19 November 2019

Resep Tekwan


Resep Tekwan JTT

Bulan ini sudah memasuki musim penghujan, tapi menurut saya curahnya di Jakarta sangat rendah. Dalam 1 minggu mungkin hanya 2 kali saja turun hujan. Langit mendung memang selalu menaungi Jakarta setiap hari, tapi apakah itu awan yang sarat air ataukah asap polusi yang menyelubungi, susah untuk dibedakan. Sudah lama saya tak melihat langit biru di ibukota, bahkan saya tak pernah melihat gumpalan awan berarak! Disini langit selalu terlihat tertutup kabut putih. Kondisi ini terjadi sejak tahun lalu, diikuti dengan kemarau panjang tahun ini dan awal musim penghujan kali ini, kabut putih itu tetap ada disana. Warga Jakarta basicnya hidup, bernafas dan tenggelam dalam kabut polusi. 

Bagi yang bekerja didalam gedung tertutup rapat mungkin tidak terlalu terasa, tapi bayangkan mereka yang setiap hari ada di jalanan, betapa mengerikannya paru-paru setiap hari terisi dengan asap polusi. Ketika berlibur ke Bali bulan lalu dan nongkrong sejenak di sebuah kafe di tengah sawah di Ubud, saya takjub memandang langit nan biru dengan awan putih dalam aneka bentuk tercetak disana. Tidak ada kabut asap seperti di Jakarta yang membuat matahari seakan bersusah payah memancarkan sinarnya. Tobat, betapa saya merindukan masa-masa lalu kala langit masih terlihat biru dan awan berbentuk teddy bear tampak menghiasinya. Kapan itu akan kembali lagi ya?

Resep Tekwan JTT
Resep Tekwan JTT


15 November 2019

Resep Cream Cheese Brownies


Resep Cream Cheese Brownies JTT

Apa yang paling menjadi obstacle ketika hendak traveling ke negara maju, terutama jika dana pas-pasan, dan saldo di rekening tidaklah besar-besar amat? Apalagi jika bukan pengurusan visanya! Tiket murah bisa dipersiapkan jauh-jauh hari, akomodasi bisa dishare dengan rekan lainnya, tapi mendapatkan approval visa tidak semua orang bisa lolos dengan mudah. Susahnya menjadi warganegara dunia ketiga seperti Indonesia adalah betapa tidak berdayanya paspor hijau kita kala menghadapi seleksi ketat imigrasi dari negara-negara seperti US, Inggris, Eropa atau Australia. Agar bisa lolos sensor maka segepok dokumen dan aneka data pendukung diperlukan, untuk menunjukkan bahwa secara finansial kita mampu selama tinggal dinegara tersebut, dan untuk menunjukkan bahwa itikad kita hanya ingin berlibur disana selama beberapa hari dan pasti kembali ketika masa berlibur itu usai.

Inilah yang terjadi pada saya kala melakukan pengurusan visa di Kedutaan Australia beberapa minggu belakangan ini. Kakak saya, Mbak Wulan, dan keluarganya akan berlibur ke Australia akhir tahun ini, mengajak saya dan adik bungsu, Dimas, ikut serta. Ajakan kali ini akhirmya saya terima, setelah 2 tahun lalu saya tolak ketika kakak saya dan keluarganya berlibur pertama kalinya disana.


Resep Cream Cheese Brownies JTT
Resep Cream Cheese Brownies JTT


13 November 2019

Resep Kiriman Pembaca JTT - Ketupat Kandangan


Resep Ketupat Kandangan JTT

Resep ketupat Kandangan ini saya peroleh dari Mas Wahyuda Akbar di Banjarmasin, dia adalah salah satu pembaca JTT yang sering memberikan komentar di blog maupun IG. Resep ini diemail sejak tahun 2017 bersama beberapa resep masakan khas Kalimantan lainnya seperti wadai ipau basumap, akhirnya salah satu resep yang diberikan berhasil diwujudkan minggu ini. Ketupat Kandangan ini sebenarnya sudah lama masuk kedalam rencana untuk dibuat, apalagi sejak tiga rekan kantor melakukan wisata kuliner ke Banjarmasin tahun lalu. Mbak Fina, salah satu rekan yang berangkat, sempat mencicipi ketupat Kandangan dan langsung meminta saya segera mencari resepnya. Tentu saja itu request yang mudah mengingat resep asli langsung dari Kalimantan sudah mendekam di bank recipes di blog, tapi masalahnya ketupat Kandangan menggunakan ikan gabus yang susah diperoleh di pasar atau supermarket di Jakarta, khususnya diseputaran tempat saya tinggal. Jadi saya pun menunggu, menunggu hingga ikan gabus muncul ke permukaan dan mendarat di meja tukang ikan. Penantian itu pun akhirnya berakhir ketika minggu lalu saya menemukannya di TransMart, ITC Ambassador. 😃


