12 June 2011

Obsesi Roti 1: Step by Step Croissant Renyah & Lezat


Anda tahu obsesi utama saya akhir-akhir ini? Saya tahu anda pasti akan langsung berkomentar "Meneketehe?! Gak penting gitu loh!". Yah, hmm, well, saya tetap akan mengatakan kepada anda, atau tepatnya paksakan katakan kepada anda mengenai obsesi saya ini. Hal sepele, tidak penting bagi kebanyakan orang tetapi obsesi ini lah yang menyuntikkan tambahan semangat bagi saya minggu ini, yaitu mulai serius membuat roti. Serius? Yep, membuat roti yang lezat dengan teknik yang benar menjadi obsesi saya akhir-akhir ini. Karena itu saya tambahkan satu pages lagi di halaman blog JTT yaitu Obsesi Roti. Di dalamnya saya akan masukkan artikel tentang dan mengenai hal yang berhubungan dengan making bread dan juga resep trial & error yang saya coba.


Kenapa? Bukan saya hendak berpindah makanan pokok dari nasi menjadi roti, bukan. Saya masih penggila nasi. Tetapi karena membuat roti yang lezat membutuhkan tantangan dan skill yang tidak mudah. Proses pembuatan roti (saya berbicara roti yang memerlukan ragi untuk proses pembuatannya), melibatkan mikroorganisme imut berjasa bernama ragi/yeast dengan proses kimiawi yang kompleks yang kita sebut fermentasi, merubah bahan-bahan mentah menjadi roti yang sedap. It's amazing! Jika kita mau mendalami teknik membuatnya, melihat lebih jauh seperti apa proses yang terjadi, maka membuat roti yang baik merupakan skill yang harus dipelajari lebih dalam, tidak hanya melibatkan teknik tetapi juga pengetahuan mengenai proses kimiawi yang melibatkan makhluk hidup di dalamnya. Ini tentu saja berbeda dengan proses pembuatan cake yang menggunakan bahan kimia dan menurut saya lebih mudah, jika sebatas hanya basic cake beserta sedikit modifikasinya saja. Saya tidak berbicara mengenai mendekorasinya ya karena itu skill lainnya yang harus dipelajari dan dilatih.


Bagi sebagian besar orang Indonesia, termasuk saya tentunya, roti hanya dianggap sebagai snack, makanan kecil pengganjal perut sementara, yang diselipkan diantara makan berat lainnya atau sebagai bekal saat kondisi darurat dimana waktu makan terbatas dan sulit untuk menemukan warung yang menjual makanan. Membuat roti bagi sebagian masyarakat kita masih sebatas wacana di angan-angan, kegiatan yang ekslusif, menyita dan membuang waktu dan serahkan saja prosesnya yang panjang, complicated dan melelahkan itu pada abang pembuat roti. Finished!

Ahh, case closed kalau semua berpikiran seperti di atas, dan tentu saja untuk semua aktifitas lainnya seperti memasak makanan sehari-hari serahkan saja pada warteg (warung Tegal) dan warpad (warung Padang), mencuci dan menyetrika serahkan saja pada tukang laundry yang setiap meter membuka layanannya, mengurus anak serahkan saja semua pada baby sitter, dan mengurus hal lainnya yang berhubungan erat dengan kehidupan kita pada orang lain. Hmm, bukankah kita akan menjadi seperti ATM berjalan? Bedanya, jika ATM dananya diisi oleh bank, sedangkan kita untuk mengisi dana didompet harus membanting tulang, pagi hingga malam agar cash selalu ready seperti ATM ketika harus membayar semua dan semua kegiatan yang kita limpahkan ke orang lain. What a wonderful world! Membuat roti sendiri, bagi saya merupakan proses belajar, berlatih, menambah pengetahuan dan ketrampilan yang tidak mudah untuk didapatkan selain dengan mencobanya sendiri. Nothing is wasted in skill and knowledge. 


