09 April 2013

Kue Mangkuk Gula Merah



Sebuah toko kue kecil di Mall Ambasador, sebelah kantor saya, memiliki keunikan. Semua kue-kue yang dijajakan adalah jenis kue tradisional. Mulai dari lemper, apem, klapertaart, ongol-ongol, lumpia, getuk serta aneka kue bolu dan cake kukus. Salah satu yang menjadi favorit saya jika singgah di toko ini adalah kue mangkuk gula merahnya. Warnanya merah gelap, legit, sedikit liat, dengan ukuran yang agak besar. Mantap! Ternyata bukan hanya saya saja yang menjadi penggemarnya, beberapa teman di kantor juga mengakui kelezatannya. Tak heran kue ini sering cepat habis, ludes diburu peminatnya.

Selain rasa kue-kuenya yang lezat, tampilan dan kemasan kue-kue di toko ini juga sangat menarik. Tak heran walau mengusung tema tradisional, toko tersebut mampu bersaing dengan aneka bakery yang banyak malang melintang dan terus bermunculan di setiap titik di mall. Namun kembali lagi ke slogan 'ada rupa - ada rasa', kue yang dijajakan memang dibandrol dengan harga di atas rata-rata umum kue sejenis lainnya.



Sebenarnya, sebelum mencicipi kue mangkuk gula merah di toko kue ini, makanan ini bukan termasuk yang saya gemari. Namun kini jangan tanya, dua atau tiga kue bisa masuk ke kantung plastik jika saya bersedia menuruti kaki untuk melangkah kesana. Keinginan untuk membuatnya sendiri sudah lama terlintas di benak, namun kue mangkuk seperti ini sebagaimana temannya si bolu kukus, menuntut tampilan yang mekar. Nah, jenis-jenis kue mekar seperti ini merupakan jenis kue yang saya hindari karena pengalaman selama ini selalu gatot.com alias gagal total. 

Namun hari Minggu kemarin akhirnya saya tak tahan juga, aneka buku resep di lemari pun saya buka satu persatu mencari resep kue mangkuk gula merah yang top markotop namun dengan bahan yang simple. Seingat saya tekstur kue sedikit terasa kenyal dan legit, jadi saya menduga sepertinya ada campuran tepung tapioka di dalam adonannya. Resep-resep dengan bahan yang mengandung tape terpaksa saya skip karena hasil kunjungan singkat saya ke kulkas menghasilkan sekotak tape singkong yang telah kedaluarsa lebih dari seminggu. Tak kunjung menemukan resep yang mantap di buku, akhirnya saya pun kembali ke internet dan resep dari website tabloid Nova ini sepertinya mirip dengan kue mangkuk yang sedang saya incar. Plus sedikit modifikasi berhasil juga saya membuat kue mangkuk gula merah yang.... mungkin tidak persis seperti yang  saya idamkan tapi setidaknya tidak terlalu mengecewakan. ^_^


Proses pembuatannya terbilang mudah, yang anda perlukan adalah kesabaran karena adonan harus didiamkan minimal 3 jam. Salah satu bahan yang mungkin agak sedikit merepotkan untuk anda peroleh adalah air kelapa, karena bahan ini umumnya tidak selalu tersedia di sekitar rumah. Untungnya setiap kali saya membeli santan atau kelapa parut di pasar, saya selalu meminta si abang penjual untuk memasukkan air kelapa ke dalam plastik. Air kelapa ini lantas saya simpan di freezer hingga membeku menjadi es batu. Selain bisa menjadi minuman yang menyehatkan, air kelapa juga bisa menjadi salah satu bahan masakan misalnya untuk membuat tempe/tahu bacem atau untuk membuat kue seperti yang kali ini saya posting. Karena seringnya saya mencoba aneka resep (seringkali terjadi di malam hari) maka bahkan hingga kelapa muda parut pun saya simpan di freezer, jadi jika saya membutuhkannya semua bahan ini bisa dengan mudah dijangkau oleh lengan saya. ^_^


Kembali ke kue mangkuk gula merah, adonan yang terbentuk encer dan saat telah didiamkan selama 3 jam, adonan tidak terlalu berbusa dan mengembang banyak. Kondisi ini awalnya membuat saya menjadi sedikit was-was dan tidak percaya diri. Namun saya lantas teringat dengan cake sarang semut yang pernah saya buat sebelumnya, saat itu adonan juga encer sekali dan kondisi tersebut justru yang membuat cake menjadi berlubang-lubang membentuk sarang. Nah menurut saya tekstur seperti ini jugalah yang membedakan kue ini dengan bolu kukus umumnya, jika bolu kukus lembut dan empuk maka kue mangkuk cenderung kenyal, padat dan ketika kue di belah akan tampak alur-alur rongga udara di dalamnya. Setidaknya seperti inilah penampakan kue mangkuk gula merah yang dijual di toko kue di Mall Ambasador. 