Resep Ketupat Kandangan JTT


12 November 2019

Jalan-Jalan Ke Bali: Ubud (Part 1)


Jalan-Jalan Ke Bali: Ubud JTT

Sepertinya saya memang kurang berbakat menjadi travel blogger atau jurnalis, begitu banyak objek yang seharusnya bisa diabadikan dalam foto dan menunjang tulisan, tapi hal tersebut tidak dilakukan. Saya terlalu terpana, atau terlena dengan hal baru disekitar hingga memotret tidak terlintas sama sekali dikepala. Contohnya saat hendak menulis cerita mengenai Ubud seperti kali ini. Saat itu saya memperhatikan betapa banyaknya turis asing berlalu-lalang dengan motor, menurut saya itu adalah hal unik, tapi tangan ini tak bergerak meng-capture gambar, kini saya hanya bisa bercerita tanpa bukti foto yang nyata. Jadi jika begitu banyak tulisan dibawah tidak disertai dengan foto-foto yang menunjang maka memang karena saya lupa menjepretnya saat itu, dan bukan berarti cerita ini hanya hasil daya khayal semata 😅.  

Wokeh, lanjut ke postingan saya mengenai cerita kala berlibur di Bali beberapa waktu yang lalu (again!) yang sepertinya tak usai diurai (saya memang 'ember' tingkat tinggi). Kali ini spesial mengenai Ubud ya, karena begitu banyak kisah unik yang terjadi disini. Ubud adalah destinasi wisata yang sepertinya kudu, wajib, dan harus dikunjungi ketika kita pergi ke Bali. Seakan jika ke pulau Dewata dan tidak singgah di Ubud maka belumlah datang ke Bali rasanya. Di hari ketiga saya di Bali, Lily, sahabat dan host saya selama disana, mengajak untuk pergi ke Ubud. Karena dia ragu dengan taksi online yang dilarang memasuki hampir sebagian besar obyek wisata di Bali, maka kami lantas pergi menaiki motor. Walau dulu saat kuliah saya selalu menyetir motor ketika berangkat ke kampus, namun selama tinggal di Jakarta semua keberanian itu lenyap. Apalagi sejak SIM C mati dan tak pernah diperbarui kembali maka keinginan menyetir motor dikubur dalam-dalam. Waktu masih kuliah di Jogya, menjelajah hingga ke Bantul, Kopeng dan Prambanan dengan motor adalah hal biasa, kini saya beranggapan motor adalah moda transportasi yang sangat berisiko tinggi apalagi dengan tingkat lalu lintas yang super padat di Jakarta, ditambah kelakuan supir metromini dan angkot yang main serobot seenak jidat. Saya bahkan tidak berani naik ojek dan memilih naik angkutan umum lainnya walau lebih lambat jalannya. 


Jalan-Jalan Ke Bali: Ubud JTT
Pasar Ubud, Bali


11 November 2019

Resep Rigatoni dan Ayam dengan Pesto Brokoli


Resep Rigatoni dan Ayam dengan Pesto Brokoli

Akhir-akhir ini saya agak malas menerima endorsement. Alasan pertama karena ada rasa tidak nyaman memaksakan diri mengolah resep menggunakan satu produk, terutama jika produk tersebut menurut saya tidaklah oke-oke amat. Alasan kedua adalah terkadang tuntutan yang macam-macam dari klien - yang sebenarnya wajar diajukan karena mereka membayar pekerjaan tersebut - seringkali tidak sesuai dengan ide saya. Misal background foto dengan warna tertentu (ada yang meminta warna pink!), produk yang harus terlihat super besar dilayar, menampilkan wajah diri atau melakukan satu aktifitas yang berhubungan dengan produk yang akan dipromosikan. Jiwa kreatifitas saya yang ingin merasa bebas mengekspresikan diri terasa terkekang dengan segala macam syarat yang diajukan, hingga seringkali pengajuan endorse saya tolak. Jika harus mengerjakan aktifitas masak-memasak yang sebenarnya hanyalah hobi ini dengan rasa tertekan sebagaimana saya bekerja di kantor yang digaji setiap bulan, maka lebih baik tidak saya kerjakan sama sekali. Saya akui saya tidaklah terlalu idealis untuk banyak hal, tapi urusan kreatifitas saya enggan diatur. Mungkin itu yang membuat saya susah berkembang di dunia kuliner dan medsos ini. 😅