Kembali ke obsesi membuat roti, ada satu website yang menjadi inspirasi saya jika berbicara mengenai roti yaitu The Fresh Loaf. Web ini mengundang para amatir pembuat roti dan artisan bread (tukang roti) untuk berdiskusi mengenai membuatnya, sharing resep yang mereka praktekkan, berkomentar, berbagi ilmu, memberikan support dan dorongan yang sangat luar biasa dan tentu saja yang terlibat disini bukan hanya para amatir tetapi para pakar yang ahli dibidang ini, meneliti mengenainya (karena membuat roti melibatkan proses kimiawi berupa fermentasi yang dilakukan oleh ragi/yeast), pemilik bakery terkenal, pemilik sekolah memasak, bahkan pengarang buku masak terkenal. Banyak sekali ilmu yang diperoleh dari website ini dan semua informasi itu tidak hanya memperkaya pengetahuan saya yang sangat minim ini tetapi juga mengajarkan konsep: support, encouragement and sharing knowledge bagi mereka yang ingin belajar walaupun tidak saling mengenal satu sama lain, dan semua itu cuma-cuma! Ahh, seandainya di Indonesia banyak yang melakukan ini tentunya banyak masyarakat kita yang pasti jauh dan jauh lebih pintar.  

Okeh, saya hentikan sesi curcol (curhat colongan) ini dan kembali ke roti. Salah satu jenis roti yang sejak lama ingin saya praktekkan adalah croissant. Bukan, bukan karena saya penggemar roti berlapis-lapis, renyah dengan sekian ton kalori karena kadar menteganya yang tinggi ini. Bukan itu alasannya. Alasannya adalah karena saya sangat tertantang untuk menciptakannya sendiri dan kebetulan di buku membuat roti, Baking with Passion, yang sementara ini menjadi andalan saya, mengulas mengenai croissant dan tentu saja beserta resep dan cara membuatnya yang ternyata cukup mudah diikuti. Jadi saya pun bertekad, saya harus bisa. Walaupun kemudian ketika sepiring croissant telah terhidang di meja saya kebingungan sendiri, mau saya apakan makanan ini. Bawa ke kantor! Yah, tentu saja, apakah memang ada alternatif lainnya? ^_^.

Croissant atau biasa juga disebut dengan crescent roll, karena bentuknya yang seperti bulan sabit (crescent), merupakan varian puff pastry lainnya, dibuat dari adonan beragi yang dilapisi oleh mentega dan digilas dan dilipat beberapa kali kemudian di tipiskan menjadi selapis adonan yang siap untuk diolah. Makanan ini berasal dari Wina, Austria dan pertama kali dibuat dari adonan yang diperkaya dengan mentega yang banyak. Croissant, dengan lapisan-lapisan pastry yang ringan namun kaya akan mentega menjadi puncak pencapaian dalam dunia pastry dan telah dikembangkan di Perancis lebih dari 100 tahun lamanya. Membuat croissant memang membutuhkan waktu lama dan memerlukan keahlian untuk menjadikannya benar. 

Roti ini paling lezat dimakan saat masih hangat, ketika baru keluar dari oven. Kandungan mentega pada croissant yang tinggi membuatnya bisa dibekukan di freezer, saat akan disantap keluarkan croissant dari freezer, panggang di oven yang sangat panas selama 5 menit, keluarkan dan biarkan menghangat selama 5 menit. Adonan croissant yang belum dipanggang (mentah), juga bisa kita bekukan di freezer dalam plastik rapat, cairkan adonan beku di rak bawah kulkas (chiller) semalaman, keluarkan dari kulkas dan letakkan di suhu ruang, tutup dengan kain/plastik wrap hingga mengembang 2 kali lipat dan siap dipanggang.

