24 September 2014

Homemade Acar Cabai



Beruntunglah bagi kita yang hidup diiklim tropis dimana matahari dan hujan begitu melimpah serta cuaca yang sangat mendukung sepanjang tahun sehingga hasil pertanian setiap waktu selalu mudah ditemukan di pasar. Namun bagi mereka yang hidup di negara empat musim dimana beberapa hasil pertanian hanya bisa ditemukan hanya pada musim tertentu maka mengawetkan bahan makanan menjadi solusi praktis untuk bisa menikmati sayur atau buah sewaktu-waktu. Tidak heran jika kemudian begitu mudahnya kita menemukan wadah-wadah berisi awetan sayuran dan buah-buahan dalam rendaman garam, gula atau vinegar (cuka) di supermarket disana. 

Bagi kita yang hidup di Indonesia, tentu saja mengawetkan makanan seperti buah dan sayuran mungkin tidak pernah terlintas di dalam pikiran. Mengapa harus diawetkan, jika versi segarnya dengan mudah kita temukan di pasar dengan harga yang terjangkau?  Belum lagi makanan awetan tentunya kurang sehat apalagi jika kemudian ditambahkan aneka bahan pengawet atau pewarna di dalamnya. Namun ketika saya berlibur ke Eropa beberapa bulan yang lalu, saya menemukan bahwa acar cabai dalam botol ternyata sangat lezat rasanya dan bahkan mantap untuk menemani sandwich sosis  atau sebagai topping pizza. Jadi kali ini tidak ada salahnya jika kita mencoba membuatnya sendiri di rumah bukan? ^_^


Acar cabai di dalam botol bisa dengan mudah anda temukan di supermarket di Jakarta atau mungkin di kota besar lainnya di Indonesia. Bentuknya pun bervariasi, ada yang berupa cabai rawit utuh atau irisan cabai dalam rendaman cuka dan bahan lainnya. Harganya tidak bisa dibilang murah, untuk sebotol acar cabai jalapeno saya harus merogoh kocek sebanyak tiga puluh ribu rupiah. Harga ini tentu saja menurut saya terbilang fantastis dibandingkan dengan harga bahan penyusunnya yang hanya terdiri atas cabai, cuka, gula, garam dan air. 

Umumnya jenis cabai yang digunakan adalah yang berwarna hijau, karena cabai yang masih hijau memiliki tekstur lebih keras, lebih segar dan tidak mudah lembek ketika harus direndam dalam larutan cuka. Tidak bisa dipungkiri bahwa acar dikatakan segar jika bahan-bahannya masih bertekstur renyah kala dikunyah. Di Jerman dan Swedia, saya menemukan jenis cabai jalapeno dari Meksiko lebih banyak mendominasi. Cabai ini mirip dengan cabai hijau besar di Indonesia, hanya saja lebih pendek dan gendut. Selain itu  jalapeno memiliki daging buah yang lebih tebal dan keras serta rasa yang lebih pedas.


Selain Jalapeno ada satu jenis cabai hijau lainnya yang juga banyak dijual dalam bentuk awetan. Cabai ini berwarna muda cerah  dengan tekstur yang lembut dan memiliki rasa yang tidak terlalu pedas. Ukurannya mirip seperti cabai keriting di negara kita hanya saja memiliki diameter yang lebih besar. Dari hasil browsing sana dan sini saya menemukan cabai tersebut umum disebut sebagai banana pepper atau sweet pepper karena memiliki rasa yang lebih ringan dan umumnya memang digunakan sebagai acar atau diawetkan. Karena rasanya yang tidak terlalu pedas saya bahkan menyantapnya begitu saja sebagai camilan. Sayangnya cabai jalapeno dan banana pepper tidak pernah saya temukan di Indoenesia, dan kalaupun saya pernah melihat jalapeno di supermarket ternama maka harganya pun selangit bagi budget dapur saya. Jadi untuk acar kali ini saya hanya menggunakan cabai hijau besar biasa yang umum kita temukan di pasar. Untuk memberikan rasa lebih pedas di acar maka saya menambahkan sedikit cabai rawit hijau. Nah supaya warnanya tidak monoton hijau maka saya menggunakan 2 atau 3 buah cabai merah besar sebagai campurannya. 