Resep Rigatoni dan Ayam dengan Pesto Brokoli
Resep Rigatoni dan Ayam dengan Pesto Brokoli


07 November 2019

Berburu Perlengkapan Food Photography di Bali


Berburu Perlengkapan Food Photography di Bali

Salah satu tujuan saya ketika tiba di Bali dua minggu yang lalu selain berlibur dan berwisata kuliner adalah berburu perlengkapan food photography. Yep, walaupun pernak-pernik penunjang foto makanan cukup banyak bergeletakan dirumah, tetap saja jika melihat perlengkapan makan baru dari bahan berbeda mata ini menjadi kalap. Karena Bali surganya kerajinan tangan kayu dan tembikar maka dua bahan itulah yang saya cari. Saya baru tahu dari pemilik hotel dan supir online bahwa ternyata kerajinan kayu ini bukanlah dibuat di Bali melainkan dari Jepara. Well, Jepara memang terkenal sebagai sentra penghasil kerajinan kayu mulai dari mebel, dan perlengkapan dapur. Umumnya kerajinan Jepara di ekspor ke mancanegara, tapi di Bali kerajinan ini mudah ditemukan dan tentu saja harganya menjadi terdongkrak naik. 

Sasaran saya adalah mangkuk kayu dan talenan, walaupun sebenarnya bisa dengan mudah ditemukan di Tokopedia, namun selagi di Bali saya sempatkan untuk berburu kedua barang ini disetiap toko kerajinan yang saya masuki. Tidak susah mencari yang saya butuhkan karena hampir disetiap sudut Bali banyak toko yang menjualnya. Bentuknya beraneka ragam dan bahan yang digunakannya pun bervariasi. Tapi khusus untuk talenan besar dari kayu utuh agak susah ditemukan, tidak semua toko memilikinya.


Berburu Perlengkapan Food Photography di Bali


06 November 2019

Resep Rujak Kuah Pindang Mangga


Resep Rujak Kuah Pindang Mangga JTT

Sudah lama saya penasaran dengan rasa rujak kuah pindang a la Bali yang cukup beken. Tampilannya di net sangat menggiurkan dan kuah pindangnya membuat saya membayangkan bagaimana rasanya sih kuah rujak dari rebusan ikan. Beberapa kali berniat mencobanya tanpa mencicipi si rujak kuah pindang aslinya namun terkendala dengan rasa ragu apakah akan muncul jejak rasa amis di dalam kuah. Selian itu, pisau yang dipakai untuk mengiris buah rujak ini tidak sama dengan pisau umumnya. Irisan buah pada rujak kuah pindang biasanya tipis dan bergelombang, katanya sih menggunakan pisau gobed untuk memang khusus mengiris buah untuk rujak. Saya sudah mencari pisau ini di online shop tetapi tidak ada yang menjualnya. Akhirnya saya menyerah dan keinginan hendak mengeksekusi makanan ini pun luntur hingga saya datang ke Bali beberapa minggu yang lalu.

Resep Rujak Kuah Pindang Mangga JTT
Resep Rujak Kuah Pindang Mangga JTT


05 November 2019

Resep Ayam Panggang Bumbu Rujak


Resep Ayam Panggang Bumbu Rujak JTT

Terburu-buru, mengapa ya kita selalu terburu-buru dalam hidup? Pagi ini ketika berangkat ke kantor saya menyadari betapa saya selalu melakukan aktifitas dengan terburu-buru. Entah itu ketika menyelesaikan pekerjaan di rumah, di kantor atau hanya melakukan kegiatan simple seperti berjalan keluar dari stasiun MRT. Saya memperhatikan bukan hanya saya yang seperti itu, banyak orang melakukan hal yang sama. Ketika stasiun tujuan sudah mendekat, atau bahkan belum tiba didekat stasiun pun, banyak yang berpindah ke arah pintu, berjubelan didepannya, seakan takut ketika kereta berhenti tidak ada kesempatan untuk keluar. Penumpang kemudian berjalan cepat, seringkali berlari seakan dikejar setan kearah lift atau eskalator, berlomba menuju tangga yang mengarah ke lantai diatasnya.