Jika anda tertarik untuk membuatnya, saya sarankan untuk mempersiapkan waktu, kesabaran dan stamina anda baik-baik. Pertama adalah untuk membaca tulisan saya yang panjang dan membuat anda setengah di alam mimpi, kedua adalah untuk membuatnya sendiri yang memang memerlukan proses yang paaaanjaang dan laaama, itulah croissant. Bagaimana dengan hasilnya? Uhh, ooh, sangat layak untuk dicoba! Percayalah! Walau tampilannya tidak se-keren dengan yang dijual di bakery, namun croissant yang saya buat dengan mengikuti resep pada buku keluar dari dalam oven begitu renyah, berlapis-lapis dengan cantiknya, rasanya sangat lezat, dan bukan bermaksud menyombong jika saya katakan lebih lezat dari croissant yang pernah saya makan di cafe atau bakery ternama. Gurih, lembut, empuk, garing, dan membuat saya tidak bisa stop di croissant hangat ke dua padahal saat matang telah pukul 10 malam. Ya Allah, ampuni saya yang telah begitu greedy, saya janji  akan berhenti di croissant ke tiga? Bagaimana jika ke empat? Please...


Croissant dengan rasa terlezat memang ketika baru keluar dari oven, saat masih hangat dengan kulit luar yang sangat crispy dan rapuh, sementara roti bagian dalamnya yang berlapis-lapis terasa lembut sedikit kenyal. Hmm, tidak perlu mengoleskan selai atau lainnya karena rasa croissant terbaik adalah saat dalam kondisi ini. Ahh, anda harus mencoba membuatnya, walaupun saya sama sekali tidak keberatan membaginya untuk anda. Kalorinya yang tinggilah yang membuat saya berulang kali mengingatkan diri untuk sadar bahwa celana jeans terbesar saya mulai terasa sesak ^_^. Walau begitu, tetap tidak ada salahnya untuk anda coba, karena sangat berharga (meskipun kalorinya selangit). Jadi berikut ini resep dan cara membuatnya ya.


Croissant
Resep diadaptasikan dari buku Baking With Passion by Dan Lepard & Richard Wittington - Baker & Spice - Croissant

Untuk sekitar 15 - 16 croissant

Bahan:
- 2 1/2 sendok teh ragi instan (saya pakai Fermipan)
- 500 gram tepung terigu protein tinggi (saya pakai Cakra Kembar Bogasari) + sedikit tepung terigu untuk taburan meja
- 110 ml air hangat
- 110 ml susu dingin, saya menggunakan 2 sendok makan susu bubuk full cream yang dilarutkan dengan air hangat kemudian saya takar sebanyak 110 ml.
- 20 gram garam halus
- 70 gram gula pasir halus
- 250 gram mentega tawar (unsalted butter), saya membeli butter kiloan dari toko bahan kue. Jika anda menggunakan mentega yang mengandung garam maka tidak perlu menambahkan garam lagi ke adonan, atau kurangi porsi garam menjadi setengahnya. Masukkan mentega ke dalam kulkas di bagian chiller agar mengeras.

Untuk olesan:
- 1 kuning telur (saya tidak pakai)
- 1 sendok makan susu cair

Cara membuat: 
1 hari sebelumnya....
Adonan sponge yang telah jadi

Membuat sponge (pre-fermentasi)


Dalam mangkuk ukuran sedang, masukkan ragi, 100 gram tepung terigu, dan air hangat. Aduk rata. Tutup permukaan mangkuk dengan plastik transparan (plastic wrap), kemudian letakkan di tempat hangat (meja dapur) dan biarkan hingga mengembang menjadi minimal 1 1/2 kalinya. Adonan terlihat aktif ditunjukkan dengan gelembung yang banyak. 


Siapkan mangkuk besar, masukkan sisa tepung terigu, susu, garam dan gula ke dalamnya, aduk rata. Tambahkan adonan sponge (pre-fermentasi) yang telah mengembang. Kemudian mulailah untuk menguleni adonan. Caranya, tekuk jari-jemari anda ke dalam seperti sendok/hook, kemudian mulailah mencampur adonan dengan menyendokkan bagian bawah adonan dan mencampurkannya ke atas sambil adonan ditekan. Putar-putarkan mangkuk adonan (bukan adonannya) sehingga semua sisi adonan teruleni dengan baik. Kita harus menguleni adonan hingga tercampur baik, membentuk satu gumpalan adonan yang kasar. Proses ini memang agak sulit karena adonan agak keras, liat dan sulit untuk ditaklukkan. 

