27 Maret 2019

Resep Nastar Daun


Resep Nastar Daun JTT

Akhir-akhir ini saya mengamati penumpang bus Transjakarta, dan mulai menemukan banyak ketidakpedulian mereka pada wanita hamil, orang yang berusia lanjut atau ibu bersama anaknya. Kondisi ini dulu jarang saya temukan. Penumpang bus Trans-J, menurut saya cukup beretika dibanding penumpang KRL. Pengalaman saya dan Ibu menggunakan KRL ketika pergi ke Cilebut, didalam gerbong khusus wanita ini, tak seorang pun penumpang bersedia berdiri dan mempersilahkan Ibu yang sudah jelas-jelas berusia lanjut untuk duduk. Padahal kebanyakan masih sangat muda, kisaran usia dua puluh hingga tiga puluh tahunan. Saya harus berteriak, "Tolong dong kursinya, untuk orang tua ya," baru kemudian ada yang malas-malasan berdiri.

Berbeda dengan penumpang bus Transjakarta, sehari-hari menaiki moda transportasi ini membuat saya jadi bisa membandingkan. Biasanya ketika ada manula, wanita hamil atau ibu yang membawa anak, penumpang yang duduk didekat akan langsung berdiri dan mempersilahkan. Kemarin kondisi itu tidak terjadi. Seorang Ibu yang menggendong anaknya bersusah payah mempertahankan tubuh agar bisa berdiri dan penumpang disekitar memejamkan mata, berpura-pura tertidur. Untung petugas langsung sigap dan berteriak meminta kursi. Seorang wanita yang duduk didekat akhirnya berdiri ogah-ogahan dan dengan muka masam memberikan kursinya. Saya sendiri dalam kondisi berdiri, biasanya saya sama sekali tidak enggan memberikan kursi bagi mereka yang membutuhkan. Seharian duduk di kantor, tiga puluh menit berdiri di Transjakarta bukan masalah, hitung-hitung olah raga dan membakar kalori.

Resep Nastar Daun JTT
Resep Nastar Daun JTT


Betapa berbedanya ketika saya naik KRL di Jepang, kursi justru banyak yang kosong dan penumpangnya memilih berdiri. Saya pernah naik kereta bersama kakak, kebetulan hanya ada dua kursi kosong yang akhirnya ditempati kakak dan keponakan saya, Ellan. Saya terpaksa berdiri, namun penumpang disebelah kakak saya justru berdiri dan mempersilahkan duduk. Atau ketika saya naik KRL di Kuala Lumpur, betapa sigapnya penumpang menawarkan kursi ke mereka yang lebih tua atau membawa anak-anak. Padahal tidak ada petugas yang berjaga dan meminta kursi. Saat menaiki bus yang mirip dengan Transjakarta di Gothenberg, Swedia (bus Scania yang dipakai oleh Transjakarta memang berasal dari Swedia), tak ada satupun penumpang yang bersedia duduk di kursi prioritas. Kursi tersebut dibiarkan kosong karena diperuntukkan untuk mereka yang cacat, orang tua atau wanita hamil, padahal penumpang banyak yang berdiri. Mereka seakan malu harus duduk disana, karena kondisi masih sehat dan kuat berdiri.

Di tanah air, ketika saya naik KRL ke Bogor, di Minggu pagi dimana gerbong kosong melompong, seorang penumpang cewek masuk dan duduk di kursi prioritas. Dia terlihat sehat, usia masih dua puluhan, tidak hamil, tidak cacat dan memilih kursi prioritas dibandingkan seluruh kursi kosong untuk penumpang biasa. Tobat!

