05 Februari 2015

Yuk Kita Buat Tape Ketan!



Tape ketan, baik yang putih atau hitam saya suka! Begitu sukanya, setiap kali melihatnya 'nangkring' di salah satu peti pendingin di supemarket maka ingin rasanya satu cup saya masukkan ke dalam keranjang belanja. Sayangnya tape ketan di supermarket harganya lumayan mahal, jadi hanya sesekali saja saya bisa memuaskan diri untuk mengudap makanan tradisional yang tidak ada matinya ini. 

Sebenarnya sudah lama saya ingin membuatnya sendiri, bahan penyusunnya toh hanya beras ketan dan ragi. Beberapa kali saya bahkan membeli ragi tape di pasar namun benda tersebut kemudian hanya 'ngendon' di kulkas selama berbulan-bulan lamanya dan akhirnya terpaksa saya buang. Terus terang yang membuat saya ragu untuk mencobanya adalah seumur-umur saya belum pernah melihat proses pembuatannya secara langsung. Sepertinya budaya nekat juga tidak bisa diterapkan kala membuat makanan bernama tape. Khawatirnya bukan tape yang dihasilkan melainkan seonggok bubur basi yang tidak jelas rasanya. ^_^

Beras ketan hitam
Ragi tape

Tapi minggu lalu kala sedang bersama Heni membeli beras di Pasar Blok A, saya pun melihat bungkusan plastik berisi bulatan benda berwarna putih. "Ragi tape ya Bu"? Tanya saya ke si Ibu penjual yang langsung mengiyakan. Kebetulan beberapa waktu yang lalu Heni memberitahukan bahwa dia biasa membuat tape ketan sendiri di kampung. "Wah Hen, kita bisa bikin tape sendiri nih," kata saya ke Heni  sambil menunjuk beras ketan hitam dan putih yang juga dijual di toko tersebut. "Iya, ini raginya sama persis seperti yang Heni pakai di kampung," penjelasan Heni membuat satu kilogram beras ketan hitam dan satu kilogram beras ketan putih pun masuk ke dalam daftar belanja. "Mbak sudah tahu kan ya bagaimana cara membuat dan pantangannya? Kalau wanita sedang datang bulan, nggak boleh buat lho. Nanti tapenya nggak jadi," tukas asisten si ibu penjual sambil menimbang beras ketan yang saya beli. "Wah kalau saya sih nggak tahu caranya Pak, tapi tenang saja Heni sudah pengalaman kok di urusan pertapean," jawab saya pe-de sambil menepuk bahu Heni yang berdiri di sebelah saya. ^_^


Di hari Sabtu pagi kami pun berkutat di dapur membuat tape. Kali ini tugas saya hanya memperhatikan proses pembuatan dan mengambil fotonya. Nah sebelum proses dimulai maka Heni pun menjelaskan pantangan dalam membuat tape yang menurutnya jika dilanggar maka tape akan gagal. Pantangan tersebut mulai dari dilarang berbicara selama proses pembuatan, dilarang menyentuh ketan yang sudah dikukus langsung dengan tangan, wanita yang sedang datang bulan dilarang ikut terlibat dalam proses pembuatan, hingga harus mandi dulu hingga bersih sebelum proses dimulai. Beberapa pantangan menurut saya masih bisa diterima dengan akal sehat, sementara lainnya saya anggap hanya sebagai mitos belaka. ^_^

Proses pembuatan tape merupakan proses fermentasi makanan yang merubah karbohidrat (dalam hal ini ketan) menjadi alkohol, karbondioksida dan asam organik dengan menggunakan ragi/yeast, bakteri atau kombinasi keduanya dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Karena menggunakan mikroorganisme di dalam prosesnya maka semua perabotan yang dipergunakan harus bersih tujuannya agar kultur bakteri yang kita gunakan untuk membuat tape bisa bekerja dengan baik dan tidak terkontaminasi oleh jenis bakteri atau jamur lain yang tidak diinginkan. Nah tangan serta tubuh kita sendiri mengandung banyak jenis mikroorganisme yang besar kemungkinan akan merusak proses fermentasi. Karena alasan tersebut maka masuk akal rasanya jika kemudian muncul larangan untuk menyentuh ketan yang telah dikukus steril langsung dengan jemari telanjang, serta kewajiban untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu. Walau tentu saja tidak harus dilakukan hingga kita harus mandi, tetapi cukup dengan mencuci tangan dan mengenakan pakaian yang bersih. 


