27 Januari 2016

Just Try & Taste di Jepang - Part 3: Tokyo 1


Kyoto Railway Station

Kami tiba di Haneda International Airport di Tokyo yang nyaman, setelah melewati proses imigrasi yang cepat dan menyenangkan, jauh berbeda dengan pengalaman ketika melewati petugas imigrasi di Singapura sebelumnya. Mata saya yang sepat dan mengantuk karena tidak bisa memejamkan mata sedikitpun selama di pesawat menjadi terbuka lebar, dan hati ini sedikit berdebar menantikan petualangan selanjutnya di negara Matahari Terbit ini. Berbeda dengan kakak saya, Wulan, dan putranya, Ellan, yang mampu tidur dengan nyenyak dan so peaceful diperjalanan maka saya memang selalu mengalami kendala susah tidur di tempat yang asing. Walau saya sangat menyukai traveling namun bagian melakukan perjalanan jauh dan susah beristirahat seperti ini selalu menjadi hal yang paling menyebalkan ketika hendak memulai suatu acara jalan-jalan.

Chocolate Factory Park di Sapporo

Perut yang keroncongan dan tuntutan seorang bocah cilik yang harus makan tepat waktu, membuat kami memutuskan untuk mengisi perut dulu di sebuah kafe bernama Cafe and Diner Pista di Haneda Airport. Disebutkan bahwa mereka tidak menggunakan  pork dan sejenisnya di masakan yang dijual namun kemungkinan masih menggunakan lard (sejenis lemak beku dari minyak babi).  Jadi makanan yang 'aman' di menu bagi kami hanyalah sepiring roti panggang dengan selai strawberry dan dua buah telur rebus yang dipesan untuk sarapan Ellan, sementara saya dan kakak menyantap sandwich isi tuna yang kami dapat di penerbangan. Segelas kopi panas menyiram mulut yang terasa asam dan saya pun merasa fresh kembali. " Disini ada shower room yang bisa kita sewa beberapa menit untuk mandi dan berganti pakaian. Mau dicoba"? Tawar kakak saya. Kebetulan shower room yang dimaksud Wulan tersebut terletak tidak jauh dari kafe. Saya yang sudah tidak sabar untuk mengganti pakaian yang terasa lepek dan berbau karena telah dipakai seharian kontan menyambut dengan suka cita. 

Jalanan menuju ke Arashiyama Bridge

Tiga puluh menit pertama menggunakan shower room (masing-masing ruangan hanya boleh diisi dengan satu orang saja!) dibandrol dengan harga 1200 yen atau sekitar 140 ribu rupiah dengan kurs 1 yen = 116 rupiah. Lima belas menit berikutnya dikenakan biaya tambahan 500 yen. Walau cukup mahal hanya untuk sekedar mandi namun fasilitas shower room yang seperti hotel berbintang empat memang super menyenangkan, plus dengan air hangat yang menyiram kencang membuat semua penat dan gerah terguyur habis bersama air yang mengalir. Tak ingin dihajar tambahan biaya 500 yen, terpaksa saya tidak bisa berlama-lama menikmatinya apalagi mengingat persiapan baju berlapis-lapis yang harus dikenakan. Nah di  bandara Haneda inilah kami mulai mengenakan long john, sweater dan aneka persiapan menghadapi suhu dingin lainnya yang saya ceritakan di Just Try & Taste di Jepang - Part 1: Persiapan.

Jalanan di Kyoto

Mengingat kami tiba di Haneda di pukul enam pagi sedangkan umumnya hotel di Jepang baru bisa dilakukan check in ketika pukul dua siang maka kami sedikit berlama-lama di airport. Waktu yang lumayan panjang itu dipakai kakak saya untuk mengambil seperangkat wifi portable di lantai tiga airport dan membeli tiket kereta sebagai persiapan petualangan hari itu. Walau internet selalu tersedia di airport dan hotel namun tidak semua tempat publik memiliki fasilitas ini. Padahal internet sangat diperlukan ketika sewaktu-waktu kami perlu ber-googling ria mencari keterangan suatu tempat atau sekedar membuka peta dan schedule JR Line (Japan Railways), subway dan Shinkansen. 