Resep Nastar Daun JTT

Rekan-rekan saya yang setiap hari naik KRL punya cerita horor yang luar biasa banyaknya. Menurut mereka gerbong khusus wanita justru jauh lebih kejam dibandingkan dengan gerbong campuran. Rekan kantor saya, Yuni, bercerita betapa susahnya penumpang berbagi kursi, bahkan saat hendak turun pun enggan bersiap-siap ketika stasiun sudah mendekat. "Stasiunnya didepan mata, si Mbak duduknya juga sudah diujung kursi. Mana kondisi desak-desakan, jalan kek ke dekat pintu! Baru berdiri pas waktu kereta berhenti didepan stasiun." Luar biasa, bahkan kursi kereta yang bukan milik pribadi saja susah dilepaskan agar bisa diduduki penumpang lainnya, padahal stasiun tujuan sudah tiba. "Lain kali bilang saja, Mbak dibawa saja sekalian kursinya," tukas saya gemas.

Adik saya, Tedy, rumahnya di Cilebut dan berkantor di Jakarta, setiap hari pergi dan pulang naik kereta. Suatu hari ketika hendak turun dari kereta, didorong seorang ibu yang juga hendak turun hingga adik saya jatuh dan kelingking jari kakinya patah. Si ibu yang egois dan tidak bertanggung jawab ini bahkan tidak datang meminta maaf atau berusaha membantu adik saya berdiri, tapi justru cepat-cepat kabur melarikan diri. Si ibu ini tidak peduli, jika Tedy kemudian harus ke rumah sakit dan menjalani operasi, tidak peduli jika adik saya harus cuti beberapa hari dari kantor. Apakah ini namanya the power of emak-emak? Saya merasa istilah itu benar-benar harus dihilangkan karena seakan menjadi pembenaran jika apapun yang  dilakukan oleh emak-emak harus dibenarkan.

Resep Nastar Daun JTT

Mengapa ya kita menjadi masyarakat yang tidak peduli dengan sekitar kita seperti ini? Bukankah katanya kita ini adalah orang timur dengan adat yang santun? Tapi kenyataannya semakin hari semakin susah menemukan kesantunan dan kepedulian. Orang-orang menjadi egois dan semakin tidak peduli dengan kondisi orang lain, bahkan pada mereka yang membutuhkan. Justru di negara yang lebih maju atau yang tidak berbau ketimuran lebih memiliki kepedulian dan kepekaan yang tinggi. Tidakkah kita ingat, satu saat kita akan menjadi tua, tubuh tidak sekuat dulu dan membutuhkan kursi kala di transportasi umum. Wanita muda suatu saat akan hamil, memiliki anak dan membutuhkan kursi ketika di transportasi umum. Apakah kita harus menunggu saat itu tiba baru tersadar betapa kita membutuhkan orang lain untuk peduli sedangkan sebelumnya kita sama sekali tidak peduli pada mereka? Tobat dah jangan sampai kita seperti itu.

Resep Nastar Daun JTT

Wokeh saya akhiri curhat hari ini, menuju ke resep nastar jadul berbentuk daun yang saya share kali ini. Dulu, ketika saya masih kecil dan tinggal di Tanjung Pinang, tante-tante dari keluarga Ibu sangat jago memasak dan baking. Setiap Lebaran mereka akan membuat kue kering sendiri. Saat itu di Tanjung Pinang, semua rumah yang merayakan Lebaran pasti menyediakan kue kering di meja tamunya, seakan pemilik rumah akan merasa malu jika tamu datang tidak disuguhi makanan apapun. Nastar daun, kue semprit, dan telur gabus keju adalah tiga makanan wajib yang harus dibuat saat Hari Raya tiba. Ibu saya, satu-satunya di keluarga yang tidak mahir membuat kue, jadi tiga atau empat hari menjelang Lebaran beberapa tante akan datang ke rumah dan bergotong-royong membantu. Karena nastar menggunakan bahan premium dan mahal, biasanya kue ini tidak pernah hadir dirumah kami. Ibu hanya membuat kue bawang, telur gabus keju, kacang bawang dan kue semprit. Jenis-jenis kue yang murah meriah dan hasilnya segambreng.