Membuat acar cabai sangat mudah, yang anda perlukan selain cabai sebagai tokoh sentral adalah larutan rendaman (brine) yang terbuat dari cuka, gula, garam dan air. Untuk acar kali ini saya menggunakan white vinegar atau cuka putih dengan kadar keasaman 5% yang memang umum digunakan untuk pickling atau acar. Saya menggunakan white distilled vinegar plus campuran cuka apel atau apple cider vinegar yang memberikan warna brine menjadi sedikit kecoklatan dan juga rasa yang lebih lembut. Anda bisa menggunakan cuka biasa yang umum ditemukan di pasaran asalkan kadar keasamannya 5%. Jika anda kesulitan menemukan cuka apel maka skip saja penggunaannya. Sebelum dimasukkan ke dalam rendaman maka cabai saya blanching terlebih dahulu dengan memasukkannya ke dalam air panas mendidih selama 10 - 15 detik, tujuannya untuk membuat air rendaman lebih mudah menyerap dan proses pickling yang lebih cepat. Namun jika anda menginginkan acar cabai dengan tekstur lebih keras maka skip proses blanching. 

Doner kebab di Essen, Jerman, dengan topping acar cabai dan saus yogurt

Semua bahan air rendaman cukup direbus hingga mendidih dan biarkan dingin sebelum anda tuangkan ke dalam botol berisi cabai. Untuk wadah yang digunakan, anda bisa menggunakan botol kaca bekas selai atau kopi seperti yang saya pakai, atau wadah plastik lainnya. Hindari menggunakan wadah yang terbuat dari alumunium atau stainless steel karena sifat cuka yang korosif. Cabai yang sudah direndam di dalam larutan cuka siap untuk disantap setelah 2 atau 3 hari - semakin lama rasanya akan semakin mantap - saat itu warna cabai menjadi lebih muda dengan rasa khas acar yang segar. Saya hanya meletakkannya di meja dapur namun jika ingin masa simpan lebih lama maka chiller kulkas merupakan tempat yang lebih tepat. 

Acar ini sedap dimakan bersama sandwich, mie goreng, nasi goreng atau topping pizza! Hmm, untuk makanan yang terakhir sepertinya saya ingin mencobanya segera.  Berikut proses dan pembuatannya ya.


Homemade Acar Cabai
Resep hasil modifikasi sendiri

Untuk 1 botol acar dalam wadah kapasitas 250 ml

Tertarik dengan resep homemade lainnya? Silahkan klik link di bawah ini ya:
Homemade Mayonnaise - Easy, Creamy & Super Delicious!
Homemade Selai Kacang 
Homemade Cream Cheese - Mudah & Lebih Murah  

Bahan:
- 300 gram cabai hijau besar, potong melintang tipis
- 2 - 3 buah cabai merah besar, potong melintang tipis
- 50 gram cabai rawit hijau atau merah, biarkan utuh

Bahan air rendaman (brine):
- 100 ml white vinegar (kadar keasaman 5%), saya pakai Heinz Distilled White Vinegar
- 50 ml cuka apel (apple cider vinegar), bisa skip dan ganti dengan white vinegar
- 1/2 sendok makan garam
- 2 sendok makan gula pasir
- 250 ml air

Cara membuat:


Siapkan cabai yang sudah dibersihkan dan dipotong melintang tipis, untuk cabai rawit biarkan utuh. Siapkan panci dan rebus sekitar 500 ml air di dalamnya hingga mendidih. Masukkan potongan cabai, aduk dan rebus sekitar 10 - 15 detik saja. Angkat dan tiriskan.

Note: Kita tidak akan memasaknya hingga lunak tetapi hanya untuk mem-blanching cabai supaya warnanya berubah lebih gelap dan membuat air rendaman acar mudah meresap masuk. 

