakan salah satu jenis ikan kegemaran saya, walau kalau mau jujur hampir semua ikan saya sukai. Kecuali ikan hiu, ini karena otak saya telah sukses tercuci dengan film Jaws yang memang melegenda sehingga sulit rasanya membayangkan harus mengkonsumsi ikan predator ini. Ikan lainnya yang tidak saya sukai adalah ikan patin dan ikan lele. Alasannya bukan karena rasanya yang kurang lezat, namun karena saya tidak pernah sukses memasaknya dengan benar sehingga sering kali bau amis ikan masih kuat terasa membuat perut langsung bergolak. 

Nah salah satu masakan ikan tongkol yang saya gemari dan dapat dimasak dalam sekejap adalah tongkol yang direbus di dalam bumbu yang terdiri atas cabai, bawang merah dan bawang putih yang dihaluskan. Bersama air asam, daun salam dan potongan lengkuas, maka tongkol rebus ini terasa luar biasa sedap dan mampu membuat anda menyantap nasi panas berpiring-piring. Selain direbus maka ikan ini juga sedap jika dipanggang sebentar di atas pan dengan balutan sambal dan terbungkus dalam belitan daun pisang seperti yang kali ini saya sajikan. Bersama guyuran sambal air asam yang pedas dan segar saya jamin tidak ada seorang pun yang berani menolaknya! ^_^


15 April 2014

Ikan Layang Sumbat Belakang


Jika anda sering berselancar di aneka blog atau website masakan dari negeri jiran Malaysia, maka anda pasti pernah melihat resep yang satu ini. Ikan goreng punggung terbelah dengan jejalan sambal merah di dalamnya ini memang menarik hati dan membuat mata lapar untuk segera mencicipinya dengan nasi panas segunung. Setidaknya itulah yang saya rasakan setiap kali mata ini bertemu dengan masakan tersebut di internet. Walau saya tahu untuk rasanya saya yakin tidak akan jauh berbeda dengan ikan goreng yang dimasak dengan sambal balado, namun tampilannya yang unik membuat saya penasaran untuk mencoba membuatnya. 

Waktu itu saya berpikir, apa sih yang sulit dalam masakan ini? Toh ikan hanya dibelah punggungnya dan dijejalkan bumbu yang telah dihaluskan dan digoreng hingga permukaannya kering. Simple! Hingga kemudian saya mencoba membuatnya sendiri saat weekend kemarin. Ternyata oh ternyata untuk membuatnya memerlukan tips jitu, dan bagi yang baru pertama kali mencobanya seperti saya pengalaman ini menjadi pengingat jika next saya ingin mencobanya kembali. Nah tips  inilah yang akan saya sharing ke anda jika ingin menghadirkan masakan ini di rumah.


03 April 2014

Balado Ikan Asin dan Petai: Nampol enaknya!


Ikan asin dan petai dalam gelimangan sambal balado yang merah membara ini memang luar biasa sedapnya. Tips agar sambal tahan lama dan terasa sedap adalah menumis bumbunya hingga benar-benar matang dalam minyak yang banyak.

 
Memilih petai bukanlah salah satu keahlian saya, ini karena sayuran beraroma unik ini jarang saya konsumsi. Nah Sabtu kemarin kala kantor saya mengadakan acara jalan-jalan bersama ke Anyer kami pun terdampar di Pantai Carita yang penuh sesak dengan pedagang makanan. Sebenarnya kondisi ini sedikit mengesalkan dan mengganggu privasi. Bagaimana tidak? Mulai sejak kaki ini menginjakkan diri di pasir yang berwarna hitam hingga kembali ke dalam bis untuk pulang, ibu-ibu penjual ikan asin, petai atau jasa pijat sibuk menawarkan dagangannya. Bahkan saat kami menggelar tikar di hamparan pasir dan mulai membuka ransum makan siang, para pedagang ini dengan santainya berdiri mengelilingi tikar yang kami duduki, tak peduli saat itu kami sedang sibuk membagikan nasi dan aneka lauk serta bersiap hendak bersantap siang. Awalnya memang terasa risi namun lama-lama akhirnya kami kebal juga. ^_^


06 December 2013

Sup Tuna dengan Wortel, Buncis dan Kentang


Beberapa minggu yang lalu saat kaki saya hampir memasuki gerbang rumah, tiba-tiba sebuah Pajero berhenti tepat di samping saya. Pemiliknya yang masih duduk di belakang kemudi kemudian menyapa saya dari jendela yang terbuka, "Baru pulang ya Mba"? Ah saya mengenalinya sebagai tetangga sebelah yang baru saja menempati rumah tersebut sekitar tiga bulan yang lalu. Tidak ingin berbasa-basi lebih lanjut saya hanya mengangguk, menebar sedikit senyum dan langsung masuk ke dalam rumah. Di lingkungan ini para tetangga jarang sekali saling mengenal, apalagi para pendatang seperti saya yang sehari-harinya bekerja di kantor.  Baru saja sekitar lima menit saya di dalam rumah terdengar gerbang di depan digedor dan suara teriakan memanggil, "Mba! Mba"! tatkala saya longok dari jendela, saya melihat samar bayangan tetangga sebelah berdiri di depan gerbang. Aduh! Mau apalagi sih cowok ini! Gerutu saya sedikit kesal. Terus terang tetangga sebelah ini terlalu ramah untuk ukuran orang asing bagi saya, beberapa kali ketika saya sedang menyapu halaman, pria ini sering kali menongolkan kepalanya dari pagar di samping rumah dan menyapa lebay membuat saya merasa tidak nyaman. 



10 September 2013

Asam Keueng Aceh


Asam keueng, masakan ini sudah lama sekali saya idam-idamkan sejak melihat tampilannya di salah satu website. Anda pasti tahu kan kalau sudah berurusan dengan masakan ikan atau seafood yang berkuah dengan rasa pedas dan asam segar, saya pasti tidak bisa lagi membendung keinginan untuk mencobanya. Entah sudah berapa banyak resep masakan dengan karakter seperti ini yang saya posting, dan semakin banyak saya menemukan varian barunya maka kekaguman saya dengan kayanya kuliner tanah air pun semakin menjadi. Seandainya saja kita bisa seperti Thailand atau Korea yang makanannya banyak melegenda di mancanegara maka tak terhitung banyaknya jenis masakan Indonesia yang bisa bersaing dengan kedua negara tersebut

Walau sudah lama saya idamkan namun kesempatan untuk mencobanya baru terlaksana saat weekend kemarin. Ini karena salah satu bumbu khasnya yaitu asam sunti baru saja selesai saya buat minggu lalu. Jika anda penasaran dengan asam sunti, anda bisa membaca informasi dan proses pembuatannya diposting-an saya sebelumnya di sini. Bumbu unik ini merupakan rempah wajib pada masakan Aceh dan sejak saya menampilkannya di blog, saya menerima beberapa komentar yang sangat membantu untuk memanfaatkan si asam sunti menjadi lebih maksimal. Ah, inilah indahnya berbagi! ^_^

Daun kari, asam sunti dan belimbing wuluh segar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...