Khawatir warna gula merah yang kurang coklat kemerahan maka adonan lantas saya tambahkan pasta coklat ke dalamnya, hasilnya kue menjadi coklat gelap dengan rasa coklat dan gula merah yang membingungkan. Saran saya, sebaiknya gunakan gula merah dengan warna yang sangat gelap agar kue memberikan warna yang cantik dan jangan menambahkan pasta coklat karena membuat kue ini kehilangan identitas rasanya. Karena tidak memiliki cetakan kue mangkuk, saya lantas menggunakan loyang muffin, dan dengan kukusan klakat saya yang berukuran jumbo loyang pun masuk dengan sukses. Sebagian kue mekar dengan cantik, sebagian manyun dengan sukses namun untuk rasanya not bad lah.

Berikut resepnya ya. 


Kue Mangkuk Gula Merah
Resep diadaptasikan dari web Tabloid Nova - Kue Mangkuk Bersarang 

Untuk sekitar 15 buah kue

Bahan biang:
- 1 1/2 sendok teh ragi instan (resep asli 1/2 sendok teh)
- 50 ml air hangat
- 50 gram tepung beras

Bahan air gula merah:
- 375 gram gula merah
- 75 gram gula pasir
- 375 ml air kelapa  
- 1 lembar daun pandan, potong-potong sepanjang 5 cm

Bahan adonan:
- 275 gram tepung beras
- 65 gram tepung sagu 
- 165 ml santan kental
- 1 sendok teh baking soda (resep asli tidak pakai)
- 1 sendok teh garam 
- 2 sendok teh pasta pewarna coklat (optional) 

Taburan:
- kelapa parut muda secukupnya untuk taburan

Cara membuat:


Siapkan mangkuk, masukkan bahan biang, aduk rata. Diamkan selama 30 menit hingga berbusa. 

Siapkan panci, masukkan air kelapa, daun pandan, gula merah dan gula pasir. Rebus hingga mendidih dan gula larut. Saring air gula, buang daun pandan dan biarkan air gula menjadi hangat


Siapkan mangkuk berisi bahan biang, tuangkan tepung beras, tepung sagu, aduk rata. Tambahkan air gula merah sedikit demi sedikit sambil adonan diaduk. 


Jika muncul gumpalan, saring adonan. Tambahkan santan kental, sambil adonan ditepuk-tepuk dengan telapak tangan. Tambahkan baking soda, garam, dan pasta pewarna coklat (jika pakai). Aduk hingga rata. 

Note: Di resep aslinya adonan harus ditepuk-tepuk dengan telapak tangan selama 30 menit. Ketika baru saya coba 5 menit, adonan yang sangat encer berloncatan kemana-mana membuat saya kerepotan sendiri membersihkan aneka perabot dapur yang menjadi belepotan adonan. Tak sanggup membayangkan 30 menit melakukannya, akhirnya adonan saya aduk menggunakan sendok sayur sambil adonan saya sendokkan dan angkat tinggi diatas mangkuk, adonan ini lantas saya tuangkan kembali ke mangkuk, cara ini saya lakukan 10 - 15 kali. 

Adonan kemudian didiamkan selama minimal 3 jam. Saya meletakkan adonan di tempat yang agak hangat. Setelah 3 jam adonan tidak terlalu banyak berubah. Gelembung udara juga tidak terlalu banyak terbentuk. 
 

Hasil kue jika cetakan diisi penuh dan hanya diisi sebagian



Siapkan cetakan kue mangkuk, karena saya tidak memilikinya maka saya menggunakan loyang mufin dengan garis tengah 5 cm.  Olesi cetakan dengan minyak, panaskan cetakan di kukusan hingga cetakan benar-benar panas.

Tuangkan adonan, paling mudah dan supaya tidak belepotan adalah dengan menggunakan gelas ukur yang memiliki ujung runcing di salah satu pinggirnya. Saran saya tuangkan hingga penuh agar kue lebih mekar

Kukus kue di dalam kukusan yang telah dipanaskan sebelumnya hingga benar-benar panas, selama 20 menit. Jika anda menggunakan loyang kukusan biasa bukan klakat maka bungkus penutup kukusan dengan kain/serbet yang bisa menyerap air.

