14 May 2013

Kue Tepung Beras Isi Gula Merah


Beberapa waktu lalu rekan sekantor saya Dewi membawa sekotak besar berisi kue yang terbuat dari tepung beras, warnanya putih dan bentuknya seperti kepalan tangan. Tampilannya memang terlihat unik dan aneh tapi ternyata rasanya sangat lezat, mirip-mirip seperti kue putu bambu yang banyak dijual oleh abang-abang di gerobak di tepi jalan. Bedanya kue ini tidak berisi gula merah di bagian tengahnya. Menurut Dewi namanya kue pohul-pohul dan merupakan salah satu kue tradisional suku Batak. 


Anyway, resep dari Dewi terdengar simple dan mudah, tipsnya hanyalah gunakan tepung beras yang masih fresh yang baru saja digiling dan dibuat dari beras dengan kualitas yang baik. Tepung beras yang seperti ini akan menghasilkan kue yang empuk, lembut dan harum. Takarannya? "Pokoknya kelapanya makin banyak makin enak, takarannya nggak tahu, Ibu yang buat." Oke, apa sih susahnya membuat kue ini, pikir saya. Semua bahan cukup dicampur dan diaduk jadi satu, supaya tampilannya lebih keren saya pun mencetaknya menggunakan cetakan berlubang untuk bolu kukus. Nah karena malas menggiling tepung di pasar maka saya pun membuat tepung beras sendiri dengan menggiling beras yang telah direndam dan diangin-anginkan hingga kering di coffee grinder. Hasilnya? Tidak selezat kue buatan Dewi tapi cukup mantap untuk nyamikan di sore hari.... ^_^


Jika anda ingin membuat camilan yang lezat, mengenyangkan dan sehat karena minim lemak dan bebas gluten maka kue tepung beras ini bisa anda coba di rumah. Terus terang saya tidak berani menyebutkan kue yang saya buat dengan sebutan pohul-pohul, karena pohul dalam bahasa Batak berarti kepal (pohul-pohul: kepal-kepal) sementara kue yang saya buat sama sekali tidak melibatkan proses mengepal di dalamnya. Seperti yang saya sebutkan di atas maka bahan dan proses pembuatan kue ini sangat sederhana. Kelapa muda yang dikerok kulit arinya diparut memanjang dan diaduk bersama dengan tepung beras, jika ingin manis anda bisa menambahkan gula pasir di adonan atau gula merah di bagian tengah kue. Adonan lantas dimasukkan ke dalam cetakan atau paling mudah adalah dikepal padat dan dikukus hingga matang. Selain dikepal atau dicetak kue juga bisa dibungkus dengan menggunakan daun pisang dan dibentuk segitiga, tampilannya jadi mirip dengan iwel-iwel di Jawa, bedanya iwel-iwel menggunakan tepung ketan sebagai bahannya bukan tepung beras.


Tepung beras yang masih fresh memiliki peran yang sangat penting disini, sebaiknya anda tidak menggunakan tepung beras kemasan siap pakai yang banyak di jual di supermarket. Tepung beras siap pakai selain kurang lembab juga tidak berbau harum beras selayaknya tepung yang baru digiling, jika anda paksakan untuk digunakan maka kue yang anda hasilkan akan kering, keras dan tidak pulen. Untuk membuat tepung beras sendiri sangat mudah, pilih beras dengan kualitas yang baik dan pulen, rendam selama semalam dan tiriskan. Jika di sekitar tempat tinggal anda ada pasar tradisional yang menyediakan penggilingan beras, maka cara paling mudah adalah menggilingkannya di sana, atau jika anda malas seperti saya maka angin-anginkan beras hingga kering dan haluskan di coffee grinder atau bisa juga menggunakan blender yang biasa dipakai untuk menghaluskan biji-bijian. Tepung lantas diayak untuk menghasilkan butiran yang halus. 


Untuk memberikan aroma kue yang lebih harum bisa menambahkan vanili bubuk di dalam adonan kue walau daun pandan yang diletakkan di dasar mangkuk cukup membuat kue menjadi sedap rasanya. Tertarik untuk mencobanya? Berikut resepnya ya. 


Kue Tepung Beras Isi Gula Merah
Resep diadaptasikan dari Dewi Aspiranza

Untuk sekitar 12 kue menggunakan cetakan bolu kukus

Bahan:
- 250 gram tepung beras, gunakan yang masih fresh atau baru saja digiling
- 250 gram kelapa muda, buang kulit arinya dan parut memanjang
- 1 sendok teh gula pasir
- 1/4 sendok teh garam
- 1/4 sendok teh vanili bubuk
- 1 lembar daun pandan
- gula aren/gula Jawa sisir secukupnya untuk isian

Cara membuat:


Siapkan cetakan kue mangkuk atau bolu kukus, olesi permukaan cetakan dengan minyak, sisihkan.  