Jika telah menjadi satu bola kasar, pindahkan ke meja datar yang telah ditaburi dengan tepung terigu. Uleni adonan hingga benar-benar menyatu, tidak tercerai-berai atau kering. Permukaan adonan tidak smooth atau licin ya, tetapi kasar dan bergerinjal. Uleni kira-kira 5 menit, hingga menyatu dan bentuk menjadi satu bola kasar. Jika anda menggunakan mikser heavy-duty (saya tidak memilikinya), maka masukkan semua bahan ke dalam mangkuk kemudian giling dengan kecepatan paling rendah menggunakan hook untuk menggiling adonan, selama 2 menit.

Olesi mangkuk bekas menguleni adonan tadi dengan minyak, letakkan adonan di mangkuk, tutup dengan plastik transparan rapat-rapat atau masukkan adonan ke dalam plastik besar, ikat rapat. Masukkan ke dalam kulkas (chiller) dan biarkan semalaman. Beristirahatlah, anda telah bekerja keras hari ini. 

Keesokan harinya....
mentega dingin yang keras

Letakkan selembar plastik wrap diatas meja datar (pakailah plastik agak panjang), taburi permukaan plastik dengan tepung sedikit, letakkan mentega keras diatasnya, taburi lagi dengan sedikit tepung. Tekuk plastik di kiri dan kanan mentega ke tengah, sehingga mentega tertutup plastik. Gilas mentega dengan ketebalan + 1 cm, jika mentega yang anda gunakan lembek (suhu ruang) maka anda akan terlalu sulit untuk membentuknya. Bentuk mentega menjadi segempat. Kemudian masukkan ke dalam kulkas kembali.


Keluarkan adonan semalam dari dalam kulkas, letakkan di atas meja datar yang telah ditaburi tepung, kempiskan adonan dengan menggilasnya menggunakan penggilas kayu. Taburi permukaan adonan dan kayu penggilas dengan sedikit tepung terigu kemudian gilaslah adonan menjadi empat persegi panjang dengan tebal kira-kira 1 cm. Bersihkan sisa tepung yang berlebihan kemudian letakkan mentega yang telah dilepas dari plastiknya ke tengah-tengah adonan. Tekuk bagian kiri dan kanan adonan, sehingga menutupi mentega. 

Taburi tepung pada permukaan adonan, kemudian gilas adonan (selalu gilas dengan cara menggerakkan kayu penggilas menjauhi badan anda). Gilas adonan membentuk empat persegi panjang dengan ukuran kira-kira 60 x 40 cm. Kemudian tekuk bagian sisi kiri dan kanan adonan (lipatan 1), tekuk kembali sisi kiri dan kanan (lipatan 2), kemudian lipat adonan seperti melipat buku (lipatan 3) sehingga kedua sisi adonan bertemu menjadi satu. Kemudian letakkan adonan dengan sisi lipatan di samping, gilas kembali adonan seperti semula dengan ukuran yang sama. (Nah, karena adonan sangat keras, ketika telah saya tipiskan memanjang, saya bagi adonan menjadi 2 bagian. Saya bekerja pada bagian adonan satu persatu. Jika anda cukup kuat dan enjoy mengerjakannya anda ikuti saja cara sesuai di buku ya). Lipat kembali adonan seperti diatas, kemudian bungkus dengan plastik wrap dan masukkan ke kulkas di rak bawah (chiller) selama 30 menit - 1 jam.  

Anda bisa klik di artikel saya sebelumnya di Membuat Adonan Untuk Kulit Pastry (Butter Puff Pastry) untuk melihat lebih detail step by step gambarnya. 

