22 Februari 2021

Resep Bistik Ayam JTT dan Bertukang



Resep Bistik Ayam JTT

Kondisi pandemi seperti ini membuat saya menyadari satu hal penting yang seharusnya sejak dulu diasah, yaitu skill DIY urusan pertukangan. Saya akui diri ini sebenarnya cukup mampu melakukan pekerjaan DIY sederhana untuk hal remeh-temeh rumah tangga, misal mengganti kran air yang rusak, mengganti colokan listrik yang konslet, tapi ketika genting rumah bocor, tetesan airnya merembes memasuki plafon, menetes ke bawah dan bahkan akhirnya menjebol plafon dua kamar sekaligus, saya hanya dibuat bengong, bingung hendak melakukan apa. Tukang bangunan adalah skill mahal dan ekslusif, jangan remehkan profesi ini karena terlihat berpanas-panasan, berkotor-kotoran dan kerja otot. Swear, saat ini saya sungguh ingin bisa memiliki basic skill bertukang bangunan! Andai saja saat renovasi rumah Pete sekitar lima tahun yang lalu - dimana tukang segambreng-gambreng banyaknya bekerja setiap hari di rumah, atau ketika Paklik saya yang skill menukangnya jago sering datang memperbaiki kerusakan rumah - saya berikan perhatian ekstra, atau minta diajari lima hingga sepuluh hal memperbaiki kerusakan rumah yang bisa dikerjakan sendiri tanpa memanggil tukang saya lakukan, maka saya bisa survive dijaman pandemi ini dimana memasukkan orang asing ke rumah tidak bisa dilakukan.

Resep Bistik Ayam JTT
Resep Bistik Ayam JTT


Hujan yang menghajar Jakarta beberapa waktu lalu memang tobat parahnya, banjir dimana-mana dan sungguh saya merasa simpati dengan mereka yang rumahnya terendam air hingga 3 meter. Saya sendiri terkena dampak hujan deras yaitu rumah bocor. Okeh, masalah saya tentu saja tidak sebesar mereka yang diterjang banjir, tapi tetap saja masalah yang membuat pening. Seminggu yang lalu, karena begitu penasarannya saya dengan suara tetesan air di kamar mandi di dalam kamar yang cukup mengganggu tidur, saya berangkat ke lantai atas menuju atap rumah utama. Agar tetangga tidak terkaget-kaget melihat emak-emak berdaster dengan rambut uyel-uyelan nangkring diatas genting, saya lantas mengenakan jeans, kaus gombrong, sepatu kets dan topi untuk menutupi rambut. Harapan saya jika tetangga depan yang lantai duanya sejajar dengan atap rumah melongok keluar jendela akan mengira saya adalah Mister Tukang yang datang mengecek genting. 

Setibanya di atap saya dibuat hilang akal. Genting terlihat baik-baik saja, tersusun rapi jali bak anak SD yang sedang upacara bendera hari Senin. Saya berusaha menebak-nebak posisi kamar mandi dan mengira pastinya ada sebuah lubang mengaga lebar di genting hingga tetesan air begitu deras mengucur. Tapi, tidak ada hal aneh disana. Tidak ada retakan, atau geseran, atau mungkin ada tapi mata tukang amatiran ini tak bisa mendeteksinya. Saya coba naik ke tengah atap, dan swear walau terlihat landai tapi sungguh benar-benar uji nyali kala melakukannya. Saya takut ketinggian dan suka berpikiran negatif. Negatif ekstrim tepatnya. Kepala saya penuh skenario seperti bagaimana jika susunan baja ringan yang menahan genting tiba-tiba ambruk ke bawah tak bisa menahan bobot tubuh saya yang naik gila-gilaan sejak pandemi? Atau bagaimana jika ketika kaki ini menginjaknya tiba-tiba susunan genting yang begitu rapi ini kemudian luruh, longsor bersama saya diatasnya? Atau bagaima jika, argh begitu banyak skenario mengerikan yang membuat saya langsung turun dengan kaki gemetaran walau baru naik sejauh dua meter.