Portable wifi atau pocket wifi ini berbentuk seperti sebuah pager atau handphone jadul kecil bersama sebuah charger yang praktis untuk diselipkan ke dalam tas dan memiliki kemampuan untuk digunakan hingga lima buah devices. Sebagaimana kecepatan internet di Haneda Airport yang mantap maka kecepatan internet portable wifi ini pun sangat fantastis. Saya bahkan masih bisa ber-WA ria bersama adik saya, Wiwin, kala bom Thamrin terjadi dan berselancar ria di internet mencari berita perkembangan kejadian tersebut di tengah-tengah badai salju di Otaru. 

Interior dalam di Shinkansen

Pocket wifi ini bisa juga disewa di Jakarta, dua tour agency yang setahu saya menyediakannya adalah Jalan Tour dan HIS Tour. Kedua agency ini memang terkenal menyediakan fasilitas tour ke negara Jepang. Sayangnya ketika waktu itu saya hendak menyewanya, semua pocket wifi mereka sedang keluar dan baru kembali di pertengahan Januari. Biaya sewanya berkisar di 75 ribu rupiah per hari dengan deposit sebesar 1 juta rupiah. Untungnya di Haneda Airport kita bisa mendapatkannya, banyak website yang menawarkan jasa penyewaan namun kakak saya sebelum berangkat ke Jepang telah memesannya melalui website globaladvancecomm, jadi ketika tiba di Airport kami tinggal mengambil barangnya (denah lokasi pengambilan telah diberikan di website). Kami menggunakan spec yang biasa, standard wifi dengan kecepatan 75Mbps selama 9 hari di Jepang, namun dengan spec standard saja terbukti sangat cepat dan bertahan di bawah hajaran salju di Sapporo^_^

Proses pembayaran melalui credit card, tanpa deposit sama sekali tetapi kemungkinan kartu kredit kita akan di open hingga barang kembali ke mereka dengan selamat saat masa pakai telah berakhir. Bagaimana jika barang mengalami kerusakanKita akan dikenakan denda sebanyak 20 ribu yen. Untuk mengembalikan peralatan ini pun super mudah. Pihak penyedia jasa telah membekali kita dengan sebuah amplop berserta alamat yang tertera disana, kita cukup memasukkan portable wifi kedalamnya dan meletakkannya di kotak pos di bandara. Simple dan tanpa biaya pengiriman. 

Mochi green tea isi pasta kacang merah di Toei Studio Park di Kyoto

Berpergian dengan seorang cerdas dan penuh perencanaan seperti Wulan memang sangat menyenangkan. Semua info sudah didapatkan dan disimpan aman di dalam handphone dan tab, semua itinerary perjalanan sudah di print out rapi, dan dengan otak yang brilliant seperti komputer maka informasi apapun seakan terekam dengan mudah di kepala kakak saya tersebut. Berbeda dengan saya yang sering melakukan action tanpa perencanaan, pontang-panting ketika sudah tercebur ke dalam situasi yang tidak menguntungkan, mengandalkan insting saat bertemu kondisi yang kepepet, susah mengingat arah/jalan dan bad di geografi, maka tak heran selama 9 hari di Jepang saya hanya berperan sebagai follower dan mengekor kemanapun Wulan pergi. ^_^ 

Jaket orange ini membuat saya seperti permen raksasa ^_^ . Di Osaka Castle

Dengan tiket subway Toei dan Tokyo Metro one day pass di tangan serta aneka koper yang mengerikan, kami pun berduyun-duyun menuju ke stasiun kereta yang memiliki connecting door ke bandara. Berbicara mengenai transportasi di Jepang memang seakan tak pernah ada habisnya dan selalu berhasil membuat saya berdecak penuh kekaguman, bukan hanya karena semua tempat terlihat dan terasa nyaman namun juga terintegrasi dengan baik dengan tingkat ketepatan waktu yang luar biasa tinggi. Menurut CNN, Haneda Airport yang merupakan bandara internasional besar nomor 3 paling sibuk di dunia mampu bertengger di nomor satu sebagai bandara dengan tingkat ketepatan waktu hingga 91.25%, sementara JAL dan ANA menempati posisi lima besar masakapai penerbangan dunia dengan ketepatan waktu yang tinggi. Kereta api di Jepang sendiri menyandang titel sebagai sarana transportasi kereta api paling tepat waktu di dunia, dengan rata-rata delay untuk Tokaido Shinkansen pada laporan tahun 2012 hanya 0.6 menit. 