Catatan:
Saat menggilas adonan, ada kemungkinan mentega keluar dari adonan sehingga menyulitkan kita menggilas, karena itu selalu taburi meja kerja anda dengan tepung, selain membuat adonan tidak menempel di meja juga untuk menutupi mentega yang keluar.
Pola dari kertas karton

Sekarang kita buat pola cetakan untuk croissant menggunakan kertas karton/kertas tebal lainnya. Bentuk segitiga sama sisi dengan ukuran 17,5 x 17,5 x 15 cm.  Kemudian keluarkan adonan dari dalam kulkas, letakkan di meja datar yang telah ditaburi tepung, gilas menjadi adonan dengan ukuran kira-kira panjang 70 cm, lebar 30 cm, ketebalan 4 mm. Rapikan sisi-sisinya yang tidak rata, letakkan pola segitiga di permukaan adonan dan potong-potong adonan mengikuti pola.  

Membentuk croissant


Letakkan sebuah potongan adonan di permukaan meja yang telah ditaburi  sedikit tepung, sisi dasar segitiga menghadap ke anda. Gulung adonan menjauhi badan anda, kemudian letakkan ujung sudut segitiga di bagian bawah croissant, agar tidak mudah lepas dan terbuka. Letakkan croissant di dalam loyang yang telah dialasi dengan kertas roti/kertas baking, beri jarak antar croissant. Tutup dengan plastik wrap dan biarkan di suhu hangat/suhu ruang hingga croissant mengembang 2 kali lipat (1 - 2 jam).


Panaskan oven dengan suhu 200'C. Untuk glaze/pelapis permukaan croissant, kocok kuning telur dengan susu cair. Saya hanya menggunakan susu cair saja. Olesi perlahan pada permukaan croissant, jangan mengoleskan pada sisi potongan ya, karena susu+telur akan melekat dan menghambat croissant mekar membentuk lapisan. Panggang croissant menggunakan rak pemanggang tengah selama 10 menit, ketika mereka mengembang dan mulai berubah warna, kurangi panas oven menjadi 150'C dan lanjutkan memanggang selama 20 - 25 menit, atau hingga benar-benar mengembang dan berwarna coklat keemasan.

Keluarkan dari oven, dinginkan di rak kawat dan tata croissant berdampingan dan tidak bersentuhan satu sama lain. Saya tidak tahan menunggu dingin, panas-panas langsung saya santap dan rasanya luar biasa sedap!

Selamat mencoba!

Sources:
Buku Baking With Passion by Dan Lepard & Richard Wittington - Baker & Spice - Croisant
Wikipedia - Croissant 


36 comments:

  1. wah, lama jg berarti buatnya ya??
    Sampai 2 hari 2 malam mba?

    Kan ga sabar mau nyobain, atau saya nyobain pny mb endang aj deh yg udah jadi, langsung makan, heheheh

    ReplyDelete
  2. Hehehe, membuat pastry memang butuh kesabaran ekstra. Paling mudah beli adonan puff pastry beku di supermarket untuk kemudian dimodifikasi sendiri di rumah. Tapi kalau tidak sabar memang paling sedap beli di bakery, croissant yang sudah matang, wkwkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yummy yummy lihat fotonya aja rasanya sudah ngebet banget pingin coba bikin, tapi benar2 hrs sabar lama sekali sih preparationnya barangkali dumpling aja kesukaan semua. I'll try makasih ya resepnya mudah-2 oke.

      Delete
    2. Yep, croissant memang butuh kesabaran, waktu panjang dan tenaga kuda,adonannya berat digilasnya hehehhe. Thnaks ya! ^_^

      Delete
  3. mbak ada buka usaha bakery jg ya?