Siapkan mangkuk besar, masukkan tepung beras, kelapa parut, gula, garam dan vanili bubuk, aduk-aduk dengan jemari tangan hingga tercampur dengan baik. Sisihkan.


Letakkan selembar daun pandan di dasar mangkuk, tuangkan adonan tepung hingga mencapai tinggi setengah mangkuk cetakan, tekan-tekan adonan agar agak memadat. Letakkan irisan gula merah di tengahnya. Tutup gula merah dengan adonan hingga mencapai permukaan mangkuk, tekan adonan hingga agak padat. 

Note: adonan jangan ditekan terlalu padat dan jangan juga tidak dipadatkan sama sekali. Adonan yang terlalu padat akan membuat kue keras, tapi jika kurang padat maka kue akan hancur saat cetakan di balikkan.


Kukus kue di dandang kukusan selama 20 menit. Keluarkan dari kukusan dan balikkan kue di piring untuk melepaskan cetekannya. Sajikan hangat saat gula merah masih meleleh. Yummy!

Atau... anda bisa membuat pohul-pohul yang sebenarnya, bahan yang sudah tercampur menjadi satu dikepalkan dengan jemari tangan. Jangan lupa isi bagian tengahnya dengan gula aren agar lebih sedap. Kukus selama 20 menit hingga kue matang. Mantap! ^_^
    
      

31 comments:

  1. mb endang mw nanya kalau tepung berasnya pke tepunh beras yg djual dpasaran bs ato ga y mb,apakah mempengaruhi hasilnya....?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai Mba, bisa sih tapi rasanya gak begitu oke. Hasilnya nggak pulen dan keras, beda banget kalau pakai tepung beras yang baru giling sendiri dari beras yang bagus ya.

      Delete
  2. mba Endang, ta kira ini masakan apaan, ternyata pohul-pohul. kalo di keluargaku kami sebut kue pancasila, krn dicetak dengan tangan. buat saya lebih enak kalo dimakan mentah, dikepal2 trus langsung dimakan, lebih terasa... jadi pengennnn...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakkak, iya, mau kasih nama pohul2 kok keknya gak tega secara gak di kepal Mba, nama pancasila keknya keren tuh wakkakak.

      Delete
  3. pagi mbak....ini kok kayak kue putu...ya klo djawa biasanya djual barengan sma klepon tp kayaknya gak pakek kelapa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huwaa, iya memang mirip kue putu ya, tapi kalau putu kan gak pakai kelapa didalam adonannya. Ini kue pohul2 namanya, dari Batak hehehhe.

      Delete
  4. siang mba.. ^_^

    lucu yh nama kuenya pohul", kalau di kampung saya ch itu kue namanya dodongkal mba, beda daerah beda pula yh namanya.. hihihi
    ini th kue favorit saya, thx yah mba wt resepnya saya pasti bakal coba bikin.

    salam sifa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah banyak namanya ya kue ini wakkakak, ada Pancasila, dodongkal, pohul, ombus-ombus, keren. Makasih ya Mba Sifa atas sharingnya ehhehe

      Delete
  5. Hai mbak endang, apa kabar? Saya orang sumatera utara, pohul-pohul ini ada juga yang menyebutnya "ombus-ombus" (hembus-hembus) karena umumnya disantap saat masih panas :)
    Bedanya lagi, ombus-ombus dibungkus dgn daun pisang dan dibentuk kerucut. Ada dua variasi ombus-ombus, yg menggunakan isian gula merah seperti pohul-pohul ini dan yg original (hanya tepung beras, kelapa parut, gula pasir dan sedikit garam). Nah yg kedua ini favorit saya karena rasanya lebih gurih. Sayangnya saat ini ombus-ombus mulai langka karena proses pembuatannya agak ribet (dulu tepung beras dihasilkan dr proses manual dgn menumbuk beras menggunakan alu dan harus bolak balik diayak) sedangkan penggunaan tepung beras kemasan memberikan hasil yg berbeda. Aah.. Saya jadi rindu ombus-ombus nih mbak.. Cari dimana ya.. Hehe.. #curhatcolongan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mba Ayu, wah saya baru tahu namannya ombus-ombus, kemarin teman saya Dewi juga bikin yang itu, ueeenakkk banget ya wakakkak. Pulen banget kek roti kukus. Keknya kudu bikin sendiri Mba, nggiling beras di pasar, teman2 kantor saya yang orang Batak juga bilang susah carinya, kudu bikin sendiri heheheh