Untuk larangan berbicara selama proses pembuatan - walau larangan ini menurut saya termasuk mitos karena selama proses banyak sekali pertanyaan yang saya ajukan ke Heni dan hasil tape yang kami buat baik-baik saja - alasan ini mungkin ada maksud tersembunyi di baliknya, yaitu untuk mencegah bahan terkontaminasi dengan air liur si pembuat. Air liur kita mengandung banyak sekali mikroorganisme yang tentunya tidak berhubungan dengan proses pembuatan tape. Menahan diri untuk berbicara saat bahan di aduk bersama dengan ragi akan mencegah kontaminasi bakteri atau mikroorganisme dari air liur kita. Paling aman selalu gunakan masker kala kita mengaduk ragi dengan ketan yang telah dikukus. Sedangkan larangan membuat tape bagi wanita yang sedang datang bulan, menurut saya hanya mitos belaka, walau saya sendiri belum membuktikannya sendiri. ^_^


Okeh sekarang kita menuju ke proses pembuatannya. Untuk membuat tape ketan maka anda membutuhkan bahan utama yaitu ketan hitam atau ketan putih dan ragi tape. Gunakan ketan yang memiliki kualitas yang baik terutama ketan hitam, karena terkadang juga ditemukan jenis ketan hitam yang kulit arinya belum tergosok dengan baik dan berwarna lebih gelap di jual di pasaran. Ketan hitam seperti ini biasanya memiliki rasa yang kurang pulen, kasar dan banyak mengandung kotoran. Paling aman belilah beras ketan di penjual khusus di pasar tradisional yang memang menjual beras ketan hitam dan putih untuk tape, penjual ini biasanya juga menjual raginya sekalian. 

Untuk ragi, anda memerlukan ragi khusus untuk tape. Ragi ini berbeda dengan ragi roti yang berbentuk butiran kecil. Jika ragi roti berasal dari spesies Saccharomyces cerevisiae, maka ragi tape merupakan campuran dari jamur spesies Aspergillus oryzae, Rhizopus oryzae, Amylomyces rouxii atau spesies Mucor, dan termasuk juga Saccharomyces cerevisiae, dan Saccharomycopsis fibuliger, Endomycopsis burtonii dan masih banyak lainnya,  serta juga bakteri. Ragi tape merupakan kultur biang yang diperoleh dengan menangkap mikroorganisme tersebut secara liar di udara terbuka, mencampurnya dengan tepung beras,  gula/air kelapa dan air dan membuatnya menjadi adonan. Adonan kemudian dibentuk bulat pipih dengan lebar sekitar 2 - 3 cm dengan tinggi 1 cm, dan dibiakkan (inkubasi) di rak-rak beralas daun pisang selama dua atau tiga hari. Setelah kering, ragi lantas disimpan untuk proses berikutnya. Jika kualitas ragi yang anda gunakan sangat bagus maka untuk dua kilogram beras ketan anda hanya memerlukan sekitar setengah bulatan ragi atau sekitar 8 gram. Terlalu banyak ragi akan membuat tape menjadi mudah hancur dan banyak mengeluarkan air.