Untungnya, salah satu tante yang rumahnya bersebelahan dengan rumah kami selalu menyediakan nastar daun. Ketika hari H tiba kami akan berbondong-bondong bertamu ke rumahnya, dan saya selalu mengincar nastarnya. Kue terenak yang pernah saya santap waktu itu dan tentu saja masih terenak hingga sekarang. Nastar daun yang berukuran jumbo dengan isi yang banyak ini begitu lumer dimulut dan lebih memuaskan dibandingkan nastar imut-imut yang kini lebih digemari.

Resep Nastar Daun JTT

Ingin mengulang nostalgia, saya pun berniat membuat nastar versi ini. Jepitan nastarnya saya beli di online shop, dan ternyata tidak banyak yang menjualnya. Saya hanya menemukan versi plastiknya bukan yang terbuat dari besi. Jepitan ini sudah ada didalam tas saya sejak beberapa bulan yang lampau dan baru weekend lalu berguna. Di dalam kulkas saya menemukan sebungkus selai nanas sisa membuat nastar yang entah kapan tahun, kondisinya masih bagus, mungkin sedikit expired tapi kandungan gula yang tinggi didalam selai dan kondisi dingin chiller membuatnya lebih bertahan. Sekaleng mentega Wisjman didalam kulkas hanya tersisa sekitar 100 gram, pas untuk satu resep adonan nastar. Sejak pagi saya sudah berkutat didapur membuat adonan, membentuknya dan disiang hari nastar jadul bentuk daun ini mengeluarkan semerbak harum yang hampir membuat saya membatalkan puasa.

Membuat nastar daun jauh lebih cepat dibandingkan nastar bulat berukuran kecil. Walau proses jepit menjepit cukup memakan waktu, namun semakin lama tangan saya semakin cekatan dan cepat. Sore harinya nastar-nastar ini saya kemas dalam tiga buah stoples dan kirim ke Mampang untuk adik saya Wiwin, Tedy dan Dimas. Kedua putri Tedy, Kirana dan Aruna penggemar berat nastar, saya yakin mereka akan menyukainya. Saya sendiri baru mencicipi sebuah nastar keesokan harinya kala berbuka puasa, dan rasanya maknyus!

Berikut proses dan resepnya ya.

Resep Nastar Daun JTT

Nastar Daun
Resep diadaptasikan dari blog Yenni's Cake

Untuk 33 buah

Tertarik dengan resep kue jadul lainnya? Silahkan klik link dibawah ini:
Kue Semprit
Kue Bawang
Telur Gabus Keju

Bahan:
- 100 gram mentega Wijsman
- 150 gram margarine
- 90 gram gula bubuk
- 3 buah kuning telur
- 1/2 sendok teh garam
- 2 sendok teh vanilla extract
- 330 - 350 gram tepung terigu protein sedang/rendah
- 50 gram tepung maizena
- 50 gram susu bubuk
- 400 gram selai nanas

Bahan oles, aduk jadi satu:
- 3 butir kuning telur
- 1 sendok makan minyak goreng
- 1 sendok teh susu kental manis (optional)
- 1 tetes pewarna makanan kuning (optional)

Cara membuat:
Siapkan oven, set disuhu 170'C. Siapkan loyang datar, alasi permukaannya dengan kertas baking atau silpat. Sisihkan.

Resep Nastar Daun JTT

Siapkan mangkuk, ayak jadi satu  tepung terigu, tepung maizena dan susu bubuk, sisihkan.
Siapkan selai nanas, buat bulatan lonjong seberat 12 gram (timbang agar ukurannya seragam), sebanyak 33 buah, sisihkan.

Siapkan mangkuk, masukkan mentega, margarine, gula bubuk dan garam. Kocok dengan mikser speed rendah hingga tercampur baik. Naikkan kecepatan menjadi sedang dan kocok hanya terlihat lembut saja (bukan mengembang dan berubah pucat). Over mixing akan membuat nastar melebar saat dipanggang

Masukkan kuning telur (satu persatu), kocok hingga tercampur baik sebelum menambahkan telur berikutnya.