Saya pun seperti itu! Seakan ada kebanggaan bisa menjadi orang pertama yang mencapai ekskalator, dan orang pertama yang menempelkan kartu ke pintu keluar. Terkadang eskalator terasa lambat jalannya hingga harus berlari mendaki seiring dengan gerakan tangga keatas. Mungkin mereka memang dikejar waktu atau dikejar masa lalu, yang jelas seringkali saya tidak dikejar apapun. Tidak ada bedanya saya berlari terpontang-panting, atau berjalan sesantai mungkin, saya akan tetap tiba di kantor. Entah terlambat, tepat waktu atau justru kepagian, tak ada yang signifikan. Tapi mengapa ya selalu saya lakukan setiap hari ? Tobat!

Resep Ayam Panggang Bumbu Rujak JTT
Resep Ayam Panggang Bumbu Rujak JTT


04 November 2019

Resep Tude Kukus Kuah Asam


Resep Tude Kukus Kuah Asam JTT

Ikan kembung sebenarnya bukan jenis ikan yang saya suka, saat baru saja dimasak teksturnya memang lembut dan terasa gurih, tetapi lama kelamaan menjadi kasar dan keras. Terkadang jika dimasak dalam kuah sup, saat sup dihangatkan kembali rasa ikan berubah tidak selezat ketika pertama kali matang. Tapi, ikan ini harganya terjangkau, selalu ada di pasar dan kondisinya sering kali lebih fresh dibandingkan jenis ikan lainnya. Jadi walau rasanya kurang mantap, saya sering menyetoknya dalam jumlah banyak di freezer. Ikan memang protein hewani yang lebih saya pilih dibandingkan ayam, daging sapi atau seafood lainnya. 

Sejujurnya, jika menilik teksturnya, maka ikan nila lebih menjadi pilihan. Daging putihnya sangat lembut, dan biasanya bisa dibeli saat masih hidup di pasar atau supermarket, jadi kondisinya super fresh. Sayangnya ikan nila masih ada sedikit jejak rasa lumpur pada dagingnya, walau pun sudah dipermak dengan aneka bumbu. Apalagi jika hanya dikukus dan diguyur dengan kuah asam simple seperti resep kali ini.

Resep Tude Kukus Kuah Asam JTT
Resep Tude Kukus Kuah Asam JTT

Berburu Kuliner Lokal di Bali (Part 2)


Berburu Kuliner Lokal di Bali Part 2 JTT
Rujak pindang, Warung Men Runtu, Sanur

Rujak pindang Bali. Sudah lama saya penasaran dengan rasa makanan ini tapi semakin penasaran dan menggebu kala Mbak Fina, rekan kantor saya yang baru saja kembali dari Bali bulan lalu, mengirimkan foto rujak pindang yang dicobanya disalah satu resto disana.  Ketika saya berkunjung ke Bali minggu lalu, makanan ini salah satu target utama kuliner yang harus dicoba. Saya sudah membuat list makanan lokal yang hendak dijajal selama stay di Bali, diantaranya adalah ayam betutu, sate lilit, dan rujak pindang, makanan diluar itu saya anggap sebagai bonus. Saya mencari infonya di Trip Advisor dan menemukan resto Warung Men Runtu, jalan Sekuta No.32 C, Sanur. Jaraknya cukup dekat dari hotel, bisa dijangkau dengan motor atau dengan taksi online hanya sekitar 25 ribu rupiah saja.

Rujak pindang Bali berupa irisan rujak buah-buahan seperti mangga mengkal, pepaya mengkal, jambu biji, jambu air, nanas dan bengkuang yang diguyur dengan kuah pindang ikan. Menurut Mbak Fina, cita rasanya sama sekali tidak amis. Saya percaya dengan teman saya ini, karena dia termasuk picky eater dan akan menolak mentah-mentah  jika ada sedikit aroma atau rasa yang kuat pada makanan. Ketika makanan ini saya ajukan ke Lily, teman saya selama berlibur di Bali, dia agak sedikit skeptis dengan cita rasa makanan bernama rujak pindang. "Ah apa nggak amis itu Ndang, soalnya kan dia pakai kuah pindang dari rebusan ikan?" komentarnya ragu. Bagi saya si penyuka ikan dan seafood, sedikit rasa amis pada makanan berbahan dasar ikan masih bisa diterima oleh lidah, asalkan tidak keterlaluan. Menurut saya rasa kuah rujak pindang ini masih bisa diterima dengan indra pencecap.


