Sejak teman saya, Lily, yang tinggal di Jerman berbagi foto-foto tanaman anggrek koleksinya, mendadak minat saya terhadap tanaman hias yang satu ini muncul kembali. Setelah hobi ini mati suri sekian lama, tepatnya sejak saya melakukan re-potting anggrek Cattleya yang justru berakhir zonk, kini saya tertantang kembali untuk mencoba (sekali lagi!) menanam anggrek. Saya kagum juga dengan kesuksesan Lily membudidayakan anggrek didalam apartemennya. Beberapa bahkan ditanam dalam kultur air yang sepertinya sedang ngetrend diterapkan pada anggrek. Saya melihat lingkungan apartemen Lily, dimana anggrek mendapatkan sinar matahari tidak langsung dari jendela kaca yang lebar, suhu yang stabil dan tidak terkena terpaan hujan atau cuaca lainnya, membuat habitatnya lebih terjaga dan terukur dibandingkan menanamnya langsung di halaman. Sayangnya rumah tempat saya tinggal, sinar matahari tidak bisa menjangkau tepian jendela, jadi anggrek harus diletakkan di halaman, terkena sinar matahari langsung, terhujani dan terserang hama.
29 November 2019
28 November 2019
Resep Mie Goreng Aceh
Saya sejujurnya kurang suka dengan mi Aceh, baik goreng maupun kuah. Bagi lidah Jawa saya, rasa mi yang dominan rempah dan asin, kurang cocok dengan selera. Mi goreng Jawa yang manis kecoklatan lebih menjadi favorit. Seingat saya, baru dua kali saya mencoba mi Aceh. Warung pertama di area terminal bis Blok M, warung ini sudah beroperasi sejak lama, bahkan sebelum penjual mi Aceh banyak tersebar dimana-mana di Jakarta. Penjualnya adalah orang Aceh asli, dan selain mi mereka menjual rujak buah khas Aceh. Warungnya selalu ramai, si Bapak meletakkan kompor dan wajan super besar didepan warung dan setiap kali dia memasak mi goreng saya jadi ngiler dibuatnya. Satu waktu saya pun iseng mampir dan menjajal mi goreng Acehnya, menurut saya not so special. Rempah, rasa pedas dan asin lebih mendominasi. Percobaan kedua mencicipi makanan ini di food court mall Ambassador, ada satu resto mi Aceh yang menjulnya bersama roti cane dan kuah kari. Rasanya tak jauh beda dengan versi di Blok M, hanya yang ini tidak terlalu banyak rempah sehingga lebih mild rasanya, tapi tetap saja tidak sesuai dengan taste saya. Saya suka dengan masakan Aceh, beberapa bahkan saya coba eksekusi di rumah, tapi khusus mi Aceh sepertinya saya mengibarkan bendera putih tanda menyerah.
![]() |
| Bubuk Kari |
Label:
Daging Sapi,
Masakan Aceh,
Mie,
Sayuran
Resep Turkish Sarma
Turkish Sarma
Untuk 20 buah
Bahan:
- 40 lembar daun anggur
Bahan isi:
- 2 sdm minyak untuk menumis
- 1 buah bawang bombay
- 250 gram daging sapi cincang
- 1 cup beras basmati
- 1 ikat peterseli, cincang
- 2 buah tomat
- 2 sdt cabai bubuk
- garam
- merica hitam tumbuk
- kaldu bubuk
Untuk saus, aduk jadi satu:
- 1 sdm pasta tomat
- 1 sdt cabai bubuk
- 1 sdm minyak
- 1 cup air
Saus yogurt:
- 5 sdm yogurt
- 2 siung garlic, cincang
- daun mint
- garam
Cara membuat:
Siapkan daun anggur, potong pangkal tangkainya, cuci bersih, sisihkan.
Siapkan panci, masukkan 500 ml air, tambahkan 1/2 sdm garam. Rebus hingga mendidih, masukkan daun anggur. Rebus selama 1 menit, angkat, tiriskan dan rendam daun dalam air dingin. Sisihkan.
Siapkan pan, panaskan minyak. Tumis bawang bombay hingga layu dan matang, masukkan daging cincang, aduk dan tumis hingga daging tidak pink lagi. Masukkan beras, aduk dan tumis hingga beras terlihat transparan permukaannya. Masukkan sisa bahan isi lainnya, aduk rata. Cicipi rasanya, sesuaikan asinnya. Angkat.
Tiriskan daun, peras kuat-kuat.
Letakkan beberapa lembar daun dipermukaan talenan/meja. Letakkan 1 1/2 sdm adonan isi. Bungkus isi seperti membuat risol. Tata di pan dengan bagian lipatan disisi bawah. Lakukan pada semua bahan lainnya. Tuangkan bahan saus. Tutup pan, masak dengan api kecil hingga air habis dan mengering.
Langganan:
Postingan (Atom)




