Saya punya sebutir buah naga di kulkas, tergeletak disana sejak 2 minggu lalu. Setiap hari buah tersebut saya bawa ke kantor dengan niat hendak dijadikan kudapan kala siang atau sore hari. Namun dikantor, udara AC yang dingin membuat saya enggan menyantap buah. Setiap sore, si buah naga kembali lagi kerumah dan akhirnya mendekam di kulkas berhari-hari hingga dua minggu yang lalu. Khawatir busuk, akhirnya saya permak menjadi cake chiffon. Berdasarkan pengalaman baking dengan buah berwarna merah seperti stroberi, maka buah naga saya duga tidak akan mempertahankan warna merahnya setelah dipanggang. Entah proses kimia apa yang terjadi, mungkin minyak atau lemak didalam cake meluruhkannya.
Karena buah naga memiliki rasa relatif plain, sebenarnya bukan pilihan tepat untuk diolah menjadi cake. Berbeda dengan jeruk, pisang, mangga, nangka, atau durian yang memiliki rasa dan aroma khas, maka chiffon buah naga ini tidak memiliki rasa dan aroma buah naga sama sekali. Aroma harumnya disumbangkan dari vanilla extract dan mentega yang saya pergunakan di resep. Walau cake ini tidaklah terlalu sensasional namun teksturnya sangat lembut sebagaimana chiffon umumnya.

Weekend kemarin, sepulang berbelanja di pasar, saya langsung menuju ke halaman dan meniatkan diri untuk re-potting tanaman anggrek yang bentuknya tidak keruan. Sudah lama sebenarnya keinginan ini hendak dilaksanakan, namun selalu terkendala dengan faktor malas. Koleksi anggrek yang saya miliki tidaklah banyak, hanya beberapa jenis cattleya, dendrobium dan satu vanda yang kondisinya sekarat. Tidak pernah mendapatkan pupuk dan perawatan spesial lainnya kecuali disiram rutin setiap hari jika cuaca sedang panas terik, dan tidak pernah disiram sama sekali kala hujan mengguyur Jakarta seperti akhir-akhir ini.
Walau perawatan hanya minimal, tapi dua jenis cattleya selalu rajin berbunga seperti gambar yang saya sematkan dibawah. Bulan lalu, cattleya berbunga kuning gonjreng dengan kombinasi kelopak ditengah yang berwarna merah tua nangkring dihalaman selama 2 minggu penuh. Kini, si cattleya ungu yang pohonnya saya sangkutkan di sebatang belimbing wuluh memamerkan 4 tangkai bunga yang mekar dengan anggunnya. Bunganya sudah bersemayam selama satu minggu lamanya namun belum menampakkan tanda-tanda layu. Keunggulan tanaman anggrek memang pada kemampuan bunganya bertahan tetap segar selama bebeberapa waktu.
Jika berkunjung ke rumah kakak saya di Batam, makanan bernama mi lendir tidak pernah absen untuk disantap. Kata lendir mungkin terdengar kurang nyaman di telinga, tapi masyarakat di Kepulauan Riau dan sekitarnya memang menyebut makanan ini demikian. Nama tersebut mengacu pada kuah mi yang kental seperti lendir. Walau namanya sedikit kurang asyik tapi rasa mi lendir cukup mantap, padahal bahan pendukungnya hanya sederhana saja. Mi lendir biasanya tersusun atas mi kuning (umumnya digunakan jenis mi lidi), tauge rebus, dan telur rebus. Mi kemudian disajikan dengan siraman kuah 'berlendir' yang berwarna kecoklatan. Taburan daun bawang, rajangan cabai rawit dan kucuran air jeruk limo terasa pas menemani kuah kental yang terasa manis. Mi lendir biasanya dijual dipagi hari untuk sarapan pagi, bahkan jika datang sedikit kesiangan maka mi telah habis terjual.