Tape ketan hitam atau ketan putih memiliki proses pembuatan yang sama. Sebelum dimulai anda harus menyiapkan selembar kain tipis yang akan digunakan untuk mengukus ketan. Kain ini berfungsi untuk mencegah ketan menempel pada kukusan dan mempermudah proses untuk menuangkannya ke dalam baskom ketika ketan telah matang terkukus. Saya sendiri menggunakan kain tile yang kebetulan banyak saya miliki di kotak menjahit. Gunakan kain yang cukup lebar sehingga ketan bisa tertampung semua dan masih tersisa bagian kain sebagai pegangan. Selain kain tipis, anda juga harus mempersiapkan wadah tertutup rapat untuk menampung ketan yang sudah diinokulasi dengan ragi. Pastikan semua wadah dan peralatan yang anda gunakan sudah dicuci hingga bersih.

Nah kalau semua sudah dipersiapkan dengan baik dan proses pembuatan juga diikuti dengan seksama maka niscaya dalam tiga hari tape ketan yang harum, manis dan super lezat siap untuk dipanen. Tape ketan hitam terus terang menjadi favorit saya karena teksturnya yang tidak terlalu lembek dibandingkan versi putihnya, namun secara keseluruhan keduanya mantap. 

Berikut resep dan prosesnya ya. 


Homemade Tape Ketan
Resep diadaptasikan dari Heni

Untuk 1 kg ketan putih/hitam

Tertarik dengan resep homemade lainnya? Silahkan klik disini:
Homemade Acar Sawi (Sawi Asin)
Homemade Kimchi
Homemade Selai Kacang 

Bahan tape ketan hitam atau putih:
- 1 kilogram ketan hitam/putih
- 8 gram ragi tape, sekitar 1/2 bulatan ragi tape
- 200 - 300 ml air panas bekas mengukus ketan

Cara membuat:
Persiapkan wadah untuk membuat tape, cuci bersih semua wadah dan kain yang akan anda gunakan. 


Siapkan beras ketan, anda bisa menggunakan beras ketan putih atau hitam, seperti gambar diatas. Pastikan beras ketan memiliki kualitas yang baik, terutama ketan hitam. Cuci ketan hingga benar-benar bersih, sambil digosok dengan jemari tangan. Cuci berkali-kali hingga air cucian ketan menjadi bening, tiriskan.

Proses ini untuk memastikan supaya ragi bisa maksimal bekerja tanpa ada hambatan dari mikroorganisme lainnya. 


Jika anda hendak membuat kedua jenis tape ketan, maka mulailah dengan ketan putih agar semua perabotan dan kain yang anda gunakan tidak berwarna hitam. 

Letakkan selembar kain tipis di wadah saringan kawat atau plastik. Saya menggunakan kain tile. Tuangkan ketan ke kain hingga air cucian tiris, kemudian masukkan ke dandang kukusan dan kukus selama 15 menit hingga ketan menjadi setengah matang. Cirinya sentuh dengan ujung jari, kala ketan mulai terasa empuk dan padat, tidak terlalu buyar dan tampak mulai berubah warna menjadi transparan maka ketan sudah setengah matang.

Tuangkan ketan ke dalam baskom atau wadah yang besar lainnya, aduk-aduk hingga buyar. Kemudian tambahkan air panas bekas kukusan ketan sekitar 200 - 300 ml. Ketan hitam yang lebih keras memerlukan air lebih banyak tetapi jangan menggunakan banyak air. Air berfungsi untuk membasahi ketan sehingga matang ketika dikukus. 

Note: Gunakan air mendidih bekas mengukus ketan dan bukan air lainnya, karena air ini sudah direbus dan steril.


Aduk ketan bersama air hingga rata dan air terserap.  Letakkan kain tile kembali ke saringan kawat. Keluarkan ketan dari kukusan, tuangkan ke kain tile. Ikat ujungnya. Cek kukusan apakah airnya masih ada, jika kurang tambahkan air kukusan. Masukkan kembali ketan yang terbungkus kain ke kukusan.  Kukus hingga matang. Ketan putih sekitar 3o menit sedangkan ketan hitam memerlukan waktu lebih lama dalam mengukus. Karena itu cek dan cicipi ketan dengan mengambil sedikit menggunakan sendok, untuk memastikan matangnya. 