Berburu Kuliner Lokal di Bali Part 2 JTT
Bulung boni kuah pindang


31 Oktober 2019

Berburu Kuliner Lokal di Bali (Part 1)


Berburu Kuliner Lokal di Bali (Part 1) JTT
Pantai Sanur

Mencicipi makanan dan masakan lokal khas Bali menjadi tujuan utama saya saat berwisata kesana Minggu lalu. Masakan Bali memiliki cita rasa unik, dan walaupun memiliki benang merah yang sama dengan  kuliner Jawa, tetap memiliki ciri khas tersendiri. Bumbu genep atau bumbu lengkap adalah salah satu bumbu wajib masakan Bali, bahkan mungkin hampir semua jenis masakannya menggunakan bumbu ini. Bumbu genep terdiri dari cabai, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lengkuas, serai, daun salam, daun jeruk, ketumbar, merica, kencur dan terasi. Dua rempah yang saya sebutkan terakhir sering disebut-sebut menjadi ciri khas masakan Bali yang membedakannya dengan masakan Jawa pada umumnya. 

Perburuan makanan lokal Bali dimulai dari Warung Mak Beng yang terletak di Jalan Hang Tuah no. 45, Sanur. Resto ini memiliki banyak cabang yang tersebar di beberapa tempat di Pulau Dewata, hanya saja yang dijalan Hang Tuah jaraknya cukup dekat dengan hotel. Hari itu saya berjalan sendiri ke resto, kalau dilihat di Waze jaraknya hanya sekitar 1,5 km dari Pantai Sindhu. Hotel kami menginap berada di jalan Pasar Sindhu, dan karena sudah diwanti-wanti Lily, host sekaligus teman yang menenami saya selama berlibur di Bali, jika resto ini selalu ramai dan antriannya super panjang, saya berjalan kesana sejak jam 9 pagi! Seperti biasa, begitu keluar hotel wajah sudah digampar dengan hembusan angin panas dan teriknya sinar matahari. Di Bali, jika menghitamkan diri bukanlah yang anda cari maka kudu wajib menggunakan sun block dengan SPF yang agak tinggi, cukup beberapa hari disana kulit wajah menghitam signifikan. Apesnya cuaca panas yang melanda bagian Indonesia beberapa waktu belakangan ini seakan mencapai puncaknya kala saya berlibur di Bali minggu lalu.


Berburu Kuliner Lokal di Bali (Part 1) JTT
Sepanjang jalan di Pantai Sanur


30 Oktober 2019

Berburu Oleh-Oleh di Bali (Part 2)


Berburu Oleh-Oleh di Bali  JTT
Sindhu Beach, Sanur, Bali

Melanjutkan cerita tentang saya berburu oleh-oleh khas Bali, bagian pertamanya bisa di lihat pada link postingan disini. Di Pasar Badung yang modern, rapi dan bersih ini saya membeli kacang tanah goreng, kacang koro, kacang tanah kulit panggang dan sebuah mangkok kayu kecil. Saya dan teman saya, Lily, kemudian berjalan menuju Pasar Kumbasari yang terletak di sebelah Pasar Badung. Pasar Kumbasari hanya terdiri dari dua lantai. Begitu masuk kami langsung naik ke lantai satu, lantai dasar dipenuhi dengan pedagang makanan dan kios-kios yang kurang menarik. Begitu tiba dilantai pertama, mata saya langsung dimanjakan dengan sebuah toko keramik dan kerajinan tangan kayu dan anyaman. Toko ini terdiri dari dua bagian, sisi kiri dan kanan yang dipisahkan oleh gang kecil. Sisi sebelah kanan didominasi dengan rak peralatan makan dari keramik seperti piring, mug, teko, tapi terdapat pula mangkuk dari batok kelapa yang cantik.