      Delete
  6. di kota saya, namanya kue putu bumbung krn dicetak dalam bumbung (bambu) & isinya jg gula merah, kue/tepung berasnya sedikit asin gurih & belum dicampur kelapa, waktu disajikan barulah ditaburi kelapa parut (banyak2) dan gula pasir (sedikit)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mba, yep mirip hehhehe. Pengen juga bikin yang putu bumbung, udah ngiler2 hehehhe. Thanks infonya ya. ^_^

      Delete
  7. Wawww...

    Mba Endang..sy tadi pagi baru mencoba resep ini.sy pgemar kue2 tradisional esp yg tanpa santan..
    Dan hasilnyaaa..Taraaaaaa..uenakkkk tenan..walaupun sy harus sambil menjaga bayiku umur 5bulan..hahhaa..tapi semangattt sampe kelar dan puass..temen2 ofc juga pada ketagihan..."Bikin lagi dung" wkwkwkwk..

    resep_tips_pic..so very berguna for kami pemula..:D

    Thank you mami endang..#mami lebih cucok..#hug#

    Semalam sy baru beli mixer utk coba resep red velvet mba endang..
    Ahhahaa..suami sampe kaget tiba2 pengen mixer..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mba, yep kue ini mudah dan enak banget, apalagi kalau pakai tepung beras yang fresh. Teman saya dewi suka bawa ke kantor yang versi pohul2, bentuknya cuman dikepal2 pakai tangan. Pulen, legit dan empuk seperti roti, haduuuh jadi ngeces pagi2 gini hiiks

      Makasih sharingnya ya Mba! ^_^

      Delete
  8. Ini mahhhhhhh... di Bandung udah terkenal dari dulu, namanya "AWUG"...cuma bisanya di bungkus daun pisang, bentuknya gede2 kaya tumpeng.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, saya jadi ingat, di kampung saya ada juga kue namanya Awug dan setelah saya ingat2 persis sama dengan makanan ini ya wakakkaka. Thanks infonya

      Delete
  9. Di Betawi disebutnya Kue Dongkal, di kampung saya dulu ada yg jual setiap pagi. Jadi salah satu jajanan sarapan favorit saya. Tapi pas si emak yg jualan itu meninggal, nggak ada lagi yg dongkalnya seenak buatan dia. Kue ini jadi nyaris punah di kampung saya. Tapi sejak beberapa tahun lalu ada sekumpulan anak muda yg kreatif jualan kue ini tiap sore menjelang malam. Laris manis, antrinya sampai panjang, mungkin karena orang2 sudah kangen sama makanan enak ini.

    BTW, liat siaran Asia Food Channel, di Malaysia ternyata ada juga makanan ini, di sana disebutnya Putu Piring karena cetakannya serupa piring2 kecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mba Lina, yep teman saya yang Betwai kemarin baru saja kasih tahu, ini namanya dongkal hehehhe. Enaknya kalau pagi tepung beras yang baru giling ya, empuuuk banget hasilnya.

      Yep, saya pernah lihat di internet mengenai putu piring, waduh sampai ngiler2 keknya enak bangetttt. thanks sharingnya ya ^_^

      Delete
  10. hy mbak endang saia org dari daerah batak, besar di daerah batak dan sekolah jurusan tataboga mengharuskan saya mengetahui berbagai masakan tradisional.termasuk pohul-pohul,pada acara adat tertentu pohul-pohul tidak di kukus alias di makan mentah,tepung beras di campur dengan kelapa parut dan gula merah lalu di kepal alias di pohul(bahasa batak) rasanya jika di makan mentah jauk lebih enak,tetapi dengan syarat kelapanya harus banyak mbak,biasanya sih kalao d daerah sumatera pohul-pohul yg mentah di sebut dengan nama "ITAK ATAU NITAK"

    SALAM KULINER :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloow Mba Juni, waak makasih atas sharing dan tipsnya, pengetahuan saya akan makanan Batak sangat minim banget wakakka. Resep ini saya dapatkan dari teman Batak saya dan memang mereka bilang ada yang namanya kue Itak, gak pakai dimasak ya, katanya enak, saya belum pernah coba wakakkak. Jadi ngeces.com. Salam kuliner juga ya Mba! Sukses selalu ^_^

      Delete
    2. oh kl itu kami org aceh jg demikian beras digiling trs di ayah ... taruk kelapa parut sedikit gula trs di kepal2 pakek tangan trs dimkn ... srg kl mau puasa ata lebaran mkan seerti itu soalnya di tumbuh pakek jingki bhs aceh indo nya gk ngerti apa ....