    ReplyDelete
  4. Halo, hahah, saya nggak punya usaha bakery. Cita-cita suatu saat. Sekarang cuman buat hobi dan belajar dulu ^_^

    ReplyDelete
  5. aku sangat menyukai roti tapi ketika bagian bersih bersih/cuci piring akhirnya aku putuskan ke toko roti aza,maklum aku punya alergi kulit hiks hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakak, yep! Paling mudah memang ke toko roti saja hahaha ^_^

      Delete
  6. Siang mbak, aku kemarin cobain resep mbak ini.. Rasanya emang maknyusss banget.. :) cuma kemarin aku kesulitan wkt giling adonan, menteganya asik kluar2 :( mau nanya nih mbak.. Kalau resepnya aku bagi stengah bisa ngak ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, thanks ya. Memang bagian paling berat adalah giling menggiling adonan, berattttt dan mentega keluar2. Taoi rsanya memang mak nyuss banget. Kalo terlalu banyak, bagi dua saja resepnya, atau saat menggiiling adonan di bagi dua supaya gak berat ^_^

      Delete
  7. Thanx banget ya mbak.. aku dpt bnyk resep dari blog mbak ini.. seneng bangettt :)

    ReplyDelete
  8. Halo, Mbak Endang salam kenal.

    Saya pernah bikin ini sebelumnya (tapi sama ibu, soalnya beliau yang jago masak, haha). Ibu saya bilang, kalau bentuknya ingin bagus seperti di toko-toko, adonan dipotongnya dengan bentuk segitiga sama kaki, mbak. Jadi nanti bentuknya gendut di tengah seperti yang di toko-toko. Terus setelah digulung, agak ditekuk sehingga hampir membentuk setengah lingkaran. Itu saran dari Ibu saya yang saya sarnkan untuk Mbak Endang *halah, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo Mba, yeppp thanks atas saran dan tips Ibunda ya, hehehe sangat membantu sekali. Memang benar kok adonan dipotong bentuk segitiga sama kaki dan ketika digulung agak ditekuk, hanya saja terkadang adonanya bandel gak mau ditekuk hehehe. thanks ya :)

      Delete
  9. Mba, sy punya lumayan bnyk persediaan keju d kulkas. Klo mau nyampurin croissantnya dgn keju caranya gmn?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah sayangnya saya gak punya pengalaman membuat croissant keju, tapi mungkin bisa ditambahkan keju parut di adonanya ya. Hanya saja saya belum pernah coba...

      Delete
  10. mbak klo pakek tepung segitiga biru ato kunci biru bisa gak...apa harus yg cakra mksh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pakai yang segitiga biru saja Mba Ratu, bisa kok.

      Delete
  11. mbak, thx bgt, resep-resepnya anti gagal. cuma saya mo tanya untuk resep diatas ada 110ml air hangat, dan 110ml susu dingin, saya agak bingung mba, kapan penambahan susu dinginnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo Mba Vi, air hangat dimasukkan saat membuat sponge ragi ya, susu dingin dimasukkan ke dalam tepung. Ada di proses pembuatan kok. Coba dibaca lagi ^_^

      Delete
  12. seneng liat resep nya ...

    ReplyDelete
  13. Setelah nangis-nangis gilas adonan yang butter nya selalu pengen nongol (lebay hehehe), akhirnya proyek croissant pertama kali ini sukses. Makasih banyak mba Endang buat resep dan cara buat yang lengkap dengan gambarnya. Rasa capek menggilas adonan jadi hilang, pas croissant matang dan seisi rumah rebutan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mba Ita, mantap! Selamat yaa, ikutan senang membacanya hehheh, jadi ingat ketika dulu pertama kali bikin sendiri. Hmm, emang enak croissant yang baru dipanggang. Thanks sharingnya!

      Delete
  14. ini jadinya 15 croissant brsar ato kcil2 gitu ya?

    ReplyDelete
  15. Mbak Endang, adonan yang belum digilas/blm dicampur metega itu klau diinapkan di kulkas/ciller tahan berapa malam ya?
    Thx :) *nieken*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa tahan 2 - 3 hari ya dalam wadah tertutup rapat gak boleh kena udara kulkas ya.

      Delete
  16. mba pastry mu slalu api atas bwh?