Resep Nastar Daun JTT

Masukkan tepung terigu dalam 4 tahapan, aduk perlahan dengan spatula hingga tercampur baik.

Cek adonan, jika masih terlihat lembek dan lengket ketika disentuh dengan ujung jari, tambahkan sedikit tepung lagi hingga adonan terasa tidak lengket ketika dipencet dengan dua jari. Takaran tepung antara 330 - 350 gram jadi sesuaikan dengan kondisi adonan. Basah dan keringnya adonan tergantung dari kelembaban tepung dan lamanya mengocok adonan mentega (semakin lama dikocok maka tekstur adonan mentega semakin lembek dan encer).

Bagi adonan menjadi 33 buah  masing-masing seberat 24 gram. Bulatkan dan tata di loyang. Tutup dengan kain selama adonan di loyang agar tidak kering dan pecah ketika dibentuk.

Membentuk nastar:

Resep Nastar Daun JTT

Siapkan alat jepit untuk nastar atau kue kering seperti gambar. Ambil sebuah bola adonan, letakkan di telapak tangan, pipihkan. Letakkan sebuah selai nanas ditengah adonan, tutup selai dengan adonan, gelindingkan perlahan di telapak tangan hingga berbentuk lonjong mulus. Rapikan ujung-ujungnya dengan ujung jari hingga berbentuk seperti daun yang runcing disatu ujungnya.

Jepit bagian tengah adonan dengan alat penjepit secara memanjang, kemudian jepit juga bagian samping-sampingnya menyirip seperti tulang daun, lakukan perlahan dengan gerakan lembut. Pastikan alat penjepit dibersihkan setelah dipakai menjepit sebuah nastar agar tidak lengket. Tata nastar di loyang.

Resep Nastar Daun

Masukkan loyang berisi nastar ke dalam oven, turunkan suhu ke 150'C (suhu terlalu tinggi akan membuat nastar pecah). Panggang hingga nastar mengeras (bukan berubah kecoklatan), sekitar 15 menit. Keluarkan dari oven, dinginkan.

Siapkan campuran kuning telur untuk olesan.

Jika nastar sudah agak dingin (jangan oles ketika masih panas karena nastar masih rapuh), oles permukaannya dengan kuning telur merata. Panggang kembali hingga nastar matang, permukaanya sedikit kecoklatan dan bagian bawah nastar agak gelap. Sekitar 25 - 30 menit. Keluarkan dari oven, diamkan sejenak, pindahkan ke rak kawat dan biarkan hingga nastar benar-benar dingin sebelum dimasukkan wadah tertutup.



10 komentar:

  1. Aku lihat nastar daun bersliweran di timeline IG menjamur sebelum lebaran kemaren mba, unik sih tp ngebayangin gedenya udh kenyang duluan. Akhirnya mba pake jepitan plastik beli online itu kan ya? Masalah etika dan kesadaran orang2 kita, mungkin memang perlu revolusi mental mba. Efek kelamaan dijajah Belanda kali hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Herlina, yep beli di online shop mba jepitannya, cuman ada yang plastik.

      wakakka, keknya efek kelamaan dijajah Mba.

      Hapus
  2. bener mb...the power of emak2...istilah itu memang sebaiknya dihilangkan...

    BalasHapus
  3. Resep yg sy tunggu2. Yeyyyyy!! Makasih mba.. di keep dulu buat lebaran nanti :) *eniwei sy lg cuti lahiran skrg, rmh sy di gondangdia kantor sy di Depok. Semasa hamil kemarin, bener banget tuh cerita gerbong wanita KRL dan kursi prioritas. Mas2 tanggung pura2 tidur di kursi prioritas adalah hal yg biasa sy jumpai. Disenyumin aja, trus pindah gerbong kalo masih kuat jalan, tp pas si dede nendang2, melipir aja ke tiang buat senderan.. Lah kok sy malah curhat dah wkwkwkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah Mba, memang kalau kereta kita kudu berani, walau mrk pura2 tidur, cuek saja. Kalau memang memerlukan kursi kita kudu sampaikan. Soalnya kalau nunggu penumpang punya hati nurani, susaaah wakkaka.