Siapkan panci kecil, masukkan semua bahan rendaman, rebus hingga mendidih. Angkat dan diamkan hingga dingin. 


Masukkan irisan cabai ke dalam wadah kaca atau wadah plastik yang bersih dan memiliki tutup. Tuangkan air rebusan cuka, tutup rapat dan biarkan disuhu ruang. Acar siap disantap setelah 2 atau 3 hari. Yummy! 



26 komentar:

  1. Waktu kecil bapak saya suka bikin nih mba, kayaknya vinegarnya diganti pake cuka biasa yg dicampur air deh, kadang ditambahin bawang merah sama ketimun juga mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yep Mba Gita, bisa pakai cuka masak biasa buat gantiin vinegar ya. Plus bawang merah memang sedep hehheh

      Hapus
    2. bener Mb Gita dan Mb Endang. Ditambah bawah merah yg masih utuh. Sedapnyaaa luarrr biasa. Ingat bakul mi goreng jaman dulu, kerap sediakan ini di stoples kaca dg sendok bebek berbahan keramik.

      Dian - Solo

      Hapus
    3. Wah iya, keknya simple banget juga bikinnya ya Mba. Saya suka banget ambil banyak2 wakakkaka

      Hapus
  2. Senang sekali dapat resepnya , mba....terimakasih.
    Saya suka beli acarnya di resto malaysia, sehabis makan2 , segar dan tidak pedas....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Sri, thanks sharingnya ya, yep acar cabai teryata enak juga sebagai camilan hahahah

      Hapus
  3. Kalo pake cuka apel apa rasanya ga dominan di cuka apelnya? aku pernah pake cuka apel untuk bikin acar ketimun tapi kok jadi dominan rasa apelnya yaa? ( Aya - Semarang )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Aya, biasanya memang begitu kalau semua cuka apel yang digunakan, karena itu saya mixed dengan cuka biasa.

      Hapus
  4. Makasi mba resep acarnya.., sekalian tanya dunk klo mau ditambah pake bawang merah dan timun takarannya cuka, gula, garam, dan airnya berubah jd berapa ya? Thanks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba, takaran cairan tergantung jumlah bahan ya, yang jelas bahan acar harus terendam cairan, kalau belum terendam maka harus buar larutannya lagi dengan resep diatas.

      Hapus
  5. Mba, Mba, mumpung lagi ngomongin cuka nih... Kalo resep luar yang pakai bahan vinegar gitu biasanya maksudnya cuka apa ya mba, dan bisa nggak kalo diganti cuka masak lokal? Kalo nggak bisa, perbedaannya apa ya? Saya belum pernah beli vinegar seperti Heinz gitu soalnya takut nggak kepake. Tapi penasaran soalnya vinegar ini penggunaaannya lumayan luas dari baking sampai cooking sampai buat bilasan keramas. Sedangkan cuka putih lokal sepertinya kok cuma untuk acar atau kuah bakso aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mba, sebenarnya sama saja ya asam cuka lokal dengan vinegar luar, sama2 asam asetat dimana proses pembuatannya berasal dari fermentasi bahan organik (biji-bijian, buah atau umbi) dengan bakteri asetat. yang membedakan satu sama lain hanyalah bahan pembuatnya, misal apel cider dibuat dari fermentasi jus apel dengan bakteri asetat, atau kamezu yang merupakan cuka beras khas jepang terbuat dari beras putih atau hitam dan umum digunakan untuk nasi sushi karena cuka ini memiliki rasa dan aroma yang lembut.

      selain beda dari bahan organik pembuatnya juga persentasi asam asetat yang terkandung di dalamnya. makin pekat makin asam dan kuat baunya. nah kalau untuk urusan ini saya merasa white vinegar dan apel cider vinegar aroma asamnya gak sekuat cuka lokal, karena itu saya lebih suka pakai yang buatan luar. untuk acar sebaiknya yg memiliki kandungan asam asetat 5%.

      untuk keramas sebaiknya apel cider vinegar ya.