    ReplyDelete
  17. halo mba, saya ulfah. saya senang baca blog mba.
    saya berhasil praktek resep ini pakai isian nutella dan keju mozarella enak banget, padahal baru pertama kali bikin rotii2an:)
    mau tanya mba, gimana caranya supaya croissant yg sudah matang bawahnya gak nempel? padahal saya sudah pakai baking paper. terimakasih jawabannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mba Ulfah, thanks sharingnya ya. Wah kok bisa nempel ya? Croissant ini termasuk tinggi kadar butternya jadi biasanya gak nempel di kertas baking. Kalau nempel terpaksa kertas harus diolesi margarine ya mba menggunakan kuas

      Delete
  18. Replies
    1. Hai thanks opininya, tetapi danish dough dan croissant dough sebenarnya hampir sama.

      Ada 3 jenis laminated dough (adonan yang terbuat dari tepung dan mentega dimana prosesnya melibatkan kegiatan melipat dan menggilas adonan): 1. Puff pastry, tidak mengandung ragi, umumnya dipakai untuk membuat makanan seperti palmiers, cheese twist dan aneka pie crust yang membutuhkan puff pastry sebagai bahannya. 2 & 3 adalah croissant dan danish dough, keduanya hampir sama yaitu menggunakan ragi sebagai pengembang. Bedanya adonan danish lebih kaya akan mentega dan terasa manis, dan sering disebut dengan rich dough karena terkadang mengandung telur dan produk susu. Sedangkan croissant lebih sedikit mentega (dibanding danish) dan rasanya asin.

      link berikut ini mungkin membantu ya:
      http://www.cakespy.com/blog-old/2008/6/29/dough-you-love-me-a-laminated-pastry-dough-faq-and-a-daring.html

      Delete
  19. Selamat pagi..
    Mentega yang dimaksud di sini mentega yang khusus pastry (korsvet) bukan ya?
    Lebaran kemarin saya bikin puff pastry kecil-kecil alhamdulillah berhasil,, masih ada sisa korsvet mau dibikin croissant aja, buat percobaan hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai mba lingga, saya gak pakai korsvet ya, saya pakai benar2 mentega yang belum dicampur apa2. menurut saya korsvet itu mentega/margarine yang sudah dicampur sedikit tepung atau bahan lainnya supaya gak gampang meleleh ya. kalau mau pakai korsvet juga bisa.

      Delete

Heloooo! Terima kasih telah berkunjung di Just Try & Taste dan meluangkan waktu anda untuk menulis sepatah dua patah kata. Walau terkadang saya tidak selalu bisa membalas setiap komentar yang datang, namun saya senang sekali bisa menerima dan membacanya.

Saya sangat menghargai feedback yang anda berikan, terutama mengenai eksperimen anda dalam mencoba resep-resep yang saya tampilan. Semua komentar baik di posting lama maupun baru sangat saya nantikan. ^_^

Komentar yang anda tuliskan tidak secara otomatis ditampilkan di artikel karena saya menggunakan setting moderasi, namun jangan khawatir, begitu saya kembali ke laptop maka hal utama yang saya lakukan adalah mengecek dan mempublish komentar anda.

Saya akan menghapus komentar yang mengandung iklan, promosi jasa dan penjualan produk serta link hidup ke blog anda atau blog/website lain yang anda rekomendasikan. Jika anda ingin mendapatkan back link maka anda harus menggunakan OpenId atau Name + Url.

Untuk mendapatkan update rutin setiap kali saya memposting artikel baru anda bisa mendaftarkan email anda di Dapatkan Update Via Email. Atau kunjungi Facebook fan page Just Try & Taste. Untuk mengajukan pertanyaan dan komentar, anda juga bisa langsung email ke saya di endangindriani@justtryandtaste.com

Saya tunggu komentar, feedback, email dan sharing anda ya. Semoga anda menikmati berselancar resep di Just Try & Taste. ^_^

Let's we try and taste! ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...