Keluarkan kue dari kukusan, lepaskan dari cetakan dan sajikan dengan kelapa parut muda. Yummy!

Source: 
Web Tabloid Nova - Kue Mangkuk Bersarang 



46 komentar:

  1. Dulu oma saya (alm) bikin kue2 tradisional untuk dijual & kue2 yg adonannya harus 'ditepuk-tepuk' menurut saya bukan 'ditepuk'shg bisa muncrat kemana-mana, tapi diserok-serok dengan tangan (jari2 dirapatkan,telapak tangan menghadap atas) sehingga seperti disendok-sendok & terangkat-angkat, dgn cara itu kita 'memasukkan' & 'menciptakan' gelembung2 udara di dalam adonan. Jadi yg mbak lakukan udah bener, tapi kalo pake tangan mestinya lbh bagus ya krn suhu tubuh kita ikut mempengaruhi ngembangnya adonan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, wah iya itu maksudnya ditepuk2 ya? Saya benar2 menepuk2 seperti lagi menina bobokan bayi wakakka, hasilnya muncrat dah kemana2. Akhirnya pakai sendok sayur, ikut2an mencontek tukang jualan pukis dipasar. Next time pakai tangan deh supaya lebih mekar hehehe. Thanks ya!

      Hapus
  2. mirip mangkuk sakura ya mbak.....cuma ini dioven klo mangkuk sakura dikukus jdi alasnya bisa lngsung pkek daun pandan mmmhhh jdi wangi aku suka bgt kue yg ada gula merahnya

    BalasHapus
  3. ealah...ternyata dikukus jga td gak baca smpe bwh hehehehe....liat tmpat cetakannya aja dh langsung mikir dioven....klo gtu ini hampir sama mbak dgn mangkuk sakura

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheh, dikukus Mba Ratu, berhubung gak punya cetakan kue mangkuk, pakainya loyang muffin. Wah mangkuk sakura ya? Nah saya belum tahu itu hehehhe

      Hapus
  4. ha ha ha...., mba Endang ada ada aja...., nepuk nya dianalogikan dengan nepuk pantat bayi, wakakak
    Mba....., biasanya Rin kalo bikin pake gula merah yang dari pohon aren, warna nya memang coklat gelap banget , ada kok di pasar tradisional, emang harganya lebih mahal dari gulmer biasa.
    Supaya si kue bisa ngakak lebar..., kunci nya ada di api yg besar waktu ngukus nya, sama dengan cara ngukus si bolu kukus mekar. ok, slm, rin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, wakkakakka, gak terpikir klau nepuk2 itu cuman di sendok2kan dengan tangan. Walah itu muncrat2 kemana2 bo, akhirnya nyerah tak jemur saja. Yep, mesti cari gula merah yang coklat banget. Thanks ya.

      Hapus
  5. Hallo mba Endang, mau nanya kalo adonan saya biarkan semalaman apakah bisa dan untuk penyimpanannya bagaimana apakah di simpan di kulkas, trims ya mba, salam, Sinta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Sinta, bisa disimpan di kulkas pakai wadah rapat ya. Semalam saja, lebih dari itu asem nanti rasanya.

      Hapus
  6. mba kalo pake gula semut (gula aren), rasanya bisa lebih enak ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa Mba, saya rasa sih rasanya akan sama saja wakkakak

      Hapus
  7. mbak, setelah sy buat, koq kuenya tdk berserat2 ya?? jd mirip kue mangkok biasa... apa yg salah yaa????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang bersarang ya, biasanya adonan kurang ditepuk2 dan kurang lama didiamkan.

      Hapus
  8. Salam kenal Mba Endang, kalau air kelapa dan parutannya disimpan di freezer bisa tahan berapa lama? Salam, Yenny

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai Mba Yenny, saya simpan jangka panjang Mba wakakkak. Saya simpan parutan kelapa beku sebulan juga masih oke saja, kalau mau dipakai saya biarkan saja di suhu ruang ntar lemas sendiri seperti semula. Baiknya dibungkus pakai plastik kecil2 sekali pakai. Kalau air kelapa sih udah kaya es batu saja, sampai lama wakakkak. Kalau santan, hasilnya gak oke Mba, walau masih bisa dipakai tapi terpisah antara lemak dan airnya.

