Di waktu-waktu tertentu, makanan di kantor luber banyaknya, misal kala Lebaran, Natal atau perayaan Imlek. Mereka yang merayakan, setelah liburan akan membawa aneka camilan ke kantor sebagai oleh-oleh. Bulan lalu, rekan saya, Mbak Mirah, yang merayakan Tahun Baru China, juga membawa kue-kue khas Imlek plus setoples kacang panggang. Bersanding dengan aneka kue kering, lapis legit dan kue sedap lainnya, tak ada satupun yang bersedia menyentuh si kacang hingga beberapa hari lamanya makanan itu masih utuh didalam wadahnya. Kacang bukanlah camilan favorit saya juga, tapi kali ini saya teringat dengan satu resep yang hendak dieksekusi, oat brittle. Sebenarnya ide awalnya karena ingin memanfaatkan sekilo oatmeal instant yang dibeli beberapa bulan lalu yang hingga kini masih utuh di laci kantor. Oatmeal memang selalu tersedia di kantor sebagai makanan cadangan kala perut lapar disiang hari atau terkadang sebagai pengganti nasi. Nah bahan lainnya adalah kacang-kacangan, dan kacang tanah adalah alternatif termurah. Dari pada harus mengeluarkan uang membeli kacang di supermarket lebih baik dimanfaatkan saja kacang yang 'tak laku' di kantor bukan?
01 Maret 2019
28 Februari 2019
Resep Tumis Bunga Pepaya Ikan Tongkol
Salah satu hal yang membuat saya rindu tinggal di desa adalah halaman yang luas. Pekarangan bisa ditanam dengan aneka pepohonan berguna seperti pepaya, pisang dan aneka tanaman buah lainnya. Ketika pisang matang, batangnya alias 'gedebok' pisang yang segede tiang rumah ini cukup dipotong-potong, kemudian ditinggalkan begitu saja di tegalan. Tidak berapa lama akan membusuk, terdekomposisi dan kembali menyatu dengan tanah, membuat bumi semakin subur.
Bayangkan jika menanam pisang dihalaman secuplik di Jakarta, er.... Contohnya seperti adik saya, Wiwin. Keluarga adik saya tinggal disebuah rumah cluster dimana setiap rumah tidak berpagar, dan dihiasi dengan sebuah halaman kecil untuk aneka tanaman hias. Nah sekitar dua tahun lalu, saya membawa bibit pisang mini dari rumah kakak di Batam. Pohon pisang yang di Batam bertubuh kerdil, tak dinyana tumbuh bongsor dan gendut di halaman rumah Wiwin, walau pendek namun batangnya kekar dan daunnya selebar pohon pisang normal. Dalam sekejap si pisang beranak banyak, beberapa ditransfer kemana-mana, siapapun yang berminat dipersilahkan mengambilnya sendiri.
Bayangkan jika menanam pisang dihalaman secuplik di Jakarta, er.... Contohnya seperti adik saya, Wiwin. Keluarga adik saya tinggal disebuah rumah cluster dimana setiap rumah tidak berpagar, dan dihiasi dengan sebuah halaman kecil untuk aneka tanaman hias. Nah sekitar dua tahun lalu, saya membawa bibit pisang mini dari rumah kakak di Batam. Pohon pisang yang di Batam bertubuh kerdil, tak dinyana tumbuh bongsor dan gendut di halaman rumah Wiwin, walau pendek namun batangnya kekar dan daunnya selebar pohon pisang normal. Dalam sekejap si pisang beranak banyak, beberapa ditransfer kemana-mana, siapapun yang berminat dipersilahkan mengambilnya sendiri.
Label:
Ikan Air Laut,
Masakan Manado,
Sayuran
27 Februari 2019
Resep Bubur Ayam Sambal Kacang
Jujur, sebenarnya membuat bubur ayam sendiri cukup ribet. Bukan dibagian membuat buburnya, tapi pernak-pernik yang mengiringi si bubur seperti sambal, kerupuk, cakwe, dan kuah kuningnya. Itu jika kita menginginkan bubur ayam yang memang komplit dan bukan sekedar bubur dan suwiran ayam. Tapi jika anda adalah seorang food blogger yang ingin menyajikan bubur ayam di blog atau Instagram, tentunya ingin agar tampilan si bubur mirip dengan yang dijual oleh abang tukang bubur ayam di tepian jalan. Jadi walau ribet, walau menghasilkan banyak perabotan kotor, weekend lalu tetap nekat saya eksekusi. Bukan karena saya sedang begitu inginnya menyantap bubur ayam, tapi karena saya belum memiliki resep ini dan sudah banyak yang menanyakannya. 😅
Walau bubur ayam atau chicken congee ini sebenarnya adalah kuliner China namun dalam perjalanan jaman dan waktu sudah beradaptasi dengan masyarakat Indonesia sedemikian eratnya sehingga kemudian muncul varian bubur ayam yang berbeda dengan aslinya. Misal pada penambahan kuah kuning, sambal kacang, kerupuk dan kacang kedelai goreng. Di beberapa daerah di Indonesia sendiri, bubur ayam bisa bervariasi. Di tepian jalan kadang kita menemukan bubur ayam berlabel Cianjur, Cirebon, atau Sukabumi. Ada juga jenis bubur ayam yang disajikan dengan kuah kuning atau tanpa kuah sama sekali karena buburnya sudah dibumbui dan terasa gurih. Saya sendiri suka semua jenis bubur ayam, tepatnya saya suka semua jenis bubur. Dulu ketika kuliah di Jogya, sarapan setiap pagi adalah bubur gudeg yang super murahnya. Waktu itu, tidak ada yang lebih sedap selain saat perut kosong dipagi hari dijejali dengan semangkuk besar bubur plus serpihan krecek, gudeg dan kuah sayurnya. Amboi nikmatnya!
Langganan:
Postingan (Atom)