Senja di taman kuil Sanjusangen-do

Ketika kereta terlambat lebih dari lima menit maka pengumuman permintaan maaf lantas dikumandangkan dan running text di atas pintu keluar menampilkan alasan penyebab delay. Kami pernah mengalami delay cukup lama ketika hendak kembali ke Tokyo dari Osaka, disebutkan di running text karena kecelakaan yang berhubungan dengan manusia, namun yang mengagumkan semua penumpang di kereta yang penuh tersebut tidak ada satupun yang terlihat sewot, komplain atau heboh. Mereka duduk atau berdiri dengan manis, diam seribu bahasa, termenung, memejamkan mata, atau sekedar sibuk dengan handphone dan sebuah buku di tangan. Ketika kami tiba di Tokyo, antrian penumpang telah mengular panjang, melingkar dan semua berbaris rapi dengan raut muka yang tenang sementara kru televisi tampak mengambil gambar kejadian yang luar biasa tersebut. ^_^ 

Ellan pun sibuk browsing mencari info perjalanan ^_^

Hotel kami yaitu Shinagawa Prince Hotel terletak di Shinagawa, Tokyo. Untuk menuju ke Shinagawa Station kami menggunakan subway dan metro melalui Keikyu Line. Sempat terjadi accident ketika saya berusaha menuruni eskalator dengan dua buah koper. Sebuah koper (untungnya yang berukuran kecil) terlepas dari tangan dan menggelinding turun dengan sukses dan saya hanya bisa menjerit pasrah. Untungnya koper tersebut tidak mencederai siapapun, walau hampir saja menghantam teman kakak saya dan anaknya yang berjalan di depan. Sejak itu saya tidak berani nekat menuruni atau menaiki eskalator dengan dua buah koper di tangan. 

Pertama kali menaiki kereta di Jepang (dengan bagasi segambreng!) memang cukup membuat heboh. Kakak saya yang telah banyak membaca artikel di aneka website traveling sudah membekali saya dengan peraturan. "Orang Jepang tidak suka berbicara keras di kereta, mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku atau bermain handphone. Tidak suka juga jika stroller anak dibuka di dalam kereta karena membuat space berdiri berkurang. Tidak suka dengan koper yang rodanya hanya dua sehingga harus ditarik dibelakang dan mengganggu pejalan kaki lainnya." Saya hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, mendengarnya.

Pengunjung bersiap duduk di tepian jalan untuk melihat parade senja di Tokyo Disneyland

Walau semua peraturan tidak tertulis maupun tertulis tersebut sudah terekam di kepala, namun ketika kereta telah tiba didepan kaki maka adegan super heboh pun dimulai. Kakak saya yang fokus untuk mengurus Ellan - yang perhatiannya sering tercuri dengan aneka kejadian di depan matanya sehingga tidak mendengar instruksi dari orang dewasa disampingnya - membuat saya memikul tanggung-jawab mengurus koper yang 'berjibun' banyaknya. Berbeda dengan sikap orang Jepang yang tenang, kalem dan tertib, maka kami menyeruduk masuk ke kereta seperti serombongan banteng yang mengamuk

Pertama-tama perhatian kami adalah mencari kursi kosong, sehingga koper kami biarkan berdiri di depan pintu. Lega telah mengamankan diri saya pun tersenyum-senyum merasa diri telah aman hingga Shinagawa. Namun ketika kereta mulai berjalan dan terkadang berbelok, mata saya melotot kala melihat koper-koper yang kami parkir di depan pintu berlari-lari sendiri kesana kemari. Penumpang kereta lainnya memandang koper tersebut dengan tatapan horror, dan perlahan sambil menekan rasa malu saya pun beringsut ke pintu kereta dan menarik koper tersebut mendekati kursi tempat kami duduk.