Note: Pada tahap ini, ketika ketan telah matang dikukus maka dilarang untuk menyentuh ketan menggunakan jemari tangan telanjang. Gunakan sendok nasi atau spatula bersih untuk menyentuhnya. Kontaminasi bakteri atau mikroorganisme dari tangan akan membuat fermentasi menjadi gagal. 


Tuangkan ketan yang telah matang ke tampah atau wadah lebar lainnya, dengan menggunakan sendok nasi atau spatula sebarkan ketan sehingga tidak menggunung dan menggumpal serta mempercepat ketan menjadi dingin. Biarkan ketan hingga benar-benar dingin. 

Sambil menunggu ketan dingin kita siapkan raginya. Ambil ragi sesuai takarannya, hancurnya dengan punggung sendok hingga menjadi bubuk seperti tepung. 

Jika ketan telah benar-benar dingin, taburkan setengah ragi di permukaan ketan. 

Note. Ketan kukus yang masih panas/hangat akan membuat ragi mati.


Aduk hingga rata dan taburkan sisa ragi lainnya, ratakan. Masukkan ketan yang telah diberi ragi ke dalam wadah yang telah disiapkan. Tutup rapat.


Masukkan ketan ke dalam ember, panci atau baskom yang besar, kemudian tutup dengan berlapis-lapis kain. Lakukan ini hingga wadah berisi tape tertutup rapat oleh kain tebal. Tujuannya untuk memastikan panas hasil fermentasi tidak menyebar kemana-mana sehingga suhunya terjaga dan ketan mampu matang dengan baik. 

Diamkan di suhu ruang selama 3 hari dan tape siap disantap. Super yummy!

Sources:
Wikipedia - Fermentation
Wikipedia - Fermentation in Food
Wikipedia - Tapai



42 komentar:

  1. wohoooo, tape ketan, gampang tapi tricky banget yak,,,
    sharing mbak, kalo aku biasanya bikin tape, raginya dicampur dengan 2-3 sdm gula pasir untuk bikin tape dengan setengah kilo ketan. hasilnya tape akan lebih legit dan tidak terlalu asam. trus selain bersih, adonan jangan sampai kena garam dan minyak sedikitpun.. dan untuk tape yang lebih harum biasanya saya menyusun tape dalam layer yang dialasi daun pisang,
    heum, hujan hujan ngemil tape sama ketan uli mantab kali ya mbak....

    oh iya, saya sudah 2x kirim email order buku nya mbak endang, tapi blm ada reply... I am looking forward for the reply mbak... matursuwun, salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. haloo mba nurul, wah makasih sharingnya ya, ini pertama kali saya buat tape jadi memang ala kadarnya saja wakakka. Ini juga takjub ketika tapenya jadi.

      next time kalau buat lagi akan saya pakai tipsnya, keknya mantep yaaa. hehehhe. wah kayanya emailnya keselip, ntar saya cek lagi deh mba. thanks yaa

      Hapus
    2. Saya kalau buat tape tidak pake gula dan hasilx emang manis. Jadi manisx buka dari gula tapi emang dari tapex😄

      Hapus
  2. wah ini menu andalan mamah saya dirumah , mamah saya jago bener buat ini, dia beli ragi nya khusus di salah satu tempat, klo beli si tempat lain beda rasanya, same pernah mamah jualan ini tape krn sangking byk yg pengen, hehehe , oia klo mamah sebelum dimasukin ke wadah yang di tutup berlapis - lapis dia tempat nya di lapisin daun pisang , terus habis wadah nya ditutup itu ditaro lagi di bawah kolong tempat tidur, hahaha, hasilnya huihhhh airnya melimpah, manis enak :) , apalagi tape ini klo makin lama makin enak yah mba, berasa semeriwing nya hehehe

    dan tau gak mba soal mitos itu benar adanya , jadi suatu ketika kan aku sama kaka aku lagi belajar buat tape ini, kebetulan kaka aku dapet dan aku gak, dan kmu tau mbak hasil nya??? buatan kakak aku hambar rasanya, pdhal dengan bahan dan takaran yg sama, awal nya si kaka gak percaya sama mitos itu, jd cuek aja buat, skrng dia ogah buat lagi klo lagi berhalangan , hahahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo Mba Sheila, wah makasih ya sharingnya, saya jadi banyak banget masukan nih soal pertapean. Baru pertama kali ini saya beranikan diri buat, biasanya juga saya takut gatot wakkakak.