Berburu Oleh-Oleh di Bali  JTT
Kumbasari Market, Denpasar, Bali


Resep Sup Ikan Bali


Resep Sup Ikan Bali JTT

Ketika tiba  di Sanur, Bali, saat berlibur minggu lalu, benak saya hanya berisi list restoran atau warung yang harus dikunjungi. Otak foodie saya memang parah, bukan hanya didorong oleh kesukaan akan makanan tetapi juga rasa penasaran akan cita rasa masakan lokal Bali. Terus terang, sudah banyak  copycat masakan a la Bali yang saya trial dan posting di blog, tetapi rasanya lebih mengandalkan pada feeling, kecuali ayam betutu dan sate lilit yang pernah saya cicipi ketika berkunjung ke Bali sekian tahun nan lampau yang rasa sebenarnya pun saya lupa. Apesnya, Lily, teman saya sekaligus host selama di Bali tidak begitu suka dengan makanan. Porsi makannya sangat sedikit, dan seringkali tidak dihabiskan jika tastenya tidak sesuai dengan lidahnya. Berbeda dengan saya, apapun dihajar, enak tidak enak tetap ditelan. Saya masih menggunakan  prinsip kuno, sayang makanan jika dibuang ke tempat sampah lebih baik dimasukkan ke perut. Tidak heran, teman saya ini bobot tubuhnya tetap terjaga, sementara saya semakin melar. 😄

Resep Sup Ikan Bali JTT
Resep Sup Ikan Bali JTT


29 Oktober 2019

Resep Mango Lassi


Resep Mango Lassi JTT

Saat sedang menunggu antrian pijat di spa di Ubud kala berlibur ke Bali minggu lalu, saya dan teman saya, Lily, menggunakan waktu satu setengah jam itu untuk mencari minuman segar. Target kami adalah jajaran kafe yang banyak berderet di jalan Monkey Forest Ubud. Ada satu kafe yang cukup terkenal dan direkomendasikan oleh Trip Advisor, yaitu Kopi Bali House Ubud. Kafenya kecil dan tidak terlalu jauh dari obyek wisata Monkey Forest. Untungnya tepat didepan kafe ada sedikit spot untuk memarkirkan motor. Banyaknya pengendara motor di daerah ini membuat parkir pun menjadi satu masalah serius. Kami lantas duduk di meja yang diletakkan di samping kafe, melepaskan helm dan mulai mengecek menu. Karena tujuan saat itu adalah hendak melepaskan dahaga maka saya tidak terlalu peduli dengan makanan yang disediakan dan fokus langsung menuju ke jus, kopi dan sejenisnya. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, tapi perut yang tadi pagi telah diisi dengan kopi tidak terasa terlalu lapar. 

Resep Mango Lassi JTT
Resep Mango Lassi JTT

Berburu Oleh-Oleh di Bali (Part 1)


Berburu Oleh-Oleh di Bali JTT
Sindhu Beach, Bali

Melanjutkan cerita jalan-jalan saya ke Bali yang bisa dilihat di postingan pertama pada link disini. Malam pertama di Sanur, saya manfaatkan untuk berjalan-jalan di seputar pantai. Di tepian pantai Sindhu banyak sekali penjual jagung menjajakan jagung bakar dengan kursi-kursi kecil disediakan diseputaran alat pemanggang. Jajaran turis domestik serta warga lokal duduk menikmati manisnya jagung hangat. Saya enggan mengotori gigi, jadi cukup melihat-lihat seputaran pantai dan mengambil foto. Sejak medsos meraja, fotografi sepertinya menjadi kegiatan yang mendominasi turis kala berkunjung ke suatu negara atau daerah. Saya biasanya akan meminta ijin sebelum menjepretkan kamera, tidak semua orang suka difoto, dan tidak semua orang suka foto mereka dishare di internet. Kian hari semakin banyak negara dan kota yang melarang turis mengambil gambar karena warga lokal yang semakin merasa tidak nyaman. Bagaimanapun, foto yang kita ambil adalah kehidupan sehari-hari mereka yang kemudian diekspose ke media sosial.

Hari kedua, di pagi hari saya berjalan ke tepian pantai Sindhu. Saya dan Lily kemudian duduk di Kafe Luhtu's yang memiliki lokasi strategis di sudut jalan didekat pantai. Kafe ini menyediakan produk bakery seperti cake, muffin, roti, serta hidangan breakfast baik internasional maupun lokal. Harganya berkisar dari 30 ribu hingga 100 ribu rupiah, tergantung jenis makanannya. Favorit saya disini adalah blended iced coffee dengan es krim vanilla sebagai toppingnya. Terkadang kami nongkrong hanya ditemani es kopi saja dan duduk berjam-jam disana menikmati suasana adem dan deburan ombak dipantai. Nyaman dan tidak bikin kantong jebol. 😅