      Delete
    3. Hai Mba Murni, wah ternyata makanan ini juga disajikan di Aceh ya, thanks sharing dan infonya. ^_^

      Delete
  11. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  12. hai, mbak, mkash bgt resepnya. ni saya dari Klaten Jateng, saya baru membayangkan aroma dan rasa dr bahan2 tsb sudah yakin pasti enak dan gurih. dan scepatnya akn saya coba di rumah. dan bahkan akan saya jadikan refrensi buat ujian akhir sekolah pada siswa2 saya. up date terus resepnya yaa mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mas Nur, terima kasih sharingnya ya, moga suka dengan resep kuenya setelah dicoba, tips saya pakai tepung beras yang baru saja digiling ya, dan kelapa muda yang fresh, hasilnya pasti mantap!

      Delete
  13. Kalau dikampung saya (solok, sumatera barat) ada jg yg mirip kue ini, namanya MUTU, cm dibuat dr perpaduan tepung beras dan tepung ketan dgn perbandingan sama. ditambahkan kelapa parut, Isinya bukan gula aren, tp kelapa yg dimasak bersama gula aren dan daun pandan (unti). rasanya benar2 yummy..... (nelfa)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai mba nelfa, thanks sharingnya ya, wah kayanya kue mutu lezat banget, saya suka kalau pakai ketan heheheh

      Delete
  14. mbak, apa bisa tepung berasnya diganti dengan sagu mutiara? ada 1 jenis kue favoritku waktu di medan. bentuknya gak jauh beda dengan kue ini mbak. tp dia pakai sagu mutiara, trus pake kelapa n didalamnya juga diisi dengan gula merah. nah sekarang aku netap di pontianak. disini gak pernah nemu kue itu. kepengan makan, tapi pas pulang ke medan gak nemu. jadi pengen nyoba buat sendiri. browsing nyari resepnya gak nemu, karena namanya juga aku gak tau mbak. hahhaha.... pas liat resep ini kok rada mirip yah... langsung otak berputar. apa mungkin caranya sama? bisa kasi aku saran gak mbak? thanks alot yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mba Santi, menurut teman2 saya yang asli Medan, makanan ini namanya sebenarnya pohul2, dan dibuat dengan cara dikepalkan dengan tangan. Saya belum tahu kalau menggunakan sagu mutiara ya dan belum ada gambaran seperti apa kuenya hehehhe

      Delete
  15. Mba,bagaimana membuat rasa ketan menjadi gurih?Ada yang bilang diberi garam,mohon pencerahan.Termasuk bagaimana membuat bumbu kelapa tidak asam dan apakah perlu dikukus?Terimakasih sebelumnya.

    ReplyDelete

Heloooo! Terima kasih telah berkunjung di Just Try & Taste dan meluangkan waktu anda untuk menulis sepatah dua patah kata. Walau terkadang saya tidak selalu bisa membalas setiap komentar yang datang, namun saya senang sekali bisa menerima dan membacanya.

Saya sangat menghargai feedback yang anda berikan, terutama mengenai eksperimen anda dalam mencoba resep-resep yang saya tampilan. Semua komentar baik di posting lama maupun baru sangat saya nantikan. ^_^

Komentar yang anda tuliskan tidak secara otomatis ditampilkan di artikel karena saya menggunakan setting moderasi, namun jangan khawatir, begitu saya kembali ke laptop maka hal utama yang saya lakukan adalah mengecek dan mempublish komentar anda.

Saya akan menghapus komentar yang mengandung iklan, promosi jasa dan penjualan produk serta link hidup ke blog anda atau blog/website lain yang anda rekomendasikan. Jika anda ingin mendapatkan back link maka anda harus menggunakan OpenId atau Name + Url.

Untuk mendapatkan update rutin setiap kali saya memposting artikel baru anda bisa mendaftarkan email anda di Dapatkan Update Via Email. Atau kunjungi Facebook fan page Just Try & Taste. Untuk mengajukan pertanyaan dan komentar, anda juga bisa langsung email ke saya di endangindriani@justtryandtaste.com

Saya tunggu komentar, feedback, email dan sharing anda ya. Semoga anda menikmati berselancar resep di Just Try & Taste. ^_^

Let's we try and taste! ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...