Sandal  khas Jepang di Nakamise Street, Asakusa

Saat kondisi mulai tenang dan kondusif saya pun mulai menebarkan pandangan ke sekitar gerbong kereta, saat itulah saya baru tersadar hampir 99% penumpang mengenakan pakaian atau jaket dengan warna yang tidak jauh dari hitam, abu-abu, coklat tua, krem atau biru tua. Hanya saya dan Wulan yang mengenakan jaket dengan warna pink dan orange cerah yang kami beli di Uniqlo. Saat itu saya merasa kami seperti dua buah permen gendut raksasa yang cocok jika terdampar di tengah-tengah supporter sepak bola, bukan di tengah-tengah warna yang cocok untuk suasana berkabung ini. Belum lagi karena ketakutan dengan suhu dingin di ruang terbuka membuat saya mengenakan pakaian lebih dari tiga lapis. Suhu di dalam kereta yang hangat dan aksi heroik 'kuli barang' yang baru saya lakukan membuat keringat seukuran biji kedelai edamame mengalir di leher dan kening, membasahi punggung dan membuat saya seperti lontong yang sedang dikukus di dalam dandang dengan suhu 70'C.  Tobat! Sejak pengalaman ini saya lebih banyak mengenakan jaket biru tua kemanapun kami pergi. ^_^

Hotel kami terletak tidak terlalu jauh dari Shinagawa Station, dan betapa leganya kami ketika tiba di lobi utama Shinagawa Prince Hotel roda koper yang jebol masih bertahan disana. Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, check in baru bisa dilakukan pada pukul dua siang, sementara saat itu masih pukul setengah sebelas jadi kami pun hanya bisa menitipkan seluruh luggage dan segera berangkat ke Asakusa untuk melihat Senso-ji temple yang menjadi tujuan wisata pertama kami di Tokyo. Disana kami juga berencana untuk bersantap siang di Naritaya restaurant, sebuah resto ramen halal yang cukup terkenal dan direkomendasikan dibeberapa website traveling.  

Nah nantikan cerita pengalaman kuliner pertama tersebut dan peruntungan saya mencoba omikuji (kertas ramalan) di Senso-ji temple pada Jalan-Jalan Just Try & Taste Part 4 di Tokyo ya. ^_^

Baca juga Just Try & Taste di Jepang - Part 1: Persiapan  dan Just Try & Taste di Jepang - Part 2: Awal Perjalanan. 

Sources:
Wikipedia - Haneda Airport
Wikipedia - Rail Transport in Japan
CNN - The World's Most Punctual Airports and Airlines are ...



62 komentar:

  1. Salah satu yg suka dr Jepang adl keteraturan dan kebersihanx, kpn ya org Indonesia bs sprti itu?? Jadi nggak sabar ngikutin kisah selanjutx, apalagi ttg kulinerx, ditunggu ya mb End.. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks mb Nita, yep mereka jauuuuuh berbeda dengan masyarakat kita, hiiks :(

      Hapus
  2. hahhaa..mba endang kocak banget cerita perjalanannya. Pasti heboh ya masuk keretanya mba. Tapi gak main sikut kaya penumpang kereta di indonesia kan mba? hihiih..

    Ditunggu part 4 nya mba dan juga resep2 maknyus lainnya ;)

    -fameli

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mba Fameli, thanks sharingnya yaa, yep memang super heboh hehhehe. sempat beberapa kali nginjek kaki penumpang lain dan kena pelototan wakkakak

      Hapus
  3. keren mba... otot tangan pasti udah kebentuk dengan sempurna setelah banyak adegan angkat-angkat dan geret-geret yaaa mba... hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah, iyaaa, kalau sebulan saja disana gotong2 koper bisa langsing mendadak heheheh

      Hapus
  4. Mbak, portable wifinya sewa di haneda langsung? Kalo iya minta infonya dong mbak? Atau hanya ambil saja karena sudah order sebelum berangkat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba Ika, sudah saya update infonya ya mengenai pocket wifi ini diatas ya. Yep, kita pesan dulu di internet sebelum berangkat ya.