Berburu Oleh-Oleh di Bali JTT
Sindhu Beach Bali

28 Oktober 2019

Pantai Sindhu dan Pasar Sindhu, Bali


Pasar Sindhu, Sanur

Sejujurnya, selama ini saya beranggapan jika blog Just Try & Taste hanya untuk sekedar berbagi hobi dan menyalurkan minat menulis (itupun jika mood sedang baik). Bahkan, sejak pengajuan adsense saya ditolak Google, saya beranggapan blog ini benar-benar tidak bisa dimonetize, yang artinya tidak menghasilkan apapun. Tapi kini pendapat tersebut berangsur menghilang. Bukan karena kemudian blog mulai menghasilkan pundi-pundi rupiah, tapi karena blog memberikan saya benefit lainnya, yaitu membuka jendela persahabatan dari seluruh dunia yang begitu lebarnya.  Walau tidak saling mengenal satu sama lain di dunia nyata, namun blog menjembatani saya dengan pembaca di dunia maya, chemistry terjalin dan kami merasa dekat. Blog juga mengantarkan saya bertemu langsung dengan pembaca yang kemudian berubah menjadi persahabatan yang berkesan. 

Salah satu pembaca Just Try & Taste adalah Lily, awalnya dia sering memberikan komentar dan bertanya satu atau dua hal di blog. Kemudian membeli buku Home Cooking, dan berakhir dengan datang ke kantor meminta saya membubuhkan tanda tangan di buku tersebut. Lily tinggal di Jerman, dan sejak pertama kami bertemu di kantor, setiap kali dia datang ke Indonesia,  kami akan menyempatkan diri untuk kongkow di warung kopi di sebelah.  Kesan saya tentang Lily adalah dia sosok yang sangat friendly, care, easygoing, ramah dan terbuka. Setelah lebih lama mengenalnya saya juga tahu Lily juga seorang pekerja keras, tidak banyak cingcong dan tidak jaga image. Kami pun cocok.

Kamboja dengan 10 kelopak


18 Oktober 2019

Resep Ikan Nila Palumara


Resep Ikan Nila Palumara JTT

Di kantor tempat saya bekerja, karyawannya hanya sekitar 40 an orang, kami saling mengenal satu sama lain dengan baik. Semua divisi bekerja dalam satu ruang dilantai yang sama, kecuali divisi sales yang berada didalam ruangan terpisah, itupun disekat dengan kaca tembus pandang sehingga kami bisa tetap memantau aktifitas satu sama lain. Kami cukup tahu mana karyawan yang pendiam dan jarang berinteraksi, mana karyawan yang rajin dan fokus dengan pekerjaannya masing-masing, mana karyawan yang hobi mengobrol dari pagi hingga malam, mana karyawan yang arogan dan bossy,  mana yang tukang complain, atau mana karyawan yang hobinya marah-marah dan memaki jika menemukan satu kesalahan divisi lain. Semua sifat dan kebiasaan tersebut terlihat jelas.

Pendapat saya, hampir semua karyawan cukup menyenangkan, tidak ada yang bersikap aneh atau menyebalkan, kecuali dua atau tiga karyawan di  divisi sales yang sepertinya menjadi momok kebanyakan orang yang bekerja. Sebagaimana perusahaan lainnya dimana tenaga pemasaran menjadi backbone perusahaan, maka di kantor saya pun begitu. Sales atau trader yang menjembatani nasabah melakukan transaksi beli dan jual saham di Bursa Efek melalui perusahaan broker adalah divisi yang mendatangkan pemasukan. Makin banyak mereka melakukan transaksi beli/jual saham, maka makin besar fee yang diterima oleh perusahaan. Tak heran jika sales dengan transaksi tertinggi dan mampu menghasilkan income besar cenderung arogan, 'belagu' dan bossy. Sejak saya bekerja di perusahaan jasa seperti ini entah itu asuransi atau sekuritas maka sales terbaik biasanya memang menyebalkan, walau tentu saja tidak semuanya seperti itu.

Resep Ikan Nila Palumara JTT
Resep Ikan Nila Palumara JTT


17 Oktober 2019

Resep Honey Mustard Salad Dressing


Resep Honey Mustard Salad Dressing JTT

Saya suka salad, bahkan menjurus ke arah maniak saking gemarnya. Tapi ada masa-masa dimana lidah saya enggan tersentuh dinginnya sayuran dan asamnya saus. Kepengennya makan yang hangat-hangat, creamy atau bertepung seperti nasi, pasta dan roti. Padahal bahan salad selalu tersedia di kulkas di rumah, bahkan saya punya stoknya juga di kulkas di kantor. Lettuce, ketimun, wortel, paprika merah dan kuning, serta tomat cherry adalah bahan salad yang menurut saya mudah ditemukan, tak mudah layu walau disimpan dalam jangka panjang di dalam kulkas, serta mudah dipersiapkan. 

