"Waktu di Jepang, aku pernah coba bikin brownies pakai microwave", kata Tedy. Saya memandangnya setengah tidak percaya. "Sukses?", tanya saya. "Jadinya bukan brownies, tapi cookies. Keras". Saya tertawa mendengar jawabannya. "Eh, tapi tetap enak kok. Jadi anggap saja aku berhasil bikin cookies tapi gagal bikin brownies", belanya.
Yah, walaupun akhirnya brownies Tedy berakhir cookies saya tetap nekat untuk mencoba membuatnya. Adik saya dengan tinggi 189 cm dan berat 100 kg memang hobi makan tetapi bukan hobi masak. Jadi kalau sampai dia nekat membuat brownies pastinya resep kue yang satu ini tidak susah-susah amat.
Saya mulai berselancar di internet untuk mencari resep brownies yang simple, lezat dan tentu saja memperoleh rating 5 (lima) dari para reviewer-nya. Meluncur kesana kemari akhirnya saya terdampar di website Joy of Baking.
Bermodalkan resep dan rasa percaya diri yang tinggi bahwa apapun bisa dilakukan asal ada guidance-nya serta tentu saja nekat, saya mulai menggelar bahan-bahan di meja dapur dan mulai bereksperimen. Hasilnya? Alhamdulilah sukses. Brownies yang saya buat sangat terasa sekali coklatnya, padat, remah, legit dan chewy. Sesuai dengan komentar-komentar reviewer yang ada di website-nya. Komentar teman-teman kantor saya ketika diminta untuk mencicipinya? Enduang bambang, alias enak bo!