      Hapus
  5. Gak sabar menunggu kisah selanjutnya mbak endang ^_^

    BalasHapus
  6. Mba endang tampilkan photo mba wulan dunkz mba, hehehe. Aku terkesima dengan persiapan travelingnya beliau mba. Patut di contoh ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. ntar yaa, semoga pemilik foto gak ngamuk wakkaka, Persiapan travelling beliau sungguh membuat tercengang haduuuh. hehheheh

      Hapus
  7. Makin penasaran & antusias untuk baca kisah mba ke jepang part selanjutnya. Seru banget mbaa, jadi makin ngecess nih mau jalan2 ke sana jg hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks mba raisa, sedang ditulis, saya kelamaan vakum, moga2 gak lupa wkakakak

      Hapus
  8. Keteraturan menunggu kereta yang bikin saya selalu takjub dan bikin kangen tokyo.... Mb endang enjoy japan... Bikin pengen aja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah yaa, saya benar2 suka banget dengan Jepang, amazing!

      Hapus
  9. meni seruuuuu,...
    udah kebayang deh hebohnya saat koper ngegelinding di KA...terus jatuh di escalator....

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks mba rachma, wah itu mengerikan, untung koper kecil hiiks

      Hapus
  10. Stasiun kereta apinya aja udah keren gitu, gimana airport nya ya... Pemandangan sama suasana jalan dan kotanya keren2.. Jd tambah pengen kesana.. Moga2 Tuhan mengabulkan yaa... Aminnn.. He he he...

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin mba Joyce! pasti suatu saat bisa kesana, dan memang Jepang super keren menurut saya ^_^

      Hapus
  11. Wah, semakin seru aja nih ceritanya. Alur cerita begitu hidup sampai rasanya ikut berada di sana. Info2nya sangat bermanfaat, bisa buat bekal kalau ada kesempatan liburan di sana. Apalagi saya yg sering berhubungan dg Jepang dlm hal pekerjaan, jadi lebih pengin lagi ke sana. Harus lebih giat menabung! Kelanjutan cerita tetap dinanti.
    Sisca - Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks mba Sisca sharingnya, senang ceritanya disuka. Saya doakan bs juga pergi kesana yaa! ^_^

      Hapus
  12. sereu seru.... ditunggu mba endang cerita selanjutnya, jd berasa nungguin web toon episode selanjutnya hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, thanks mba Yuni, senang sekali ceritanya disuka. next episode sedang digarap hehhehe

      Hapus
  13. Tiap hari intip2 jtt... nunggu cerita selanjutnya. TOP deh pokoknya tulisannya mbak endang... Rima

    BalasHapus
  14. Seru banget mba endang... ikut senyam-senyum gaje bacanya hehehe...

    BalasHapus
  15. Wih Mba, kalo ke osaka takoyakinya recommemded loh, udah nyobain?
    Btw, katanya Ellan alergi gluten, kok makan roti?*kepo hihi

    Rinty

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah coba hehhe, Ellan alergi ketika masih kecil, sekarang tes alergi terakhir udah nggak ^_^

      Hapus
  16. Aduhh mbaaa .. Aku sampe nangis ketawa baca cerita kopernya mba, ditunggu cerita selanjutnya yah mba ..^_*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Mb Lala, hahhah koper itu sudah pensiun sekarang, memang sifat pelit itu gak barokah yaa wakkakka

      Hapus
  17. Mba Endaaaang.... mana kelanjutan cerita jalan-jalannya.... Kok lama nggak update lagi.... Jadi penasaran terus nih....
    Sama cerita kuliner Jepangnya ya mbaaa....
    Lily

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah iyaa, lagi belum connect buat blogging, tapi sudah mulai nyicil nulis lanjutan ceritanya., dtunggu saja yaaa . thanks yaaa

      Hapus
  18. Mba Endang.. Aku ada inbox d fan page.. Mau order bukunya... Hiks... Nyari d Gramedia kosong semua mba... Balas ya mba inbox Ku.. Trimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mba, stock saya kosong, bs langsung ke penerbit Kawan Pustaka ya, tapi tdk ada ttd saya karena bukan saya yang proses.

      contact ke : Mba Ida di 0813 1489 9585 atau di 0815 9288456

      kalau oke dan stock ada mereka akan reply. tolong bukti transfer difoto dan dikirim ke mereka juga supaya mudah melacak dananya ya mba.