Resep Bistik Ayam JTT

Akhirnya saya kembali ke dalam rumah dalam kondisi tidak menghasilkan apa-apa, kecuali perut lapar dan kepala yang terasa melayang. Bagi saya pekerjaan pertukangan bukan hanya urusan pria, atau urusan pak tukang tepatnya, karena banyak pria yang juga tidak handyman atau tidak memiliki skill pertukangan, tapi para wanita pun kudu punya skill ini. Di dalam keluarga inti saya tidak ada satupun yang handyman atau handywoman. Saya termasuk yang memiliki sedikit kemampuan 'nguli' dibandingkan kakak atau adik. Bahkan almarhum Bapak, tak bisa bertukang sedikitpun, walau gemar mengumpulkan peralatan pertukangan. Saya pun seperti itu! Saya suka membeli peralatan pertukangan mulai dari obeng, aneka tang, gergaji, hingga bor listrik dan sekarang saya bahkan memiliki gergaji kayu listrik, akan saya ceritakan kisah ini dilain waktu. Masalahnya adalah saya suka parah menyimpan peralatan ini, sehingga ketika tukang datang memperbaiki sesuatu di rumah dan menggunakan peralatan tersebut, mereka suka membawanya pergi dan raib. Atau ketika membeli bor listrik tiga tahun yang lalu, saya begitu yakin bisa menggunakannya, tapi ketika dipraktekkan di lapangan hasilnya gagal total.

Resep Bistik Ayam JTT

See, jiwa saya adalah tukang bangunan, atau tepatnya jiwa DIY, yang jadi masalah skill tak mendukung. Menonton ribuan video utube mengenai pertukangan ternyata tidak cukup membantu membuat kemampuan terdongkrak karena untuk urusan yang satu ini maka praktek lapangan dibutuhkan, bukan hanya sekedar melotot dibelakang layar laptop. Jika pandemi ini usai (entah kapan?) dan social distancing tidak lagi diterapkan (mungkinkah?), maka hal pertama yang akan saya googling adalah kursus bertukang. Gubrak!

Menuju ke resep. Resep ini sudah lama saya posting di IG, bistik ayam ini mirip-mirip dengan ayam kecap atau selat Solo, hanya bahan pendukungnya lebih lengkap, biasanya menambahkan kentang, buncis dan wortel, rasanya dominan manis. Masakan ini sepertinya diadopsi dari menu di jaman kolonial yaitu steak dengan brown sauce yang mungkin disantap oleh orang Belanda saat itu. Masyarakat lokal lantas menyajikannya dengan versi lebih ramah dikantong dan lidah. Membuatnya sangat mudah dan tentu saja merupakan salah satu menu praktis karena lauk dan sayur ada di dalam satu panci.

Berikut resepnya ya.

Resep Bistik Ayam JTT

Bistik Ayam
Resep modifikasi sendiri

Untuk 4 porsi

Tertarik dengan resep sejenis lainnya? Silahkan klik link di bawah ini:

Bahan:
- 300 gram fillet paha ayam, iris memanjang agak tebal, bumbui dengan 1/2 sendok teh garam dan 1/4 sendok teh merica bubuk
- 3 buah kentang, potong dadu, atau 20 buah kentang baby
- 1 buah wortel, potong memanjang
- 20 buah baby buncis, atau buncis biasa potong 3 cm
- bawang merah goreng untuk taburan

Bumbu halus:
- 3 siung bawang putih
- 4 siung bawang merah

Bahan dan bumbu lain:
- 1/2 sdm mentega/margarin untuk menumis
- 1 buah bawang bombay sedang iris tipis
- 1 sendok makan pasta tomat/tomato puree
- 1 sendok makan kecap inggris
- 3 sendok makan kecap manis
- 300 ml air kaldu sapi atau air biasa
- 1/6 buah pala parut
- 2 butir cengkeh
- 1 sendok teh palm sugar
- 1 sendok teh garam
- 1/2 sendok teh kaldu bubuk
- 1/2 sendok teh merica

Cara membuat:

Resep Bistik Ayam JTT

Bumbui fillet ayam dengan garam dan merica, aduk rata, diamkan 20 menit. Panaskan 2 sendok makan minyak di pan, tumis ayam hingga permukaannya agak kecoklatan, angkat sisihkan.