      nah soal mitos ini saya belum benar2 membuktikan, tapi mending diikuti saja yaa, daripada gagal hahhaha

      Hapus
    2. iya mbak, nanti saya tanyain resep nya ke si mamah ya, entar aku email in ke mbak, ini soalnya tape uwenak bgt, manis tanpa gula, klo pake gula rasa manis nya aneh, o

      nah iya mending jgn deh yah, drpd buat byk tp gagal, hahaha, biasanya klo gagal suka dibuat madu mongso/wongso sama si mamah, jd gak sia2 tape nya hehehe

      Hapus
    3. yep, tanpa gula kalau fermentasinya berhasil akan tetap manis rasanya. Tape yang saya buat manis banget dan legit juga hasilnya hehehhe

      Hapus
  3. Wuih enak mba tape ketannya...dulu aku pernah buat dan sukses..terlalu semangatnya makan sampai 1 mangkok..abis itu kelenger..kepala pusing..he he he..karena takut pusing lagi, jadi ngabisinnya sedikit demi sedikit dicicil tiap hari...oh iya mba sampai sekarang masih penasaran dgn yang ga boleh buat kalau lagi datang bulan, segi ilmiahnya dimana ya..garuk2 kepala...belum coba jadi belum tahu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba monic, saya belum bisa mengerti mengenai pantangan yang satu itu hehheheh, gimana penjelasannya gak mudeng wakakak

      Hapus
    2. Ikut nimbrung ya mba...hehehe...mungkin itu kaitannya dengan masalah kebersihan mba...jaman duluuuuu banget mungkin belum ada pembalut kali ya, jadinya mungkin takut kalo orang yang lagi berhalangan ikut bikin tape bisa mempengaruhi kegagalan hasil tape...di daerah jawa barat mana ya lupa, (daerah penghasil tape) saya lihat di tv juga menerapkan aturan begitu. jadi karyawati yang sedang berhalangan wajib cuti. oiya, tape di situ dibungkusin daun jambu air mba...
      Bude saya di semarang kalo mbuat suka dikasih gula pasir n bawang putih diuleg mba...saya aja heran, pas saya tanya katanya biar lebih berasa....menurut saya emang lebih menyengat.
      Betul mba, dialasi daun pisang biarlebih harum. oiya, bikin yang ijo juga dong mba...pakai air pandan kalo gak pakai daun katuk.soalnya saya penasaran gimana yang pakai daun katuk heheh. makasih sharingnya ya mba...

      Hapus
    3. halo mba thanks sharingnya yaaa, yep keknya logikanya benar ya untuk masalah itu, kebersihan memang faktor utama yaaa.

      memang pakai daun pisang akan membuat aroma tape lebih wangi ya, sayangnya kalau mau pakai daun di rumah harus lari dulu ke pasar wakakka.

      yep pengen coba versi hijaunya, next time akan saya coba. thanks yaa sharingnya yaaa, sangat bermanfaat sekali

      Hapus
  4. Waow mbak keren banget postingannya kali ini, dulu ibu saya sering bikin tape ketan putih tapi saya ndak pernah memperhatikan, giliran sekarang pengen bikin bingung sendiri hehe googling eh nyangkut di blog mbak Endang makasih ya mbak sangat bermanfaaat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Anggun, thanks ya mba, moga2 resep tapenya sama seperti yang dibuat nyokap ya, hehehe. salam