      Hapus
  19. Mbaaa.... sehat-sehat aja kaaannnn? Kok lama nggak posting. Kangen nih sama cerita-cerita dari Mba Endang, tiap hari saya mampir ke sini tapi belum ada cerita dan resep yang baru...hiks...Jadi cemas dan kepikiran nih. Atau jangan-jangan lagi liburan lagi? he he...Semoga selalu sehat ya Mba, biar bisa nulis terus.

    -Rina-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Rina, alhamdulilah saya sehat mba wakkak, wah seandainya saya liburan lagi, maunyaaaa...hahhaha
      sedang belum mood dan kebetulan memang agak sibuk di kantor. Diusahakan untuk mulai ngeblog lagi dan mulai membalas komemtar masuk hehhehe

      thanks ya mba, moga mba dan keluarga juga sehat selalu!

      Hapus
  20. Hi mba Endang, aku silent reader udah 1 tahun ini dan ngikutin terus postingan mba, terutama cerita-ceritanya yang kadang lucu, informatif dan mengharukan. Sejak mba Endang posting tentang liburan ke jepang, saya ngikutin terus ceritanya sambil senyum senyum sendiri (sambil berharap semoga suatu hari mimpi ke Jepang bisa terwujud juga) ^-^ Awalnya mba Endang semangat banget bercerita, kok tiap saya intip blognya terakhir ini nggak ada postingan baru ya....Ke mana mba? Nggak sakit kan? Jangan bosen bercerita ya mba Endang... Ditunggu kisah kisah dan resep resep selanjutnya...salaaam...

    Tiara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Tiara, salam kenal dan thanks ya sudah menyukai JTT. Alhamdulilah saya sehat dan liburan sudah usai wakkaka, hanya memang moood menulis belum kembali hehhehe. tapi saya usahakan mulai minggu ini menulis lagi, saya mulai dari resep2 dulu ya, krn dah lama gak posting resep wakkaka

      tulisan jepangnya pasti akan berlanjut, jadi ditunggu saja, ini sedang disusun hehhehe. Moga2 Mba Tiara bs ke jepang juga satu hari nanti yaaa, saya doakan. Amiin.

      thanks yaa

      Hapus
  21. Mana kelanjutan cerita part IV nya Mba.... Saya tunggu2 kok ngga muncul2 :( .... Ayo dong Mba nulis lagi, udah janji lho...Pasti banyak penggemarnya yg bertanya2... Tetap semangat nulis ya Mba Endang...Big hug ^_^

    Ratna

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahhah, iya ya, berat juga janji saya. Thanks mba Ratna, ini sedang diusahakan kembali lagi ke JTT setelah beberapa waktu saya cuekin hehhehe

      Hapus
  22. Mba Endang sibuk banget yaaaa.....I miss youuuuu.....Lenny

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Lenny, sedang agak sibuk hahhaha, diusahakan untuk menulis lagi. Thanks ya mba ^_^

      Hapus
  23. Hi mba Endang, salam kenal ya mba...
    Seneng banget baca artikel nya mba Endang, di baca nya enΓ₯k, sera dan lucuuu. Jadi gak sabar nunggu part 4 nya nih mba.
    Enjoy your trip and have fun mba Endang ^-^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mba Tuty, thanks ya sudah menyukai JTT. Saya sudah kembali ke Indonesia, dan yep cerita lanjutannya sedang disusun menunggu mood datang hahhaha. thanks yaa

      Hapus
  24. mb endang...kamu di mana??? tak tunggu2 part 4 n resepny ... kok luama sekali ga nongol...semoga sehat2 aja ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakakka, iya mba, saya kelamaan nyantai nih, lagi malas nulis, tapi ini part 4 sedang diusahakan wakkakak. thanks yaa

      Hapus
  25. mba maaf OOT, request resep smoothie bowls dong mba atau makanan untuk vegan.. terima kasih GBU

    BalasHapus
    Balasan
    1. smoothie sepertinya sudah banyak sekali resepnya di JTT ya, coba cek di label smoothie atau googling saja smoothie JTT. untuk makanan vegan nah saya tidak spesifik ke resep2 vegan tetapi banyak resep JTT yang bs untuk vegan ya.

