21 April 2015

Giant Choco Crunch Cookies - Cookies Favorit Rafif dan Fatih



Kedua krucil keponakan saya, Rafif dan Fatih, jika weekend tiba tidak akan terlihat batang hidungnya. Sejak pagi mereka asyik mendekam di kamar bersama iPad masing-masing, tak bergeming atau menoleh sedikitpun ketika dipanggil. Sabtu dan Minggu merupakan hari bebas dimana Ayah dan Ibu memperbolehkan mereka main game sepuas-puasnya dan tidur hingga pukul 10 malam. Setelah lima hari sibuk dengan kegiatan sekolah, dimana aktifitas dimulai sejak pukul lima pagi, ditambah aneka les mulai dari Kumon hingga musik, dan segambreng kegiatan di sekolah plus macet di jalan, maka terkadang mereka baru tiba di rumah diatas pukul tujuh malam. 

Terus terang saya sering merasa kasihan melihat betapa beratnya perjuangan mereka menjadi anak sekolah di Jakarta. Di tengah persaingan yang sangat ketat antar siswa,  ditambah macet berjam-jam di jalanan, tak heran ketika weekend maka Rafif dan Fatih lebih suka berdiam diri di rumah. Seakan-akan detik demi detik yang berlalu di hari libur begitu  berharga dan enggan mereka tukar dengan kegiatan apapun di luar. 


20 April 2015

Spaghetti alla Marinara dengan Seafood



Over the years, I've learned that a confident person doesn't concentrate or focus on their weaknesses - they maximize their strengths.

~Joyce Meyer

Jika berbicara mengenai urusan dapur, maka mungkin ada dua tipe karakter orang yaitu cooks alias tukang masak dan bakers alias tukang roti/kue. Bagi si tukang masak, maka resep yang disertakan hanyalah sebatas saran saja, fleksible dalam setiap bahan yang digunakan dan proporsinya. Lain halnya dengan bakers (tukang roti/kue), bagi mereka resep seperti kitab yang harus diikuti dengan khusyuk, tepat dan detail dalam setiap ukuran dan teknik yang digunakan. 

Saya sendiri mengakui saya adalah tipe yang pertama yaitu tukang masak. Saya senang berkreasi dengan bumbu, aneka rempah dan bahan yang digunakan. Menambah itu dan itu, mengurangi ini dan itu, dan mengganti ini dengan itu, tidak harus selalu pakem mengikuti resep aslinya, tetapi lebih banyak tergantung pada ketersediaan bahan yang ada. Selain itu tentu saja memasak merupakan kegiatan yang jauh lebih santai dan tidak 'ribet' seperti membuat kue atau cake yang memerlukan timbangan, ayakan, kocokan, oven, kesabaran, ketelatenan dan tentu saja ratusan teknik yang terkadang membuat kepala pusing sebelum memulainya. ^_^



17 April 2015

Pepes Ikan Nila dalam Satu Pot



Bagi si hobi masak seperti saya, bukan berarti hari-hari akan dilalui dengan selalu memasak makanan yang sophisticated. Memasak bagi saya bukan suatu kewajiban, melainkan karena saya sangat menyukai prosesnya, menikmati hasilnya dan mencicipinya di akhir sesi. Namun ada waktu-waktu tertentu ketika mood sedang begitu so bad, sehingga memikirkan hendak menghabiskan waktu di dapur selama 1 atau dua jam mampu membuat semangat saya terbang. Jika sudah seperti ini maka masakan super simple pasti akan terlintas di kepala, seperti err.... sambal tempe yang tak pernah membuat saya kehilangan selera makan. Atau tumis sambal ikan a la Ibu yang saya gemari tetapi sangat jarang saya eksekusi karena berbahaya bagi lingkar pinggang yang semakin melar. 

Saya suka masakan simple yang mudah dibuat dan rasanya pun sedap. Siapa yang tidak?! Hmm, bagaimana jika saya suka masakan ikan yang hanya dicemplungkan ke dalam satu pot saja dan direbus hingga matang? "Memang enak ya"? Anda mungkin mengajukan pertanyaan itu. Sebenarnya ada banyak sekali jenis masakan yang bisa dimasak dalam satu panci seperti ini namun jika berbicara tentang pepes maka umumnya si lezat ini dibungkus secara individu dengan menggunakan daun pisang dan dikukus. Nah, jika anda ingin pepes versi praktis dalam satu pot saja, super mudah dan rasanya pun tak kalah sedap dengan rekan original-nya maka resep pepes ikan nila kali ini bisa menjadi referensi di rumah untuk dicoba. Yuk!



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...