      Hapus
  5. Udah sering liat mertua bikin, tapi blm pernah d praktekan, memang keliatan nya mudah, tp bnyk jg yg gagal bikin tapai ini, jd tergerak nih pingin bikin tapai, hahaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Rika, ayo silahkan dicoba ya, ternyata gak susah kok, dan hasilnya maknyusss

      Hapus
  6. mbak endang, kmrin aq berhasil bikin tape pake resep ini padahal lgi brhalangan lho. kebersihan kyaknya mmg mjdi alasan utama. wktu ketan matang aq g nyentuh pake tangan tpi pake sendok nasi, waktu nyampur ragi jg dibungkus kantong plastik. jadi mitos itu telah terpatahkan. hehe...dinda

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mba dinda, wah thaks sharing infonya yaa, jadi mitos telah terpatahkan yaaa, saya juga mengira begitu, produk fermentasi kan nomor satu masalah higienis ya supaya berhasil hehheh. thanks yaa, pasti bermanfaat buat lainnya.

      Hapus
  7. hai mba Endang...aku lg bikin nih tape ketan hitam mdh2n berhasil ya mba...secara aku suka bgt tape ketan hitam trs klo beli d supermarket lumayan mahal

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo mba dewi, sipppp saya doakan sukses yaa, saya juga lagi pengen buanget makan tape ketan, ntar juga pengen bikin wakakkak

      Hapus
  8. hai mba endang, smangat banget baca resepnya n praktekin buat tape ketan hitam. mba tapi kok tapenya airnya sedikit ya, rasanya ga manis bgt tp . apa yang salah ya, klo tape sukses airnya banyak ya.trimakasih ya mba endang :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo mba, banyak faktor ya karena ini proses fermentasi, jadi banyak sekali hal yang bisa mempengaruhi (misal kurang steril, suhu fermentasi kurang tepat atau raginya kurang oke ya).

      bisa juga karena waktu fermentasi belum lama, makin lama tape akan semakin manis dan air semakin banyak.

      Hapus
  9. mau nyoba bikin tapi blm ketemu yg jual ragi tapenya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mba sashy, yep memang itu kendala utamanya, di sekitar rumah juga hanya ada di pasar tradisional yang jual

      Hapus
  10. Hai mbak endang,,,mbak sy pengen coba resep mbak,cuman ketannya apa g direndam dulu soalnya takut keras nantinya dan jg sy prnh dengar sblm dikukus ketannya direndam dulu terutama utk ketan hitam hrs direndam dulu semalam,,,makasih mbak (ety)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai Mba Ety, saya nggak rendam ya Mba, langsug saja cuci dan pakai. hasilnya gak keras ya. Menurut saya tergantung ragi dan fermentasinya, kalau oke maka tekstur tape akan lunak.

      Hapus
  11. tape ketan itemnya jadi tapi kurang berair,apa kurang raginya x ya mba? akhirnya saya ada ide buat puding aja. saya campur agar2 bubuk plain,telur,susu cair full cream. setelah matang saya blender bareng tyt ga mengeras ya mb hahaha malah jadi ice cream hula hula rasa ketan item,,enak bgt langsung habis,mksh mb resepnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hasil fermentasi bs bervariasi tergantung dari keaktifan ragi dan lamanya proses, makin lama ditaruh di suhu ruang akan lebih berair mba, jadi jangan buru2 masuk ke kulkas.