      Hapus
  6. Aku pernah makan donner kebab di holland mbak, waktu itu dikasih cabe rawit yang menurutku rasanya kok nggak pedes hihi malah agak asem....karena menurutku kurang pedes jadi waktu beli lagi bawa saus cabe sendiri yg pedes :)......ketahuan setelah baca acar cabe mbak endang :D


    Lily arief, jogja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Lily, yepp gak pedes Mba, hehehe. Saya suka banget soale cabainya bisa digadoin, sampai bela2in beli cabai dalam kemasan 1 pack, buat camilan tobat dahhhh

      Hapus
  7. Mbak Endang, Tanya dunk...Kalo Kita ganti cabe nya dengan Bawang Putih Gitu Bisa gak...thanks yah

    BalasHapus
  8. Halo mbaa..

    Mau tanya ni..klo cabe ijonya kt gelondong aja gmn?

    Saya pernah dpt oleh2 jalapeno dr luar bentuknya masih utuh

    Klo kita gelondong tanpa diiris ada perlakuan khusus waktu proses pembuatan Gak ya?

    Mohon pencerahan

    Suwun

    Adhi MaximuM

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mas Adhi, saya belum pernah coba menggunakan cabai utuh, tapi saya rasa bisa ya dan dengan proses yang sama ya. salam

      Hapus
  9. Mbak endang tau cabe gendot? Biasanya gampang ditemui di Jawa Barat. Mungkin bisa jd alternatif jalapeno, mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yep, tapi beda ya, jalapeno lebih tebal dagingnya dan rasanya lebih pedas ya.

      Hapus
  10. Dear Mba Endang. Air rebusan cuka apa hrus tunggu sampai dingin dl jg sewaktu kita tuang ke jar stelah cabai dingin?

    BalasHapus
    Balasan
    1. yep, saya tunggu sampai tdk terlalu panas, hangat kuku, kalau mendidih dituang nanti cabainya lembek

      Hapus
  11. Mbak Endang, mau tanya kalau untuk buah2an asinan bisa ga sih dipake untuk rendamannya? atau ada trik tambahan lain? terima kasih mbak endang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Miya, bisa2 saja, tapi kudu masuk kulkas, kalau gak pakai pengawet mudah basi di suhu ruang

      Hapus

PEDOMAN BERKOMENTAR DI JTT:

Halo, terima kasih telah berkunjung di Just Try and Taste. Saya sangat menghargai feedback yang anda berikan, terutama mengenai eksperimen dalam mencoba resep-resep yang saya tampilkan.

Komentar yang anda tuliskan tidak secara otomatis ditampilkan karena harus menunggu persetujuan saya. Jadi jika komentar anda belum muncul tidak perlu menulis komentar baru yang sama sehingga akhirnya double/triple masuknya ke blog.

Saya akan menghapus komentar yang mengandung iklan, promosi jasa dan penjualan produk serta link hidup ke blog anda atau blog/website lain yang anda rekomendasikan yang menurut saya tidak relevan dengan isi artikel. Saya juga akan menghapus komentar yang menggunakan ID promosi.

Untuk menghindari komentar/pertanyaan yang sama atau hal yang sebenarnya sudah tercantum di artikel maka dimohon agar membaca artikel dengan seksama, tuntas dan secara keseluruhan, bukan hanya sepotong berisi resep dan bahan saja. Ada banyak info dan tips yang saya bagikan di paragraph pembuka dan jawaban di komentar-komentar sebelumnya.

Satu hal lagi, berikan tanda tanya cukup 1 (satu) saja diakhir pertanyaan, tidak perlu hingga dua atau puluhan tanda tanya, saya cukup mengerti dengan pertanyaan yang diajukan.

Untuk mendapatkan update rutin setiap kali saya memposting artikel baru anda bisa mendaftarkan email anda di Dapatkan Update Via Email. Atau kunjungi Facebook fan page Just Try and Taste; Twitter @justtryandtaste dan Instagram @justtryandtaste.

Semoga anda menikmati berselancar resep di Just Try & Taste. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...