      Hapus
  9. mat siang mba...sy bru 2 hari ini scra g sengaja membuka blognya mba..n sy sangat tertarik,krn dsini mba menjelaskan secara detil,n semangat mba untuk berbagi ilmu pun perlu d acungi jempol.sy org baru d dunia perkuean dan percake an..heheheheheee...tp sy hobby mencari apa yg saya inginkan d inet,lalu sy praktekkan..sy mau sharing soal tepuk2an nii..heheheheheee..klo sy mau menepuk adonan yg hrs pake d tepuk,sy biasanya kasi air or cairannya agak kental(tdk semua cairan sy tuangkan) llu sy tepuk dg cara telapak mghadap k bawah,d tepuk llu d tarik,d ulang2 spt itu,secara feeling klo adonan dh agak ringan,bru sy tuangkan sisa cairan..apa cara ini bisa di pake yaa mba,biar g muncrat kmana2..sy biasa buat kue cucur,adonanya sy tepuk2 spt ini(ada resep d buku yg blg bgini)trnyta kue cucur sy cukup empuk n sangat berserat...semoga berguna sharing ini yaa mba...salam jumpa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Joy, thanks untuk sahringnya! saya happy banget dapat teknik menepuk2 ini, terus terang saya bingung gimana cara nepuk2nya yaaa, hahah, muncrat kemana2. Yep, belum pernah bikin kue cucur, tapi mungkin dengan cara ini membuat saya berani mencoba hehehe. makasih yaaa, sukses!

      Hapus
  10. Kl santan pake yg kaya sunkara gitu bisa ngk?

    BalasHapus
  11. mb, tepung berasnya harus baruapa boleh yang udah lama??

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang sudah lama gak papa kok mba, yang baru memang rasanya lebih nendang tapi pakai yang lama juga ok2 saja ya

      Hapus
  12. setelah didiamkan diaduk dulu gak mb pas mau dituang ke cetakan?

    BalasHapus
  13. mbak endang kalo pakai tape, takarannya berapa gram ya? lalu masukin nya kapan? terimakasih :) _wiwit_

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mba wiwit, sayangnya saya belum pernah coba pakai tape mba, mungkin mba harus coba resep lainnya yang memang menggunakan tape di bahannya ya

      Hapus
  14. Hai mbak Endang..... Salam kenal, nama sy Henny. Sy sering mengunjungi blog ini. Detail sekali, ada latar belakang atau kisah dari kue atau makanan yg sering ditampilkan oleh mbak Endang..... Seru deh..... Dan smua itu sangat sangat bermanfaat..... Btw, kalo adonan kue ini di buat malam hari (sekitar jam 20.00), di olah esok pagi (sekitar jam 04.30), apakah adonannya tdk beraroma basi atau masam, mbak ? Trus kalo air kelapa di simpan dlm freezer, apakah tdk merubah rasa atau aroma dari air kelapa, mbak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Hanny, salam kenal juga ya. Adonannya mirip dengan martabak terang bulan ya, ada teman yang mencoba membuat di malam hari, simpan di wadah rapat di kulkas, besok dipanggang oke2 saja. Tapi saya terus terang belum pernah coba ya mba.

      air kelapa selama ini saya suka bekukan di freezer, baik2 saja ya, tidak ada masalah dengan rasa dan aroma hehhehe

      Hapus
  15. Sy barusan membuat kue ini dan mnrt sy gagal total. Kue tdk mekar bahkan berbentuk seperti jamur kancing dan rasa tepung msh terasa di lidah (bahkan lengket di gigi). Tp secara penampakan sih berlubang2 kuenya. Sdh mengikuti semua trik seperti kompor dgn api besar, kukus 20 menit, dll tetapi tetap gagal. Cetakan kie jg tdk sy olesi minyak sehinggal wkt dilepas kue sy bentuknya amburadul. Sedih dan kecewa sekali sy.. mbak Endang bisakan membantu sy? Slh sy dimana ya? Sblm dituang ke cetakan jg adonan sdh berbusa2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Nova, wah saya juga bingung bisa gagal total yaaa, karena saya juga gak lihat mba bikinnya gimana. Model bolu kukus begini memang gampang2 susah mba, banyak faktornya mulai dari jenis bahan, takraan, proses pembuatan, pengukusan banyaaak hehhehe. Saya sendiri sampai sekarang masih suka gagal juga.