Tapi jika mood makan salad sedang jeblok seperti akhir-akhir ini, maka semua itu tak tersentuh. Saya bahkan mulai worried dengan nasib 3 pohon selada keriting didalam kantung kertas di chiller. Daun selada keriting ini saya beli hanya demi memuaskan nafsu memborong sayuran si Bapak tukang sayur yang pernah saya ceritakan pada postingan disini. Kebetulan malam itu kala pulang kantor, saya melihat selada keritingnya masih banyak diatas sehelai tampah di meja. Padahal biasanya untuk bahan salad, saya memilih lettuce head yang bahkan hingga dua minggu masih baik-baik saja di dalam chiller dibandingkan daun hijau dengan tekstur lemas seperti daun selada keriting.

Resep Honey Mustard Salad Dressing JTT

16 Oktober 2019

Resep Pampis Jambu Monyet


Resep Pampis Jambu Monyet JTT

"Buat apa jambu monyet segitu banyak Mbak Ade?" Tanya saya heran melihat rekan kantor saya ini membawa satu kantung plastik besar jambu. Beratnya kira-kira lebih dari dua kilogram dan aroma khasnya semerbak memenuhi ruang kantor. Jambu monyet alias jambu mete yang biasanya hanya diambil kacangnya ini seringkali dibuang dan jarang dimanfaatkan. Rasanya yang sepat dan membuat tenggorokan gatal ini tidak dikonsumsi dalam jumlah banyak, paling banter hanya sebagai campuran rujak atau terkadang dicocol bersama sedikit garam. "Ini ada teman yang nitip, katanya enak buat ditumis," jawabannya membuat saya melongo. Baru kali ini saya mendengar jambu monyet dipakai didalam masakan, bagaimana caranya menghilangkan rasa sepat dan aroma anehnya yang saya yakin akan merusak cita rasa masakan. "Caranya gimana?" Tanya saya penasaran. "Ntar aku tanya temenku ya caranya, dia sih sering banget masak jambu monyet. Katanya enak kek daging ayam," saya makin bersemangat mendengar penjelasan Mbak Ade. Terus terang, saya selalu tertarik dengan makanan aneh atau memanfaatkan bahan makanan yang jarang dipergunakan orang secara umum. Memasak jambu monyet sebagai lauk tentu saja ide cemerlang yang saya bersemangat untuk mencobanya.

Resep Pampis Jambu Monyet JTT


15 Oktober 2019

Resep Lasagna Bolognese


Resep Lasagna Bolognese JTT

Hari Minggu kemarin, adik bungsu saya, Dimas, diwisuda. Acaranya diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) dari pukul 7.30 pagi. Hari Sabtu, kami semua, kecuali kakak saya, Mbak Wulan, yang tinggal di Batam, berkumpul di rumah adik saya, Wiwin, di Mampang. Seperti biasa, di keluarga kami, setiap kali ada acara keluarga maka selalu identik dengan makanan. Jika keluarga lainnya mungkin melewatkan waktu berkumpul dengan jalan-jalan ke obyek wisata, menonton film bersama atau mungkin sekedar mengobrol saja, maka kami heboh dengan menu apa yang harus disiapkan? Akan makan dimana? Di rumah atau pergi ke restoran? Jenis masakan apa, Chinese food, Jawa, Manado, Padang, seafood dan barbecue, Timur Tengah, atau Western? Memutuskan hendak bersantap di satu resto saja menjadi hal yang seru dibahas. 

"Eh kita mau makan dimana nih?" Tanya adik saya, Wiwin, yang biasanya menjadi sponsor utama sekaligus koordinator acara makan-makan. "Bikin soto ayam kampung saja," cetus Ibu saya yang memang jika ada acara apapun tak pernah jauh dari soto. Diantara keluarga lainnya, maka Ibu saya ini paling rewel jika berurusan dengan menu makanan. Berbeda dengan kami semua yang bisa menelan masakan apapun, maka beliau memiliki preferensi tersendiri yang terkadang sangat terbatas pilihannya. Tidak suka Chinese food atau makanan berbau Western, tapi menggemari  masakan Padang yang biasanya kami eliminir dari daftar. 

Resep Lasagna Bolognese JTT
Resep Lasagna Bolognese JTT

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...