      Hapus
  26. Aduh mba endang... aq ampe ketawa2 baca cerita si koper... πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks mba Mita, kopernya udah dipensiunkan dan saya beli koper baru di jepag, tobat daaah. akibat pelit

      Hapus
  27. waaah aq baru baca kalo mba' Endang ke jepang^^hihihi ngakak baca naek kereta,tp emang spt itulah di jepang^^ pengalaman yg tak terlupakan yah mba' Endang

    BalasHapus
    Balasan
    1. yep betul sekali Mba Widya, tapi saya suka banget naik kereta di jepang wkakakak

      Hapus
  28. Hello Mba Endang...
    Seneng bgt baca pengalaman mba di Jepang. Mba ini lucu bgt deh sampe bikin saya ketawa cekikikan pas bacanya. Mmm...kalo dipikir2 mba bisa jadi pengarang novel nich ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks ya mba sudah menyukai cerita2 JTT, senang sekali ceritanya disuka ^_^

      Hapus
  29. Hallo Mb Endang....
    selain suka sama resep2nya,saya suka dgn tulisannya, saya suka senyum2 sendiri klo baca blognya, apalagi yg cerita ttg pemberian nama Mba itu hehehehe..sukses trs ya mba..dg resep2 dan cerita2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks mba Rachma sharingnya, senang cerita JTT disuka yaa.Sukses selalu!

      Hapus
  30. Gara-gara nyari resep takoyaki saya ga sengaja nemu tulisan mb endang yg jalan2 ke jepang ini. Lanjutan part 4 ditunggu ya mba.. tak cariin kayaknya kok belum ada.
    Seneng banget baca tulisan mb endang ni. Selalu ada kelucuan dibalik kesusahan. Terus semangat nulis ya mba.
    Ditunggu juga resep takoyaki hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mba Vera, thanks yaa. yep resep takoyaki belum ada hehehe. Saya belum sempat menulis cerita lanjutannya dan banyak kejadian yang sudah lupa wakakka

      Hapus

PEDOMAN BERKOMENTAR DI JTT:

Halo, terima kasih telah berkunjung di Just Try and Taste. Saya sangat menghargai feedback yang anda berikan, terutama mengenai eksperimen dalam mencoba resep-resep yang saya tampilkan.

Komentar yang anda tuliskan tidak secara otomatis ditampilkan karena harus menunggu persetujuan saya. Jadi jika komentar anda belum muncul tidak perlu menulis komentar baru yang sama sehingga akhirnya double/triple masuknya ke blog.

Saya akan menghapus komentar yang mengandung iklan, promosi jasa dan penjualan produk serta link hidup ke blog anda atau blog/website lain yang anda rekomendasikan yang menurut saya tidak relevan dengan isi artikel. Saya juga akan menghapus komentar yang menggunakan ID promosi.

Untuk menghindari komentar/pertanyaan yang sama atau hal yang sebenarnya sudah tercantum di artikel maka dimohon agar membaca artikel dengan seksama, tuntas dan secara keseluruhan, bukan hanya sepotong berisi resep dan bahan saja. Ada banyak info dan tips yang saya bagikan di paragraph pembuka dan jawaban di komentar-komentar sebelumnya.

Satu hal lagi, berikan tanda tanya cukup 1 (satu) saja diakhir pertanyaan, tidak perlu hingga dua atau puluhan tanda tanya, saya cukup mengerti dengan pertanyaan yang diajukan.

Untuk mendapatkan update rutin setiap kali saya memposting artikel baru anda bisa mendaftarkan email anda di Dapatkan Update Via Email. Atau kunjungi Facebook fan page Just Try and Taste; Twitter @justtryandtaste dan Instagram @justtryandtaste.

Semoga anda menikmati berselancar resep di Just Try & Taste. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...