Masukkan 1/2 sendok makan mentega di pan bekas menumis ayam, tumis bawang bombay hingga layu, masukkan bumbu halus dan tumis hingga bumbu harum dan matang. 

Resep Bistik Ayam JTT

Masukkan pasta tomat, kecap manis, kecap inggris, aduk dan tumis 1 menit.

Tuangkan air kaldu dan semua bumbu lainnya, aduk dan masak hingga mendidih. Tambahkan kentang, wortel dan buncis, aduk dan masak hingga sayur lunak dan matang. Tambahkan tumisan ayam, aduk dan masak hingga mendidih dan ayam menyerap bumbu dengan baik.

Cicipi rasanya, sesuaikan asin manisnya, angkat. Sajikan dengan taburan bawang merah goreng. Yummeh!



3 komentar:

  1. Simpel dan pasti enak nih... saya suka

    BalasHapus
  2. hai mba Endang, sepertinya jiwa kita sama, suka DIY tp skill gak mendukung.. wkkwkw
    saya suka banget mba liatin chanel tv yg renov2 rumah sendiri gitu, keren bgt berdua suami istri bisa renov rumah sendiri tanpa bantuan tukang.
    apalagi pas liat yg buat tiny house gitu mba, mupeng bgt saya pengen ngerjain sendiri tp apa daya.. ngegergaji aja mencong2 wkwkkw
    belum lagi tenaga saya loyo. rasanya buat tiny house atau renov sendiri hanya angan2 belaka.

    BalasHapus
  3. Akhirnya mba endang posting juga di blog.. entah udab brp kali sy nengok blog ini.. hehe bukan nunggu resep tp nunggu cerita pembukanya. Sehat selalu mba endang.

    BalasHapus

PEDOMAN BERKOMENTAR DI JTT:

Halo, terima kasih telah berkunjung di Just Try and Taste. Saya sangat menghargai feedback yang anda berikan, terutama mengenai eksperimen dalam mencoba resep-resep yang saya tampilkan.

Komentar yang anda tuliskan tidak secara otomatis ditampilkan karena harus menunggu persetujuan saya. Jadi jika komentar anda belum muncul tidak perlu menulis komentar baru yang sama sehingga akhirnya double/triple masuknya ke blog.

Saya akan menghapus komentar yang mengandung iklan, promosi jasa dan penjualan produk serta link hidup ke blog anda atau blog/website lain yang anda rekomendasikan yang menurut saya tidak relevan dengan isi artikel. Saya juga akan menghapus komentar yang menggunakan ID promosi.

Untuk menghindari komentar/pertanyaan yang sama atau hal yang sebenarnya sudah tercantum di artikel maka dimohon agar membaca artikel dengan seksama, tuntas dan secara keseluruhan, bukan hanya sepotong berisi resep dan bahan saja. Ada banyak info dan tips yang saya bagikan di paragraph pembuka dan jawaban di komentar-komentar sebelumnya.

Satu hal lagi, berikan tanda tanya cukup 1 (satu) saja diakhir pertanyaan, tidak perlu hingga dua atau puluhan tanda tanya, saya cukup mengerti dengan pertanyaan yang diajukan.

Untuk mendapatkan update rutin setiap kali saya memposting artikel baru anda bisa mendaftarkan email anda di Dapatkan Update Via Email. Atau kunjungi Facebook fan page Just Try and Taste; Twitter @justtryandtaste dan Instagram @justtryandtaste.

Semoga anda menikmati berselancar resep di Just Try & Taste. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...