      Hapus
  4. ini bner bgt mba, perlu revolusi mental. dlu pas saya masih sering naik busway, lsg buru2 cari kursi kosong rebutan kyk apaan tau.
    lha begitu nyobain MRT di KL lsg donk otomatis buru2 nyari kursi kosong, ktauan bgt org indonesianya wkwkkw
    eh taunya di dlm gerbongnya malah byk yg berdiri.
    temen saya yg asli KL saya suruh duduk pas ada yg turun disamping saya malah gak mau, dan dia geleng2 donk liat tingkah saya.
    sejak saat itu bgitu naik busway lg gak otomatis nyari kursi kosong wkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul keknya hanya penumpang indonesia yang gemar berlomba2 cari kursi. Minggu lalu ada beberapa penumpang dr singapura, mereka berdiri saja walau kursi prioritas kosong. Beda sama penumpang disini... tobaat

      Hapus
  5. Halo mba Endang...
    Utk info....di tanjungpinang msh ada lho yg jual penjepit nastar daun yg dari besi, bahkan besi yg warna kuning ala2 jadul pun tahun lalu sy msh ada liat yg jual. memang langka sih, adany di toko2 cina yg dipasar2 itu, klu di swalayan udah gak ada jg.

    btw nastar yang versi daun ini tipe nastar yg gimana mba?... yg pulen empuk kah?... atau tipe yg renyah prul gitu?...

    sy sering bikin nastar mba Endang tp resep nastar pertama yg mba posting dulu.

    terima kasih _ Fitri Tanjungpinang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Fitri, waaah mantap banget, sayang udah lama gak ke Pinang, ntar kalau kapan2 kesana saya bakaln cari hehhehe.

      ini tipenya empuk pulen ya Mba.

      Hapus

PEDOMAN BERKOMENTAR DI JTT:

Halo, terima kasih telah berkunjung di Just Try and Taste. Saya sangat menghargai feedback yang anda berikan, terutama mengenai eksperimen dalam mencoba resep-resep yang saya tampilkan.

Komentar yang anda tuliskan tidak secara otomatis ditampilkan karena harus menunggu persetujuan saya. Jadi jika komentar anda belum muncul tidak perlu menulis komentar baru yang sama sehingga akhirnya double/triple masuknya ke blog.

Saya akan menghapus komentar yang mengandung iklan, promosi jasa dan penjualan produk serta link hidup ke blog anda atau blog/website lain yang anda rekomendasikan yang menurut saya tidak relevan dengan isi artikel. Saya juga akan menghapus komentar yang menggunakan ID promosi.

Untuk menghindari komentar/pertanyaan yang sama atau hal yang sebenarnya sudah tercantum di artikel maka dimohon agar membaca artikel dengan seksama, tuntas dan secara keseluruhan, bukan hanya sepotong berisi resep dan bahan saja. Ada banyak info dan tips yang saya bagikan di paragraph pembuka dan jawaban di komentar-komentar sebelumnya.

Satu hal lagi, berikan tanda tanya cukup 1 (satu) saja diakhir pertanyaan, tidak perlu hingga dua atau puluhan tanda tanya, saya cukup mengerti dengan pertanyaan yang diajukan.

Untuk mendapatkan update rutin setiap kali saya memposting artikel baru anda bisa mendaftarkan email anda di Dapatkan Update Via Email. Atau kunjungi Facebook fan page Just Try and Taste; Twitter @justtryandtaste dan Instagram @justtryandtaste.

Semoga anda menikmati berselancar resep di Just Try & Taste. ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...