      Hapus
  16. Dear, mbk endang, sy kemarin nyoba resep ini tp gatot mbk, teksturnya g kaya kue blas, jd kaya dodol/ jenang... Liat banget, kaget sy... Padahal komposisinya udah pas spt yg mbk endang posting, tp backing sodanya sy ganti backing powder, maklum g punya... Terus santan, garam, dan bp sy masukin sebelum gula, setelah tepung dan biang... Tp hasilnya mengecewakan, padahal sudah sy tarik2 adonan pake tangan 30 mnt, yg salah dimananya ya mbk... Tolong pencerahan nya
    -Rizka

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mba Rizka, banyak faktor untuk kue ini:
      1. gunakan ragi yang masih berfungsi baik, karena kue dikembangkan terutama oleh ragi instan
      2. Baking soda atau ganti dengan baking powder double acting
      3. Kalau mau aman, diamkan adonan disuhu ruang selama 2 jam hingga berbusa banyak baru dikukus.
      4. ikuti resep dengan seksama, karena membuat kue tradisional memang sedikit lebih rumit

      salam

      Hapus
  17. helo mba..maaf mau tnya..begini sy sdh mencoba resep ini 4x..2x pertama sukses tapi 2x terakhir gatot..aneh skali loh mba..smua sama tp yg terakhir malah sama skali ga bersarang jd spti kue mangkok yg seperti bolu bnyk terigu..anehh 2x pertama sukses..mohon dibantu nasehatnya mba trimssss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Ing, banyk faktor ya, umumnya krn ragi kurang aktif atau adonan kurang lama didiamkan hingga bersarang.

      Hapus
    2. Thank you mba endang, HAPPY 2016

      Hapus
  18. Hasilnya ga sama dgn yg dijual di ambassador kurang kenyal berlubang tapi kecil2 mestinya tekstur dan bentuk seperti kue sarang semut kan

    BalasHapus
    Balasan
    1. yep, di artikel sudah saya sebutkan tidak sama dengan yang dijual di ambas ya.

      Hapus
  19. Mba Endang.. Itu gimana cara bikin alas dari pandan/daun pisangnya ya? Takir biasanya kotak.. Kl bulat gimana buatnya hehe.. Boleh share dunk..
    Makasih

    Githa

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya bentuk takir kotak diatas mba, kalau bulat dibentuk kerucut seperti contong dulu terus dibalik, tapi kendalanya tengahnya ada lancipnya.

      Hapus
    2. Ooh.. Keliatannya bulat hehe.. Aku baru selesai bikin kue mangkuk ini mba.. 3 resep jadi 60 buah.. Endes! Makasih ya mba Endang �� keep on sharing good things, semoga berkah untukmu mba

      Thanks
      Githa

      Hapus
    3. Thanks Mba Githa sharingnya yaa, senang kuenya sukses hehehhe

      Hapus
  20. Hi mbak... Senang ikuti resep2nya mbak karena rinci. Mau tanya, kalau air kelapa untuk gula diganti air biasa apa bisa? Lalu kalau mau coba varian lain (dg pewarna bukan gula merah), kira2 resep dasarnya sama nggak ya? Terima kasih sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba, bs pakai air biasa ya, atau tambah ragi instan sekitar 1/2 sendok teh supaya cepat naik adonannya. Kalau mau pakai pewrna lain, skip gula merahnya.

      Hapus

PEDOMAN BERKOMENTAR DI JTT:

Halo, terima kasih telah berkunjung di Just Try and Taste. Saya sangat menghargai feedback yang anda berikan, terutama mengenai eksperimen dalam mencoba resep-resep yang saya tampilkan.

Komentar yang anda tuliskan tidak secara otomatis ditampilkan karena harus menunggu persetujuan saya. Jadi jika komentar anda belum muncul tidak perlu menulis komentar baru yang sama sehingga akhirnya double/triple masuknya ke blog.

Saya akan menghapus komentar yang mengandung iklan, promosi jasa dan penjualan produk serta link hidup ke blog anda atau blog/website lain yang anda rekomendasikan yang menurut saya tidak relevan dengan isi artikel. Saya juga akan menghapus komentar yang menggunakan ID promosi.

Untuk menghindari komentar/pertanyaan yang sama atau hal yang sebenarnya sudah tercantum di artikel maka dimohon agar membaca artikel dengan seksama, tuntas dan secara keseluruhan, bukan hanya sepotong berisi resep dan bahan saja. Ada banyak info dan tips yang saya bagikan di paragraph pembuka dan jawaban di komentar-komentar sebelumnya.

Satu hal lagi, berikan tanda tanya cukup 1 (satu) saja diakhir pertanyaan, tidak perlu hingga dua atau puluhan tanda tanya, saya cukup mengerti dengan pertanyaan yang diajukan.

Untuk mendapatkan update rutin setiap kali saya memposting artikel baru anda bisa mendaftarkan email anda di Dapatkan Update Via Email. Atau kunjungi Facebook fan page Just Try and Taste; Twitter @justtryandtaste dan Instagram @justtryandtaste.

Semoga anda menikmati berselancar resep di Just Try & Taste. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...