      Hapus
  12. Mba endang untuk part terakhir kan masukan ketan di fermentasi di dalam panci. Itu tutup nya, tutup panci yang di bungkus kain atau langsung kain yg di buntel buntel sehingga menutupi panci ya mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tutup pancinya gak dbungkus kain mba, saya pakai tupperawre, tutup rapat kemdian ditimbun pakai kain yang banyak supaya hangat

      Hapus
  13. gak perlu di kasih gula to??
    bisa manis sndiri ya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya nggak pakai gula ya, dan yep rasanya manis, tapi manis itu relatif ya mba,

      Hapus
  14. Kak kok tapenya bisa manis sih padahal kan gak dikasih gula, terus berapa hari biasanya beras ketan akan berasa manis?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mba winda, untuk resep diatas saya tidak kasih gula, teorinya memang fermentasi beras ketan yang benar akan menghasilkan rasa manis. Untuk waktu fermentasi coba lihat di resep ya

      Hapus
  15. Mba klo dah berupa bubur ketan bisa dijadiin tape ga ya??? Buburnyaa masi tawar blom d kasi apa2. Niat pengen bikin bubur kemaren ehhh malah masukin 1kg kirain cuman stgh. Jadi skrg masi nongkrong d kulkas bingung mau d buat apa

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah saya kurang tahu yaaa, minim pengalaman disini.

      Hapus
  16. Salam kenal mb Endang,
    cara ngetes ragi tape masih bagus ato ga gmn mb ?
    takutnya kl dah kadung buat ehh raginya jelek jadi gatot.

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal mba, syaangnya untuk yang ini sya juga kurang tahu ya, penglaman saya terbatas untuk ragi tape.

      Hapus
  17. Hemm...ini juga menu wajib di hari raya idul fitri keluarga kami mbak, bahkan hampir seluruh tetangga selalu membuat tape ketan kalau momen hari raya datang. Kalau untuk pantangan berbicara saat mengemas tape memang betul sih mbak, supaya fermentasi terjadi sempurna memang harus steril termasuk dari ludah kita kalau pas ngobrol. Kalau pas halangan, Alhamdulillah beberapa kali membuat tape ketika Haif datang, tape tetap manis legit, tidak ada perubahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mba Leny, wah makasih sharingnya yaa, sejak Heni, asisten saya yng dulu resign saya udh gak pernah bikin lagi, padahal saya maniak tape ketan hiiks

      Hapus
  18. Hai Mbak Endang, trimakasih resepnya. Mbak, kalo masak ketannya pake rice cooker aja bisa nggak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak Mba, kudu pakai kukusan. Ini ketannya bukan mateng banget ya.

      Hapus

PEDOMAN BERKOMENTAR DI JTT:

Halo, terima kasih telah berkunjung di Just Try and Taste. Saya sangat menghargai feedback yang anda berikan, terutama mengenai eksperimen dalam mencoba resep-resep yang saya tampilkan.

Komentar yang anda tuliskan tidak secara otomatis ditampilkan karena harus menunggu persetujuan saya. Jadi jika komentar anda belum muncul tidak perlu menulis komentar baru yang sama sehingga akhirnya double/triple masuknya ke blog.

Saya akan menghapus komentar yang mengandung iklan, promosi jasa dan penjualan produk serta link hidup ke blog anda atau blog/website lain yang anda rekomendasikan yang menurut saya tidak relevan dengan isi artikel. Saya juga akan menghapus komentar yang menggunakan ID promosi.

Untuk menghindari komentar/pertanyaan yang sama atau hal yang sebenarnya sudah tercantum di artikel maka dimohon agar membaca artikel dengan seksama, tuntas dan secara keseluruhan, bukan hanya sepotong berisi resep dan bahan saja. Ada banyak info dan tips yang saya bagikan di paragraph pembuka dan jawaban di komentar-komentar sebelumnya.

Satu hal lagi, berikan tanda tanya cukup 1 (satu) saja diakhir pertanyaan, tidak perlu hingga dua atau puluhan tanda tanya, saya cukup mengerti dengan pertanyaan yang diajukan.

Untuk mendapatkan update rutin setiap kali saya memposting artikel baru anda bisa mendaftarkan email anda di Dapatkan Update Via Email. Atau kunjungi Facebook fan page Just Try and Taste; Twitter @justtryandtaste dan Instagram @justtryandtaste.

Semoga anda menikmati berselancar resep di Just Try & Taste. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...